
...***...
Vina terus meracau, mengatakan hal-hal tentang perasaannya pada Nathan. Mulai dari penyesalannya yang meninggalkan Nathan hingga ia sadar masih memiliki rasa buat Nathan. "Nath, ketika kamu jauh dariku, aku sangat merindukanmu. Aku ingin kamu kembali. Aku benci Exel, dia cuma memanfaatkan tubuhku. Nyatanya dia juga membawa cewek lain ke apartemennya."
Awalnya Nathan melarang Vina untuk minum lagi, tetapi Nathan berpikir mungkin dengan begini Vina akan berkata jujur dengan apa yang dia lakukan, terutama tentang hubungan Nathan dan Widya.
Melihat Vina yang sudah mulai sempoyongan dan menjadi pusat perhatian bagi sebagian orang di tempat itu, Nathan akhirnya berinisiatif membawanya pergi. Sekali pun sudah mulai ada rasa jengkel dan jijik, tetapi Nathan tidak sampai hati meninggalkan gadis yang dulu pernah mengisi hatinya seorang diri di tempat seperti itu. Pergi ke tempat seperti Lounge Night Club memang hal yang biasa jika di Singapura, dan melihat Vina yang sampai mabuk itu hal baru bagi Nathan, karena Nathan sendiri tidak suka meminum minuman beralkohol sekali pun itu berkadar rendah.
"Jadi begini kelakuanmu sebenarnya, Vin. Suka mabuk-mabukan," gumam Nathan sambil merangkul Vina menuju mobil. Ia mengetahui fakta baru bahwa Vina suka mabuk-mabukan dari racauan Vina sendiri.
"Sayang, mau kamu bawa ke mana aku? Ayo, kita minum lagi sampai mabuk dan setelah itu kita bisa lewatin malam yang panas berdua!" Nathan membanting badan Vina ke kursi penumpang ketika pintu mobil berhasil ia buka. Nathan merasa sangat jijik mendengar kalimat Vina yang baru saja dia dengar. Namun, Vina sendiri cuma cengar-cengir karena memang sudah dalam keadaan mabuk berat.
"Ternyata benar apa yang dikatakan Exel. Kamu tidak bisa menjaga kehormatanmu sebagai wanita, Vin." Nathan membanting pintu mobilnya akibat luapan emosi yang ia tahan.
Dengan hati yang bergemuruh dan penuh rasa emosi, Nathan segera melajukan mobilnya menuju apartemen Vina. Di dalam mobil Vina masih sesekali meracau memanggil Nathan dengan panggilan sayang, tetapi Nathan sama sekali tidak menanggapinya. Dia fokuskan diri untuk mengemudi. Pukul dua belas malam lebih, mereka meninggalkan tempat terkutuk itu. Bagi Nathan, club malam adalah tempat haram yang ia datangi selama tinggal di Jakarta. Di tempat seperti itu, dulu dia pertama kali mengenal Exel. Vina yang mengenalkannya sebagai teman. Vina mengatakan bahwa Exel adalah kakak kelas waktu di sekolah menengah. Hingga akhirnya terjadilah drama panjang yang terjadi antara dia, Vina, dan Exel.
Handphone Nathan berdering ketika memasuki parkiran apartemen Vina. Panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Ingin rasanya Nathan mengabaikan hal itu, tetapi rasa penasarannya mengalahkan rasa malasnya. “Siapa malam-malam gini telepon?” batin Nathan. Nathan segera mengangkat ponselnya.
__ADS_1
Dari seberang sana terdengar suara seorang wanita. "Apa lo nggak sadar kalau dia yang menghancurkan hubungan lo dengan Widya? Ternyata lo itu bodoh, Nat." Gelak tawa dari seberang memekakkan telinga Nathan. "Lo membela perempuan yang sudah menghancurkan kebahagiaan lo sendiri. Memisahkan lo dari orang yang katanya lo cintai. Gue menyesal pernah suka sama orang bodoh seperti lo, Nat." Belum sempat Nathan menanggapi, telepon itu telah diputuskan dari seberang.
Ada rasa sesak begitu besar dalam dada Nathan, entah kenapa untuk kali ini ia benarkan ucapan Cindy. Ya, gadis yang meneleponnya adalah Cindy. Nathan mengenali suaranya. Cindy yang tidak sengaja melihat Nathan merangkul Vina di halaman parkiran club tersebut, merasa tidak terima. Bagaimana bisa Vina yang bertindak sebagai dalang dari hancurnya hubungan Nathan dan Widya, tetapi hanya dirinya yang terkena dampak dari kemarahan Nathan. Sedangkan sekarang, justru Vina yang lebih dekat dengan Nathan.
Rasa kecewa dan sakit hati yang besar juga membuat Cindy tidak lagi bersikap manis pada Nathan. Baginya, perasaannya pada Nathan sudah hilang, tinggal rasa benci yang masih dia pertahankan untuk balas dendam.
Lagi dan lagi, Nathan harus menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya, karena dia juga tahu itu percuma dia lakukan pada cewek yang sedang tidak sadarkan diri di sampingnya. Dengan sangat terpaksa dia gendong tubuh cewek itu. Meskipun dia enggan memandang wajah Vina. Perjalanan menuju kamar apartemen Vina terasa sangat lama bagi Nathan. Gadis yang tujuh tahun lalu pernah ia cintai, tetapi sekarang sikapnya sangat berbeda. Dulu, bagi Nathan Vina bukan hanya kekasih, tetapi juga sahabat yang selalu mendengarkan keluh-kesah Nathan yang kadang merasa kesepian. Karena kesibukan papanya yang bekerja dan mamanya yang mengasuh adik kembarnya membuat Nathan merasa diabaikan. Walaupun kedua orang tua Nathan selalu berusaha meluangkan waktu dan memperhatikan Nathan, tetapi tetap saja Nathan merasa kesepian.
Saat itu Vina-lah teman yang setia mengisi kekosongan yang ada di hati Nathan. Itulah sebabnya walaupun Vina sudah pernah menyakiti Nathan, tetapi Nathan tidak bisa sepenuhnya membenci Vina. Apakah hal itu juga berlaku untuk saat ini? Entahlah, pikiran Nathan masih kacau. Rasa kecewa benar-benar membuat dia muak melihat Vina, apalagi dengan keadaannya sekarang. Nathan tersadar dari lamunannya ketika sudah sampai di depan pintu apartemen Vina. Dengan susah payah dia membuka pintu, karena ia masih mengendong Vina.
Dengan cekatan Nathan mengetik kode kamar Vina. Kode yang Vina sebutkan berkali-kali hingga dia hafal, karena Vina memakai tanggal lahir Nathan untuk kode apartemennya. Dengan harapan, Nathan akan mengunjungi Vina kapan saja. Namun, Nathan tidak pernah kepikiran atau bisa dibilang tidak peka. Pintu apartemen pun terbuka. Dengan segera dibawanya tubuh cewek itu ke kamar, kemudian ia baringkan. Nathan segera berbalik untuk pulang ke rumah. Baru satu langkah Nathan berjalan, dia mendengar suara Vina merengek.
Mendengar suara itu Nathan berbalik lagi, bukan karena kasihan, tetapi lebih ke penasaran. Kebenaran apalagi yang akan diucapkan oleh Vina? Akhirnya, Nathan mencoba mengajak Vina berbicara walau dengan keadaan setengah sadar.
"Katakan yang sesungguhnya, Vin! Apa yang sebenarnya terjadi di ulang tahun kamu?" Hening. Tidak ada tanggapan dari Vina, tetapi Nathan masih melanjutkan ucapannya. "Apakah benar kamu sengaja menjatuhkan diri kamu ke kolam renang, Vin? Untuk membuat kesalahpahaman antara aku dan Widya?" dengan meluap-luap Nathan bertanya, tetapi tidak juga ada jawaban hingga akhirnya Nathan membalikkan badannya berniat untuk pulang. Tidak ada gunanya berlama-lama di apartemen Vina. Ia juga tidak ingin disangka melakukan hal aneh. Walaupun itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan remaja sekarang, tetapi tidak untuk Nathan dan sahabat-sahabatnya. Langkah kakinya terhenti tatkala mendengar ucapan Vina.
"Kamu tahu, Nat, demi ingin bersama kamu lagi, aku mengirimkan foto ke Widya, hanya untuk membuatnya marah sama kamu. Aku juga terus memprovokasinya agar dia cemburu dengan kedekatan kita dan akhirnya kalian bertengkar, lalu putus. Sayang itu tidak terjadi.” Vina menghela napas. Pandangannya kosong seakan tengah mengingat sesuatu. “Aku juga rela pura-pura nggak bisa berenang. Aku buat Widya sebagai pelakunya, agar kamu benci sama Widya dan putus dari dia, karena aku nggak bisa melihat kamu bahagia dengan cewek lain, Nat. Kamu harus bahagia bersama aku. Hanya dengan aku!" racau Vina diiringi isak tangisnya.
Rasanya bagaikan bom yang siap meledak, begitulah emosi Nathan. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal kuat siap memukul apa pun. Akan tetapi, daripada dia meluapkan emosinya kepada Vina yang jelas-jelas tak sadar dengan ucapannya, Nathan memilih pergi tanpa menoleh ke belakang. Dia banting pintu apartemen itu, dia tidak peduli jika pintu tersebut akan rusak. Dengan langkah cepat dia menuju ke parkiran mobil. Sampai di sana, dia luapkan emosinya dengan menendang mobilnya sendiri, mengacak rambutnya frustrasi.
__ADS_1
“Argh ....” Nathan berteriak bersamaan dengan butiran bening yang menetes dari sudut matanya. “Kamu jahat, Vin! Jahat! Nggak pernah sekali pun terlintas dalam pikiranku kamu bakal sebrengsek ini.” Puas meracau, Nathan melajukannya mobilnya dengan perasaan kacau antara marah, kecewa, benci. Rasa itu bukan hanya ditujukan pada Vina, tetapi juga untuk dirinya.
Nathan mencengkeram erat kemudi mobilnya sambil berteriak. Ia mengutuk dirinya sendiri. Benar apa yang dikatakan Cindy dia memang bodoh, bisa-bisanya selama ini dia tidak bisa percaya dengan kekasihnya. Malah menyakitinya dengan lebih membela Vina yang kenyataannya telah menghancurkan hubungan mereka. Lelehan air mata membasahi pipinya saat mengingatnya, bahkan sekarang Widya sudah menjadi mantan kekasihnya.
"Maafkan aku, Sayang. Widya, maafkan aku yang tidak percaya dengan ucapanmu. Sekarang aku percaya, Sayang. Tolong kembali padaku!" sambil menggeleng-geleng kepala Nathan bermonolog. "Tidak, Sayang. Orang seperti aku ini nggak pantas dapat maaf darimu aku ini bodoh. Bisa-bisanya aku dibodohi. Bisa-bisanya aku tidak percaya denganmu." Berulang-ulang Nathan menyalahkan dirinya sendiri. Air matanya terus mengalir menemani perjalanannya menuju rumah.
Ingin rasanya dia pergi ke rumah Widya untuk meminta maaf pada gadis itu, tetapi dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk melakukannya. Rasa bersalah yang cukup besar menghalanginya, apalagi ini sudah tengah malam. Pasti Widya sedang tidur dan mimpi indah.
Bayangan Widya terus berputar di kepalanya. Nathan terus mengenang kebersamaannya bersama Widya. Pun teringat saat Widya disakiti oleh Harsa. Nathan semakin mengutuk dirinya. "Sial! Gue bahkan lebih jahat dari Harsa yang pernah nyakitin Widya waktu itu," geram Nathan pada dirinya. Air matanya semakin deras mengiringi penyesalannya.
"Maafkan aku, Sayang ...." lirihnya penuh penyesalan.
...***...
Aduuuh ... telat, Bang, kalau nyeselnya sekarang 😌
Bener, nggak, Gengs? 🤭
__ADS_1