
...***...
Meski sudah lewat beberapa hari semenjak ia pulang dari rumah sakit, nyatanya Widya tetap asyik dengan dunianya sendiri. Ia abaikan bunda dan ayah yang teramat mengkhawatirkannya. Pun dengan keberadaan para sahabat yang setia menemaninya. Widya benar-benar rapuh. Jiwanya terasa begitu kosong tanpa Nathan di sisinya. Meski pesan dari Nathan selalu terngiang, tetapi ia tidak mampu membendung duka yang masih menyelimuti hatinya. Di dalam kamar, Widya hanya termenung, menangis, dan sesekali tertawa. Setiap orang yang melihat gadis itu pasti akan merasa iba. Pasalnya, selama ini yang mereka tahu Widya adalah gadis yang periang, sabar, dan tegar. Nyatanya apa yang mereka pikirkan dan mereka lihat selama ini adalah salah. Bahkan dokter di rumah sakit tempat Widya dirawat pun khawatir, jika Widya mengalami prolonged grief disorder (gangguan mental akibat kehilangan orang tersayang). Oleh karena itu, dokter tersebut menyarankan kepada Bowo dan Arini untuk rutin membawa Widya kontrol dan mengalihkan semua perhatian Widya tentang Nathan.
Seperti hari-hari biasanya, Arini dengan sabar merawat dan memberikan perhatian lebih kepada Widya, sehingga untuk sementara waktu ini ia selalu menolak pesanan kue dari para pelanggan.
“Widya sayang, sarapan dulu, yuk! Baru setelah itu kita minum obat. Ini bunda buatin ayam goreng dan sayur capcay kesukaan kamu.” Arini mencoba membujuk Widya agar mau makan dan meminum obatnya. Pasalnya, dari semalam Widya tidak mau menyentuh makanan dan obatnya sama sekali.
“Atau kamu mau bunda suapin aja? Bunda kangen, deh, pengen nyuapin anak kesayangan bunda. Sudah lama, ‘kan, ya, bunda nggak pernah nyuapin kamu? Terakhir kali waktu kamu sakit pas kelas dua belas.” Namun, Widya tetap bergeming. Pandangan matanya hanya menatap kosong pada jendela kamar. Hal itu membuat Arini menitikkan air mata.
“Sayang ... sudah, ya, sedihnya! Bunda nggak kuat, Nak, kalau setiap hari harus melihat putri kesayangan bunda jadi seperti ini.” Arini mulai terisak. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh juga.
Setelah melihat dan mendengar Arini yang menangis pilu, akhirnya kesadaran Widya pun kembali. Meski gurat kesedihan masih terpancar dalam diri gadis itu.
“Bunda,” lirih Widya memanggil Arini.
“Iya, Sayang. Bunda di sini.” Arini menggenggam erat tangan Widya.
“Maafin Widya, ya, Bun!” Widya menundukkan kepala. Merasa menyesal karena sudah membuat Arini bersedih.
Arini meraih tubuh putri kesayangannya, memeluk dan memberi kehangatan, serta mencurahkan seluruh kasih sayangnya. Berharap dengan begitu ia dapat mengurangi rasa sakit yang dialami oleh putrinya.
__ADS_1
“Enggak sayang, kamu nggak salah. Jadi, kamu nggak perlu minta maaf sama bunda. Bunda cuma mau kamu kembali seperti dulu. Kembali menjadi Widyanya bunda yang selalu ceria dan semangat,” ucap Arini lembut. Ia usap kepala Widya dengan sayang. “Sekarang kamu makan ya, Nak!” mohon Arini pada putrinya dan dijawab dengan anggukan lemah oleh Widya.
Akhirnya setelah melepas pelukannya pada Widya, ia mulai menyuapi putri kesayangannya dengan telaten. Tidak banyak makanan yang masuk ke mulutnya, tetapi itu bukan masalah bagi Arini. Melihat Widya mau makan saja sudah lebih baik daripada tidak sama sekali. Tiga puluh menit setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter, mata Widya kembali terasa berat. Gadis itu merasa sangat mengantuk. Setelah memastikan Widya benar-benar terlelap, Arini memasangkan selimut pada tubuh anaknya. Mengecup kening putri kesayangannya, kemudian meninggalkan Widya yang masih berselimut duka.
Sedangkan di ruang tamu rumah Widya, pagi-pagi telah dipenuhi oleh kehadiran sahabat-sahabatnya. Harsa, Edo, Zakir, Karin, dan Kartika. Untuk para pria, mereka selalu menyempatkan diri untuk datang di pagi dan sore hari. Sedangkan para gadis–Karin dan Kartika, mereka selalu stay di tempat. Karin dan Kartika hanya akan meninggalkan Widya jika sedang bekerja saja. Selebihnya, siang dan malam mereka akan menemani Widya. Walau kehadiran mereka hanya dianggap bayang semu oleh Widya.
“Gimana, Bun? Widya mau makan?” tanya Karin semangat ketika melihat Arini mulai menghampiri mereka yang berada di ruang tamu.
“Alhamdulillah ... walau sedikit, Widya sudah mau makan,” jawab Arini lemah. Arini merasa sedih dan lemah karena melihat keadaan Widya yang seperti mayat hidup. Beraga, tetapi tak bernyawa.
“Bunda yang sabar, ya! Insya Allah, Widya akan kembali seperti sedia kala.” Bowo memegang kedua bahu Arini mencoba menguatkan dan diaminkan oleh ke lima pemuda-pemudi yang berada di sana.
Setelah mengetahui kabar Widya pagi ini, kelima sahabat tersebut berpamitan kepada Arini dan Bowo untuk berangkat bekerja ke perusahaan masing-masing, dan berjanji akan kembali menemani Widya sepulang bekerja nanti. Harsa pergi bersama Zakir, sedangkan Edo berangkat bersama Karin dan Kartika.
...***...
“Zak, gue balik duluan, ya. Kerjaan lo masih banyak, kan? Nanti lo baliknya pakai ojol aja, ya!” ucap Harsa santai sambil merapikan meja kerjanya.
“Sialan lo! Masa gue disuruh naik ojol? Tau gitu, tadi gue bawa mobil sendiri,” umpat Zakir pada Harsa.
“Kerjaan gue, ‘kan, sudah selesai dan kerjaan lo masih banyak. Kalau misalnya gue nungguin elo kelar, gue mau pulang jam berapa lagi, Bokir? Yang ada gue di sini cuman nemenin lo ngelembur tanpa digaji,” kelakar Harsa.
“Ah, elah, perusahaan punya sendiri aja pake itung-itungan cuan segala lo, Sa. Udah, pergi lo sana! Gue tau lo pasti mau ke rumah Widya, ‘kan? Karena gue lagi baik hari ini, jadi gue izinin, deh, lo pergi,” perintah Zakir ala bos besar pemilik perusahaan.
__ADS_1
“Sotoy, lo. Mana tahu kalau gue mau pulang ke rumah dulu sebelum ke rumahnya Widya.” Setelah mengucapkan itu Harsa meninggalkan Zakir dengan beberapa karyawan di perusahaan yang baru ia rintis bersama sahabatnya tersebut.
"Sama aja tujuannya tetap rumah Widya," decak Zakir meski tidak bisa didengar oleh Harsa.
Setelah empat puluh lima menit perjalanan, akhirnya mobil Harsa terparkir sempurna di depan pagar rumah Widya. Belum sempat Harsa turun dari mobil, dirinya sudah melihat Widya berjalan cepat menggunakan piama tidur berwarna putih tanpa alas kaki, kemudian meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan Arini. Harsa yang mulai curiga dengan tingkah Widya ikut berlari dan mengejar gadis itu. Pun tempat yang ingin dituju oleh Widya adalah danau hijau di ujung taman. Tempat di mana dulu Widya dan Nathan sering menghabiskan waktu bersama di sore hari. Tempat ini merupakan tempat bersejarah bagi mereka berdua.
Widya berdiri di ujung dermaga merentangkan kedua tangan, merasai embusan angin kencang. Berharap angin tersebut mampu menerbangkan kerinduannya terhadap Nathan. Namun, hal itu sia-sia karena kerinduan yang ia rasakan menjadi semakin dalam.
“Yang, harus berapa lama lagi aku menunggumu. Tidakkah, kau tau rindu ini benar-benar menyiksaku? Hatiku sakit setiap ada orang yang berkata kalau kamu telah tiada. Aku ingin bersamamu, Yang. Tunggu aku! Aku akan menyusulmu.” Widya melangkahkan kakinya ingin menceburkan diri ke dalam danau. Namun, dengan cepat Harsa datang dan meraih satu tangan Widya. Menarik ke arahnya kemudian memeluk gadis itu dengan erat. Widya yang merasa ada yang menghalangi niatnya mulai berteriak dan memberontak.
“Lepasin! Lepasin aku! Biarkan aku pergi! Nathan sedang menungguku di sana.” Widya terus memberontak, berteriak, menangis, dan memukul dada bidang Harsa. Namun, hal itu tidak membuat Harsa lemah. Ia malah semakin memeluk erat tubuh Widya.
“Sadar, Wid! Sadar!” Harsa mengurai pelukannya. Kedua tangannya mengguncang bahu Widya.
“Apa yang kamu lakukan ini salah, Wid. Nathan nggak akan suka sama apa yang kamu lakukan saat ini. Nathan mau kamu bahagia, bukan malah menderita seperti ini. Apa kamu nggak mikir, gimana nasib ayah dan bunda kalau kamu ngelakuin hal bodoh seperti tadi? Gimana perasaannya om Daniel dan tante Liana lihat kondisi kamu seperti ini? Kamu nggak mikirin gimana setianya Karin dan Tika yang setiap hari mengkhawatirkan kamu, tapi kamunya nggak peduli sama MEREKA. Kamu MIKIR, nggak, sih, Wid? Nathan di sana sudah tenang. Kamu hanya perlu berdoa buat dia. Dengan kamu seperti ini, dia juga akan sedih di sana." Harsa mencecar Widya panjang lebar dengan nada sedikit tinggi.
Mendengar kalimat panjang dari Harsa membuat Widya menangis kemudian merosot menjatuhkan diri di atas papan kayu, menyadari kebodohannya, karena selama seminggu ini ia telah membuat orang di sekitarnya pun ikut menderita. Harsa yang merasa hatinya teriris pun kembali merengkuh tubuh Widya, dan memeluknya berusaha memberikan ketenangan.
“Rindu yang paling menyakitkan ialah merindukan orang yang telah tiada. Namun, cara kita membahagiakan orang yang telah tiada bukan dengan cara menyusulnya, melainkan mendoakan. Ingat, Wid! Gue, ayah, bunda, dan temen-temen yang lain akan selalu ada buat lo," ucap Harsa sambil mengusap lembut kepala Widya. Widya menanggapinya hanya dengan menangis di pelukan Harsa.
“Gue janji, Nath. Gue akan selalu menjaga Widya seperti apa yang lo minta waktu itu,” batin Harsa.
...***...
__ADS_1
Dukung Widya terus, ya, Guys 🤧