Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 100.2


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


“Wow!” Mata Zakir membulat serta kedua alisnya naik mendengar pilihan Edo. Ide jahilnya pun keluar. Kapan lagi ia mengerjai pemilik perusahaan di mana sang Pujaan Hati bekerja. “Oke. Kalau gitu, sekarang lo berenang ke laut selama dua puluh menit. Bagaimana?” tanya Zakir dengan senyum mautnya yang sejak tadi ia ingin keluarkan.


“What? Berenang malam-malam begini? Lo waras, nggak?” tanya Edo. Ia tidak menyangka jika Zakir benar-benar ingin mengerjainya pada kesempatan ini.


“Iya, nih. Bahaya tahu. Apa nggak ada tantangan lain selain nyelam ke laut? Bukan apanya, ya. Kita di sini, kan, untuk senang-senang. Terus, kalau terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada Edo, ‘kan, kita juga yang salah. Lihat, noh! Di laut gelap, nggak ada penerangan," protes Karin merasa khawatir.


Ucapan Karin membuat Edo menatap wajah Karin diam. Selama ini gadis itu tidak pernah menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan semenjak mereka berdua putus. Dan kali ini, Edo melihat Karin yang lebih dewasa dan bijaksana. Salah satu sudut relung hatinya yang terdalam berharap, jika suatu hari nanti perempuan yang pernah mengisi hatinya bisa kembali ke pelukannya.


“Ya, elah. Segitu khawatirnya lo, Rin, sama Edo. Apa jangan-jangan kalian berdua se-“ Zakir tidak melanjutkan perkataannya karena sudah didahului Karin.


“Apa, lo! jangan mikir macam-macam, yah! Gue cuma nggak mau kalau di antara kita ada sakit. Bikin repot nantinya.” Karin memberikan alasan lagi, sembari memasang wajah sangar.


Melihat sahabatnya berselisih, Harsa pun buka suara mengeluarkan pendapatnya. “Sudah, sudah! Gini aja. Karena tantangan Zakir terlalu ekstrim, gimana kalau Edo ditawarin yang mudah aja. Seperti, mengajukan pertanyaan." Harsa lantas menatap Edo. "Selama ini, kapan lo merasa sangat bersalah terhadap kita semua?” tanya Harsa menatap Edo.


“Lah ... kok, lo, yang ngasih Edo pertanyaan, Bro? Kan, giliran gue," protes Zakir.


“Kelamaan, sih, lo mikirnya,” timpal Kartika, seraya memasukkan jagung bakar ke dalam mulutnya. Tanpa butuh waktu lama, Edo pun menjawab jujur. Yaitu, saat ia mengkhianati Harsa sewaktu mereka SMA.

__ADS_1


Sementara itu, Widya tersenyum menyaksikan perdebatan di antara sahabatnya itu. Lalu, setelah botol itu kembali diputar, kini giliran dirinya yang mendapat challenge tantangan atau kejujuran.


Edo pun memberi pilihan kepada Widya, dan perempuan itu memilih tantangan. Edo pun berkata, “Widya, peragakan lagu anak-anak ‘Topi saya bundar’ dengan menggunakan kata ‘E’ pada setiap liriknya.”


Tanpa pikir panjang, Widya langsung berdiri di depan temannya-temannya memperagakan lagu tersebut. Tingkah Widya yang lucu membuat para sahabatnya tidak berhenti tertawa. Bahkan, Harsa pun juga tertawa melihat aksi Widya menyanyikan lagu tersebut dengan cara ‘plesetin’ liriknya.


Tawa Harsa berhenti saat ujung botol mengarah pada dirinya. “Nah ... lo. Sekarang, giliran elu, Bro.” Zakir menepuk punggung Harsa.


“Ayo, Tik! ajuin challenge untuk Harsa!” seru Zakir mengedipkan mata kanannya ke arah sang pujaan hati.


“Oke. Mm ... Sa, lo pilih kejujuran atau tantangan?” tanya Kartika.


“Gue pilih kejujuran,” sahut Harsa semangat.


Pertanyaan yang diajukan Kartika membuat atensi semuanya menatap satu sumber informasi, yakni Harsa.


Harsa berdiri menatap kosong ke arah laut malam. Perhatian Widya, Karin, Kartika, Edo, dan Zakir menatap punggung lebar Harsa yang membelakangi mereka.


“Saat hati gue selalu berdetak setiap kali melihatnya.” Jawaban Harsa membuat mereka semua ambigu. Karena selain Karin yang pernah pacaran dengan Harsa, ada banyak perempuan yang mendekatinya. Namun, Harsa tidak peduli. Satu hal yang ia sesali adalah melepaskan bunga cantik yang ada di tengah hutan. Kesalahannya beberapa waktu yang lalu membuat Harsa tidak mudah membuka hati untuk perempuan mana pun. Ia menganggap semua itu adalah pelajaran baginya untuk memilih seorang pendamping hidup yang tulus dan yang bukan hanya untuk pelampiasan.


Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia masih mengharapkan bunga itu kembali ke pelukannya. Harsa ingin merawat dan menyirami bunga tersebut setiap hari agar tidak layu dan mati. Bahkan, ia tidak rela jika bunga tersebut jatuh ke kumbang yang lain. Walaupun merasa bingung, tetapi teman-temannya tidak mengajukan pertanyaan lain. Mereka semua paham, mungkin Harsa masih ingin menyembunyikan perasaan cintanya pada perempuan yang sudah mengisi hatinya itu. Permainan itu pun dilanjutkan, setelah Harsa kembali duduk di atas tikar.

__ADS_1


Sesi permainan pun akhirnya berakhir. Malam semakin larut ditambah udara di pinggir pantai semakin dingin menusuk hingga ke tulang.


“Kalian sebaiknya kembali ke penginapan. Tidak baik, perempuan begadang terlalu lama. Apalagi angin malam semakin dingin,” kata Harsa di sela-sela permainan kartu mereka. Ya, setelah puas bermain truth or dare, Edo pun mengeluarkan kartunya. Yang kalah diolesin bedak baby. Hal itu terjadi pada semua orang. Tidak terkecuali dengan Widya, sepanjang permainan kartu Widya tidak berhenti tertawa setiap melihat sahabatnya yang kalah lalu diolesi bedak. Para sahabatnya pun senang melihat tawa Widya kembali bersinar. Mereka pun berharap perlahan Widya bisa menerima takdir Sang Maha Kuasa atas kecelakaan yang menimpa Nathan.


“Ya sudah, kami balik dulu.” Kartika, Widya, dan Karin berdiri dari tempat duduk mereka. “Kalian juga jangan tidur terlalu larut! Nggak baik buat kesehatan.” Widya menasihati sebelum mereka bertiga meninggalkan tempat tersebut.


Sepeninggal para perempuan, Zakir menyenggol lengan Edo. Sejak tadi, ia bisa melihat jika Harsa memiliki rasa yang sangat besar pada Widya. Mereka pun berencana untuk membantu Harsa kembali pada Widya.


“Sa, kami berdua tahu kalau lo masih ada rasa sama Widya.” Zakir mulai membuka pembicaraan di antara mereka bertiga.


“Iya, bener, Sa. Gue dan Zakir akan bantu lo untuk meraih hati Widya kembali. Mungkin, jalan kalian memang sudah digariskan oleh Tuhan seperti ini. Lo harus semangat menghibur Widya, dan sabar menghadapi Widya yang masih membayangkan sosok Nathan.” Edo menepuk punggung sahabatnya.


“Jangan patah semangat! Gue yakin di atas sana Nathan juga berpikiran yang sama dengan gue. Dia memilih lo untuk menjaga Widya, karena Nathan tahu hanya lo yang mampu membuat senyuman Widya kembali. Nathan menitipkan Widya pada lo, karena lo yang paling bisa dipercaya membuat Widya bahagia.”


Harsa diam tertunduk mendengar perkataan sahabatnya. “Lo ingat, Sa! Ada si Hasbi yang siap kapan saja mendekati Widya. Jangan sampai Hasbi udah gerak duluan meraih hati Widya, dan lo kembali menyesal seumur hidup,” ancam Zakir.


Edo dan Zakir memilih meninggalkan Harsa di tepi pantai agar sahabatnya itu mengambil keputusan yang benar untuk kelangsungan hubungan antara Widya dan Harsa.


...***...


**To be continued....

__ADS_1


Yok, semangatin Harsa buat mendapatkan hati Widya. Pada setuju, nggak, kalau mereka bersama, nih? Tulis komentar kalian. Like, vote, dan giftnya jangan lupa, ya 🙏🤭**


__ADS_2