
...***Happy Reading***...
...***...
Rasa haru menyelimuti hati. Widya memandang wajah tampan Harsa dengan sendu. Sebutir air mata lolos dari sudut matanya. Begitu juga Arini, Evi, Bowo, Karin, dan Kartika. Sedangkan Rendra tersenyum bangga pada putra semata wayangnya. Edo dan Zakir juga takkalah terharu. Bagaimana tidak, mereka semua tahu akan perjalanan cinta Widya-Harsa.
“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Widya setelah bisa menguasai hatinya. “Kamu adalah orang pertama yang mengenalkan aku pada cinta dan aku berharap, kamu juga orang terakhir yang mendapatkan cintaku sepenuhnya. Maka dari itu Harsa Mandala, jagalah kepercayaanku untuk menerima kamu sebagai calon suamiku! Aku bersedia menjadi calon istrimu, ibu dari anak-anakmu,” ucap Widya sembari mengambil buket bunga dari tangan Harsa.
Rongga dada Harsa dan Widya sekarang terasa begitu lega. Seakan beban berat telah terangkat dari atas dada mereka. Semua orang tampak begitu bahagia dengan jawaban Widya. Evi langsung memeluk Widya, sedangkan Arini memeluk Harsa dengan ucapan selamat serta pesan-pesan untuk Harsa. “Titip Widya, ya, Nak,” ujar Arini dengan air mata yang membasahi pipi.
“Insyaa Allah, akan Harsa jaga sebaik-baiknya, Bun.”
Arini hanya menganggukkan kepala, tidak lagi bisa berkata-kata setelah semua yang telah dilewati oleh putrinya. Evi memasangkan cincin di jari manis Widya, begitu juga Arini memasang cincin di jari manis Harsa.
“Aku cinta sama kamu, Wid. Cinta sedalam-dalamnya.” Harsa menatap lekat wajah calon istrinya. Widya pun menatap lekat wajah Harsa. “Aku tahu. Aku juga cinta sama kamu,” balas Widya.
Acara dilanjutkan dengan ramah-tamah. Berbagai hidangan tersaji. Banyak kue yang menggiurkan untuk segera disantap. Edo, Zakir, Karin, dan Kartika menghampiri Widya dan Harsa guna mengucap selamat serta berfoto bersama. Berbagai gaya mereka lakukan hingga tampak begitu konyol. Bahagia. Satu kata itu untuk mendeskripsikan apa yang terjadi hari ini.
“Tik, ikut gue bentar.” Tanpa menunggu jawaban dari Kartika, Zakir langsung meraih tangan Kartika dan membawanya ke taman depan rumah.
“Apa, sih, Zak,” protes Kartika dengan wajah memberengut.
“Lo seneng, nggak, dengan pertunangan Widya dan Harsa?” Zakir tidak lekas melepaskan cekalan tangannya pada tangan Kartika.
“Pertanyaan macam apa itu?” Kartika mendelik tajam. Tanpa ia jawab pun semua orang juga tahu kalau ia juga bahagia atas pertunangan sahabatnya.
“Tik, gue juga mau tunangan. Apa lo juga seneng kalo gue tunangan?” Kartika membeliakkan kedua matanya saat mendengar penuturan Zakir. Mulutnya terbuka lebar tanda keterkejutan. Sesaat kemudian Kartika mencoba menguasai keadaan.
“El-elo serius?” tanya Kartika dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Zakir. “Sa-sama siapa? Bukannya lo nggak punya pacar? Bu-bukannya lo bilang kalo lo mau deketin gue?” tanya Kartika dengan tergagap.
Hatinya remuk saat mendengar Zakir bakal tunangan yang entah dengan siapa. Seakan palu godam telah menghantamnya. Menghancurkan dirinya hingga berkeping-keping. Benar ia tidak menanggapi serius perihal sikap Zakir selama ini padanya, tetapi bukan berarti Kartika juga tak mencintai Zakir. Ia hanya ingin melihat seberapa besar perjuangan Zakir untuknya.
__ADS_1
Apakah hanya seperti itu? Apakah cintanya harus terkubur sebelum tumbuh subur? Apakah ia terlalu berharap pada sosok Zakir? Apakah selama ini Zakir tidak serius? Banyak pertanyaan berjubel dalam otaknya. Pertanyaan itu seolah semakin meremas hatinya hingga terasa begitu sesak. Kartika butuh oksigen. Ia butuh bernapas untuk tetap waras.
“Sama lo.” Dua kata itu kembali membungkam mulut Kartika. Matanya mengerjap cepat. Memandang Zakir dengan tidak percaya. Kartika masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan Zakir, hingga Zakir mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Zakir membuka kotak itu dan tampaklah sebuah cincin cantik bertengger di sana. Zakir mengarahkan kotak itu pada Kartika, membuat Kartika kembali mengerjap bingung.
“Gue mau tunangan sama lo, Tik. Gue nggak mau pacar-pacaran. Gue bener-bener serius sayang dan cinta sama lo. Maka dari itu, gue mau lo jadi istri gue. Lo mau, Kan?”
Kartika masih melongo menatap Zakir. Rasanya ia tidak dapat memercayai semua yang dilakukan oleh Zakir. Hingga suara Karin dari belakang menginterupsi, “Terima, Tik. Kasihan, noh, anak orang lo gantungin.”
Kartika dan Zakir menoleh ke arah suara dan ternyata di sana telah berdiri Karin, Edo, Harsa, juga Widya yang tersenyum manis pada Zakir dan Kartika.
“Emang gue jemuran?” protes Zakir.
“Emang selama ini lo digantungin, kan, sama Tika?” ejek Karin.
“Eh, udah-udah. Kok, jadi malah kalian yang berantem. Jadi gimana, Tik? Zakir nunggu jawaban lo, tuh.” Widya melerai sebelum perdebatan Karin dan Zakir semakin heboh.
“Jadi gimana, Yang Beb? Lo mau, kan, terima gue sebagai suami lo? Gue nggak bisa janjiin apa-apa, gue cuma bisa berusaha buat lo selalu bahagia. Gue harap lo nggak matahin hati gue, Yang Beb.” Zakir menatap Kartika penuh harap hingga anggukan kepala Kartika membuat Zakir berbinar bahagia. “Maksudnya?” tanya Zakir memastikan.
“Mau apa?” Lagi Zakir memastikan.
“Ish, lo tahu lah maksud gue,” kesal Kartika.
“Loh, mau itu banyak versinya, Yang Beb. Mau makan, mau mandi, mau tidur. Lo mau yang mana?” goda Zakir.
Kartika terlihat semakin kesal karena ulah Zakir, sedangkan teman-teman mereka hanya tersenyum geli. “Lo tadi nanyanya apa, sih, Zak? Coba ulang!” Kartika benar-benar kesal kali ini. Ia mengentakkan sebelah kakinya ke lantai.
“Mau jadi istri gue?” ulang Zakir. Menatap Kartika dengan intens, sedang Kartika hanya menunduk.
“Mau!” Kartika menjawab tegas.
“Mau apa? Yang jelas, Yang Beb.”
__ADS_1
“Ngeselin! Iya, gue mau jadi istri lo. Puas?” geram Kartika.
Seketika Zakir mengepalkan tangannya ke atas dengan senyum lebar. “Yes! Akhirnya gue bakal kawin,” serunya bahagia.
“Nikah!” koreksi Karin dan Widya bersamaan.
Semuanya tertawa bahagia sedangkan Zakir hanya menyengir kuda. “Iya ... Iya ... nikah,” revisinya.
Zakir pun memasangkan cincin di jari manis Kartika. Mereka berenam berpelukan hangat. Sungguh hari ini hari yang sangat spesial bagi persahabatan mereka.
“Selamat ya, Zak, Tik.” Ucapan selamat kini beralih pada Kartika dan Zakir. Pasangan yang tiba-tiba meresmikan diri menjadi tunangan tanpa pacaran.
“Secepatnya orang tua gue bakalan datang ke rumah lo buat lamar lo secara resmi,” ucap Zakir.
“Hem. Iya. Gue tunggu.” Kartika rasanya masih malu dengan apa yang terjadi hari ini.
Karin, Widya, Harsa, dan Edo kembali memeluk Zakir dan Kartika. Pelukan yang tadi sempat terlepas saat Zakir bicara pada Kartika.
“Terus Karin sama Edo kapan?” celetuk Arini yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Ternyata apa yang terjadi di depan rumah Widya tak lepas dari perhatian para orang tua di dalam rumah. Evi dan Rendra pun turut bahagia untuk Zakir dan Kartika.
Edo hanya bisa menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sedangkan Karin pura-pura menyelipkan rambutnya ke belakang telinga guna menutupi kegugupan. “Buruan! Kalo sudah cocok, tunggu apa lagi?” timpal Evi membuat Edo semakin frustrasi dan Karin semakin malu.
“Iya, Do. Nggak takut gitu, kalo ntar Karin diambil orang?” timpal Rendra.
Karin dan Edo merasa tercubit hatinya. Entah apa yang dirasakan oleh kedua insan itu. Nyatanya mereka seperti malu-malu, tetapi mau.
...***...
...**To be continued...
...Senengnya mereka udah dapat pasangan masing-masing. Akhirnya si Zakir berani juga ngungkapin perasaannya 😁**...
__ADS_1