Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 115


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


Saat ini, Widya sedang berdiri di balkon kamarnya. Menikmati sayup-sayup angin yang menerpa kulit wajahnya dan menerbangkan beberapa helai rambutnya. Ia mengingat kembali saat Harsa mengakui perasaan padanya yang hingga kini selalu mengusik hatinya. Sejak saat itu, kedekatan antara ia dan Harsa semakin intens. Anehnya, ia sama sekali tidak terbebani dengan itu. Hanya saja, ia memang belum bisa menerimanya.


“Aku memang tidak bisa menggantikan posisi Nathan. Tapi, apakah aku tidak bisa melanjutkan tugas Nathan untuk membuatmu tersenyum? Sama seperti Nathan yang dulu mengobati hatimu karena aku, maka izinkan aku mengobati hatimu karena kepergiannya.”


Belum pernah terlintas di pikirannya untuk menggantikan posisi Nathan di hatinya dengan lelaki lain, walaupun lelaki itu tidak akan pernah kembali. Ia belum siap untuk menerima orang baru di hidupnya. Bahkan ia selalu menutup hati saat ada lelaki yang mencoba mendekatinya.


Widya menceritakan semuanya pada Karin dan Kartika. Mereka justru sangat mendukung langkah Harsa, karena mereka tahu jika selama ini Harsa menyimpan perasaan untuk Widya. Bahkan, saat ia masih bersama Nathan. Sedangkan bunda Arini hanya mendukung apa pun keputusan yang akan Widya ambil.


Widya memang belum memberikan jawaban apa pun setelah dua hari yang lalu Harsa kembali meyakinkan dirinya. Namun, beberapa hari terakhir, lelaki itu membuktikan semuanya tanpa harus ia meminta.


Harsa seolah benar-benar melanjutkan tugas Nathan. Sama seperti Nathan, Harsa selalu hadir di saat Widya mengalami masa sulit. Mengenai tingkah Nathan yang jahil, mungkin Harsa memang tidak mewarisinya, tetapi lelaki itu selalu mampu menjadi bahu di saat Widya membutuhkan sandaran. Lelaki itu mengerti apa yang diinginkan Widya tanpa harus diungkapkan.


Widya menghela napas agar sesak di dada sedikit berkurang. “Semoga pilihan gue kali ini benar-benar tepat,” ucap Widya dengan tenang. “Nathan, aku merindukanmu.”


Setelah Widya puas menghabiskan dua jam di tempat favoritnya, ia lantas kembali masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya.


...***...


Tiin! Tiin!


Pagi ini suara klakson mobil terdengar ke seluruh penjuru rumah Widya. Membuat Widya segera berlari untuk segera menghampiri. “Tunggu bentar!” Widya tetap berteriak kencang dari dalam rumah, walaupun ia yakin bahwa sosok dalam mobil tidak akan mendengarnya.


“Bun, Yah, Widya berangkat, ya. Assalamualaikum,” pamit Widya seraya mengecup pipi Arini dan Bowo dengan terburu-buru.


“Kamu mau ke mana? Nggak sarapan dulu?” tanya Arini setengah berteriak saat tubuh Widya perlahan menjauh.


“Cari kebahagiaan, Bun,” jawab Widya tak kalah kencang. Mendengar jawaban Widya, Arini hanya menggelengkan kepala dengan raut heran.


Widya segera memasuki mobil Karin. Di sana sudah ada Kartika yang sibuk memainkan ponsel. “Maaf, ya,” ucap Widya merasa bersalah karena membuat sahabatnya menunggu.

__ADS_1


Mereka bertiga berniat untuk ikut mengantar Harsa pulang hari ini. Walaupun Harsa sudah meminta kepada mereka untuk tidak melakukannya, mereka tetap memaksa. Mereka juga awalnya mengajak Zakir dan Edo untuk berangkat bersama. Namun, kedua lelaki itu mengatakan akan menyusul, karena takut membuat ketiga wanita itu menunggu.


“Gue, sih, nggak apa. Masalahnya kita masih ada waktu nggak, untuk sampai rumah sakit jam sembilan?” tanya Karin.


Kartika pun memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. “Masih setengah jam lagi, sebelum Harsa pulang. Gue percayakan keamanan gue sama Widya ke elo,” ucap Kartika sambil nyengir.


“Oke. Kalian pakai sabuk pengaman yang bener. Gue mau jadi pembalap hari ini.”


...***...


Ketiga wanita yang sejak tadi berperang melawan macet, akhirnya tiba di rumah sakit tepat jam sembilan. Mereka segera menuju ruangan di mana Harsa dirawat. Namun, hanya terlihat seorang petugas rumah sakit yang sedang mengganti sprei di sana.


“Maaf, Mbak. Pasien yang sebelumnya di rawat di kamar ini di mana, ya?” tanya Widya ketika melihat semua barang milik Harsa tidak ada.


“Oh, sudah pulang sekitar sepuluh menit yang lalu,” jawab petugas.


“Baik, Mbak. Terima kasih,” ucap Widya sedikit kecewa. “Tapi kita tadi nggak ketemu sama mereka, loh,” keluh Widya pada Karin dan Kartika.


“Mungkin mereka pakai Lift untuk pasien, Wid,” jelas Kartika.


Mereka pun melajukan mobilnya menuju rumah Harsa. “Wid, lo kenapa, sih, maksa banget buat ikut nganter Harsa? Masih ada orang tua Harsa, loh. Lagian, Harsa juga udah bilang nggak perlu, kan?” tanya Kartika saat berada di dalam mobil.


“Kita sebagai sahabat harus memiliki rasa empati yang tinggi,” jawab Widya.


“Tunggu, Wid! Gue jadi curiga, deh. Lo perhatian sebagai sahabat atau lo perhatian sebagai bentuk rasa sayang terhadap lawan jenis?” selidik Karin di balik kemudi membuat Widya terdiam seketika.


“E ... kita semua saling sayang, kan?” Widya mencoba menetralkan suasana.


“Wid ... percaya sama kita berdua. Harsa itu udah berubah. Lo lihat perubahannya selama dua tahun ini nggak, sih? Dia care banget sama lo. Bahkan, dia lebih memprioritaskan elo daripada kita semua. Ingat, Wid, kadang cinta pertama itu susah dilupain, loh.” Kartika kembali memberikan penjelasan.


“Bener, tuh, Tik,” ucap Karin membenarkan.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Harsa, Widya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Apalagi setelah mendengar penjelasan dari pernyataan kedua sahabatnya itu. Apa benar perasaannya sudah berubah terhadap Harsa? Sedangkan ia masih belum bisa melupakan Nathan.

__ADS_1


“Wid, lo nggak turun?” Ajakan Karin membuyarkan lamunan Widya.


“Eh! Iya, Rin.” Widya pun segera turun dari mobil Karin dan menyusul Kartika yang sudah berjalan terlebih dahulu.


“Tunggu, deh! Ini mobil Edo bukan, sih?” tanya Karin saat melihat mobil Edo terparkir di pelataran rumah Harsa.


Kartika yang sudah menjauh terpaksa berbalik untuk membuktikan ucapan Karin. “Bener. Ini mobil Edo. Cepet banget dia nyampeknya?”


“Udah, yuk, masuk!” ajak Widya tak sabaran.


“Assalamualaikum ...,” ucap ketiga wanita itu bersamaan saat memasuki rumah Harsa.


Terlihat Edo dan Zakir sudah duduk di ruang tamu dengan beberapa camilan yang tersaji di meja. Sedangkan Harsa, ia berbaring di sofa panjang yang langsung menghadap pintu rumah.


“Lo berdua dihubungi nggak ada yang bisa, ternyata udah sampek sini duluan?” sergah Kartika.


“Tik, Harsa baru pulang dari rumah sakit. Pelanin suara lo!” pinta Widya.


“Waktu lo telepon, kita lagi dalam perjalanan ke sini. Sebelum sampai di rumah sakit gue telepon Harsa dulu. Katanya udah pulang, jadi kita langsung puter balik. Lagian, kita nyuruh lo berangkat duluan biar nggak kelamaan nunggu kita berdua. Eh, malah kita yang nungguin lo bertiga,” terang Zakir. Kartika mencebikkan bibir, lalu beralih kepada Harsa.


“Harsa juga! Kenapa pulang lo lebih cepet dari jam yang lo bilang kemarin?” Kartika masih menggerutu.


“Gue juga disalahin? Salahin Dokter Dyah Ayu itu, tuh! Dia datangnya kepagian. Jadi, setelah pemeriksaan akhir, gue langsung diusir dan disuruh pulang,” jelas Harsa yang namanya ikut dipersalahkan.


Mereka pun memilih tak melanjutkan perdebatan karena melihat Evi yang datang dengan membawakan minuman untuk ketiga wanita yang baru datang tersebut. Setelah kepergian Evi, giliran Karin yang menggerutu pada Widya, karena terlalu lama menunggu Widya saat menjemputnya. Tak berselang lama, mereka tenggelam dengan obrolan mengenai pekerjaan.


Harsa terlihat sangat bahagia, apalagi saat melihat Widya selalu tertawa selama berada di rumahnya. Akhirnya, wanita itu mampu tertawa walaupun tanpa Nathan di sisinya.


Menjelang sore, mereka akhirnya berpamitan untuk pulang. Satu persatu mulai keluar dari rumah Harsa, hingga menyisakan Widya di sana. “Sa, cepet sembuh, ya. Banyak-banyak istirahat. Jangan terlalu capek! Nanti ... kalo lo sakit, yang gantiin Nathan buat bahagiain gue siapa?”


Setelah mengatakan itu, Widya langsung beranjak pergi dari tempatnya karena merasa malu. Sayangnya, tangan Harsa lebih dulu menahan kepergiannya. “Wid, maksud lo?”


“Lo nggak sebodoh itu untuk mengartikan kalimat gue, Sa.” Widya langsung berjalan meninggalkan Harsa yang mematung di tempat.

__ADS_1


...***...


...***To be Continued***...


__ADS_2