Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 40


__ADS_3


...***...


Nathan berusaha mengejar Widya, memohon agar kekasihnya menarik kata-katanya. Ia sungguh tidak sanggup putus dari Widya. Kekasih yang didapatkan dengan penuh perjuangan tidak akan ia lepaskan begitu mudahnya.


“Sayang, tunggu!” Nathan berusaha menghentikan Widya yang hendak masuk ke dalam taksi yang berhenti di depannya.


Mendengar suara Nathan yang sudah berada di dekatnya, Widya yang sudah membuka pintu mobil sejenak mengurungkan diri masuk ke dalam taksi, lalu menoleh kepada Nathan yang sudah berdiri di sampingnya.


“Apalagi, Nath? Apa lagi yang ingin kamu jelaskan? Apa kali ini bagimu tidak cukup sudah menyakiti hatiku?” Masih dengan deraian air mata yang membasahi pipi, Widya menatap wajah mantan kekasihnya yang baru beberapa menit ia putuskan.


Nathan menggeleng. “Nggak gitu, sayang.” Nathan berusaha meraih jemari Widya. Namun, dengan cepat Widya menghindar.


Widya menyeka air mata yang ada di pipinya. Lalu beralih menatap Nathan. “Sudah cukup, Nath. Di antara kita sudah berakhir. Kamu nggak usah ngejar aku lagi. Hubungan kita selama ini mulai renggang semenjak ada Vina. Kamu selalu menomorsatukan gadis yang kamu anggap sahabat kecilmu dibanding aku yang sebagai kekasihmu,” lirih Widya yang merasa sakit hati dengan perlakuan Nathan akhir-akhir ini kepadanya, yang selalu menomorduakan dirinya.


Sementara itu, sopir taksi yang menyaksikan drama pertengkaran mereka pun lantas angkat bicara menghentikan Widya dan Nathan berdebat. “Non, jadi pesan taksinya?” tanya laki-laki paruh baya berseragam biru sesuai warna mobilnya.


Kedua manusia beda gender tersebut sontak menoleh ke arah sopir taksi. “Iya, Pak!” Widya lekas masuk ke dalam mobil meninggalkan Nathan yang masih terpaku di tempatnya.


Melihat taksi yang kendarai Widya menjauh, Nathan menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. Perkataan Widya yang meminta mengakhiri hubungan asmaranya membuat ia berteriak melampiaskan kekesalannya.


“Aaargh …!” teriak Nathan sekencang-kencangnya. Ia mendongakkan kepala sambil menutup matanya menghadap ke langit tanpa memedulikan lalu-lalang kendaraan dan orang-orang yang tengah melihat ke arahnya. “Aku bisa mati tanpa kamu, sayang. Kamu adalah bagian penting dalam hidupku,” gumamnya. Tanpa terasa butiran bening itu menetes dari sudut matanya. “Aku nggak mau kita putus. Aku akan lakuin apa pun buat mempertahankan kamu, sayang. Tetaplah di sisiku. Aku akan buktikan besarnya cintaku buat kamu.” Nathan bangkit, menghapus kasar butiran bening yang membasahi pipinya.


***

__ADS_1


Taksi yang ditumpangi Widya berhenti di salah satu taman yang ada di tengah kota. Gadis berwajah sendu itu mendaratkan tubuhnya di deretan kursi kayu bercat putih yang saling membelakangi dengan sandaran kayu sebagai pembatas.


“Ternyata selama ini aku telah menjadi gadis yang bodoh. Hanya diriku yang mencintai kamu, Nath. Sedangkan kamu, dari sikap dan perilaku saja tidak menunjukkan rasa peduli dan peka padaku. Perjuanganmu mendapatkanku tidak sebesar rasa cintaku padamu,” lirih Widya. Buliran bening kembali menganak sungai membasahi wajah manisnya.


“Benar apa kata orang, manis madu hanya di awal saja. Kumbang yang menemukan putik baru lebih betah menghisap di sana dan meninggalkan putik lama.”


Semua kenangan tentang Nathan sekelebat terlintas di benak Widya. Masa-masa indah mereka yang telah dilalui beberapa bulan ke belakang menjadi kenangan tersendiri di memori Widya. Mulai dari tingkah Nathan yang pecicilan meraih hati Widya sampai sikap romantisme laki-laki jangkung itu membuat hati Widya selalu berdebar saat berada di dekat Nathan.


Pengaruh Nathan saat itu benar-benar bagaikan candu bagi Widya yang saat itu hatinya kosong. Dengan pertimbangan matang, ia begitu yakin menjatuhkan pilihan hatinya pada sosok Nathan yang mampu menggeser posisi Harsa di sudut terdalam relung hatinya.


Namun, kenangan itu sudah tidak ada artinya lagi. Ucapan kata ‘putus’ yang keluar dari mulutnya tidak serta merta keluar begitu saja. Dengan berbagai pertimbangan ia lebih baik mengalah untuk mengakhiri hubungan yang tidak sehat. Daripada menjadi boomerang dan menjadi tekanan batin bagi dirinya saat terngiang kembali foto kemesraan Nathan dan Vina, Widya memilih mundur.


Isak tangis Widya di kursi taman membuat seseorang terbangun. Yah, di kursi bagian belakang, Harsa bangun memperbaiki posisi duduknya.


“Jangan buang-buang air matamu yang sangat berharga hanya untuk menangisi laki-laki yang sudah membuat kamu terluka!” Dari belakang, Harsa mengulurkan sebuah sapu tangan kepada Widya.


Suara yang tidak asing membuat Widya menoleh. Ia tersentak kaget saat melihat keberadaan Harsa tengah duduk santai di belakangnya. “Harsa? Sejak kapan lo di sini? Apa yang lo lakukan di taman ini?” tanya Widya penasaran sekaligus bercampur takut. Widya yakin, Harsa sudah mendengar semua uneg-uneg yang sejak tadi ia lontarkan.


Harsa pun tersenyum mendengar pertanyaan Widya yang beruntun. Laki-laki berkaos navy dipadukan dengan kemeja abu-abu kotak-kotak, itu pun lekas bangkit dari posisinya dan berpindah ke samping Widya ikut mendaratkan tubuhnya di sana.


“Ingus lo keluar, tuh!” Harsa menghibur gadis pujaan hatinya.


Dengan refleks Widya menyeka hidung dan wajahnya yang sembab akibat kebanyakan menangisi hubungannya dengan Nathan yang menurutnya sudah berakhir. Tingkah Widya membuat Harsa gemas dengan sikap gadis di sampingnya.


“Lo belum jawab pertanyaan gue, Harsa!” Widya kembali menatap Harsa yang duduk di sebelahnya dengan tatapan sayu. Matanya bengkak, hingga ia sulit membuka matanya dengan lebar.

__ADS_1


Laki-laki tampan itu menarik sudut bibirnya. Kemudian berkata, “Dunia ini begitu unik, yah. Penuh sandiwara dengan banyak adegan. Kita berperan sebagai tokoh sekaligus dalang dari sebuah lakon yang kita mainkan sendiri.” Harsa masih menatap ke depan memperhatikan sejumlah anak-anak dan pasangan muda-mudi mulai memadati area taman di sore hari.


Widya masih diam mencerna kalimat Harsa baru saja. Namun sayang, dia tidak paham akan maksud dari perkataan temannya itu.


“Berhenti bersedih! Sebagai seorang perempuan lo harus kuat di hadapan lawan jenismu. Jangan lemah dan terlalu kentara memperlihatkan rasa kesedihan dan kekecewaan lo ke hadapan orang-orang! Siapa pun itu. Apalagi di hadapan Cindy dan Vina. Kalau menurut sutradara, mereka berdua adalah tokoh antagonis dari sebuah lakon yang dimainkan. Oleh karena itu, lo harus bangkit dari keterpurukan dan membuktikan kepada mereka kalau lo baik-baik saja dan kuat dalam menjalani lakon yang sedang lo mainkan. Semua hasilnya, penonton bisa menilainya. Mana tokoh yang baik dan tokoh yang jahat.”


Widya mencerna perkataan Harsa yang menghibur. Benar apa yang dikatakan laki-laki yang pernah mengisi hatinya itu. Walau kejadian patah hatinya sudah beberapa tahun silam, kini ia bisa melihat sosok Harsa yang dewasa dan lebih bijak dalam menelaah kehidupan.


“Terima kasih, Sa. Berkat nasihat dari lo, gue ngrasa tenang. Gue akan menjadi kuat sebagai tokoh utama dari sebuah dalang seperti yang lo katakan,” tekad Widya.


Langit biru berubah menjadi kemerahan. Cahaya yang menyertainya pun perlahan berangsur memudar. "Kalau lo butuh sandaran, bahu gue siap untuk gue pinjamkan," ucap Harsa ketika melihat masih ada sorot kesedihan di matanya. "Jujur, gue sakit melihat lo seperti itu, Wid." Ucapan Harsa justru membuat tangis Widya kembali pecah.


Harsa semakin tidak tega, bagaimana pun Widya adalah gadis yang sampai detik ini masih mengisi hatinya. Melihat ia terluka, tentu saja hatinya juga terluka.


Tanpa bisa menolak kata hatinya, Harsa mendekati Widya yang masih terisak. Menariknya ke dalam pelukannya dengan harapan gadis itu mendapat sedikit ketenangan.



...***...



Eh, Harsa curi-curi kesempatan, ya 🤭


Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Love you 🥰

__ADS_1


__ADS_2