Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 96


__ADS_3

...Happy Reading .... ...


...***...


Dua hari berlalu, namun Widya belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk membuka mata. Tubuh Widya kini semakin kurus, wajahnya terlihat semakin tirus dan pucat. Meskipun begitu, tetap tidak mengurangi kecantikan alami yang terpancar dari wajah manisnya. Ia memilih untuk menutup mata, karena hanya di alam bawah sadarnya ia bisa bersama dengan Nathan.


Para sahabat Widya selalu meluangkan waktu untuk datang menyapa Widya setiap hari. Karin dan Kartika yang lebih sering mengajak Widya berbicara. Mulai dari menanyakan kabar Widya, menceritakan soal pekerjaan mereka, dan juga apa pun yang mereka lakukan hari itu. Meski tak ada tanggapan dari Widya mereka tak putus asa. Tak jarang mereka bercerita sambil terisak karena melihat kondisi Widya sekarang.


"Wid, kapan lo bangun? Betah banget sih, tidurnya? Apa lo nggak kangen sama gue sama Tika?" ucap Karin dengan wajah sendu. Terlihat jelas guratan kesedihan di wajah Karin. "Gue sedih Wid, lihat lo kayak gini. Gue kangen sama senyum bahagia lo, Wid. Gue kangen sama kebersamaan kita," tutur Karin lagi.


Air mata yang sedari tadi Karin tahan akhirnya luruh juga, Kartika pun tak kuasa menahan isak tangisnya. Mereka berdua sama-sama kehilangan sosok Widya.


Sebisa mungkin mereka berusaha untuk terlihat kuat dan tegar di mata bunda dan ayah Widya, berharap bunda dan ayah tidak larut dalam kesedihan karena kondisi Widya. Nyatanya kali ini mereka tak kuasa menahannya. Karin dan Kartika hanya bisa menangis sesenggukan dan saling berpelukan.


Zakir, Edo, dan Harsa juga tidak pernah absen menyapa Widya. Di antara mereka bertiga, Harsa-lah yang paling antusias mengajak Widya berbicara. Mereka juga sesekali menginap di rumah sakit menemani Bunda Arini bersama Karin dan Tika. Mereka tidak tega melihat kondisi Widya yang seperti sekarang, dan juga mereka berusaha untuk selalu menghibur Arini dan Bowo agar tidak berlarut-larut dalam kesedihannya.


Arini meminta Bowo untuk istirahat di rumah saat malam hari. Awalnya Bowo menolak, bagaimana mungkin dia bisa beristirahat di rumah sedangkan Arini sendirian menjaga putri kesayangannya. Namun, karena kondisi Bowo yang sudah tidak muda lagi, dan juga masih harus bekerja, akhirnya Bowo mengikuti saran istrinya.


"Ayah harus jaga kesehatan juga, jangan sampai Ayah kelelahan terus ikutan sakit, Yah! Jangan khawatir, bunda di sini ada Karin dan Kartika yang menemani," tutur Arini saat membujuk Bowo supaya pulang dan istirahat di rumah. Dengan berat hati Bowo mengiyakan perintah Arini.


...***...


Pagi ini masih seperti sebelumnya. Widya tetap diam di alam bawah sadarnya. Benar apa yang dikatakan Dokter Fitri, bahwa Widya nyaman seperti itu sehingga ia tidak mau untuk bangun. Ada rasa trauma yang mendalam yang membuat Widya tidak mau membuka mata. Ia takut akan kenyataan yang ia hadapi.

__ADS_1


Meski begitu, Dokter Fitri selalu memberi semangat kepada Bunda Arini dan Ayah Bowo. Ia meyakinkan kalau Widya pasti bisa sembuh. "Kita kasih semangat terus buat Widya, ya, Bun," ucap Dokter Fitri kala itu.


Hati Arini teriris melihat kondisi putri semata wayangnya. Liana, Daniel, dan si kembar pun tak kalah sedih melihat kondisi Widya. “Cinta mereka terlalu besar, Jeng,” ucap Liana. Air mata luruh begitu saja melihat kondisi Widya.


“Iya. Terkadang cinta bisa menjadi kekuatan terbesar untuk menjalani hidup, tetapi juga bisa membuat kita terseret arus, lalu hancur, saat tak bisa menguasai serbuan gelombang cinta yang ada.” Arini melihat putrinya yang terbaring dengan tatapan sayu.


Liana memeluk erat calon besannya. Arini membalas pelukan Liana tak kalah erat. Mereka berdua saling memberi kekuatan. “Jika cintamu untuk Nathan teramat besar, maka cinta bunda untukmu jauh lebih besar, Nak. Dengan cinta dari bunda, akan bunda buat Widya kembali seperti semula. Kamu pasti sembuh, Sayang,” batin Arini.


Selepas kepergian Liana dan keluarganya, Arini kembali sendirian menjaga Widya. “Sayang, mau sampai kapan kamu seperti ini? Jika bunda sama ayah punya salah sama Widya, kami minta maaf, Nak. Tapi bunda mohon, jangan hukum kami seperti ini. Hati bunda sakit melihat kamu seperti ini, Nak.”


Arini menghapus bulir bening yang merembas melalui sudut matanya. Ia raih jemari putrinya untuk ia genggam lalu ia cium. “Dulu tangan ini begitu kecil. Bunda dengan sayang selalu menuntun tangan ini. Mengajarimu segala hal, Sayang. Apa kamu ingat? Hadirmu adalah kebahagiaan bunda dan ayah. Kamu adalah hidup bunda dan ayah, Nak. Senyummu adalah penawar dari segala penat yang ayah dan bunda rasakan. Dan air matamu tak ubah seperti sayatan sembilu yang menggores luka di hati kami. Sayang, apa kamu tidak merindukan semua yang telah kita lewati bersama? Apakah seorang Nathan mampu menyisihkan arti ayah dan bunda di hidup kamu?”


Bulir-bulir bening itu kian deras mengalir hingga membasahi tangan Widya yang ada dalam genggamannya. Arini mengecupi tangan putrinya dengan sayang. Kesedihan yang mendalam melihat Widya membuat hatinya ikut rapuh. Ia tak lagi mampu untuk pura-pura tegar. “Ikhlaskan Nathan, Sayang. Jangan membuat Nathan di sana tidak tenang karena melihat kamu seperti ini! Jika Nathan masih ada di sini. Ia pasti kecewa melihat kamu tidak bisa menjaga diri. Ia pasti terluka karena membuat kamu bersedih. Kamu harus bangkit dari semua ini. Bunda yakin kamu bisa melewati semua ini. Biarkan Nathan tetap hidup di hati dan kenangan kita, tapi jangan sampai membuatmu semakin terpuruk, Sayang. Di sini masih banyak orang yang sayang dan peduli sama kamu, Nak. Kami semua akan menjadi kekuatan untuk kamu. Kami semua selalu ada buat kamu.”


Ia telungkupkan wajahnya pada perut Widya. Ia peluk erat Widyanya sembari menangis sesenggukan. Tanpa Arini sadari, sudut mata Widya basah karena air mata. Meski ia memilih hidup di alam bawah sadarnya, tetapi Widya masih mampu mendengar semua yang dikatakan oleh mereka yang ada di sampingnya.


Di sana, di bawah alam sadarnya, ia tengah duduk berdua dengan Nathan di taman yang indah. Dalam dekapan hangat sang kekasih, ia sandarkan kepalanya pada bahu sang kekasih hati. Ia merasakan kedamaian, meski kadang hatinya terusik dengan suara-suara di seberang yang menangisinya. Kali ini ia melihat sang bunda tengah bersimpuh. Melihatnya dari jauh dengan berurai air mata. Setiap apa yang dikatakan bundanya ia dapat dengar dengan jelas dan itu menyayat hatinya.


“Kembalilah, Sayang. Mereka semua menunggumu. Aku baik-baik saja di sini. Kamu pun harus baik-baik juga di sana. Aku akan tetap hidup di hatimu. Simpanlah aku dalam relung hatimu yang paling dalam. Jadikan aku kenangan terindah yang pernah ada dalam hidupmu. Jangan lagi bersedih. Aku ingin melihat Widyaku selalu bahagia. Ini permintaanku, Sayang. Kamu mau memenuhinya, bukan?” Nathan menghapus jejak air mata yang menganak sungai di pipi Widya.


“Tapi, aku pengen ikut sama kamu. Aku nggak mau sendirian, Nath. Aku maunya di dekat kamu terus. Kamu nggak akan ninggalin aku, kan?” Widya menatap pilu wajah Nathan yang duduk di sampingnya. Sedangkan Nathan hanya tersenyum.


“Aku selalu di hatimu. Aku nggak pernah ninggalin kamu. Kembalilah, Sayang! Lihatlah mereka yang begitu menyayangimu!" Widya menatap wajah Arini yang terlihat memohon, dengan mata yang sudah membengkak karena terlalu lama menangis. "Apa kamu mau membuat mereka terus bersedih melihat keadaanmu? Lihatlah bunda yang semakin renta! Berikan kebahagiaan di masa tuanya! Aku yakin kamu bisa tanpa aku, karena kamu adalah Widyanya Nathan.” Nathan tersenyum penuh arti. “Kamu ingat souvernir pernikahan kita? Kamu ingat filosofi kaktus bukan? Jadilah kaktus untukku, Sayang! Aku akan sangat bangga jika kamu bisa melewati semua ini tanpa aku,” lanjutnya. Nathan mengelus surai indah milik Widya dengan sayang.

__ADS_1


Widya tertunduk merasa bersalah. “Maafin Widya, Bunda. Widya salah. Maafin Widya udah buat kalian semua menangis karena Widya. Widya akan coba ikhlaskan Nathan,” ucapnya parau sembari melihat Nathan yang kembali tersenyum padanya.


“Saatnya kamu kembali, Sayang. Berbahagialah! Itu permintaanku. Aku sangat mencintai kamu,” ucap Nathan sembari melerai dekapannya.


“Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu, Nath.”


Nathan tersenyum, mengajak Widya bangkit dari duduk. Perlahan, Nathan menuntun Widya untuk mendekat pada Arini yang tengah menangis tersedu. “Selamat tinggal, Sayang. Aku pun mencintaimu.”


Arini yang menyadari ada pergerakan dari Widya segera bangkit dari tubuh sang putri. Arini merasakan Widya ikut menggenggam erat tangannya.


“Bunda,” lirih Widya. Perlahan ia membuka mata dan melihat Arini.


“Sayang!” seru Arini dengan binar bahagia. “Alhamdulillah ... kamu bangun, Nak. Kamu bangun. Makasih, Sayang.” Arini mengecupi wajah Widya. Mulai dari kening, pipi, serta hidung mancung Widya.


“Maafin Widya, Bun.”


“Enggak. Enggak ada yang perlu dimaafkan. Bunda senang kamu sudah bangun, Sayang.” Arini memeluk erat putrinya yang kembali.


...***...


To be continued ....


Akhirnya Widya bangun, tapi aku mewek lagi di sini 😭😭.

__ADS_1


Kalau mau tanya ke mana banner happy reading sama Tbc. Aku mau jawab, diambil mimin eNTi 🤭🤭


__ADS_2