
...***...
Hari terus berlalu. Semakin hari hubungan Widya dan Nathan semakin mesra. Banyak teman-teman mereka di kantor yang merasa iri dengan best couple ini, karena selalu bersama dan selalu menebarkan aura positif.
“Wid?” Seorang lelaki dengan perawakan kurus dan jangkung menghampiri Widya di kubikelnya saat Widya hendak pulang.
“Ya, Mas?”
“Pulang bareng Nathan?” tanyanya lagi.
Widya membalas pertanyaan lelaki itu dengan sebuah senyuman. Lelaki paling tampan yang ada dalam divisinya. Ketampanannya mampu menyihir kaum hawa yang ada di dekatnya. Senyumnya yang menawan mampu menggetarkan hati, tetapi itu semua tidak berlaku pada Widya.
“Sesekali pulanglah bersamaku,” pintanya. Lagi-lagi Widya hanya menanggapi dengan senyum manis sembari membereskan barang-barangnya. “Apakah Nathan teramat istimewa sampai kamu tidak ingin mencoba dekat denganku?” Sebuah pertanyaan kembali meluncur dari bibir seksi itu.
Widya semakin tersenyum lebar mendengar penuturan lelaki itu. “Kalau aku dekat denganmu bisa habis aku, Mas,” seloroh Widya.
“Habis gimana?” Lelaki itu mengernyitkan kening. “Apa Nathan begitu posesif? Apa dia akan marah besar jika kamu pulang bersamaku?”
Widya tergelak dengan rentetan pertanyaan itu, “Kalau aku pulang bersama mas Hasbi, aku bakal dihabisi sama fans fanatik kamu, Mas,” terang Widya.
“Dan juga habis sama aku, Yang.” Suara yang begitu familiar tiba-tiba hadir di antara Widya dengan lelaki yang bernama Hasbi itu.
Nathan semakin mendekat. Melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Widya dengan begitu posesif. Tatapannya tajam pada lelaki yang bernama Hasbi. Meski Hasbi tiga tahun di atasnya, Nathan tak gentar. Exel yang jelas lebih dewasa darinya saja tak membuatnya takut.
“Jangan pernah mendekati Widya lagi!” tegas Nathan, “Aku nggak akan segan-segan memberimu pelajaran jika mengusik Widya,” lanjutnya.
Tatapannya yang begitu mengintimidasi membuat nyali laki-laki bernama Hasbi itu menciut. Hasbi sudah tahu siapa Nathan Putra Lesmana. Meski Hasbi tak kalah tampan, tetapi jika diukur dari kekayaan, siapalah Hasbi ini.
Widya yang melihat itu menjadi segan pada Hasbi. “Kita pulang, yuk!” ajak Widya pada Nathan, “Kami duluan, Mas.” Widya menarik paksa tangan Nathan.
Hasbi hanya diam mematung melihat pasangan sejoli itu berlalu. Kekagumannya pada Widya membuat hatinya berontak ingin mencoba mendekati, meski ia tahu lawannya sangatlah berat. Ia hanya berharap Dewi Fortuna berpihak padanya. Tetapi kelihatannya itu tidak mungkin. Hasbi mengembuskan napas kasar. Langkah kaki mengajaknya kembali ke kubikel miliknya untuk mengambil kunci mobil dan berniat segera pulang.
...***...
__ADS_1
Sepanjang langkah kaki menuju tempat parkir Nathan hanya terdiam, membuat Widya menjadi bingung. “Kamu kenapa, sih, Yang?” tanya Widya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Nathan menoleh. Ia putar tubuhnya agar menghadap sempurna ke arah Widya yang duduk di sampingnya. Widya menatap lekat sang pujaan hati sedangkan Nathan meraih jemari Widya. “Yang, aku nggak suka kamu deket-deket sama cowok lain,” ujarnya memelas.
Wajah frustrasi Nathan membuat Widya menyunggingkan senyum, “Kamu cemburu?” Widya mencoba menggoda Nathan.
“Aku nggak lagi becanda, Yang. Aku benar-benar nggak suka ada cowok lain yang dekat sama kamu. Sudah cukup Harsa saja yang jadi saingan aku.”
Widya semakin tergelak mendengar penuturan Nathan. “Yang, dengerin aku! Aku sama mas Hasbi cuma temenan doang. Terus ngapain pula kamu bawa-bawa Harsa?”
“Tapi aku bisa lihat, si sontoloyo Hasbi itu suka sama kamu,” ujar Nathan sembari memalingkan wajahnya, “Dan aku tahu, cinta Harsa buat kamu tak kalah besar dari cintaku sama kamu,” lanjutnya.
“Nath, lihat aku!” pinta Widya. Nathan pun kembali memandang wajah manis di depannya. “Bukankah kita sudah komite untuk saling percaya? Apa kamu nggak percaya sama aku lagi?”
“A-aku percaya sama kamu. Hanya saja kesalahanku di masa lalu membuatku takut kamu akan berpaling ke lain hati.” Nathan tergagap, ia seperti diingatkan lagi dengan kesalahannya yang telah lalu. Wajahnya pun sontak memancarkan rasa sendu.
Widya merangkum wajah Nathan, membuat manik mata mereka bertemu. “Apa kamu tidak bisa merasakan jika cintaku untuk kamu seutuhnya?” tanya Widya.
“Aku tahu.”
“Di luar sana masih ada banyak laki-laki yang jauh lebih baik dariku, Yang. Aku merasa tidak pantas untuk kamu.”
“Oh, ya? Kalau kamu merasa tidak pantas, lalu untuk apa kita menjalani semuanya sekarang?” kesal Widya.
Nathan tertunduk. Ia begitu ketakutan jika Widya meninggalkannya suatu hari nanti. “Nath, mau sebanyak apa pun laki-laki di luar sana yang jauh lebih baik dari kamu, kalau hatiku hanya memilihmu, kamu tetap pemenangnya. Jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi. Aku nggak suka!” tegas Widya.
“Maafin aku, Yang. Kalau begitu, secepatnya kita harus menikah,” ucap Nathan.
“Menikah?” Widya menautkan kedua alisnya.
“Iya. Kamu mau, ‘kan, nikah sama aku?”
Widya termangu. Menatap geli pujaaan hatinya. “Apa ini sebuah lamaran?”
Nathan mengangguk serius. Binar kebahagiaan tampak jelas di wajahnya. Berharap Widya menerima lamarannya. “Nggak romantis banget. Masa melamar kayak gini,” cibir Widya.
__ADS_1
Sesaat Nathan mencerna ucapan Widya, hingga ia menyadari kekonyolannya. “Maaf!” pintanya sambil meringis menahan malu.
Widya hanya tersenyum simpul dengan kelakuan Nathan, “Kita pulang sekarang, ya!” ajak Widya.
Nathan segera menjalankan kendaraan roda empat miliknya. Ia berjanji akan memberikan lamaran yang romantis untuk sang pemilik hati.
...***...
Tiga hari berlalu semenjak kejadian itu. Widya begitu khawatir karena seharian ini Nathan tak bisa ia hubungi. Tiba-tiba sebuah pesan muncul dari Liana. Ia meminta Widya untuk datang ke rumah karena Nathan sakit.
Secepat kilat Widya menuju rumah Nathan setelah pamit pada kedua orang tuanya. Sampai di rumah Nathan, Widya segera diminta menuju kamar Nathan. Masuk ke dalam kamar, Widya tak menemukan Nathan di sana dan itu membuatnya panik. Namun, tiba-tiba matanya ditutup oleh sebuah telapak tangan dari arah belakang.
“Nath, jangan macam-macam!” protes Widya.
“Aku hanya satu macam kok, Yang, nggak macam-macam. Sini ikut aku!” Tanpa melepas tangannya dari mata Widya, Nathan menuntun Widya menuju balkon kamarnya. Saat Nathan melepas tangannya Widya dibuat terpukau dengan dekorasi yang ada di sana.
Sebuah tulisan 'will you marry me' dari ribuan kelopak bunga mawar merah terbentuk di lantai yang mengelilingi sebuah meja dan kursi. Di atas meja sudah tersedia sebuah cake cantik berbentuk love dan dihiasi sebuah tulisan 'I Love you'.
Belum selesai dengan keterpukauannya, Widya dibuat kembali tercengang dengan kehadiran Nathan yang tiba-tiba bersimpuh di hadapannya sambil menyerahkan sebuah kotak berisi sebuah cincin berlian yang sangat cantik. Kedua orang tua Nathan beserta adik kembarnya tersenyum melihat adegan manis yang ada di hadapan mereka.
“Widya Putri Esmeralda, aku Nathan Putra Lesmana disaksikan oleh kedua orang tuaku juga adik-adikku dengan tulus memintamu untuk menjadi istriku, menjadi ibu bagi anak-anakku, menjadi pendampingku hingga maut memisahkan. Bersediakah kamu menjadi satu-satunya ratu dalam istana cintaku?”
Widya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tak percaya Nathan melakukan hal seromantis ini. Widya mengangguk tanda setuju. Semua yang hadir turut merasakan kebahagiaan sepasang anak manusia itu. Senyuman lebar terpatri di bibir Nathan. Lantas lelaki itu bangkit, lalu memakaikan cincin berlian itu di jari manis Widya.
“Makasih, Sayang.” Tubuhnya mendekap erat sang pujaan hati. Widya menangis haru dalam pelukan sang calon suami.
Tanpa Widya duga, ayah dan bundanya ikut menyaksikan kejadian itu meski agak terlambat, tetapi mereka masih bisa menyaksikan momen bahagia putri semata wayangnya. Liana-lah yang berinisiatif untuk mengundang orang tua Widya.
Usai momen romantis, mereka menikmati jamuan makan malam yang sudah disiapkan oleh Liana sambil membicarakan rencana pernikahan putra-putri mereka. Rencananya acara lamaran secara resmi akan diadakan satu minggu sebelum acara pernikahan. Nathan dan Widya begitu bahagia, tinggal selangkah lagi cinta mereka akan dikukuhkan dalam ikatan suci pernikahan.
...***...
Selamat, udah lamaran. Kira-kira endingnya asyik pas nikahan aja atau gimana, nih? Yuk, kasih masukan 😅
__ADS_1