Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 114


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


Cuaca sore ini mendung berawan walau tak turun hujan. Widya berniat akan kembali lagi ke rumah Harsa untuk melihat sahabatnya itu. Ia mau memastikan apa yang dikatakan Zakir tadi pagi di perjalanan ke kantor. Mobil yang ditumpangi Widya pun melaju dengan sangat pelannya. Sore hari yang melelahkan sebab macet menjalar ke mana-mana.


Di dalam mobil, Widya menghibur diri dengan mendengarkan lagu dari ponsel mengunakan handsfree. Sesekali ia memejamkan mata indahnya. Hanya sejenak, sekadar untuk melambungkan ingatannya pada Harsa yang mengungkapkan semua isi hatinya kala itu. Jujur, ia masih galau dan bingung. Seandainya dia menerima Harsa, apa benar semua itu berasal dari dasar hatinya yang paling dalam? Ia takut kejadian dulu terulang. Saat dirinya pernah salah menempatkan cintanya pada Harsa.


Kendaraan pun perlahan mulai melaju lancar, kurang lebih empat puluh lima menit gadis nan cantik itu pun tiba di rumah Harsa. Kebetulan Evi sedang duduk santai di depan rumah sambil menikmati secangkir teh panas. Pandangannya tak luput dari bunga-bunga yang tengah bermekaran di taman. Tiba-tiba atensinya teralihkan pada mobil yang baru saja masuk ke dalam pelataran rumahnya. Melihat siapa yang turun dari mobil, senyumnya merekah. Ia menyambut Widya dengan suka cita.


"Hai, Sayang,” sapa mama Evi. Widya pun mencium tangan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu dengan takzim. Evi membalas dengan usapan lembut di kepala gadis pujaan anak lelakinya tersebut.


"Tante apa kabar?” tanyanya sembari memeluk Evi.


“Baik. Kamu apa kabar?” Evi balik bertanya sambil menuntun Widya masuk ke dalam rumah.


“Alhamdulillah, Widya juga baik. Oh ya, Tante kapan pulang?” Widya bertanya demikian, karena dia tahu orang tua Harsa baru bepergian dari Bali.


“Baru tadi siang, Sayang. Makasih, ya, kemarin udah sempetin jenguk Harsa saat tante nggak ada," ujar Evi.


“Nggak masalah, Tan. Keadaan Harsa gimana sekarang, Tan? Katanya masih sakit?” tanya Widya.


“Tadi, sih, bilangnya udah mendingan. Tante lihat dia lagi baringan di tempat tidur. Coba aja kamu tengok di kamarnya!” ujar Evi malah menyuruh Widya masuk ke kamar Harsa seorang diri.


“Tapi, Tan … nggak enak, lah. Masa Widya masuk sendiri." Widya merasa ragu untuk masuk ke dalam kamar Harsa. Widya takut akan ada fitnah di antara mereka.


“Ya, udah. Ayo, tante antar!" Evi pun bersedia mengantar Widya.


Kedua perempuan beda generasi, tetapi sama-sama cantik itu pun melangkah beriringan ke lantai atas, tempat kamar Harsa berada. Perlahan mereka menaiki satu persatu titian anak tangga hingga sampai di depan pintu kamar yang terdapat sebuah papan berwarna putih yang bertuliskan ‘Harsa Mandala Room'. Menandakan dari kepemilikan kamar itu.

__ADS_1


"Sayang, buka pintunya, Nak! Ada Widya, nih," panggil mama Evi sambil mengetuk pintu kamar tersebut. Namun, tak ada jawaban dari dalam kamar. Beberapa kali sang mama mengetuk tetap tidak mendapatkan balasan dari anaknya yang berada di dalam. Hingga pada akhirnya, Evi pun mencoba membuka handle pintu secara perlahan. Mungkin anaknya memang ketiduran.


Ternyata benar. Setelah kepala Evi berhasil melongok ke dalam. “Harsa, sayang. Lihat siapa yang datang!" ujar Evi sambil melangkah masuk ke dalam kamar. Tak mendapati sang putra berada di atas ranjang, Evi pun menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan putranya. Menyapu semua sisi ruangan itu. Ke manakah gerangan anaknya? Evi hendak melangkah mencari Harsa ke dalam kamar mandi, netranya membulat sempurna ketika melihat putranya tergeletak di lantai di bawah tempat tidurnya, dengan keadaan tidak sadarkan diri.


"Ya Allah, Sayang,” teriak Evi menghampiri tubuh anaknya yang tergeletak tak berdaya. Widya pun bergegas mendekat dan sejenak bergeming melihat sahabatnya tersebut. Ia terlalu syok mendapati Harsa yang tengah tergolek lemah. Evi berteriak panik memangil sang suami.


"Papaaaaaa! Harsa Pa!” Evi meraih sang anak ke dalam dekapannya. Meletakkan kepala putranya ke dalam pangkuannya. Widya pun baru tersadar ketika suara teriakan itu memekik tajam. Rendra datang dengan cepat dan kepanikan pun terjadi.


Segera Papa Rendra turun untuk menyiapkan mobil dan memangil satpam untuk meminta bantuan. Rendra dibantu satpam membawa tubuh jangkung Harsa ke dalam mobil untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Evi dan Widya hanya bisa menangis dan memanggil Harsa yang tak sadarkan diri. Evi dan Widya masih diliputi rasa panik, sehingga papa Rendra mulai berbicara di tengah tangis kedua wanita cantik itu.


"Mah,” panggil papa Rendra membuat atensi Evi teralih padanya. “Jangan ditangisi terus, ya! Kita berdoa saja semoga anak kita nggak kenapa-napa.” Rendra melihat sang istri dari spion depan. Evi akhirnya meredam rasa khawatirnya, perlahan sambil mengucapkan lafaz istiqfar.


Widya hanya dapat memandangi Harsa tanpa berkata apa pun. Hanya air mata yang mengalir perlahan, tetapi pasti membanjiri wajah mulus sang gadis tersebut.


Kurang lebih tiga puluh lima menit mereka sampai di lobby rumah sakit. Dengan sigap tenaga medis membantu pasiennya untuk dipindahkan ke brankar rumah sakit. Harsa segera dilarikan ke ruang Unit Gawat Darurat. Mama Evi, Papa Rendra, dan Widya hanya bisa menunggu di luar saja. Menunggu hasil pemeriksaan dengan hati berdebar.


Dua puluh menit kemudian Arini dan Bowo datang. Arini langsung memeluk erat anaknya yang masih terlihat bingung. Widya menangis tanpa mengeluarkan suara, terdengar begitu sesak di telinga sang bunda. Sedangkan Bowo mencoba menenangkan Rendra dan Evi.


"Kenapa, Sayang?” Arini bertanya dengan sangat lembut sambil tangannya menghapus air mata di pipi sang anak.


"Widya takut, Bunda,” ucapnya parau sambil terus menangis sesak. Ia masih teringat kejadian dua tahun lalu di mana Nathan pergi meninggalkannya. Ia takut akan terjadi hal seperti itu lagi.


"Takut kenapa, Sayang?" tanya bunda lembut. Arini mengerti apa yang ada di dalam pikiran anaknya. "Kita berdoa saja, ya! InsyAllah Harsa akan sembuh dan sehat." Arini mencoba menenangkan Widya.


Dari kejauhan, terlihat sosok Karin bersama kedua orang tuanya tergopoh-gopoh mendekati Widya. Kebetulan mereka sedang ada acara keluarga hingga bisa datang bersamaan. Karin menghampiri Widya dan memeluk sahabatnya yang terlihat sedih.


Kartika mengabarkan tak bisa datang karena harus menjaga kedua adiknya Syifa dan Kahfi yang sedang ditinggal kedua orang tuanya ke luar kota. Sedangkan Zakir dan Edo datang bersamaan tak lama setelah kedatangan Karin.


Tak lama berselang, pintu ruang UGD terbuka. Dokter yang bername tag dr. Dyah Ayu dan seorang perawat keluar dari ruangan tempat Harsa diperiksa. Mama Evi dan Papa Rendra bangkit dari duduknya dan menanyakan kondisi putra mereka.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?" tanya papa Rendra.


"Alhamdulilah, anak Bapak sudah stabil dan bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Sepertinya putra Bapak terlalu lelah. Ia memaksakan dirinya hingga tubuhnya tak sanggup lagi. Ke depannya Bapak dan Ibu bisa ikut memantau, jangan sampai hal ini terulang kembali. Saya permisi dulu, Pak." Dokter itu pun berlalu dari ruangan tersebut.


Tak lama brankar Harsa didorong oleh perawat menuju ruang rawat inap. Selang infus terpasang di tangan kiri Harsa. Wajahnya yang pucat menandakan betapa dirinya tidak berdaya.


...***...


Pagi ini Harsa terlihat lebih segar. Dua hari ia dirawat secara intensive di rumah sakit membuat fisiknya beristirahat total. Dalam sakitnya kemarin, ia sering meracau dan menyebut nama Widya. Evi menceritakan hal itu kepada Widya ketika gadis itu mengunjunginya. Meskipun Widya tidak mendengarnya secara langsung, tetapi hatinya merasa teriris. Bagaimana bisa di dalam sakitnya, Harsa selalu memanggil namanya? Seindah itukah dirinya di dalam hati Harsa? Sepenting itukah posisi dirinya di hati lelaki itu?


Hari ini Widya berniat mengunjungi Harsa dan meminta sedikit penjelasan darinya. Memang Harsa sudah berulang kali mengungkapkan isi hatinya. Namun, sekali lagi Widya ingin memastikan agar ia tidak kecewa dengan keputusan yang akan ia ambil.


Keduanya duduk berhadapan di sofa yang terletak di ujung ruang perawatan. “Iya, Wid. Gue Harsa Mandala dengan tulus mencintai lo dari dasar hati gue yang paling dalam. Gue mohon lupakan masa lalu gue. Maafkan gue yang pernah mempermainkan lo. Gue bodoh saat itu tidak menyadari cinta di hati gue, dan gue sudah menebus kesalahan itu dengan mengikhlaskan lo bahagia bersama Nathan. Tapi untuk saat ini, izinkan gue tuk meraihnya kembali. Di dekat lo, gue selalu merasa bahagia. Sekali lagi, maafkan gue yang pernah membuatmu marah dan kecewa, maafkan gue, Wid." Harsa memohon sembari menggenggam tangan Widya.


Widya menatap bola mata Harsa lekat. Berharap mendapatkan keraguan atas pengakuan Harsa, tetapi sayangnya tak ada kebohongan yang terpancar di sana. Widya hanya menemukan ketulusan yang masih terbalut di wajah pucat itu. Ia pun jadi bimbang dan ragu.


...***...


...***To be Continued***...


Bimbang ragu.... sementara malam mulai datang. Hasratku ingin bercermin, tapiiii... cerminku pecah seribu, pecah seribuuuuu....


🙄: Malah nyanyi. Othor kurang kerjaan!


🙋: Kerjaan banyak, duitnya yang kurang.


🙄: Malah curhat 🤦‍♀️


Maafkan, ya. Iklannya dilewat aja 🤣

__ADS_1


__ADS_2