Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 47.1


__ADS_3


...***...


Malam ini, rumah Nathan yang biasanya sepi terlihat ramai dan meriah. Dekorasi ulang tahun yang cantik terlihat di beberapa sudut. Acara ulang tahun Vina dipusatkan di taman samping rumah dekat kolam renang. Widya melihat kelima sahabatnya sudah berada di lokasi ketika ia tiba.


“Yuk, kita temuin Vina dulu!” ajak Nathan meraih tangan Widya dan meletakkanya di lengannya.


“Apaan, sih, Nath,” Widya malu-malu menuruti Nathan.


“Biar romantis, Sayang,” lirih Nathan membuat wajah Widya semakin memerah.


Mereka berjalan menemui Liana. Setelah berbasa-basi, mereka mencari keberadaan Vina.


“Selamat ulang tahun, Vin. Semoga panjang umur dan sehat selalu,” ucap Widya sembari mengulurkan kado yang ia bawa.


“Terima kasih, Wid,” balas Vina dengan senyum palsunya. Ia terbakar cemburu melihat Widya dan Nathan yang terlihat begitu serasi.


Acara demi acara mereka lewati, hingga tiba pada acara tiup lilin dan pemotongan kue. Potongan kue pertama Vina serahkan kepada papanya yang sengaja datang dari Singapura.


“Potongan kedua teruntuk orang yang sangat spesial buat kak Vina. Siapa, ya, orang yang beruntung tersebut?” kalimat MC membuat riuh pengunjung dengan tepuk tangan dan kasak-kusuk.


“Saya persilakan kepada tuan rumah sekaligus orang spesial yang beruntung malam ini. Kak Nathan dipersilakan maju ke depan.”


Seketika nyali Widya menciut ketika semua sorot mata tertuju pada Nathan yang berada di sampingnya. Riuh tepuk tangan dan sorakan tamu undangan segera menyadarkan Widya dari keterkejutannya.


“Sayang, aku maju sebentar, ya,” pinta Nathan. Tanpa menunggu jawaban Widya, Nathan berlalu meninggalkan Widya seorang diri.

__ADS_1


Karin dan Kartika yang tanggap segera menghampiri Widya dan duduk bersama. Saat itu Widya mulai merasa tidak nyaman. Melihat kekasihnya di depan tersenyum bahagia bersama gadis lain tentu saja membuat hati Widya terusik.


Acara resmi telah usai, papa Vina juga terlihat meninggalkan tempat ini. Kini saatnya acara santai dan makan-makan. Widya dan Nathan berdiri di samping kolam renang sembari menikmati musik yang tercipta dari sebuah grup band ternama di kalangan anak muda. Tiba-tiba ponsel Nathan berbunyi.


“Sayang, aku ke dalam bentar, ya. Mau ngangkat telepon dulu, di sini terlalu ramai,” pamit Nathan.


Widya berdiri sendirian, tamu undangan juga sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang mengambil makan, mengambil minum, ikut menari dan ada pula yang bersenda-gurau. Begitu pula dengan kelima sahabat Widya.


“Sendirian, Wid? Nathan mana?” ucap Vina yang tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya. Widya menoleh menatap Vina yang tersenyum sinis ke arahnya.


“Nathan ada di dalam,” jawab Widya pelan.


“Oh …." Vina menengok ke kiri dan ke kanan. Melihat situasi orang-orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Kepala Vina sedikit condong mendekati telinga Widya. "So, kamu harus persiapkan diri kamu sebelum Nathan ninggalin kamu." Vina melanjutkan kata-katanya dengan seringai liciknya.


“Maksud kamu apa?” tanya Widya sembari menarik mundur kepalanya.


Byur!


"Tolong ...."


Teriakan seseorang bersambung dengan teriakan tamu yang hadir mengembalikan kesadaran Widya. Ia terkejut ketika melihat Nathan menceburkan dirinya ke kolam renang untuk menolong seseorang. Kejadian itu begitu cepat, hingga Widya tercenung sesaat. Dan yang membuat Widya lebih syok ketika ia menyadari bahwa orang yang ditolong oleh Nathan adalah Vina.


Seketika suasana menjadi tegang. Orang-orang yang bekerja di rumah Nathan berlarian. Terlihat kepanikan di wajah mereka. Hal itu tentu membuat Widya bingung. Widya hanya diam ketika melihat Nathan membopong tubuh Vina dan membawanya menepi. Tubuh Vina segera diterima beberapa asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Nathan dan membawanya ke dalam.


Belum hilang dari rasa keterkejutannya, Widya dikejutkan lagi oleh suara Nathan yang menghampirinya dengan baju basah kuyup.


“Aku kecewa sama kamu, Wid. Sungguh aku kecewa. Ada masalah apa sebenarnya antara kamu dan Vina? Apa kamu begitu dendam dengannya hingga kamu tega berbuat seperti ini? Kamu tahu nggak, kalau Vina tidak bisa berenang?”

__ADS_1


Suara Nathan menggelegar memenuhi area itu. Tampak kemarahan yang teramat besar di sorot matanya. Widya hanya termangu menatap Nathan. Widya mencoba mencerna setiap kalimat Nathan. Kenapa Nathan marah pada dirinya, serta dendam apa yang dimaksud Nathan. Belum selesai Widya mencerna kalimat itu, ia kembali dikejutkan dengan suara Nathan yang kembali meninggi.


“Aku nggak nyangka kalo kamu sepicik ini. Jika terjadi sesuatu dengan dia, aku yang harus bertanggung jawab, ngerti nggak, sih, kamu? Aku bener-bener nggak nyangka Widya yang aku kenal dulu sudah berubah menjadi Widya yang penuh dendam!” sarkas Nathan.


“Nathan, cukup! Kenapa lo menyalahkan Widya?” bentak Harsa yang tidak terima Widya dituduh macam-macam oleh Nathan. Harsa yang sedari tadi menjadi penonton menghampiri Nathan dan Widya, membuat atensi Nathan beralih pada Harsa. Sedangkan Widya menatap Nathan dengan rasa hampa.


Nathan-nya, orang yang ia percaya membawa separuh hatinya, kini tega menuduhnya dengan suatu hal yang tidak ia mengerti. Juga tega membentaknya di depan umum. Rasanya, Widya tidak lagi memiliki harga diri di sini. Lagi, hatinya merasa terkoyak habis. Seberkas asa untuk cinta yang Nathan tawarkan ternyata hanya ilusi semata. Di mana semua hanya bayang semu yang akan memudar saat waktunya tiba.


“Lo bisa, nggak, kalo bicara jangan ngebentak kayak gitu? Lo sadar, nggak, udah nyakitin Widya lagi? Mau seberapa banyak luka yang mau lo goreskan di hati Widya, hah?” Kedua bola mata Harsa menatap nyalang ke arah Nathan.


Nathan tersenyum sinis melihat pembelaan Harsa pada Widya. “Kenapa? Nggak terima? Bawa pulang kalo lo nggak terima, sebelum gue bener-bener marah melihat kegilaan kalian berdua di rumah gue!” cibir Nathan.


“Cukup, Nath!” Kali ini Kartika yang bersuara, diiringi sebuah tamparan yang lumayan keras di pipi kiri Nathan. Entah sejak kapan Kartika sudah berada di antara mereka. Karin memeluk Widya erat memberi kekuatan pada sahabatnya.


Nathan tersenyum menyeringai pada Kartika seolah meremehkan tamparan dari Kartika. “Selama ini gue udah diem aja, ya, liat lo nyakitin Widya. Kali ini lo udah keterlaluan. Jangan harap gue diem aja!” lanjut Kartika.


“Sahabat yang baik. Thanks, buat tamparannya. Urusin sahabat baik kalian yang penuh dendam ini!” ucapnya sambil menunjuk Widya. Nathan tak lagi menghiraukan kemarahan sahabat-sahabatnya. Ia berlalu meninggalkan mereka semua. Sorot matanya penuh kekecewaan pada Widya dan para sahabatnya.


Widya masih termangu mendengar penuturan Nathan. Sakit hatinya melihat tatapan tajam Nathan yang seolah menyalahkan dirinya atas kejadian yang baru saja menimpa Vina. Air matanya tumpah tanpa bisa dicegah. Dadanya terasa begitu sesak, seakan batu besar tengah menghimpitnya saat ia memperoleh perlakuan seperti itu. Widya mengedarkan pandangannya. Kini, semua mata tertuju padanya dan menatap dengan sorot mata menyudutkan.


...***...



Gimana? udah dua bab, kan?


Kalau nggak juga ngasih gift, apalagi nggak like kelewatan, deh, kalian 🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2