Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 54


__ADS_3


...***...


Nathan yang lebih senang berada di dalam kamar tidak memedulikan kesehatan dan keluarganya. Ia menyesali semua sikapnya selama ini terhadap Widya. Nathan masih ingin mempertahankan hubungannya dengan Widya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan sayapnya yang telah koyak dan patah.


Rasa kecewa, marah, dan sedih bertumpuk menjadi satu. Membuat hidupnya hancur meski tidak terlihat. Hal tersebut membuat mama Liana bersedih, dia tidak tega melihat anak sulungnya seperti itu. Diam-diam mama Liana menelepon sahabat putranya. Menceritakan kondisi Nathan yang memprihatinkan. Zakir dan Edo berencana mengunjungi Nathan, meskipun dalam hati mereka masih menyimpang rasa kecewa. Lain halnya dengan Harsa, ia tidak mau datang. Harsa masih teramat kesal dan marah atas perlakuan Nathan terhadap Widya.


Hari menjelang senja ketika Zakir dan Edo datang ke rumah Nathan. Namun, begitu mereka sampai, Nathan malah mengusirnya. Nathan benar-benar merasa ingin sendiri dan tidak mau diganggu orang lain. Terlebih ia merasa malu akan sikapnya terhadap Widya yang membuat sahabatnya kecewa.


"Yaelah, boro-boro disuruh duduk atau dikasih minum, belum apa-apa dah diusir. Dasar, kalau orang yang lagi galau tingkat dewa kayak gini, nih. Ngeselin! Nath, sampai kapan lo mau kayak ini?" seru Zakir dari balik pintu. Mereka yang diizinkan masuk ke dalam rumah oleh Liana, nyatanya tertahan di depan kamar Nathan.


"Iya, Nath. Jangan sok kuat, deh, lo! Kalau lo punya masalah cobalah berbagi sama kita berdua. Apa lo nggak percaya ama kita, nih?" ujar Edo sembari mengetuk pintu sekali lagi. Edo percaya jika Nathan masih berada di balik pintu.


"Ayolah Nath, buka pintunya! Nggak usah cerita nggak apa-apa. Keluar aja, yuk, jalan-jalan!" timpal Zakir lagi.


Perlahan Nathan membuka pintu. Sebenarnya ia merindukan kebersamaan dengan sahabatnya. Terlebih dengan Widya. Nathan bergeming dan memandang kedua sahabatnya dengan tatapan kosong.


"Lo nggak bosen gitu, Nath, di dalam kamar terus?" Zakir nyelonong masuk kamar Nathan dan diikuti oleh Edo.


Nathan pun mengikuti keduanya dan duduk bersama mereka di tepi tempat tidur. Hening sejenak tercipta di antara mereka. Hingga Zakir memulai celotehannya. Yang ditimpali oleh Edo dengan candaan ringan. Namun, hal itu hanya dianggap angin lalu oleh Nathan. Ia sama sekali tidak menggubris perbincangan sahabatnya. Membuat Zakir dan Edo merasa tidak enak dan canggung sendiri.


"Ya udah, deh. Kita balik aja, yok! Nggak enak juga didiemin. Mungkin saat ini dia emang lagi nggak mau diganggu," ajak Edo pada Zakir. Zakir pun mengangguk setuju. Keduanya pun beranjak bersamaan.


"Kita akan datang lagi di saat lo udah tenang. Nath. Lo tahu, kan, harus ke mana mencari kita? Kita sebagai sahabat lo, selalu ada buat lo. Lo harus ingat jangan pernah menyalahkan siapa pun dalam setiap kejadian!" ujar Edo sambil menepuk bahu Nathan memberikan semangat dan kekuatan bahwa semua akan baik-baik saja.


Zakir dan Edo pun pulang dengan rasa kecewa. Mereka gagal membuat Nathan kembali tersenyum dan berbagi keluh kesahnya.


***

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Widya merasakan hal yang sama. Kesehatannya sedikit terganggu akibat memikirkan Nathan. Kehilangan nafsu makan membuat tubuhnya sakit dan lemas. Ia demam. Sebagai sahabat, Karin dan Kartika selalu hadir menemani Widya. Untuk memberikan kekuatan buat Widya.


"Wid, ayolah, makan dulu! Nasinya keburu dingin, nanti nggak enak jadinya," ucap Karin dengan suara lembutnya, merayu sang pemilik kamar yang bernuansa girly tersebut agar mau makan.


Bunda Arini sudah berusaha membujuknya untuk makan, tetapi usahanya sia-sia. Satu sendok nasi pun tidak ada yang mendarat di mulut Widya, akhirnya bunda Arini meminta bantuan Karin dan Kartika.


"Iya, Wid. Lo harus makan walau cuma sedikit! Hati lo boleh sakit, tapi lo nggak harus menyiksa tubuh lo kayak gitu. Gue tahu, kok, apa yang lo rasain. Dan gue paham akan hal itu, tapi lo harus tetap sehat dan kuat untuk membuktikan sama orang yang sudah menghancurkan hubungan lo dengan Nathan. Yah, mungkin ini ujian cinta lo berdua, Wid. Mungkin Tuhan menegur lo berdua. Saking cintanya lo ama Nathan sampai lo lupa ada yang harus lebih lo cintai, diri lo sendiri,


"Bagaimana Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang yang tepat, kalau kita tidak berpisah dengan orang yang salah. Gue nggak bilang lo salah menjalin hubungan sama Nathan, tapi di luar sana masih banyak laki-laki yang lebih baik dari Nathan. Lo terlalu meratapi dia, Wid. Please ... stop mikirin dia! Akhiri semua drama ini! Lo mesti bangkit, Wid. Move on!" lontar Kartika panjang lebar menasihati Widya.


"Kadang memang nggak mudah melupakan begitu banyak kenangan. Apalagi kenangan yang sudah terpatri di dalam hati lo tentang Nathan. Tapi lo udah buat keputusan. Lo harus jalani itu, dan mulai menata masa depan," timpal Karin menyetujui perkataan Kartika. Sedangkan Widya hanya mendengarkan dengan tatapan datar.


"Ternyata bukan putus cinta yang menyakitkan, tetapi yang lebih sakit adalah berpisah di kala hati masih mencintai seseorang. Kadang apa pun yang menjadi keinginan belum tentu menjadi takdir kita ke depannya. Cinta tak selalu harus memilki." Widya bermonolog dalam hatinya.


"Jatuh cinta itu seharusnya bahagia, tapi kenapa gue sesakit ini." Dengan suara berat dan napas sesak, Widya berkata kepada kedua sahabatnya.


Spontan Karin pun memeluk Widya sebagai tanda dia menguatkan sahabatnya. Kartika pun ikut merangsek memeluk keduanya diiringi isak tangis ketiganya. Persahabatan mereka tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi seberapa lama bisa bertahan dalam suka dan duka.


...***...


Pagi yang cerah, tetapi tak secerah gadis berkulit putih dan selembut kapas yang sedang duduk melamun di taman samping rumah. Taman itu begitu asri dan teduh, membuat hati siapa saja menjadi tenang bila duduk berlama-lama di sana. Hari ini dan beberapa hari yang lalu Widya tidak berangkat ke kampus, ia masih enggan kemana-mana. Selalu saja betah di rumah dan masih meratapi kisah cintanya. Bunda selalu menemani di kala senggang bila tidak membuat pesanan kue, berbicara dari hati ke hati walau kadang sang buah hati lebih banyak melamun dan tidak menanggapi.


"Widya, Sayang. Mana, nih, anak bunda yang selalu ceria dan rajin belajar. Bunda sedih, deh, melihat kamu kayak gini, males kuliah. Seperti bukan Widya anaknya bunda, tapi orang lain. Jangan sampai kepandaianmu dalam pelajaran dikalahkan oleh rasa cinta yang berlebihan, Sayang. Jangan menyiksa perasaanmu sendiri! Apa-apa yang sudah menjadi keputusanmu, ya, dijalani! Ikhlaskan dan bangkit dari keterpurukan akibat cinta, Sayang. Hati ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya seperti ini." Bunda Arini kecewa, mengingat sosok laki-laki yang sudah dipercaya bisa membuat anaknya bahagia malah memberikan luka.


"Yuk, bangkit, Sayang. Sedih boleh, tapi jangan berlebihan! Kita lihat, dunia itu luas nggak sesempit yang kamu pikirkan," ujar bunda sambil mencium kening Widya dengan penuh kasih sayang dan cinta.


Widya mengerjap sambil berpikir. Bundanya benar, apa pun yang terjadi ia harus tetap kuliah. Ia tidak boleh menyangkut pautkan masalahnya dengan kewajibannya belajar.


...***...

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan, di kampus terlihat Cindy sedang melangkah ke arah parkiran. Ia berlari kecil hendak menghampiri Kartika yang baru datang.


"Hai, Tik!" seru Cindy dengan sok akrabnya.


Kartika bergeming, tak menjawab sapaan kawan dari semasa SMA-nya itu.


"Mau apa, nih, cewek nyebelin!" gumam Kartika.


"Gue perhatiin si Widya jarang ke kampus, ya? Kalau boleh tahu ada apa, gitu?" Walaupun tidak digubris, Cindy masih saja bertanya. Jiwa kepo Cindy meningkat karena beberapa hari ini ia tidak melihat Widya dan Nathan masuk kuliah.


"Gue dengar-dengar Nathan ama Widya putus, ya?" Dengan mata berbinar Cindy bertanya lagi.


"Nggak usah ikut campur sama urusan orang lain, deh!" sarkas Kartika sambil menatap tajam Cindy. Ia yang tadinya tidak mau meladeni Cindy, akhirnya emosi.


"Gue ini teman sekelasnya. Tentu aja gue pengin tahu kenapa Widya dan Nathan nggak pernah masuk. Secara mereka itu mahasiswa unggulan. Terus sekarang mereka berdua nggak masuk kelas secara berbarengan. Kali aja, kan, putus beneran," seloroh Cindy sambil pura-pura berpikir.


"Kenapa nggak lo tanya aja langsung ke yang bersangkutan? Biar lo dapat jawaban yang lebih gamblang, dan lo bisa puas dengan kekepoan lo yang tingkat dewa itu," jawab Kartika kesal .


"Atau ... masalah tragedi kolam renang itu belum selesai juga, ya? Nathan mau balikan sama mantannya, kah?" cecar Cindy kembali berulah.


Kartika berdecak kesal. Ingin sekali ia merobek mulut lemes temannya itu. Namun, rasanya tidak ada untungnya berdebat dengan perempuan seperti Cindy.


"Terserah lo! Gue cabut. Bye!" Kartika pun berlalu meninggalkan Cindy yang langsung merengut karena tidak mendapatkan jawaban.


Namun, setelah Kartika sedikit menjauh darinya. Sebuah senyuman licik tersemat di bibirnya. Sambil melipat tangannya di depan dada, Cindy pun berkata dengan sarkasnya, "Widya ... akhirnya lo merasakan apa yang gue rasakan. Dihina oleh seseorang yang kita sayang rasanya sakit, kan, Wid? Sama halnya sewaktu Nathan menghina gue. Gue puas lo bisa merasakannya juga." Cindy tersenyum puas melihat kehancuran hubungan Nathan dan Widya. Dendamnya terbalaskan tanpa harus melakukan sesuatu yang mengotori tangannya. Tak lama ia pun melangkah menuju kelasnya.


...***...


__ADS_1


Bantu vote, ya. Udah lewat hari Senin. Harusnya kemarin 🤭


__ADS_2