Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 98


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


Menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Itu yang dilakukan Widya sebelum dirinya turun dari mobil Harsa.


"Kok, diem? Turun, yuk!" Harsa yang lebih dulu membuka pintu mobil menoleh lagi ke arah Widya. Ketika dirinya tidak mendengar pergerakan apa-apa dari gadis tersebut.


Widya mengangguk sambil mengulas senyuman, tangannya langsung membuka pintu mobil lalu keluar dari sana bersamaan dengan Harsa. Lantas berdiri di samping mobil sambil menatap rumah mewah di hadapannya.


Widya meremas baju bagian depan dadanya. Rasa sesak kembali menyeruak di dalam sana ketika melihat rumah itu. Aroma Nathan kembali mengusik indera penciumannya. Suara Nathan kembali menggema di telinganya. Widya sontak memejamkan mata.


"Lo nggak apa-apa, kan?" Suara Harsa membuat kedua mata Widya kembali terbuka. Ia embuskan napas kasar setelah dirinya tersadar. Sekali lagi, Widya harus kembali ke dalam naungan kata sabar.


"Nggak apa-apa, kok, Sa. Yok, masuk!" ajak Widya, lalu berjalan mendahului lelaki itu. Harsa hanya bisa menatap iba. Dia tahu, jika Widya sedang tidak baik-baik saja. Namun, seulas senyuman terlukis beberapa saat kemudian. Harsa senang karena Widya sudah bisa mengendalikan emosinya ketika mengingat Nathan.


"Widya, Sayang." Liana langsung menghambur memeluk gadis yang hampir menjadi calon menantunya itu ketika dirinya membuka pintu. "Mama seneng kamu mau main ke sini, Nak," ucap Liana setelah mengurai pelukannya.


"Widya kangen Mama, kangen rumah ini, dan kangen ... semua yang ada di sini." Widya tersenyum pelik ketika berucap seperti itu. Ada rasa ragu untuk menyebut nama Nathan yang sebenarnya paling dia rindukan. Widya takut jika Liana akan merasa sedih lagi dan berpikir jika dirinya belum pulih dari tekanan batinnya.


"Pintu rumah ini akan selalu terbuka buat kamu, Widya. Sering-sering datang ke sini, ya!" pinta Liana sambil mengelus lembut pipi Widya. Pandangan Liana pun beralih pada Harsa yang berdiri di samping Widya. "Makasih, ya, Nak Harsa. Udah bawa Widya ke sini," ucap Liana.


"Sama-sama, Tante. Widya, kok, yang mau ke sini. Harsa cuma nganterin aja," balas Harsa sambil tersenyum.


"Ya, udah. Masuk, yuk! Kebetulan Papa Daniel lagi ada di rumah."


Mereka pun masuk ke dalam rumah Nathan. Liana dan keluarganya benar-benar bahagia melihat Widya sudah bersikap seperti dulu lagi.


...***...


Room chat 'Sahabat Selamanya'


Edo: Ada yang bisa bantu gue cariin agen tour and travel yang bagus buat ke Lombok entar? Gue masih sibuk, nih.


Zakir: Yaelah, Obos. Sibuk terus tiap hari. Suruh aja anak buah lo yang nyari! Susah amat.


Kartika: Gue, maksud lo @Zakir?

__ADS_1


Karin: Gue juga anak buahnya @Edo. Kita cewek-cewek maunya duduk manis aja, ya. Lo aja yang nyari @Zakir.


Zakir: Hoy, bukan kalian juga @Kartika @Karin. Anak buahnya @Edo, kan, banyak.


Harsa: Gue ada kenalan. Agen NTT namanya.


Zakir: Kita mau ke Lombok, @Harsa. Ada di NTB, bukan di NTT.


Harsa: Itu nama agen, Noer Tour and Travel, bukan Nusa Tenggara Timur @Zakir 🙄


Edo: Terserah lo, pokoknya. Masalah duit entar gue transfer.


Zakir: Wih, Bos kita emang keren! 😘


Edo: Tolong kondisikan emot lo @Zakir. Jijik gue 🤮


Karin: @Widya mana, nih? Lo jadi ikut, kan?


^^^Widya: Ikut @Karin.^^^


Sedari tadi Widya hanya menatap percakapan teman-temannya di room chat itu tanpa mau mengetik apa-apa di sana. Setelah Karin menge-tag namanya barulah dia membalasnya. Kemudian dia simpan ponselnya di atas nakas, tidak mau lagi terlibat dengan percakapan mereka.


Bukan berarti Widya ingin mengabaikan teman-temannya. Ia hanya merasa jika dirinya belum yakin untuk ikut pergi berlibur bersama mereka. Tidak bisa dipungkiri, rasa sedihnya kadang-kadang masih menghantui.


...***...


Seminggu pun berlalu. Hari ini adalah hari yang sudah ditentukan untuk keberangkatan liburan ke Lombok. Widya, Karin, dan Kartika sudah lebih dulu menunggu di bandara, dan ditemani oleh petugas tour agen yang bernama Maya. Dia bertugas untuk mengurus administrasi mereka. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Harsa datang bersama Zakir dan Edo.


"Sorry, ya, kita agak telat. Ini gara-gara si Bokir yang kelamaan di kamar mandi," seru Edo pada ketiga perempuan cantik yang memasang wajah masam, karena mereka dibiarkan menunggu lama.


"Yang penting kita nggak ketinggalan pesawat, kan?" celetuk Zakir yang mendapatkan pelototan mata dari Kartika. "Iya, iya, gue minta maaf, Yang. Nggak usah melotot gitu, dong. Perhatian banget sama gue," kekeh Zakir tak bosan-bosan menggoda Kartika. Membuat gadis itu memutar kedua bola matanya malas.


"Nggak usah basa-basi, bentar lagi jadwal keberangkatan pesawat kita." Karin menyanggah perdebatan Zakir dan Kartika.


"Oh, iya." Edo segera menghampiri Maya dan meminta semua persyaratan yang diperlukan untuk perjalanan mereka.


Beruntung mereka sudah menggunakan jasa tour agent 'Noer Tour and Travel' yang membantu mempersiapkan tiket pesawat dan semua dokumen yang diperlukan. Sehingga mereka bisa langsung mendapatkan boarding pass dan langsung menunggu di gate keberangkatannya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menggunakan layanan kami, Pak, Bu. Tugas saya di sini sudah selesai, nanti dilanjutkan oleh rekan saya yang akan menjemput kalian di Bandar Udara Internasional Lombok. Dia yang akan menjadi tour guide kalian nanti. Selamat berlibur," tutur Maya dengan senyuman ramah yang tidak pernah luntur dari bibirnya. Ia mengantarkan ke enam pelanggannya menuju pintu keberangkatan pesawat.


...***...


Setelah hampir dua jam mereka melanglang buana di awan. Akhirnya pesawat itu tiba di Bandar Udara Internasional Lombok dengan selamat. Widya dan teman-temannya langsung disambut oleh tour guide yang dipersiapkan oleh jasa agen NTT.


Tour guide yang bernama Sufisa itu membawa mereka menuju resort yang sudah direservasi sebelumnya. Sebuah resort di pinggir pantai yang menjadi fasilitas terbaik agen Noer Tour and Travel. Mereka akan dimanjakan oleh pesona indahnya Pantai Senggigi setiap waktu dari balik kamar mereka nanti. Air lautnya terlihat tenang, dengan warna biru yang dominan. Pun dengan air yang cukup jernih sehingga bisa terlihat dengan jelas terumbu karang yang menghiasi lautan sana.


Sore harinya, semburat jingga mulai menghiasi ufuk barat dan sang mentari sudah bersiap pulang menuju peraduannya. Membuat pemandangan tepi pantai semakin terlihat menawan. Widya dan teman-temannya sudah berada di sana untuk menikmati pemandangan indah di sore hari.


Karin dan Kartika sudah sibuk bermain air di bibir pantai, sesekali mereka saling mencipratkan air ke wajah masing-masing, lalu tertawa riang. Diikuti oleh Edo dan Zakir yang mengikuti permainan mereka. Semuanya menyambut suka cita kembalinya Widya. Meski senyum itu belum kembali seperti dulu, tetapi setidaknya Widya sudah bisa merasakan kehadiran mereka.


Widya menatap keindahan panorama pantai sembari mendekap tubuhnya sendiri. Merasakan terpaan angin laut yang rasanya dingin sekali.


Tatapan Widya jauh menerawang ke tengah lautan. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Widya kembali murung, karena mengingat kembali kenangannya bersama Nathan. Lautan lepas itu mengingatkannya pada peristiwa kelam yang merenggut nyawa kekasihnya.


"Pakai ini, Wid! Lo kedinginan, kan?" Widya seketika terlonjak ketika sebuah mantel hangat membalut kedua bahunya. Buru-buru ia menghapus cairan bening yang tanpa disuruh sudah meluncur di pipinya.


"Lo nangis?" Harsa yang memberikan mantel itu mengernyitkan kening sambil menatap wajah Widya.


Widya menghela napasnya. Pandangannya kembali tertuju pada lautan sana. "Gue baru inget, Sa. Kalau lautan yang udah merenggut Nathan dari gue."


Kedua mata Harsa membelalak sempurna. Dirinya takut jika syndrom mengerikan itu kembali menyerang Widya. "Wid, lo nggak—"


"Gue nggak apa-apa, Sa. Lo tenang aja!" tukas Widya sembari mengulas senyum tipis.


Harsa menghela napas lega. Melihat tambatan hatinya sudah benar-benar bisa meredam kesedihannya. "Lautan memang menjadi tempat hilangnya jiwa Nathan, Wid. Tapi lo harus inget, dia akan tetap hidup dalam hati lo, dalam hati kita semua. Kepergian Nathan adalah takdir Tuhan, lo harus terima dengan hati lapang. Gue sengaja ngajak lo liburan supaya lo melupakan kesedihan lo selama ini. Nikmati liburan ini, Wid! Gue yakin Nathan pasti senang jika melihat lo ceria lagi."


Widya menganggukkan kepalanya, lalu meraih tangan Harsa untuk dia genggam. "Makasih, ya, Sa. Karena selama ini lo udah sabar ngasih kekuatan buat gue."


Harsa tertegun sejenak. Ia berusaha menenangkan debaran jantungnya yang berdegup begitu kencang. Genggaman tangan Widya begitu hangat. Seolah ada desiran aneh yang menjalar dalam darahnya melalui tangan itu. Harsa begitu bahagia. Jika boleh meminta, ia ingin waktu berhenti sejenak saja.


...***...


...To be continued .... ...


🙋: Udah deg-degan aja aku. Takutnya Widya kambuh lagi, kan. Terus tahu-tahu nyelonong ke arah lautan. Bisa-bisa liburannya kacau. Readers sekalian ada yang sepemikiran sama aku, kan?

__ADS_1


__ADS_2