
...***...
Setelah sekian lama tak berbincang akrab, baik Widya dan Nathan terlihat masih canggung meski sikap tengil Nathan sedikit demi sedikit sudah kembali. Terlebih sang mantan sedikit malu-malu setiap menjawab pertanyaan Nathan. Walau obrolan mereka terkesan basa-basi, tetapi tidak dapat dipungkiri jika cinta keduanya masih sangat kuat. Hanya saja rasa kecewa Widya terhadap Nathan, dan rasa bersalah Nathan kepada Widya yang membuat hubungan ini terlihat kaku. Dari tatapan mata dan bahasa tubuh mereka berdua, masih terlihat jelas bahwa hati mereka masih saling memiliki satu sama lain.
Selama Nathan berada di rumah sakit untuk menjalani rawat inap, Widya tidak pernah absen menjenguk sahabat sekaligus mantan pacarnya itu. Ada rasa khawatir yang mendalam di hati gadis manis berambut panjang itu.
Dengan telaten Widya membantu Liana merawat Nathan. Keadaan Nathan pun semakin hari semakin membaik. Nathan memanfaatkan sakitnya untuk mendapatkan perhatian dari Widya. Mulai dari minta disuapi saat makan, juga bermanja dengan Widya saat minum obat. Sungguh, Nathan begitu bahagia mendapatkan perhatian Widya kembali. Senyuman manis selalu tersungging saat Widya berada di sisinya. Layaknya anak kecil, Nathan akan merajuk saat Widya pamit pulang.
Bukan tanpa alasan Widya memberikan perhatian pada mantan kekasihnya itu. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri, jika hatinya begitu resah melihat Nathan terbaring di atas tempat tidur dengan wajah pucat beberapa hari yang lalu. Ada sedikit rasa bersalah hinggap di hatinya melihat kondisi Nathan. Didukung dengan rasa cinta yang masih ada, Widya mencoba memperbaiki hubungannya dengan Nathan. Meski tidak bisa kembali menjadi sepasang kekasih, setidaknya mereka masih bisa bersahabat kembali.
...***...
Langit pagi ini berwarna biru cerah, sama seperti hati Widya. Ia begitu semangatnya menghampiri sang bunda.
"Wih, wangi betul brownies panggang buatan Bunda Arini yang cantik!" seru Widya saat menghampiri bundanya di dapur. Semalam Widya meminta bundanya untuk membuatkan brownies panggang kesukaan Nathan untuk dia bawa ke rumah sakit, kebetulan hari ini para sahabat juga akan berkunjung ke sana.
"Hmm ... kalo ada maunya aja, deh, ngerayu. Pakai panggil bunda cantik segala. Memang selama ini bunda nggak cantik, apa?" seru Arini sambil menowel ujung hidung anak gadisnya. Sedangkan Widya hanya tersenyum simpul karena ketahuan.
"Bunda itu selalu cantik sepanjang masa," ucap Widya sambil memeluk tubuh sang bunda dan mencium pipinya. Bunda pun tersenyum bahagia, anak gadisnya sudah kembali ceria walau belum sepenuhnya.
"Bagaimana keadaan Nathan? apa sudah ada kemajuan?" tanya Arini sambil merapikan alat-alat tempurnya setelah berperang dengan dapur.
"Sudah jauh lebih baik, Bun. Nggak seperti awal masuk IGD. Ya, walaupun masih lemas dan terlihat pucat," jawab Widya.
Setelah selesai memasukkan brownies ke dalam wadah, Widya pun pamit hendak ke rumah sakit. Selama di rumah sakit, ia selalu berada di samping Nathan. Tentu saja dengan Liana yang menemani mereka.
Namun, saat Widya sampai di rumah sakit, ia hanya melihat Nathan sendirian. Mungkin mama Liana sedang pulang atau ke luar membeli makanan. Widya mendekati Nathan, tetapi sang pria tampan itu masih tertidur lelap di atas ranjang rumah sakit. Widya duduk di kursi sebelah ranjang tempat Nathan terbaring. Widya menatap lekat wajah Nathan yang masih terlihat pucat.
"Lekas sembuh, ya. Jangan bikin aku khawatir!" gumam Widya sambil menghapus butiran air mata yang terjatuh di pipi mulusnya. "Kamu tahu? Ternyata aku juga merindukan saat-saat kita bersama. Aku rindu kita tertawa bersama. Apa kamu juga merindukannya? Jika benar kamu merindukannya, kamu harus segera pulih dan sehat seperti dulu." Kini, suara Widya terdengar lirih. Lalu, digenggamnya tangan Nathan dengan perasaan yang lembut penuh cinta. Tak lama setelah itu Liana datang.
__ADS_1
"Eh, ada Widya. Udah lama?" seru Liana menyapa gadis itu. Widya tercekat, segera menarik tangannya yang menggenggam tangan Nathan. Lalu bangkit untuk mencium tangan wanita cantik itu.
"Sekitar lima menit yang lalu, Tan," jawab Widya. "Tante Liana dari mana?" tanyanya balik.
"Beli sarapan sekalian pulang dulu. Kan, si kembar mau sekolah. Walau ada yang bantu di rumah, tetap aja mereka maunya sama mamanya," jawab Liana sambil tersenyum lembut. Terdiam sejenak, Liana sedikit ragu untuk berkata sesuatu pada Widya. "Ehm ... Widya, tante mau bicara sesuatu. Atas nama Nathan, tante minta maaf kalau selama ini Nathan telah banyak menyakiti hatimu, Sayang. Namun, terlepas dari itu semua, sebenarnya Nathan sangat mencintai kamu. Tolong maafkan dia, ya!" pinta Liana dengan wajah sendu. Widya pun hanya mengangguk sambil menggenggam tangan Liana.
"Iya, Tan. Widya sudah melupakan kejadian itu," balas Widya, "oh, iya, bunda buatin brownies panggang kesukaan Nathan. Bunda juga kirim salam buat Tante Liana juga Nathan."
Liana pun segera membawa Widya ke dalam pelukan, berharap semoga hubungan mereka kembali membaik. Widya adalah gadis baik, memang pantas dicintai oleh anaknya.
"Tan, Widya berangkat ke kampus dulu. Ada konsultasi dengan dosen terkait skripsi. Nanti Widya ke sini lagi,” pamit Widya.
"Kamu hati-hati di jalan. Semoga cepet selesai skripsinya," pesan Liana setelah Widya mencium tangannya. Widya pun pergi, Liana menatap punggung Widya sampai hilang di balik pintu.
Sebenarnya mencintai itu sederhana, ketika kamu mampu menerima semua tentangnya, tetapi kadang ego bisa mengalahkan sayang dan cinta.
...***...
"Kamu mau brownies panggang atau makan siang dulu?” tanya Widya dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. “Kamu harus rajin minum obat, biar cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali!" lanjutnya.
"Makan siang dulu," jawab Nathan dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas di matanya, walaupun sebenarnya ia sangat tergoda dengan brownies buatan Arini. Dengan telaten, Widya menyuapi Nathan hingga terdengar ketukan pintu dari luar. Tidak lama kemudian pintu pun terbuka.
"Tara .... met siang, Kawan," canda Zakir sambil menerobos masuk ke dalam ruangan. Widya dan Nathan pun dibuat kaget melihat kelakuan Zakir. Kemudian Harsa, Edo, Karin, dan Kartika pun masuk sambil menyapa mereka.
"Hai, Wid," sapa Karin. Kemudian ia berganti menatap Nathan. "Gimana, Nath, sudah baikan?" tanya Karin.
"Sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Kebetulan ada suster Widya yang merawat dengan sungguh-sungguh dan telaten, penuh cinta dan sayang,” goda Nathan pada gadis di sampingnya. Sedangkan yang digoda hanya tersenyum malu menyembunyikan rona merah di pipi.
"Cie, cie, Widya pipinya merah banget," timpal Zakir sambil menaik turunkan alisnya.
"Zakir Maulana! Lo bisa diam nggak, sih? Jangan suka usil, deh," sewot Kartika. Matanya melotot menatap tajam ke arah Zakir.
__ADS_1
"Yaelah, Sayang. Kok, gitu, sih, sama kakanda." Zakir menggoda Kartika yang masih sewot. Kesal dengan ulah Zakir, Kartika memukul lengan Zakir dengan kunci motor.
"Aduh! Sakit, Sayang ...." Zakir terus saja menggoda Kartika yang manyun tanda tidak suka dengan candaannya.
"Iya ... iya, Kartika Sari. Zakir Maulana minta maaf, ya!" ucapnya sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Berisik!" jawab Kartika sewot.
Melihat tingkah absurd Kartika dan Zakir, teman-teman yang lain hanya menggelengkan kepala. Keseruan pun terjadi di kamar rawat inap itu, yang terdengar hanya canda dan tawa mereka karena ulah Zakir.
"Sekali lagi, gue mengucapkan banyak terima kasih sama kalian semua dan maaf jadi merepotkan," ucap Nathan
"Santai aja. Kayak ama siapa aja lo, Nath. Bukankah kita semua adalah sahabat? Jadi, sudah selayaknya kita saling menolong satu sama lain,” jawab Harsa sambil berjalan ke arah Nathan.
"Makasih sekali lagi, Sa!" ucap Nathan dengan tulus. Entah untuk apa rasa terima kasihnya kali ini.
"Makasih juga buat kamu, Sayang. Makasih sudah mau merawat aku meski aku sering nyakitin kamu,” ucap Nathan pada Widya.
“Kalian udah balikan? Kok, panggilnya masih 'sayang'?” celetuk Zakir. Ekor mata Harsa melirik tajam pada Zakir. Jujur, ia tidak suka dengan pertanyaan Zakir seperti itu.
Widya dan Nathan saling memandang. Senyum manis Nathan suguhkan untuk sang pujaan hati. “Aku masih bisa panggil kamu dengan sayang, kan? Meski kita sekarang hanya bersahabat?” tanya Nathan meminta persetujuan pada Widya. Anggukan kepala Widya semakin melebarkan senyum Nathan.
Drama para sahabat Nathan pun usai, mereka lebih dulu pulang meninggalkan Widya dan Nathan dalam kecanggungan. Mereka hanya saling pandang, tanpa ada yang memulai pembicaraan. Berperang dengan pikiran mereka masing-masing.
...***...
Ciyeee, baikan.
Kalian setuju mereka balikan, nggak? Kalau nggak, Nathannya aku bawa pulang 😂
__ADS_1