Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 83


__ADS_3


...***...


Rencana pernikahan yang tersusun rapi sudah terlaksana hampir 90%. Surat undangan juga sudah dipesan, walaupun di era modern seperti sekarang sudah cukup dengan menggunakan undangan digital saja. Namun, Widya dan Nathan tetap menggunakan undangan cetak, terutama untuk tetangga dan rekan kerja mereka. Sedang untuk teman alumni SMA dan kuliah, mereka menggunakan undangan digital yang disebarnya lewat grup WhatsApp.


Widya dan Nathan berencana melakukan pesta bujang sebelum pesta pernikahan berlangsung. Itu adalah ide dari para kaum hawa di geng 'sahabat selamanya'.


Sedang kaum adam yang tidak begitu suka dengan hal-hal ribet, akhirnya kafe adalah tempat yang menjadi pilihan mereka. Mereka berkumpul di Kafe Hamber, tempat yang sangat bersejarah bagi persahabatan mereka. Pengelola kafe yang cukup kenal dengan mereka memberikan tempat khusus, bahkan memberikan pelayanan spesial sebagai bentuk hadiah atau dukungan untuk rencana pernikahan Widya dan Nathan. Tak heran, pemilik Kafe Hamber turut diundang di pernikahan mereka.


"Gue pikir, gue duluan yang akan melepas masa lajang gue. Eh, ternyata lo duluan, Nath. Gue merasa terkhianati kali ini," celoteh Zakir yang menampilkan wajah menyesal.


"Kalau ngomong itu jangan ngawur!" protes Harsa sambil menyentil mulut Zakir yang duduk di samping Zakir.


"Aduh! Sakit, Sa!" protes Zakir yang ditanggapi kekehan oleh sahabatnya.


"Punya calon aja kagak, pakek aneh-aneh ngomongnya. Ngomong, kok, nggak sesuai data," lanjut Harsa menanggapi celotehan Zakir.


"Gimana mau punya istri, calon pacar aja nggak jadi-jadi." Ucapan yang keluar dari mulut Nathan itu sontak saja menimbulkan gelak tawa di antara mereka.


"Gimana mau ngajak nikah, ngajak jalan saja ditolak mulu." Kali ini, giliran Edo yang menjadi penyebab tawa mereka semakin kencang.


Sedang yang menjadi sumber tawa mereka memasang tampang memelas seakan dia merasa tersakiti. Namun, ia bahagia ketika melihat para sahabatnya bisa kembali bercanda seperti ini.


"Kamu sendiri gimana, Do?" Sekarang giliran Nathan yang menginterogasi temannya.

__ADS_1


"Santai, gue nanti saja. Masih pengen fokus sama perusahaan," jawab Edo sembari memasukkan kentang ke dalam mulut.


"Pasti dia fokus sama perusahaan, karena salah satu tujuannya ada di perusahaan." Ocehan Zakir itu mendapat tatapan tajam dari Edo. Potongan kentang di depannya, kini sudah mendarat di mulut Zakir, sebagai alat bagi Edo untuk meluapkan protesnya.


"Mending lo makan, daripada ngomong terus. Berisik!" sungut Edo. Zakir hanya terkekeh sambil mengunyah potongan kentang yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


Tentu, semua tahu yang dimaksud adalah Karin. Edo yang memang lebih tertutup dibanding lainnya, merasa kurang nyaman jika masalah pribadinya diusik. Mengingat masa lalunya tentang kisah cinta yang begitu pelik jika diingat.


"Kalau lo, Sa?" Pertanyaan Nathan pada Harsa itu seakan mengubah suasana di antara mereka. Keheningan pun melingkupi mereka bertiga. Edo yang menyadarinya memilih untuk berpamitan ke toilet, sedang Zakir yang mendapat kode dari Edo juga ikut berdiri dengan alasan yang sama. Mereka tahu, ada yang perlu dibicarakan antara kedua sahabatnya itu, lebih tepatnya diselesaikan.


"Selamat buat lo, Nath. Gue harap, lo nggak nyakitin Widya lagi seperti sebelumnya. Dan gue berharap lo bikin dia selalu bahagia, karena gue akan bahagia jika Widya juga bahagia," ucap Harsa setelah Zakir dan Edo meninggalkan mereka.


"Gue juga berterima kasih sama lo, Sa. Kalau lo nggak bawa gue ke rumah sakit, mungkin gue nggak secepat ini baikan sama Widya. Gue berharap lo cepat menemukan orang lain yang bisa menggantikan Widya di hati lo." Nathan melunturkan lirikan sinis dari Harsa.


"Hemm." Jawaban singkat Harsa bukan membuat Nathan marah, justru membuat senyum di bibirnya terkembang lebar.


"Maksud, lo?"


"Lo jangan mikir macam-macam. Maksud gue, gue bakal sering bolak-balik Jakarta-Surabaya, jadi gue kadang nggak bisa jaga dia 24 jam. Kalau dia ngalami kesusahan di jalan tolong bantu dia! Karena gue tahu lo bisa jaga dia tanpa melewati batas lo." Nathan merasa tidak nyaman dengan pernyataannya yang memuji saingannya sendiri, tetapi itulah kenyataan yang harus dia akui.


"Gue pikir, lo mau kasih Widya ke gue." Dengan senyum jahil, Harsa menanggapi pernyataan Nathan. Ia merasa geli melihat Nathan yang memujinya.


"Lo mau pulang ke rumah atau ke rumah sakit?" Sambil menatap tajam, Nathan mengajukan pertanyaan pada Harsa.


"Santai, Bro, bercanda. Nggak lucu kalau calon pengantin nanti masuk penjara dengan tuduhan penganiayaan." Sambil terkekeh Harsa menenangkan Nathan dan dibalas lirikan sinis oleh sang rival. Membuat mereka akhirnya tergelak bersama.

__ADS_1


Gelak tawa mereka terhenti karena kehadiran Edo dan Zakir. Mereka menghabiskan pesta bujang itu dengan obrolan ringan, diiringi gelak tawa dari mereka.


\*\*\*\*\*


Pesta bujang yang dilakukan para cowok terkesan simpel dan sederhana, berbeda dengan anak cewek. Mereka yang suka dengan hal-hal unik dan romantis tentu memiliki rencana yang tersusun rapi untuk melakukan acara yang sebenarnya bukan budaya asli orang Indonesia itu. Mereka melakukannya hanya untuk seru-seruan. Mengenang momen bersejarah dari salah satu teman yang disayanginya.


Widya dan kawan-kawan memilih boba sebagai tema untuk costum dan hiasan kamarnya. Mulai dari menghias kamar, makan malam, bermain game, serta berfoto bersama. Kemudian, acara tersebut diakhiri dengan obrolan santai para gadis di atas tempat tidur.


"Makasih, ya, kalian sudah menemani gue malam ini," ungkap Widya yang ditujukan pada kedua sahabatnya.


"Sama-sama, Nona cantik," jawab Karin yang dibalas dengan senyuman manja dari Widya. Mereka mengurungkan niat berpelukan setelah mendengar suara Kartika.


"Wid, lo nanti kalau sudah nikah masih bisa begini nggak, ya, sama kita? Tidur bareng kayak gini." Kartika bertanya, walau sebenarnya dia tahu jawabannya.


"Emang lo mau ganggu kegiatan Widya sama Nathan dikamar ini, Tik?" protes Karin pada Kartika dengan pertanyaan yang menurut mereka absurd.


"Kali aja kasur ini bisa muat empat orang, sama kita bertiga aja muat." Jawaban Kartika membuat Widya dan Karin tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Dari pada lo numpang tidur sama gue, mending lo cari teman tidur sendiri. Ada Bang Zakir yang siap nemenin, lo." Widya mencoba menggoda Kartika dengan membawa nama Zakir, tetapi membuat wajah Kartika berubah masam. Widya jadi merasa bersalah, takut jika ucapannya menyinggung sahabatnya itu. "Maaf, Tik, gue nggak bermaksud membuat lo sedih," sesal Widya.


Wajah kartika yang awalnya masam berubah semringah hingga tertawa tebahak-bahak. "Kena prank lo pada,” katanya sambil menunjuk wajah Karin dan Widya bergantian. Sedang kedua sahabatnya memasang muka keheranan, sambil saling memberi kode Karin dan Widya akhirnya melancarkan aksinya dengan menggelitik Kartika hingga mereka tertawa bersama.


Salah satu rezeki dari Allah SWT. adalah memiliki sahabat yang setia, yang selalu menemani setiap keadaan, baik suka ataupun duka. Widya bersyukur memilikinya, walaupun sebentar lagi dia akan menikah. Mungkin situasi dan intensitas pertemuan akan berkurang, tetapi rasa sayang mereka tidak akan berubah. Justru akan menimbulkan rasa rindu sebagai penguat rasa saling sayang mereka.


...***...

__ADS_1



Kawal terus sampe pelaminan, ya 🤗


__ADS_2