Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 35


__ADS_3


...***...


Sejak pulang dari kampus, hingga larut malam Widya mengunci dirinya di dalam kamar. Matanya tertuju pada buku di depannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak di sana. Widya juga mengabaikan semua panggilan di ponselnya tak terkecuali dari Nathan. Bahkan berulang kali Arini mengajaknya makan malam, tetapi Widya hanya bergeming. Dia merenungi apa yang tadi siang Cindy ucapkan. Rasa takut kembali melandanya. Apakah benar jika dia hanya dijadikan pelampiasan oleh Nathan?


Berulang kali dia mengusap wajahnya untuk menghilangkan rasa gusarnya. Widya melirik jam di meja belajarnya. Sudah berapa jam lamanya dia duduk di sana, hanya beranjak ketika melaksanakan kewajibannya, setelah itu Widya akan kembali ke tempat duduknya.


Widya menonaktifkan ponselnya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang semakin lama semakin menghitam dan membuatnya berpindah ke alam mimpi.


***


Selepas subuh, Widya memilih untuk jogging di seputaran GOR. Suasana pagi ini tidak terlalu ramai, mengingat hari ini memang bukan weekend, membuat perasaan Widya cukup tenang karena tidak ada gangguan dari siapa pun.


Widya sengaja meninggalkan ponselnya di rumah agar tidak terganggu. Bahkan, sudah dari semalam dia mematikan ponselnya. Dia ingin merilekskan pikirannya dengan berolahraga dan lepas dari ponselnya untuk sejenak.


Widya menghirup udara sambil merenggangkan ototnya. Melakukan pemanasan beberapa menit sebelum dia mulai berlari. “Ah ... udaranya cukup segar. Lumayan untuk menjernihkan pikiran,” ucapnya sambil memejamkan mata.


“Wid!” mendengar seseorang memanggilnya, kedua mata Widya sontak terbuka, dan dia pun menghentikan aktivitasnya. Mengedarkan pandangan mencari arah sumber suara.


Betapa terkejutnya Widya saat menyadari siapa yang memanggilnya. “Hai, Wid!” sapa gadis itu begitu sampai di depan Widya. “Lo, kok, sendirian? Nathan mana?” lanjutnya sambil celingukan mencari sosok Nathan.


Widya memutar bola matanya. “Udahlah, Cin. Gue lagi nggak mau bahas itu. Mending kita jogging aja, yuk!” ajak Wiyda.


Cindy mengikuti langkah cepat Widya begitu gadis itu berjalan menjauhinya. “Lo lagi bertengkar sama Nathan? Gara-gara Vina? Emang mereka beneran ada hubungan, ya?” Cindy berpura-pura polos. Kakinya terus berjalan mencoba mengimbangi langkah Widya. Sayangnya, Widya tidak menggubrisnya dan tetap melanjutkan aktivitas jogging-nya.


Tidak mendapat respons dari Widya, Cindy memikirkan cara lain. “Lo putus sama Nathan?” Pertanyaan terakhir Cindy sukses membuat Widya menghentikan langkahnya.


Widya menatap tajam Cindy, kemudian mengatur napasnya. “Cin, Nathan itu cinta sama gue, begitu pun gue. Lo nggak bisa mengubah itu.”


Cindy tersenyum masam, “Lo lupa, saat Harsa ninggalin lo karena lo hanya pelampiasan? Apa perlu gue ingetin lagi masa itu?” tantangnya.


Widya pun tersenyum. “Inget, Cin, gue inget, kok,” jawabnya santai.


“Saat itu Harsa juga bilang cinta sama lo, 'kan? Tapi nyatanya?” Cindy merasa menang. Dia rasa mampu membuat Widya menaruh rasa curiga terhadap Nathan.

__ADS_1


Dengan adanya rasa curiga itu, Cindy berharap Widya akan memikirkan kembali kelanjutan hubungannya dengan Nathan. Hal itu akan membuat hubungan mereka semakin hari semakin renggang. Saat itulah Cindy berniat untuk kembali mendekati Nathan dengan semua perhatiannya. Ditambah kehadiran Vina yang semakin hari mendukung rencananya tanpa dia harus mengeluarkan banyak tenaga. Ya, Cindy harus sedikit bersabar untuk rencana besar ini.


“Cin ...,” panggil Widya pelan, membuat Cindy cukup terkejut dan terbangun dari lamunannya. “Nathan itu beda sama Harsa. Dia yang duluan cinta sama gue. Kalau dulu, gue yang cinta duluan sama Harsa. Oh, iya ... cinta gue terbalas, Cin. Nggak sendirian kayak cintanya seseorang,” ucap Widya menampilkan smirk-nya.


Ucapan Widya cukup membuat Cindy terkejut dan geram. Dia merasa tersindir dengan apa yang Widya katakan padanya. Ternyata membuat Cindy ragu, memprovokasi Widya tidak semudah yang ia kira.


Suasana hati Cindy berbanding terbalik dengan Widya. Setelah meninggalkan Cindy dengan rasa terkejutnya, dia segera mencari tempat sembunyi. Widya kembali mengingat saat dirinya membuat Cindy tidak berkutik di depannya, dengan menampilkan senyum menantang yang jarang ia perlihatkan pada orang lain. Dia berusaha keras untuk tidak ingin terlihat lemah, walaupun sebenarnya dadanya sudah bergemuruh cukup keras.


“Nath, apa kamu bakal nyakitin aku, sama seperti Harsa dulu?” tanya Widya dalam hati.


***


Sepulang jogging, Widya begitu terkejut mendapati Nathan berada di teras rumahnya. Dengan langkah gontai ia menghampiri Nathan, “Kamu ngapain di sini?” sarkas Widya. Berat, Widya menahan sesak yang menghimpit dadanya. Melihat Nathan, seakan mengingatkannya akan rasa kecewanya.


“Yang,” lirih Nathan. Ada binar penyesalan di matanya melihat sikap Widya yang acuh. “Aku kangen sama kamu,” lanjutnya.


“Oh, ya? Bukannya kamu masih asyik sama Vina?”


Nathan mengabaikan pertanyaan Widya. Baginya saat ini hanya ingin melepas rindu bersama orang yang ia cintai. Yah, sudah sekian lama mereka tidak memiliki waktu berdua. Jika pun ada kesempatan untuk pergi bersama Widya, maka Vina akan selalu ada di antara mereka berdua.


“Apa jika aku kasih tau kamu, kamu bakal nyusul aku?”


“Pasti, Sayang,” jawab Nathan penuh keyakinan.


“Bersama Vina?” Nathan menautkan kedua alisnya tanda tidak mengerti. “Dan jika kamu datang tanpa Vina pun, saat nanti Vina menghubungi kamu dan meminta bantuanmu, pasti nanti aku langsung ditinggal. Iya, kan? Begitu berartinya Vina buat kamu? Apa melebihi arti diriku dalam hidupmu, Nath?” Kali ini Widya tak ingin menahan kekesalannya pada Nathan.


“Kamu kenapa, Sayang? Jangan cemburu sama Vina! Aku hanya menemani Vina sebagai teman, dia butuh teman saat ini,” tutur Nathan. Ia berharap Widya mau mengerti keadaannya.


“Dan aku? Apa aku nggak butuh kamu?” geram Widya, “Sudahlah. Aku ngomong pun juga nggak guna. Aku mau siap-siap dulu.” Widya bergegas masuk ke dalam rumah.


Nathan termangu mendengar ucapan Widya. “Maaf,” lirihnya sembari melihat punggung sang kekasih yang mulai menghilang dari pandangannya, tanpa mau menjelaskan apa-apa lagi.


Setelah Widya bersiap, mereka pergi ke kampus bersama dengan menaiki motor Nathan. Sepanjang perjalanan hanya Nathan yang aktif berbicara, sedangkan Widya hanya menanggapi seperlunya.


Rasa kecewa dan terluka yang menumpuk di hati Widya seakan tidak mampu menandingi besarnya rasa cintanya untuk Nathan. Semudah itu ia memberikan maaf pada kekasih hati. Meski kesal, ia masih mencoba bersabar menghadapi sikap Nathan yang sama sekali tidak peka.

__ADS_1


“Nath,” panggil Widya.


“Ya, Sayang?”


“Kamu nggak jadiin aku pelampiasan aja, 'kan?” Pertanyaan Widya sontak membuat Nathan cukup terkejut. Tanpa aba-aba, dia menginjak rem yang membuat Widya hampir terjatuh jika tidak berpegangan dengan Nathan.


Nathan menepikan motornya. Dia buka helm yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Dia memutar kepalanya ke samping agar jelas menatap wajah kekasihnya. “Kamu ngomong apa, sih? Aku tulus cinta sama kamu.”


Widya menarik tangannya dari pinggang Nathan. “Apa aku salah, kalau aku ragu sama kamu?” tanya Widya pelan.


Nathan menghela napasnya. Memenangkan hati Widya memang tidak mudah, bahkan saat dia sudah menjadi kekasihnya pun Widya masih menyimpan rasa ragu terhadapnya. “Apa yang buat kamu ragu?”


“Kehadiran Vina di dekat kamu yang bikin aku ragu sama kamu. Kalian terlihat seperti sepasang kekasih, bukan sebagai teman. Dan sejak kehadiran Vina, aku bukan lagi prioritas kamu, tetapi Vina. Hanya ada Vina di pikiranmu,” jawab Widya.


“Maaf, Sayang. Sungguh aku nggak bermaksud seperti itu. Aku hanya nggak bisa melihat Vina terpuruk. Sekarang dia lagi butuh aku. Aku hanya ingin menguatkan dia.”


“Aku cemburu, Nath. Maaf, bukannya aku tidak ingin mengerti keadaan Vina. Hanya saja kebersamaan kalian mengusik hati aku,” tukas Widya, menatap Nathan dengan hampa.


Nathan menarik tangan Widya kembali ke pinggangnya. Mengusapnya pelan untuk memberikan ketenangan. “Yang, demi Tuhan. Di hati aku cuma ada cinta buat kamu. Vina hanya masa lalu. Mulai sekarang aku akan coba membuat jarak dari Vina. Kamu percaya sama aku, 'kan?” Widya mengangguk, walaupun masih ada rasa ragu.


“Jujur Nath, aku nggak pengen kejadian dulu dengan Harsa terulang lagi. Rasa takut itu kadang muncul, apalagi sejak kedatangan Vina dalam hubungan kita,” ucap Widya sendu, Dia mengeratkan pelukannya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung Nathan.


“Apa pun yang terjadi, aku akan tetap bersama kamu. Dapetin kamu itu nggak mudah, Wid. Dan nggak mudah juga buat aku lepasin kamu.” Hati Widya sedikit tersentuh, tetapi dia tidak menanggapi perkataan Nathan.


Setelah menenangkan Widya, Nathan kembali melanjutkan perjalanannya. Widya masih menatap sosok Nathan dari balik tubuhnya. Semoga apa yang dikatakan Nathan benar adanya. Untung saja, dia memiliki sahabat yang selalu mendukungnya. Sehingga ia bisa lebih kuat menghadapi masalahnya.


“Aku harap apa yang kamu katakan itu benar, Nath. Jangan membuat hatiku patah hingga tak berbentuk, hingga aku sendiri akan sulit untuk memperbaikinya,” batin Widya.



...***...


Udah dimaafin, tuh. Jangan diulangin, Nath! Kecuali sama aku 😅🏃‍♀️🏃‍♀️


Bagi giftnya, dong, Gengs. Jangan pelit-pelit, deh 🤭

__ADS_1


__ADS_2