
...***...
...Happy Reading...
...***...
“Istrimu mana, Sa? Nggak sarapan sekalian?” tanya Evyana ketika melihat putranya turun sendirian ke sebuah restoran yang berada di lantai bawah hotel tersebut. Kebetulan keluarga Harsa sudah berkumpul di meja yang sudah direservasi sebelumnya. Mereka sengaja ingin sarapan bersama di sana.
“Widya belum bangun, Ma,” jawab Harsa.
“Pak Bowo, sepertinya nggak lama lagi kita akan menimang cucu,” seru Rendra diikuti tawa mereka. Sedangkan Harsa yang masih belum memahami situasi dengan santainya duduk dan mengambil nasi.
“Harsa, kamu mau ngapain?” Evyana geram melihat putranya.
“Ya sarapan, Ma. Emang di sini Harsa mau mandi,” jawab Harsa tanpa dosa.
“Balik ke kamar. Minta sarapannya diantar ke kamar. Kamu mau membiarkan istrimu kelaparan setelah semalaman diajak berperang!” Evy memelototi putranya yang tidak peka.
Tangan Harsa terhenti, seketika ia mengingat kejadian semalam ketika pertama kali mereka merasakan surga dunia. Ia teringat wajah lelah Widya dan bagaimana tadi pagi ia membopong perempuan itu ke kamar mandi gegara tidak bisa berjalan, padahal ia ingin buang air kecil.
“Maaf, Ma. Harsa lupa.” Harsa bergegas kembali ke kamarnya setelah meminta pihak hotel membawakan sarapan ke kamarnya.
...*** ...
Dua hari kemudian, Harsa sudah pulang dari hotel tempatnya melangsungkan pernikahan. Sore itu, keluarga Harsa berkumpul di kediaman Rendra. Ditemani secangkir teh dan kudapan buatan Evyana, mereka duduk di teras samping.
“Kalian mau bulan madu ke mana? Coba kalau tante masih di Jepang, kalian pasti tante antar menikmati salju di sana,” sesal Aline yang tidak bisa menemani keponakannya menikmati musim salju di Jepang.
“Nggak papa, Tan. Lagian kita juga nggak ada rencana buat honeymoon jauh-jauh. Iya, kan, Yang?” tanya Harsa menatap istrinya. Sedangkan Widya hanya mengangguk menanggapinya.
“Bukankah Jogya juga bagus, Tan. Dulu, waktu Widya masih kecil sering mengunjungi eyang di Bantul. Sekarang Widya sudah lupa, lama sekali nggak ke sana,” ucap Widya.
“Tante ada rekomendasi tempat romantis di daerah Jogya?” tanya Harsa.
__ADS_1
“Kalau itu tanya Om kamu, tuh,” Aline menunjuk suaminya.
“Om, kita mau honeymoon ke Jogya. Tunjukin tempat yang asyik, ya,” pinta Harsa.
“Kalau masalah itu tenang saja, om bakal kasih referensi sekaligus om pesankan tempat dan akomodasinya. Anggap saja ini hadiah pernikahan dari om.”
“Wah, makasih banget, Om.” Widya dan Harsa serempak menjawab.
...*** ...
Besoknya, siang hari mereka terbang menuju kota gudeg bersama Aline dan Surya yang akan kembali ke rumah mereka di Jogya. Setibanya di Yogyakarta International Airport, Harsa dan Surya berpisah.
“Selamat menikmati honeymoon ini, Sa. Om doakan semoga sukses,” ucap Surya sebelum mereka berpisah. “Tolong jaga keponakanku. Kalau sampai dia mengeluh, kupastikan tidak akan menggunakan jasa kamu lagi,” ucap Surya kepada lelaki yang bertugas membawa Harsa berkeliling.
“Siap, Pak. Bapak tidak perlu khawatir,” balas lelaki itu tersenyum penuh hormat.
***
“Aku mandi dulu, ya. Gerah, nih,” ucap Widya begitu tiba di kamar hotel.
“Sayang, mandi bareng, ya,” pinta Harsa yang menerobos masuk ke kamar mandi tanpa permisi.
“Stop! Gantian. Kalau kamu di sini kita nggak bakal mandi,” lirih Widya yang mulai hapal tingkah suaminya.
“Enggak, aku janji nggak ngapa-ngapain. Waktunya nggak keburu, Sayang. Nanti kita kehabisan momen sunset-nya. Please,” pinta Harsa penuh harap. Mengingat hari semakin sore, akhirnya Widya mengalah agar mereka tidak kehilangan momen terindah di tempat ini. Namun, bukan Harsa namanya jika dia melewatkan pemandangan indah di depan matanya. Pemandangan akan kemolekan tubuh Widya kini sudah menjadi candu untuknya.
“Sayang, stop!” teriak Widya ketika tangan Harsa mulai menjelajah area yang bisa membuat gadis itu luluh.
“Ck! Kamu tega, Yang,” lirih Harsa dengan wajah memelas. Widya menangkup wajah suaminya. Mengecup bibir lelaki itu malu-malu.
“Tidak sekarang, Sayang. Tuh, mataharinya bentar lagi tenggelam,” lirih Widya.
Harsa segera tersadar dan menyelesaikan ritual mandinya tanpa embel-embel yang akan membuat Widya cemberut. Setelah berganti pakaian, mereka keluar dari kamar hotel. Berjalan di pinggir kolam renang dan akhirnya duduk di gazebo sekitar kolam. Menatap semburat jingga di ufuk barat sembari menikmati kopi yang masih mengepulkan asap putih. Harsa menggenggam tangan Widya.
__ADS_1
“Terima kasih, Sayang. Sudah memberiku kepercayaan untuk menebus kesalahanku dulu.” Harsa mencium tangan istrinya penuh sayang.
“Indah, ya, Sa. Suara deburan ombak itu membuatku merasa damai.” Widya menatap mata suaminya. “Terima kasih sudah sabar menemani aku selama ini,” lirih Widya. Mereka kembali menikmati lukisan alam yang begitu memanjakan mata. Hingga warna keemasan itu benar-benar berubah gelap.
...*** ...
Pukul dua dini hari, Harsa dan Widya bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Pagi ini mereka akan menikmati sunrise di sebuah lereng gunung. Tour guide yang akan membawa mereka sudah siap di lobi hotel. Perjalan mereka memakan waktu sekitar dua jam. Hawa dingin menusuk tulang mulai terasa ketika melewati jalanan bergelombang yang sempit dan gelap. Meskipun masih pagi buta, beberapa kendaraan bermotor terlihat di belakang. Mereka juga ingin menikmati indahnya sunrise di taman wisata alam ‘Posong.’
Jalanan berkelok dan menanjak mulai terasa. Udara pun semakin dingin, mereka berada di lereng gunung Sindoro dengan ketinggian 3.150 mdpl. Sepanjang jalan menuju ke atas dikelilingi tanaman tembakau dan kopi. Namun sayang, karena hari masih gelap mereka tidak bisa menikmati pemandangan di sekitar jalan menuju ke Posong. Sekitar pukul empat pagi mereka tiba di lokasi dan segera menuju penginapan yang sudah dipesan.
“Dingin, Yang?” tanya Harsa sembari mengalungkan selimut di tubuh Widya. Mereka duduk di depan penginapan menanti terbitnya fajar.
“Iya,” jawab Widya singkat. Harsa segera memeluk wanitanya.
Mereka tidak menyangka jika udara di sini terlewat dingin. Perlahan matahari mulai menampakkan bias sinarnya. Harsa mengabadikan pemandangan itu dengan ponselnya. Perlahan tapi pasti, awan putih samar terlihat. Mereka seolah berada di atas awan. Widya begitu takjub melihat pemandangan ini. Hingga pukul enam pagi mereka tidak beranjak dari tempat mereka duduk. Meskipun matahari sudah tinggi, tetapi sinarnya tidak mampu menghangatkan tubuh mereka.
“Makan dulu, yuk! Aku lapar,” ajak Harsa ketika melihat Widya mulai menguap. Widya mengangguk dan segera menikmati sajian yang sudah tersedia. Setelah beberapa saat, mereka masuk ke penginapan dan merebahkan tubuhnya. Rasa kantuk yang sedari tadi menyerang sudah tidak dapat Widya tahan, membuatnya langsung memasuki alam mimpi begitu bertemu dengan kasur.
Harsa yang melihat istrinya terlelap segera mendekatinya. Menatap wajah polos Widya ketika tidur merupakan kenikmatan tersendiri baginya. Harsa menyematkan rambut Widya ke belakang telinga perempuan itu. Widya yang merasa terusik akan sentuhan jemari Harsa yang terasa begitu dingin, menggeliat dan kembali menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Harsa makin mendekat dan memeluk tubuh istrinya dari arah belakang.
Harsa yang semula hanya ingin memberi kehangatan pada istrinya mulai terusik, ia merasakan sesuatu yang meronta di bawah sana. Antara hasrat dan rasa tidak tega melihat Widya yang terlelap, akhirnya Harsa hanya memberikan kecupan ringan di ceruk leher Widya. Napas hangat yang menjalar di leher mulus Widya dan tangan Harsa yang mulai tidak bisa diam, membuat Widya terjaga.
“Ngantuk, Yang.” Widya berusaha menghindar.
“Ya udah kamu tidur aja,” jawab Harsa dengan suara beratnya. Harsa semakin menggila, ada sesuatu yang ingin segera ia tuntaskan. Dengan lembut tangannya masuk ke dalam baju Widya, perlahan mulai menjelajahi medan yang mulai ia kenal, dan berhenti di tempat favoritnya selama ini. Sementara itu, napasnya kian memburu di telinga Widya membuat perempuan yang sebenarnya sudah terjaga sejak tangan dingin itu menyentuh perutnya, meloloskan suara lenguhan yang membuat Harsa semakin menggila. Dan di tengah dinginnya udara pegunungan, mereka berdua mulai berkeringat berbagi kehangatan.
...***...
...*To be continued...
...***...
Gimana? Udah panas, kan? Masih kurang panas, otak othor kebakaran entar 🙄*
__ADS_1