
...***Happy Reading***...
...***...
Sejak pengakuan Harsa beberapa hari yang lalu, akhir-akhir ini Widya lebih sering melamun. Jujur ia belum mampu membuka hatinya untuk seseorang. Walaupun Nathan sudah tiada dua tahun yang lalu, posisi laki-laki itu masih yang paling tertinggi menduduki singgasana hati Widya.
Seperti malam ini, bunda Arini yang mengantarkan segelas susu untuk sang anak, tidak menemukan Widya di dalam kamar. Wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya menuju pintu balkon yang terbuka. Benar saja, di sana Widya berdiri seolah tengah memikirkan sesuatu.
“Bunda cariin, ternyata kamu di sini, toh, Nak?" ujar Arini mengambil posisi di sebelah Widya.
Mendengar suara sang Bunda, Widya pun menoleh. “Eh, Bunda. Ada apa, Bund?” tanya Widya. Gadis itu memakai piyama satin berwarna lilac. Rambut hitam panjang dibiarkan terurai membuat ikut bergerak karena hembusan angin.
“Bunda bawa susu hangat untuk kamu minum sebelum tidur.” Arini menyodorkan segelas susu kepada Widya sembari memperhatikan raut wajah sang anak.
“Udah dibilangin berapa kali sih, Bun, nggak usah repot-repot. Nanti Widya turun buat bikin sendiri,” sahut Widya tidak enak. Lekas gadis itu meraih susu tersebut kemudian meminumnya. Tidak etis rasanya, jika ia terus mengabaikan perintah bundanya.
Setelah menghabiskannya, Widya meletakkan gelas ke atas meja minimalis yang ada di atas balkon. Gadis itu kembali termenung. Pandangannya menerawang kosong ke depan. Menatap langit malam yang mendung tanpa bintang. Hal itu membuat Arini yang belum beranjak dari sana angkat bicara.
“Sayang, apa ada masalah di kantor?” tanya Arini pelan seraya mengelus punggung putrinya. Ia takut terjadi sesuatu pada anaknya yang tidak ia ketahui. Cukup dua tahun silam semenjak kehilangan Nathan, Widya nekat ingin bunuh diri tanpa sepengetahuannya akibat depresi yang dideritanya. Hal itulah yang membuat Arini cemas.
__ADS_1
“Nggak ada kok, Bund,” jawab Widya seraya menggeleng. Ia tidak ingin membuat bundanya khawatir.
“Bunda nggak bisa dibohongin, Sayang. Beberapa hari ini, bunda perhatikan kamu sering banget melamun seusai pulang kerja,” kata Arini menatap Widya. “Widya ... bunda tahu kalau kamu lagi mendam sesuatu. Tolong, Nak, kalau kamu nggak keberatan, coba cerita pelan-pelan sama bunda. Siapa tahu, bunda bisa bantu,” tambah Arini sembari memegang kedua pundaknya.
Perkataan bundanya membuat Widya dilema. Di satu sisi, ia ingin curhat kepada bundanya tentang gejolak permasalahan hatinya. Namun di sisi lain, ia juga belum sanggup jika ungkapan perasaan Harsa terhadap dirinya diketahui oleh Arini.
Widya mendongak menatap mata sendu wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu. Bunda yang selalu ada untuk dirinya baik di kala senang maupun sedih, yang selalu perhatian dan mendukung langkahnya. Setelah berpikir lama, Widya pun mulai memberanikan diri mengungkapkan apa yang menjanggal di dalam hati dan pikirannya belakangan ini.
Arini diam mendengar setiap penjelasan yang keluar dari bibir anaknya. Sampai pada akhirnya ia dimintai pendapat, barulah wanita paruh baya itu membuka suara.
“Kalau menurut bunda, Harsa itu baik dan perhatian. Bunda mengenal Harsa bukan satu bulan, dua bulan, tapi semenjak kalian berteman di SMA. Dari sana, bunda tahu benar watak setiap sahabat-sahabatmu itu, terutama Harsa,
“Apa yang diungkapkan Harsa memang tidak ada salahnya. Wajar jika selama ini dia menyimpan rasa yang mendalam untuk kamu selama ini. Bahkan, saat kamu masih menjalin hubungan dengan Nathan, Harsa berbesar hati merelakan kamu. Ia berpikir itu semua demi kebahagiaan kamu yang tidak pernah ia berikan kepadamu. Harsa rela menebusnya atas apa yang dulu ia lakukan ke kamu, dengan melihat kamu bahagia bersama Nathan,
Bunda Arini menatap anaknya sembari menggenggam kedua tangan Widya. “Kamu tahu, sayang, ada istilah yang mengatakan kalau level tertinggi dalam mencintai seseorang adalah melepaskan dan mengikhlaskan. Begitupun dengan Harsa. Saking cintanya sama kamu, ia rela melepaskanmu demi Nathan, karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan dia juga. Yang terpenting baginya, hanya melihat kamu tersenyum.”
“Bunda tahu dari mana kalau selama Widya menjalin hubungan dengan Nathan, Harsa masih mencintai Widya?” tanya Widya menatap sang bunda.
Bunda Arini mengajak Widya duduk di kursi yang ada di balkon kamar anaknya. Keduanya dipisahkan meja minimalis sebagai penyekat. Duduk saling berhadapan.
__ADS_1
Wanita paruh baya yang telah melahirkan Widya itu pun tersenyum. “Bunda juga pernah muda, Sayang. Sangat mudah mengetahui seseorang dari sikap dan perilakunya. Memangnya, selama ini kamu nggak peka dengan perhatian Harsa?” tanya bunda Arini menatap putrinya.
Widya menggeleng. Bunda Arini tersenyum dengan responnya. “Wajar, sih, kalau kamu nggak peka. Karena sebagai laki-laki, Harsa juga tidak ingin terlalu kentara memperlihatkan perhatiannya sama kamu.”
Ya, selama Widya menjalin kedekatan dengan Nathan, Harsa diam-diam perhatian ke Widya. Dengan alibi sebagai seorang sahabat, Harsa menghibur dan menemani Widya saat Nathan sibuk dengan urusan di Singapura. Melihat sikap Harsa yang sangat peduli pada putrinya, Arini pun menangkap jika laki-laki yang pernah membuat putrinya jatuh cinta sekaligus patah hati, kini diam-diam menaruh perasaan kembali terhadap putrinya. Arini bisa menangkap jika setiap tatapan mata Harsa ke Widya menyiratkan sebuah perasaan yang tulus.
Bunda Arini menoleh ke arah lain. “Sampai akhirnya takdir berkata lain. Nathan yang sangat kamu cintai, kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Bahkan sampai detik ini, bunda tahu kalau kamu masih sangat mencintai Nathan,
“Namun yang perlu kamu tahu, Sayang, hidup itu terus maju ke depan. Jangan hanya karena rasa cinta yang terlalu besar kepada Nathan, membuat kamu menutup pintu hatimu pada seseorang, termasuk Harsa. Memang, beberapa tahun lalu, Harsa pernah menyakitimu. Bunda paham. Wajar kalau saat itu kalian masih remaja yang masih sekolah. Jadi gelora jiwa yang membara di dalam dada tidak serta sejalan dengan sikap dan perilaku. Namun, dibalik itu semua, bukankah semua orang berhak berubah dan bahagia seiring bertambah dewasanya kita? Jangan terus terjebak dengan masa lalu yang terus membayangi. Masa lalu hanya akan membuat kita semakin terpuruk dan melupakan masa depan yang ada di depan mata, sehingga kamu menutup mata pada seseorang."
Widya yang sejak tadi diam, tidak tahu harus berkata apa-apa setelah mendengarkan penjelasan panjang dari sang bunda.
“Bu-bunda," panggil Widya dengan suara yang serak. Kedua netranya sejak tadi berembun.
“Bunda yakin, Nathan di atas sana pasti akan sangat terpukul melihat kamu terus menyendiri tanpa membuka hati untuk siapa pun. Nathan ingin melihat kamu bahagia. Buktinya, di akhir hayat Nathan. Sebelum pergi ia menitipkanmu pada Harsa. Bukankah itu sebuah sinyal bahwa Harsa adalah sosok yang akan melindungimu selepas kepergiannya? Jadi, terlepas dari semua masa lalu Harsa terhadap kamu, bunda mohon lupakan itu! Karena Harsa sangat mencintaimu dengan tulus. Bunda bisa melihat itu dari matanya yang menyiratkan sebuah ketulusan dan pengorbanan.”
...***...
...***To be continued***...
__ADS_1
...***...