Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 32


__ADS_3


...***...


Sesuai janjinya saat berbalas chat semalam, Nathan akan mengantarkan Widya untuk melakukan penelitian proker (program kerja) pada salah satu store ternama di daerah Jakarta Pusat. Ia yang sudah bersiap tengah duduk di sofa tunggal ruang keluarga, membuat simpul tali pada snakers putih andalannya, “Ma, Nathan mau cabut dulu, ya.”


Nathan yang tidak juga mendapat sahutan akan panggilannya, terpaksa beranjak dari duduknya. Langkahnya bergerak ke sana kemari mencari keberadaan mamanya. Hingga ia menemukan mamanya tengah berada di taman kecil tidak jauh dari kolam renang.


Dari tempatnya berdiri, Nathan memicingkan mata karena tidak begitu jelas dengan siapa mamanya bercengkrama. Hari masih pagi sekali, siapa gerangan yang sudah bertamu sepagi ini?


Nathan akhirnya memutuskan untuk mendekati sang mama untuk berpamitan. Semakin ia mendekat sebuah pergerakan dari keduanya teralihkan padanya.


“Nathan,” pekik Vina merasa girang dan mendekat untuk memeluk Nathan. “Masih pagi udah wangi aja, mau kemana, sih?"


Nathan yang masih dengan keterkejutannya mencari tahu lewat sorot matanya pada sang mama yang masih mengulas senyum anggunnya, tetapi mama hanya mengangkat bahu disertai gelengan kepala sebagai jawaban.


Nathan yang teringat akan tujuannya segera memangkas pelukan Vina yang dirasa terlalu berlebihan. “V-vin, udah! Aku harus buru-buru soalnya."


Beralih dari Vina, Nathan segera meraih tangan mama, “Nathan, berangkat ya, Ma.” Lalu ia beralih mencium kedua pipi Liana.


Liana yang sudah mengetahui rencana putranya yang akan menemani Widya untuk berkunjung ke salah satu store di Jakarta Pusat, mengangguk saja disertai usapan pada bahu putranya, ”Hati-hati, ya! Sukses buat penelitiannya.”


“Emang kamu mau kemana? Aku baru dateng, loh.” Vina merasa kesal karena tidak kunjung mendapatkan jawaban.


“Ada tugas kuliah untuk penelitian di sebuah store yang sudah ditunjuk oleh dosen di Jakarta pusat.”


“Aku ikut, dong. Suntuk tau, nggak ada kegiatan.” Vina melingkarkan tangannya pada lengan Nathan, menampilkan mimik permohonannya pada Nathan.


“Nggak bisa, Vin. Gue udah janjian sama Widya. Naik motor aja soalnya, biar cepet,” tolak Nathan dengan lembut agar Vina mau mengerti.


Melepas tautan tangannya pada lengan Nathan, Vina terlihat kesal. Merasa gagal untuk mengacaukan kebersamaan Nathan dan Widya.


Bunyi notifikasi yang bergetar pada saku celananya membuat Nathan sesegera mungkin bergegas dari tempatnya. Melambai pada mama dan sahabatnya yang masih menampilkan wajah kesalnya.


“Hari ini mungkin gagal, tapi besok gue harus lebih agresif lagi,” batin Vina.


***


“Maaf, ya, Sayang, lama.” Nathan mengatupkan kedua telapak tangannya tanda memohon pada Widya yang menampilkan muka datarnya menahan kesal.


Benar saja, Widya sudah menunggunya sejak tiga puluh menit yang lalu. Duduk terdiam di teras rumahnya. Nathan yang akhir-akhir ini selalu terlambat bila mereka tengah berjanjian, membuat Widya sedikit kesal.


Seperti beberapa hari yang lalu saat Widya menunggu Nathan yang sedang presentasi. Ia bahkan menolak ajakan Karin untuk pulang bersama demi menunggu Nathan. Pun dengan Harsa, ia juga sempat menawarkan ajakan untuk pulang bersama. Lagi-lagi Widya menolak dengan dalih mengurangi keributan antar keduanya.


Lalu, saat Widya menepi untuk duduk pada taman kecil di samping gedung fakultasnya, terlihat Nathan berlari tergesa melewati Widya begitu saja. Entah kerena dia begitu tergesa sehingga Widya yang di sana luput dari pandangannya atau karena Widya yang sedikit menepi sehingga tidak terlihat.

__ADS_1


Langkah lebar Nathan tidak mampu Widya imbangi. Sehingga ia pulang dengan langkah gontai, beberapa kali melihat ponselnya berharap panggilannya kepada Nathan segera tersambung. Widya pun pasrah dengan memilih memesan ojek online.


Malamnya, Nathan mendatangi Widya untuk memohon maaf, ia ceritakan bahwa ia tidak sengaja melupakan janjinya terhadap Widya. Selesai presentasi ia mendapat telepon dari Vina, jika ia terlibat kecelakaan ringan. Tanpa berpikir panjang Nathan yang memiliki jiwa sosial tinggi berlari menuju motor sport-nya lalu membelah jalanan. Sedikit khawatir karena Vina yang baru saja tinggal di Indonesia, belum begitu hafal jalanan di Jakarta.


“Maaf, Sayang. Aku nggak bisa berpikir saat itu. Aku juga hampir melupakan ponselku untuk menghubungi kamu.” Nathan memohon.


“Satu jam, Nathan. Kalau kamu lupa.” Widya belum juga dapat mengurai rasa kesalnya terhadap Nathan.


“Kasih aku hukuman apa pun! Asalkan setelah itu kamu mau memaafkan aku,” pinta Nathan lagi.


Dengan menahan senyum, “Malam ini juga. Ajak aku berkeliling pake motor. Kemana aja. Nggak boleh nolak!”


Nathan berbinar mendengar penuturan kekasihnya. Meng-iyakan permintaan Widya, lalu meminta izin pada bunda. Setelahnya ia harus mengembalikan mobilnya terlebih dulu kerumah lalu beralih menggunakan motornya.


***


"Yang, kok, malah melamun?" Nathan menepuk bahu Widya.


Widya menarik napas dalam-dalam, ketika ingatan itu tiba-tiba melintas di pikirannya. Hal itu sungguh membuatnya begitu kesal. Karena hari ini Nathan kembali mengulangi kesalahannya.


“Sekarang tiga puluh menit. Besok berapa lama lagi, Nath?” desah Widya.


“Maaf, ya, Sayangku! Tadi, tuh, ada Vina datang ke rumah. Aku harus bujuk dia dulu supaya dia nggak ikut.”


“Vina, lagi,” gumam Widya pelan, tetapi Nathan masih bisa mendengar. Ia pun menghela napasnya. Ia tahu Widya cemburu lagi.


Meski masih kesal, Widya menurut karena proker ini sangat penting untuk menunjang nilainya.


***


Esok harinya, menjelang pukul sepuluh pagi Room chat “Sahabat selamanya” kembali ramai dengan keriuhan perihal masa liburan akhir semester.


...99 pesan belum di baca ...


Edo : Jadi di mana, nih?


Harsa : Ikut suara terbanyak.


Karin : Option 1, pantai.


Kartika : Eh, ini dari tadi @Widya @Nathan dua sejoli kemana, nih, nggak koment?


Sekilas Widya yang melihat room chat yang kian ramai bahkan berkali-kali sahabatnya sengaja memberi kode lewat tag padanya. Ia juga tidak melihat Nathan yang tengah ikut dalam obrolan teman-temannya.


Ia duduk menopang dagu di meja belajarnya, kemudian meraih potret dirinya bersama Nathan sewaktu SMA, entah dulu ia dapat dari mana foto itu. Pun dengan siapa yang tengah memotretnya. Ia tersenyum kecut, meraba permukaan kaca tepat pada wajah tengil Nathan berada.

__ADS_1


Ia kembali membaca ulang pesan whatsapp dari Nathan beberapa menit yang lalu. Ia mengatakan bahwa saat ini ia bersama Ellen tengah mengantar Vina ke Bogor, untuk membeli langsung beberapa furnitur untuk melengkapi apartemen baru milik Vina. Nathan juga mengirim pesan jika ia tidak dapat ikut, bila rencana liburan bersama teman-temannya tetap di lakukan hari ini.


Dari beberapa pesan yang dikirim Nathan, tidak satu pun yang Widya balas. Ia begitu enggan menanggapi jika itu berhubungan dengan Vina. Meski Nathan tidak bepergian berdua saja dengan Vina, Widya tidak dapat menahan rasa cemburunya.


Akhirnya Nathan memutuskan untuk menghubungi Widya lewat sambungan telepon.


"Sayang, kenapa pesanku tidak dibalas? Aku izin pergi sama Ellen, buat bantu Vina beli keperluan apartemennya," tanya Nathan begitu teleponnya diangkat.


"Maaf, tadi lagi bantu Bunda." Bohong Widya. "Boleh, Nath. Kamu pergi aja. Ya sudah, kamu hati-hati di jalan! Jangan telepon dulu, kamu pasti lagi nyetir, 'kan? Aku mau lanjut bantu Bunda," lanjut Widya dengan lembutnya sebelum akhirnya menutup teleponnya.


Widya memejamkan matanya kuat sambil meremas ponselnya. "Aku harus bilang apa, Nath? Pada kenyataannya kamu bakal tetap pergi, 'kan? Kamu bukan meminta izin, Nath. Kamu hanya memberikan pernyataan, bahwa kamu saat ini sedang bersama Vina dan melarang pun percuma."


Widya melipat tangannya di atas meja dan menenggelamkan wajahnya di sana. Ia menangis, air mata yang sejak tadi ditahannya, kini sudah tumpah bersama kesedihannya.


“Kamu sadar, nggak, sih, Nath? Ini menyakitkan buat aku. Kamu lebih mengutamakan dia daripada aku," ucap Widya di sela tangisnya.


***


Setelah menerima jawaban dari Widya, hati Nathan merasa lega. Setidaknya, Widya tidak akan marah jika ia sudah meminta izin.


“Denger sendiri, 'kan, bagaimana baiknya Widya? Dia itu bisa berpikir dewasa dan dia juga pengertian. Itulah yang aku suka dari dia," jelas Nathan pada Vina


“Baik, tapi kasian, karena ditinggal terus sama Abang," celetuk Ellen dari arah belakang.


“Anak kecil, tau apa? Lagi pula Abang nggak ninggalin. Abang, 'kan, sudah minta izin," sungut Nathan yang tidak senang adiknya ikut nimbrung.


"Abang ... itu namanya bukan izin, tapi ngasih tau," bantah Ellen tak mau kalah. “Oh ya, aku udah enam belas tahun, kalau Abang lupa!”


Nathan yang masih fokus menyetir tetap menanggapi obrolan Ellen. "Apa bedanya coba?"


"Kalo izin, itu sebelum dilakukan. Kalo udah dilakukan, berarti ngasih tau!" geram Ellen. Vina tidak meladeni perdebatan kakak beradik itu, ia hanya fokus pada tujuan utamanya, memisahkan Widya dan Nathan.


“Eh. Itu gaya bicara nyontek dari kak Widya, ya?” Nathan terkekeh setelahnya, gaya adiknya sungguh mirip dengan Widya ketika sedang merajuk kepadanya.


Sepanjang perjalanan, Nathan tidak ada habisnya memuji kebaikan dan manisnya Widya pada Vina yang tengah duduk di sampingnya.


Cerita Nathan tentu membuat Vina geram. Tanpa sadar ia meremas seat belt di depan dadanya, tetapi dengan pintar Vina menyembunyikan raut perangnya di balik senyuman manisnya. Terlebih Ellen yang duduk di kursi belakang masih terus saja menggoda kakaknya.



...***...


Ada yang mau dikatakan untuk Nathan? Silakan di kolom komentar 😅


Eh, udah senin. Kasih vote-nya sekalian, ya 🥰

__ADS_1


.


__ADS_2