
...***...
Vina terbangun dari tidurnya saat matahari seolah merangkak naik pada titik tertinggi. Dirinya bisa tertidur pulas setelah semalaman tidak bisa melakukannya. Mengingat perkataan Exel, setidaknya membuat hatinya sedikit terbuka. Hingga ia lebih tenang dan bisa memejamkan mata.
Vina yang sudah berhasil mengumpulkan nyawanya yang sempat berkelana di dunia fana, segera bergegas untuk menyiapkan diri. Melakukan ritual memanjakan diri sebelum dirinya hendak pergi. Vina hendak pergi untuk menemui seseorang. Seseorang yang sudah membuat jatah tidurnya berkurang.
Setelah setengah jam berdandan, Vina keluar dengan menggunakan pakaian lebih sopan. Kemeja berwarna dusty pink dengan lengan tiga perempat, dipadukan dengan celana span panjang berwarna putih tulang. Ia pergi menggunakan taksi online yang sudah dia pesan.
***
Tok! Tok! Tok!
"Permisi!" Suara ketukan pintu diiringi oleh teriakan Vina di depan pintu rumah seseorang. Beberapa menit Vina berdiri, pintu itu pun terbuka dan menampilkan sosok Widya.
"Kamu? Mau apa kamu ke sini?" tanya Widya yang terkejut dengan kedatangan Vina ke rumahnya.
Vina tersenyum tipis. "Aku mau bicara sama kamu," ujar Vina.
Widya mengernyitkan keningnya. Memasang wajah waspada akan kehadiran seorang gadis licik macam Vina.
"Kamu tidak perlu takut! Aku ke sini mau bicara baik-baik sama kamu. Tentang ... masalah aku sama Nathan. Sekaligus ... aku mau minta maaf sama kamu." Vina berkata ragu. Lidahnya terasa kelu untuk memohon pengampunan Widya. Kesalahannya terlalu banyak dan teramat kejam. Ia takut jika Widya tidak mau memaafkan.
"Masuklah!" ajak Widya sedikit terpaksa. Walaupun rasa kesal masih menguasai hatinya, tetapi ia tidak boleh mengabaikan tamu yang datang berkunjung ke rumahnya. Kata orang tamu itu raja.
"Duduklah, dan tunggu sebentar! Aku ambilkan minum dulu buat kamu."
__ADS_1
"Tidak usah, Wid. Aku hanya sebentar, kok."
Widya mengurungkan niatnya, lalu duduk berdua di kursi ruang tamu rumahnya. "Mau bicara apa?" tanya Widya tegas.
"Kamu belum menjawab permintaan maaf aku. Kamu pasti sangat membenci aku, ya? Aku benar-benar menyesal, Wid. Kamu mau maafin aku, kan? Dan ... aku mau kamu kembali sama Nathan."
Widya tersenyum remeh mendengar penuturan Vina. Ada apa dengan perempuan itu? Apa mulut manisnya masih kurang gula? Sehingga ia harus berkata manis di depan Widya. Sudah terlalu sering Widya mendengar Vina mengumbar ucapan manis yang berujung tragis. Ia sudah lelah untuk menangis.
"Kamu mau sandiwara apa lagi? Apa kamu nggak capek nyiksa diri kamu sendiri? Sekarang kamu punya niat apa? Mau kamu nyebur di lautan atau terjun payung dari gedung yang tinggi, aku udah nggak peduli. Silakan saja kamu rebut hatinya Nathan! Jangan libatkan aku lagi!" tandas Widya menyindir tajam.
"Bukan begitu, Wid. Aku benar-benar menyesal. Kamu harus percaya! Aku berjanji akan pergi setelah ini. Setelah memastikan kamu bahagia bersama Nathan."
Widya terdiam, menatap Vina dengan tatapan heran. Mencoba menyelami sorot mata Vina untuk mencari kebohongan di sana. Namun sayangnya, ia tidak bisa menemukannya. "Apa yang menyebabkan kamu berkata seperti ini?" tanya Widya dengan secuil rasa percaya.
Vina menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan kilatan bening yang berkilauan di pelupuk matanya. Walaupun pada akhirnya kilauan itu berhasil menetes di pangkuannya.
"Aku memang jahat, Wid. Aku sadar, aku terlalu terobsesi dengan Nathan. Aku memang pernah mencintai dia, sebelum aku bertemu dengan Exel. Rasa sakitku karena dikhianati oleh Exel membuatku ingin kembali mencintai Nathan. Aku bahkan tidak peduli dengan perasaannya sekarang. Nathan sudah berubah, dia sudah tidak mencintai aku lagi. Hanya kamu perempuan yang dia cintai," papar Vina sembari mengusap air mata yang semakin deras mengalir di pipi.
"Dia masih sangat mencintai kamu, Wid. Itu semua salah aku, bukan salah Nathan. Dia hanya terlalu baik, dan—"
"Nathan melakukan itu karena dia peduli sama kamu. Itu artinya masih ada ruang di hatinya buat kamu. Jangan sia-siakan itu, Vin. Itu, kan, yang kamu mau?" Widya memotong perkataan Vina. Lagi-lagi kata-katanya berhasil menyentil jantung Vina. Perkataan pedasnya sudah seperti mercon yang siap menyemburkan api untuk membakar hati Vina.
"Kamu salah, Wid. Nathan melakukan itu karena dia masih menganggap aku sebagai sahabat. Tidak lebih. Kami dibesarkan bersama sejak kecil, mungkin perasaan seperti saudara yang membuat Nathan selalu memaafkan kesalahanku selama ini. Tapi, untuk kali ini berbeda. Nathan sudah tidak mau memaafkan aku lagi ...." Vina kembali menumpahkan air matanya.
Widya menghela napas kasar, lalu beranjak berdiri. "Baiklah, aku akan pikirkan lagi. Mungkin sudah cukup kamu berbicara. Aku lelah, mau istirahat." Secara tidak langsung Widya mengusir Vina dari rumahnya.
Vina pun mendongak, menatap Widya dengan mata sembab. Ia pun ikut berdiri, lalu meraih kedua tangan Widya dan menggenggamnya erat. "Tapi kamu mau maafin aku, kan?" mohonnya lagi.
__ADS_1
Widya mengangguk sembari tersenyum, "Iya, aku sudah maafin kamu," ucapnya tulus.
Vina langsung menghambur memeluk tubuh Widya. Tangisnya pecah lebih keras di balik punggung Widya. Widya sedikit menjauhkan kepalanya berusaha menyelamatkan gendang telinganya dari jerit tangis seorang Vina. Perlahan Widya mendorong tubuh Vina agar terlepas darinya.
Vina berhenti menangis, walaupun masih sesegukan dengan sisa air matanya yang menggenang. "Aku pulang dulu, ya, Wid. Terima kasih karena udah mau maafin aku. Tolong, pikirkan kembali kata-kataku tadi! Kembalilah pada Nathan! Aku tidak tega melihat dia hancur gara-gara kehilangan kamu," tutur Vina, berharap Widya berubah pikiran.
Widya tidak menanggapi. Ia masih bergeming sambil menatap Vina pergi. Saat dirinya hendak kembali ke kamarnya. Kedatangan sang bunda membuat langkahnya tersendat. Ternyata Arini juga ikut mendengarkan semua penjelasan Vina.
"Bagaimana, Sayang? Apa kamu akan mempertimbangkan hubunganmu dengan Nathan?" tanya Arini penasaran. Tidak bisa dipungkiri, ia percaya dengan penjelasan Vina, karena Arini bisa merasakan kesungguhan cinta Nathan kepada anaknya.
"Aku nggak tahu, Bun. Aku bingung," jawab Widya.
"Apa pun keputusan kamu, bunda akan selalu mendukungnya. Yang penting kamu bahagia."
Widya pun memeluk tubuh Arini dengan erat. Merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu yang begitu hebat. "Aku ke kamar dulu, ya, Bun. Hari ini aku nggak ke kampus. Kepalaku rasanya agak pusing."
"Kalau gitu, istirahat yang cukup, Sayang! Jangan lupa minum obatnya! Bunda ambilkan obatnya dulu, ya." Arini hendak melangkah untuk mengambil obat, tetapi urung dilakukan, karena ditahan oleh Widya.
"Nggak usah, Bun. Aku cuma butuh tidur. Semalam aku tidur telat, gara-gara harus nyelesain revisi skripsi dari dosen pembimbing," ujar Widya.
Arini mengusap lembut puncak kepala anaknya. "Iya, tidurlah, Nak!" titah Arini sembari mengusap kepala Widya penuh sayang.
Widya kembali ke kamarnya dengan perasaan bimbang. Perkataan Vina terus berputar di kepalanya. Apakah benar Nathan begitu tersiksa karena berpisah dengan dirinya? Dan haruskah ia bersedia untuk merajut kembali hubungannya dengan Nathan untuk kesekian kalinya?
...***...
__ADS_1
Maafkan jangan, ya? 🤔
Menurut kalian gimana?