Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 30


__ADS_3


...***...


Diamnya Widya melihat pemandangan yang tidak terduga di depannya adalah diam berhias perih. Ada rasa tidak rela melihat kekasihnya dipeluk oleh wanita asing. Widya mencoba membuang pikiran buruknya.


"Siapa tahu dia saudaranya," ucap Widya pada hatinya.


Sedangkan Nathan yang terkejut segera menyadari keadaan ketika melihat raut muka Widya yang berubah sendu. Gadis itu menunduk menyembunyikan degup jantungnya yang aneh.


Nathan segera melerai pelukan gadis tersebut. Tatapan lelaki itu tampak bingung. Bagaimana bisa gadis yang selama ini ingin dia hindari dan lupakan bisa berada di rumahnya. Dialah Vina, gadis yang selama bertahun-tahun menjadi penyemangat hidup Nathan di masa lalu. Namun, dengan sekejap menghempaskan dirinya dalam keterpurukan.


“Kamu? Ka—kapan kamu tiba?” Nathan yang gugup, malah bertanya seperti itu. Karena hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.


Apalagi melihat Vina yang kini berurai air mata. Membuatnya berusaha untuk menguatkan hati, melihat air mata yang membasahi pipi gadis tersebut. Karena sejujurnya Nathan paling tidak bisa melihat wanita menangis. Apalagi dia pernah menjadi ratu dalam hatinya meskipun pada akhirnya membuat Nathan kecewa.


“Baru saja, dari bandara aku langsung ke sini,” ucap Vina manja, setelah menyeka air matanya sendiri. Dia bersikap seolah Nathan masih menjadi kekasihnya.


“Eh, Widya. Sini masuk! Mama ada sesuatu buat kamu.” Liana yang datang dari dalam langsung mengajak Widya, ia tahu jika gadis itu sedang dalam posisi yang tidak menguntungkan. Sebelumnya Liana juga terkejut dengan kedatangan Vina yang tiba-tiba. Namun, dia tidak bisa langsung mengusir gadis tersebut hanya karena alasan sudah putus dengan anaknya. Ia ingin menghubungi Nathan agar jangan dulu pulang, tetapi ternyata Nathan datang tidak berselang lama setelah Vina tiba.


Widya mengangkat wajahnya dan menatap wajah lembut Liana. Widya tersenyum dan melangkah meninggalkan Nathan di teras bersama Vina. Sebenarnya Nathan ingin ikut dengan Widya, tetapi tangan Vina yang melingkar manja di tangannya membuat tubuhnya kaku di tempat. Liana mengajak Widya ke halaman belakang. Meminta asisten rumah tangga membuatkan jus strawberi untuk Widya. Mereka duduk di gazebo sebelah kolam ikan. Liana dengan lembut menggenggam tangan Widya.


“Yang kamu lihat hari ini jangan kamu masukkan ke hati. Mama mohon jangan tinggalkan Nathan dalam situasi apa pun! Nathan butuh dukungan kita.” Liana tersenyum menatap Widya. Mencoba memberikan pengertian kepada gadis itu.


“Kalau boleh tahu, dia siapa, Ma?” lirih Widya memberanikan diri. Liana menarik napas panjang. Mencoba meredam emosi teringat masa lalu yang membuat Nathan hampir putus asa.


“Dia adalah masa lalu Nathan, nama—” kalimat Liana terpotong.

__ADS_1


“Ma, kenapa Mama nggak bilang kalau Vina ada di sini?” teriak Nathan dari pintu dan menghampiri mereka berdua.


“Dia masih di dalam?” Liana balik bertanya.


“Enggak. Dia udah pulang,” ucap Nathan tegas.


“Dia tadi langsung nyelonong aja masuk rumah kita. Waktu Mama mau ngabarin kamu, ternyata kamu udah ada di depan,” terang Liana.


“Dia bilang apa sama Mama?” tanya Nathan.


“Enggak bilang apa-apa. Dia cuma nanya kamu ada apa nggak? Mama udah bilang Nathan sibuk, tapi dia maksa mau nungguin,” sesal Liana. Sesaat keheningan mereka terusik oleh kedatangan pelayan yang membawa jus untuk Widya.


“Silakan, Nona,” ucap pelayan itu.


“Terima kasih,” jawab Widya singkat.


“Maaf, atas insiden kecil ini. Aku tidak menyangka semua ini terjadi. Mama pasti udah cerita tentang Vina,” sesal Nathan menatap mata Widya.


Widya tersenyum getir, “Enak, ya, dipeluk mantan? Kayaknya di hatimu masih ada dia, deh? Sampek kamu nggak bisa bergerak waktu dia peluk kamu. Memangnya sejauh apa hubunganmu dengannya dulu?” tanya Widya seolah menyindir, pun sedikit penasaran.


Nathan mengernyitkan keningnya, tetapi sesaat kemudian ia pun tersenyum lucu, "Kamu cemburu?" tanyanya meledek. Widya mencebik dan bersikap acuh.


"Enggak!"


Tangan Nathan terulur untuk mengusap kepala Widya. “Kamu nggak perlu cemburu! Dia cuma masa lalu. Apa kamu ingin tahu semuanya tentang dia?” tanya Nathan sedikit ragu. Widya mengangguk dengan tatapan kosong.


“Sebelum aku cerita, aku mau kamu berjanji satu hal. Apa pun yang terjadi setelah ini, tolong percaya sama aku! Jangan pernah mempercayai orang lain!” Nathan memegang bahu Widya, menatapnya dengan sorot mata tegas seakan banyak misteri di balik kejadian ini. Widya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Nathan menghela napas kasar sebelum memulai bercerita, “Vina adalah teman kecil aku. Keluarga kami sudah menjodohkan kami sejak masih sekolah dasar. Waktu itu aku bahagia karena aku mengagumi Vina, tapi lain dengan keluarganya, mereka hanya ingin mengamankan perusahaannya yang waktu itu di ambang kebangkrutan.” Nathan menjeda kalimatnya, meneguk cairan merah yang ada di depannya.


“Hingga tiba hari itu, keluarga Vina secara sepihak membatalkan perjodohan kami. Waktu itu aku baru masuk SMA. Dan yang lebih menyakitkan adalah penjelasan Vina ketika aku menanyakan alasan pembatalan perjodohan kami. Dia bilang apa untungnya jadi pendamping aku. Perusahaan Papa waktu itu memang sedang kacau. Semenjak itu aku sadar bahwa Vina tidak pernah tulus mencintaiku. Mereka hanya mengincar harta Papa,” Nathan meremas rambutnya, menghela napas dalam dan tertawa sinis.


“Aku bodoh, ya? Bodoh sekali tidak memahami dunia bisnis yang kejam. Singkatnya aku terpuruk dan mama selalu membesarkan hatiku. Hingga Mama menyarankan untuk ke Indonesia supaya aku bisa tenang memperbaiki diri. Dan sekarang semua itu berhasil berkat dukunganmu, Sayang,” Nathan menatap Widya yang tanpa ia sadari wajahnya sudah basah dengan air mata.


“Hei, kenapa menangis?” tanya Nathan lembut.


“Kenapa setragis itu kisah cintamu,” Widya mengelap ingus yang keluar dari hidungnya.


“Aku curiga ini dulu itu ada hubungannya dengan masalah perusahaan dan om Yuda. Jadi aku mohon kamu harus kuat dan percaya sama aku,” terang Nathan. Widya melongo mendengar penuturan Nathan. Widya susah mencerna hal-hal semacam ini. Pikirannya terlalu dangkal untuk menyelami masalah di luar nalarnya. Selama ini yang Widya tahu hanyalah belajar untuk mendapat nilai bagus, membantu bunda membuat kue, memancing di danau bersama ayahnya. Bukan urusan bisnis yang membuat kepalanya terasa berputar.


"Lalu, untuk apa dia sekarang ke sini?" tanya Widya lagi. Kini air matanya sudah kering karena diseka oleh Nathan.


"Aku nggak tahu, dia tadi sempat cerita sedikit kalau dia ... tidak jadi menikah dengan laki-laki pilihan papanya," tutur Nathan sedikit ragu. Dia tahu kata-katanya itu pasti membuat Widya bertambah cemburu.


"Jadi, dia nyari kamu buat gantiin calon suaminya, gitu?" Ternyata benar. Kecemburuan Widya sontak meningkat beberapa derajat. Terlihat dari kedua matanya yang tiba-tiba membulat.


Nathan meneguk ludahnya kelat, perempuan yang cemburu memang susah untuk ditebak.



...*** ...


Aku juga cemburu, Nath! Mantan gitu, loh.


Hayo, siapa lagi yang cemburu?

__ADS_1


__ADS_2