
...***...
"Akan menjadi urusan gue kalau mengenai perasaan Widya. Kalau lo nggak bisa membuat dia bahagia, lepaskan dia!" Harsa melangkahkan kakinya lebih mendekat kepada Nathan, kepalanya sedikit condong mendekati telinga Nathan lalu berbisik di sana, "Gue akan pastikan suatu saat nanti gue akan merebutnya kembali dari lo. Gue akan memperbaiki kesalahan gue terhadap Widya, camkan itu, Nathan Putra Lesmana!" Nathan yang tengah memandang punggung Widya yang telah berlalu pun sontak terpaku mendengar semua perkataan Harsa yang menusuk jantungnya.
"Ketika hal itu terjadi gue nggak akan menyia-nyiakan kesempatan itu!" seru Harsa lagi sebelum ia berlalu meninggalkan Nathan.
Nathan berusaha menahan emosi dengan hanya menatap tajam Harsa yang menjauh dari pandangannya. Kedua tangannya mengepal hingga urat tangannya pun terlihat. "Sialan! Ternyata si Harsa masih menyimpan rasa pada Widya!" umpat Nathan dalam hati. “Tapi gue nggak akan ngebiarin lo dapat kesempatan itu. Sekali gue dapetin Widya, nggak akan pernah gue lepas,” lanjutnya kemudian.
...***...
Keesokan harinya Nathan dan Widya bertemu, tetapi hanya sekedar menyapa saja. Jujur, Widya masih kesal dan kecewa atas sikap Nathan yang tidak peka terhadap perasaannya. Sejak dari kejadian di kantin, hubungan Nathan dan Widya berdampak kurang baik. Seperti perang dingin yang hanya saling membalas chat seperlunya saja. Sikap Widya yang selalu murung pun terbaca oleh kedua sahabatnya.
"Lo kenapa, Wid? Gue perhatiin dari tadi lo kayak nahan BAB?" tanya Karin dengan gaya kocaknya berniat membuat Widya tersenyum. "Sorry, ya! Gue jadi kepo," lanjut Karin, karena Widya hanya diam. Sama sekali tidak ada niat menjawab pertanyaan Karin.
"Wid, kalau lo mau cerita tentang kegelisahan hati lo, gue sama Kartika siap dengerin, kok," imbuh Karin, lalu menoleh ke arah Kartika. "Iya, kan, Tik?" tanya Karin pada Kartika.
Kartika mengangguk, "Iya. Kita ini sahabat, Wid. Seandainya kita tidak bisa membantu mencari solusinya, paling tidak dengan cerita ke kita beban lo jadi sedikit berkurang," ucap Kartika sambil menatap dalam mata Widya.
Kartika mendekati Widya lalu menggenggam tangannya. "Kita selalu ada buat lo." Pun diikuti oleh Karin yang menyatukan tangannya dengan tangan kedua sahabatnya itu. Senyuman hangat menghiasi bibir ketiganya.
"Gimana kalau malam ini kalian nginep di rumah gue? Gue mau berbagi cerita," Widya menatap kedua sahabatnya penuh harap.
"Siap, laksanakan sahabat gue yang cantik!" seru Kartika dan Karin bersamaan.
Setelah itu mereka tersenyum dan tertawa lepas. Itulah sahabat. Widya pun bersyukur mempunyai sahabat yang sangat peka dengan sikapnya, walaupun pernah terjadi kesalahpahaman di antara mereka di kala masih memakai seragam abu-abu.
***
Saat ini, ketiga sahabat itu sedang berada di mini market dekat kampus. Mereka hendak membeli cemilan dan minuman ringan untuk amunisi saat menginap di rumah Widya, sekaligus mendengarkan curhatannya.
__ADS_1
Saat hendak melangkah ke dalam mini market, Widya berhenti sejenak sambil memperhatikan motor sport yang begitu dia kenal. Motor itu terparkir di area mini market yang sedang ia kunjungi. Belum sempat Widya berpikir panjang, nampak sepasang anak manusia keluar dari mini market tersebut. Siapa lagi jika bukan Nathan dan Vina. Vina dengan leluasanya bergelayut manja di lengan Nathan, dan yang membuat Widya meradang Nathan tidak berusaha menolak perlakuan itu. Nathan pun terkejut ketika melihat Widya dan kedua sahabatnya. Dengan langkah gontai Nathan mendekat ke arah Widya.
“Yang,” sapa Nathan sedikit kikuk.
"Kenapa? Kaget? Biasa aja kali, mukanya keliatan kayak yang kepergok selingkuh aja," sindir Widya. "Tadi nge-chat nggak bisa jemput alasannya sibuk. Jadi, ternyata ini kesibukannya?” Widya berkata ketus dengan tatapan tajam ke arah lengan kekasihnya. Kartika dan Karin masih bergeming melihat kekasih sahabatnya berduaan dengan perempuan lain.
"Masuk, yuk! Gue nggak mau gangguin yang lagi sibuk." Setelah mengatakan hal itu, Widya menarik tangan Karin dan Kartika agar ikut masuk ke dalam mini market. Nathan berusaha untuk mengejar Widya. Akan tetapi, Vina menghalangi dan menarik tangan Nathan ke arah parkiran.
“Nath, ayok pulang! Entar aku telat,” rengek Vina dengan wajah memelas.
Wajah memelas itulah yang membuat Nathan tidak pernah bisa lepas dari bayang-bayang Vina. Bagaimanapun Vina pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Vina pernah memiliki arti yang begitu besar di hatinya. Sejak dulu Nathan tidak pernah mampu melihat Vina menangis, ia pun selalu berusaha untuk membahagiakan Vina. Dengan berat hati, Nathan mengikuti langkah Vina.
“Kenapa kita jadi terasa jauh, Wid? Aku cuma butuh pengertian dari kamu. Untuk saat ini, biarkan aku bersama Vina, karena aku tidak pernah mampu menyakiti hatinya, tapi percayalah, aku hanya mencintai kamu, Wid,” batin Nathan.
Di dalam mini market, Widya melihat Vina duduk berboncengan dengan Nathan dengan hati yang perih. Bagaimana tidak, Vina begitu erat memeluk Nathan dari belakang, sedangkan Nathan tidak memberi penolakan sama sekali.
“Kenapa rasanya begitu sakit, ya, Tuhan?” gumam Widya di dalam hati. Ia segera menghapus butiran kristal yang mulai memupuk di mata indahnya. Sedangkan Kartika dan Karin hanya bisa menguatkan sahabatnya dengan mengelus bahu Widya dengan lembut.
Terlihat Arini di halaman sedang memberi pupuk tanaman hiasnya. "Sore, Bunda,” seru mereka semua dengan kompaknya.
Yang disapa pun langsung menoleh dan tersenyum dengan senang, "Wah, pada mau main atau nginep, nih? Bunda kangen, loh. Sudah lama kalian pada enggak ke mari. Saking sibuknya sama tugas kuliah, ya?” balas bunda sembari menyimpan pupuk di sebelah pot bunga.
"Iya, Bunda. Maafkan kami, ya?” Mereka berjalan ke arah Arini yang sedang mencuci tangannya. Kartika dan Karin mencium tangan Arini dengan takzim.
"Ayo, pada masuk! Bentar, ya, bunda selesaikan dulu pekerjaan ini,” ujar Arini yang memang pecinta tanaman hias.
"Iya, Bunda." Karin yang menjawab.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Widya. Widya membuatkan minuman dan memotong kue yang dibuat bundanya tadi pagi. Sisa pesanan dari ibu-ibu arisan di komplek. Melihat Widya yang selalu murung, kedua sahabatnya langsung memeluk sang pemilik kamar.
Tanpa Widya menceritakan apa yang dirasakannya, Kartika dan Karin tahu jika sahabatnya itu tengah terluka. Widya pun membalas pelukan Karin dan Kartika. Hingga butiran bening di mata cantik Widya tidak lagi bisa terbendung. Karin dan Kartika semakin mengeratkan pelukannya, mencoba memberi kekuatan pada Widya.
__ADS_1
"Gue harus gimana, dong? Kalau begini terus gue nggak kuat. Hati gue bukan terbuat dari batu yang nggak ada rasa. Kalian tahu sendiri bagaimana Nathan memperlakukan Vina,” ujar Widya sambil terisak. “Apa gue akhiri aja, ya, kisah cinta gue ama Nathan? Gue nggak siap melihat mereka seperti itu terus menerus. Yah, walau Nathan bilang dia dan Vina nggak ada apa-apa, tapi hati gue ngerasa sakit. Rasanya gue nggak sanggup seperti ini terus.”
Kartika dan Karin terdiam sesaat. Mereka bingung harus bagaimana menyikapi permasalahan Widya dan Nathan.
"Menurut gue, mendingan lo tanya baik-baik ke Nathan. Selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Jika benar nggak ada hubungan di antara mereka berdua, minta Nathan untuk menjaga sikap agar ia tidak mengumbar kemesraan sama Vina. Dan lo juga jangan tersulut emosi dulu, Wid!" tutur Karin memberikan pendapatnya.
"Iya, Wid. Coba lo tanya secara baik-baik dan saling terbuka sama Nathan, ada apa sebenarnya antara Vina ama Nathan. Pesan gue, jangan ambil keputusan di kala emosi dan jangan sampe lo menyesal dengan sikap terburu-buru lo itu!” Kartika menambahkan perkataan Karin.
"Cukup gue aja, Wid, yang menyesal dengan sikap gue waktu itu. Dengan mengambil keputusan berselingkuh dengan Edo, gue malah melepaskan laki-laki yang benar-benar gue cintai dan sayang. Yah, walaupun Edo sangat mencintai gue, dan cinta gue sama Harsa juga udah hilang, tapi tetap aja sakit, Wid. Coba lo pikirkan lagi! Apakah keputusan lo itu sesuai sama kata hati lo, atau hanya sekedar emosi sesaat. Karena lo pikir Nathan sedang selingkuh.” Suara parau terdengar dari mulut Karin, dia sangat menyesal mengikuti egonya dulu sehingga berakhir menyakitkan.
"Benar yang Karin bilang, Wid. Menurut gue, Nathan nggak selingkuh, dia hanya sedang bingung saja. Di satu sisi Vina teman kecilnya, bahkan mama Liana kenal banget ama keluarga mereka. Di satu sisi lagi, ada lo—kekasih hatinya. Mungkin dia juga sedang berusaha buat jaga hati lo. Dia juga dilema, Wid. Bicaralah dengan Nathan dari hati ke hati! Perbaiki kembali waktu yang kalian lewatkan beberapa waktu yang lalu! Coba tenang menghadapi situasi ini! Kita akan selalu ada di samping lo kapan pun dan di mana pun lo butuh kita, kita selalu siap. Jangan terburu-buru mengambil keputusan yang akan membuat lo menyesal nantinya! Cukup Karin saja yang mengalaminya, oke, Widya?” ujar Kartika sok bijak dan panjang lebar.
Mereka pun saling berbagi pelukan hangat untuk menguatkan Widya.
"Tapi gue nggak ngerti juga sama Nathan. Masa, sih, nggak peka banget gitu,” omel Karin tiba-tiba berubah sikap.
“Gue bakal bikin perhitungan sama lo, Nath!” ancam Kartika dalam hati. Bagaimanapun ia tak akan rela melihat sahabatnya disakiti. Sedangkan Widya masih termenung, mencoba mencerna semua nasihat kedua sahabatnya.
***
Waktu berlalu, Widya mencoba memulai harinya dengan keceriaan. Kekuatan pelukan dari sahabatnya membuat dia semakin yakin, akan bisa mengambil sikap apa nantinya kepada kekasih hatinya.
Sore ini, Widya melihat lagi kelakuan Vina yang sangat manja ke Nathan berbarengan dengan kedatangan Cindy. Sepertinya Vina tidak mengizinkan Nathan bergerak bebas di kampus, hingga setiap hari ia rela membuntuti Nathan ke kampusnya, seakan Vina tidak memiliki pekerjaan lain. Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitulah pepatah yang tepat untuk Cindy saat ini. Sembari berjalan pelan Cindy menghampiri Widya.
"So … lo bisa lihat semesra apa mereka berdua. Apa lo masih yakin kalo Nathan cinta sama lo?” sarkas Cindy ke Widya. “Lo itu hanya pelampiasan kesepian Nathan aja, makanya jangan kepedean jadi cewek. Kasihan, deh, lo,” tambah Cindy semakin puas membakar hati Widya. Cindy pun berlalu meninggalkan Widya yang masih terbengong sendiri.
...***...
Ulet keket masih aja berusaha. Semangat Cindy 😅
__ADS_1