Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 102


__ADS_3

...***Happy Reading***...


......***......


Begitu Harsa membayar pesanannya. Ia mengajak Widya untuk langsung ke kantornya. Beruntung, waktu yang mendekati siang hari membuat jalanan ramai lancar tanpa macet. Sesekali mereka berbincang menjadikan perjalanan mereka tidaklah jenuh.


Sepuluh menit, akhirnya Harsa sampai di kantor Zakir dan segera memarkirkan motornya. Lalu, Harsa mengajak Widya langsung ke ruangannya dulu sebelum ia menunjukkan kubikel Widya. Tentu saja hal itu untuk menemui Zakir sebagai formalitas.


Perusahaan ini di dirikan oleh Harsa dan Zakir dari nol. Dengan dibantu orang tua dan beberapa rekan kerja, juga beberapa kenalan yang ikut menanamkan sahamnya di sini. Tentu posisi Zakir di sini merupakan orang yang sama pentingnya dengan Harsa. Namun, Zakir yang menyadari sikap recehnya itu belumlah mampu untuk menjadi direktur utama. Ia menyerahkan tanggung jawab itu pada Harsa yang ia anggap lebih kompeten di bidang ini.


Pada dasarnya, sikap Zakir yang sedikit slengean itu menjadikan ia pribadi yang humble pada setiap karyawannya. Tidak jarang, banyak yang tertarik padanya daripada direktur mereka sendiri–Harsa.


Harsa yang cenderung tenang, berwibawa dan pendiam itu lebih membuat karyawannya segan.


Harsa mengetuk pintu ruangannya. Setelah mendapat sahutan dari dalam ia pun mengajak Widya untuk masuk. Zakir belum menyadari bahwa Harsa dan Widya yang telah datang. Sampai ide jahil Harsa menyuruh Widya untuk menyapa Zakir yang tengah serius memeriksa beberapa berkas di depannya.


"Selamat siang, Pak. Saya pegawai baru di sini, ada perlu dengan Bapak." Widya menahan tawanya. Tidak menyangka ia akan mengucapkan hal menggelikan ini dengan Zakir, karena menuruti ide Harsa.


"Ya, silahkan duduk dulu-"


"Pppppppfft ...." Harsa tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa terbahak mendengar jawaban Zakir. Apalagi melihat ekspresi Zakir yang sedang serius itu.


"Sialan!" Zakir melempar pulpen yang sedari tadi ia gunakan untuk menandatangani setumpuk berkas-berkas di hadapannya pada Harsa. Namun, Harsa dengan gesit dapat menghindar masih dengan tawanya. Ia lalu berdiri dan meraih map di sampingnya. Membuat gulungan lalu memukulkannya pada Harsa.


"Ampun, Pak direktur. Ampun ...." Harsa berusaha menghindar dari amukan Zakir, meski ia tahu ini bukan amukan sungguhan. Namun, Harsa masih tetap memerankan kejahilan ini dengan baik. Apalagi saat ia melirik pada Widya yang ikut tertawa melihat tingkah ia dan Zakir bak anak kecil yang sedang bergurau.


"Nggak ada ampun, ya! Enak aja. Siapa yang jadi direktur di sini? Gue terpaksa, nih, gantiin pekerjaan lo, ya!"


"Aduh, penganiayaan ini namanya," bela Harsa masih menghindari Zakir sampai memutari mejanya.


Akhirnya Zakir berhenti di samping Widya yang bersekat meja dengan Harsa di depannya. "Direktur mangkir. Dari mana aja, Lo? Nggak biasanya lo kelayapan. Gue jadi pusing sendiri, nih, ngerjain pekerjaan lo," keluh Zakir.


"Ternyata lo sekeren itu, ya, Zak, kalau sedang serius." Harsa melipat satu lengannya dan mencubit dagunya, seolah tengah menilai Zakir yang sedikit kesal karena ia harus menggantikan pekerjaan Harsa.


Harsa masih terkekeh, ia sampai menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Sesekali ia melirik Widya yang ikut tertawa. Dalam hati ia sangat bersyukur melihat tawa lepas Widya kali ini. Apalagi ia yang menjadi sebab tawa itu.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Akhirnya tawa ini dapat aku lihat lagi. Dan kubersyukur dalam hal ini, akulah yang menjadi penyebab tawanya kembali." Harsa berkata dalam hatinya. Ia bahkan sempat menghapus setetes air mata di sudut matanya. Entah akibat dari tawanya atau rasa terharu karena melihat raut ceria wanita yang ia cintai.


Zakir mengetahui pergerakan samar dari Harsa dan mulai mengerti keadaan. "Hai, Wid. Siap bergabung dengan kita?" Zakir mengulurkan tangannya pada Widya. Widya melirik pada Harsa dan mendapat anggukan dari Harsa sebagai persetujuan. Widya dengan senang hati menjabat tangan Zakir dan senyum kembali terulas dari bibir berbalut lip balm pink guava itu.

__ADS_1


Setelah cukup dengan kekonyolan mereka, kini mereka sudah duduk dengan tenang dan sesuai meja masing-masing. Harsa dan Zakir kembali pada meja masing-masing, sedangkan Widya masih duduk bersekat meja dengan Harsa. Memperhatikan arahan dari Harsa tentang pekerjaannya. Sesekali Zakir yang duduk di meja yang berbeda memberi tambahan.


Setelahnya, Zakirlah yang mengantarkan Widya menuju meja kubikelnya. Zakir memperkenalkan langsung Widya pada teman satu team divisinya. Tanpa mereka sadari bahwa Harsa juga memerhatikan Widya dari balik pintu yang tidak tertutup sempurna itu.


Harsa menyimpan kedua tangannya pada saku celananya. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang teduh, kala ia melihat antusias pekerja yang lain menyambut baik kedatangan Widya.


...*** ...


Harsa mengirim pesan singkat pada Widya ketika ia telah menunggunya di depan gedung kantornya. Tidak lama Widya muncul bersama dengan satu karyawan wanita.


"Sampai jumpa besok, ya, Wid." Seorang wanita melirik Harsa yang tengah bertengger di atas motornya dan tersenyum menyambut kedatangan Widya.


"Daahh, Ayu." Widya melambai pada teman barunya bernama Ayu itu dan mendekati Harsa.


"Aku antar pulang," ujar Harsa dengan senyum tulusnya. Widya pun mengangguk dan segera menerima helm yang diberikan Harsa.


Motor Harsa melesat membelah jalanan ibu kota. Tidak selancar saat tadi ia berangkat, karena jam pulang kantor kali ini. Membuat perjalanan sedikit tersendat di beberapa titik. Harsa tidak hanya diam, ia kembali menanyakan kesan pertama bergabung di perusahaannya.


"Semuanya baik, mereka team yang menyenangkan, aku suka." Widya mengungkapkan kesannya.


Kemudian Harsa kembali menanyakan berbagai hal agar Widya tidak jenuh menghadapi kemacetan petang ini.


Tanpa terasa motor Harsa menepi pada halaman rumah Widya. Bowo dan Arini yang berada di teras samping segera beranjak dari duduknya meninggalkan sejenak keasyikan momen nge-teh di sore hari begitu mendengar suara mesin kendaraan memasuki halaman rumahnya.


Harsa menahan Widya saat ia hendak melepas helmnya. "Tunggu dulu, Wid!" Harsa pun membantu Widya untuk membuka helmnya.


Widya yang mendapat perlakuan Harsa merasa tersentuh. "Terimakasih, Sa," ucap Widya.


"Ada yang tertinggal, nggak?" ujar Harsa mengingatkan Widya.


Widya memeriksa isi tas selempang miliknya, mengecek kembali lalu menggeleng pada Harsa. "Nggak ada, Sa," jawab Widya.


Perlakuan Harsa tentu tidak luput dari dua pasang mata yang sejak tadi memperhatikan perlakuan manis teman lelaki anak gadisnya itu.


"Assalamualaikum, Ayah, Bunda," sapa Widya dan langsung mendapat balasan salam, karena memang keduanya telah berdiri di teras sejak tadi. Setelah berbasa-basi sekadarnya, Harsa langsung pamit pulang. Begitu pun Widya dan kedua orang tuanya mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Harsa.


...***...


Sesampainya di rumah, Harsa selalu mengingat momen dari kafe, tingkah absurd Zakir, kekonyolannya dan juga ... tawa lepas dari Widya. Tanpa ia sadari hal itu membuat Harsa tak henti mengulas senyuman.

__ADS_1


Tentu saja, hal itu membuat kedua orang tua Harsa yang berada di ruang keluarga saling berpandangan sejenak melihat raut wajah putra mereka yang berbeda dari hari biasanya.


"Ada apa, sih? Kok, dari tadi masuk rumah, mama perhatikan kayaknya seneng banget. Sampai nggak sadar ada mama dan papa duduk di sini." Eviyana berdiri dan menghampiri anak semata wayangnya.


Hal itu membuat sang anak semakin tersenyum kikuk hingga beberapa kali mengusap ujung hidungnya yang sebenarnya sedang baik-baik saja. Tentu hal itu hanya untuk menutupi rasa gugupnya, karena gelagat Harsa dapat terbaca dengan mudah oleh sang mama.


"Nggak ada apa-apa, Ma." Kini Harsa berganti mengusap tengkuknya yang baik baik saja. Apalagi papa kini juga mendekatinya.


Rendra menepuk bahu Harsa. Satu tangannya mengelus dagu yang ditumbuhi sedikit jambang. "Dari wajahnya, sepertinya dapat proyek besar, Sa." Papa kini memasukkan kedua telapak tangannya pada dua saku celananya. "Katakan berapa omset keuntungan yang kamu peroleh!" lanjut Rendra


Eviyana yang seakan paham dan lebih mengenal baik anaknya segera menepis komentar suaminya. "Papa, kayak nggak pernah muda aja. Jelas senyum yang bikin mama geli seperti ini adalah senyum orang jatuh cinta. Lihat, tuh, telinganya sampai memerah." Eviyana menunjuk wajah anaknya dengan mengedikkan dagu.


Harsa yang terus-menerus digoda oleh kedua orang tuanya semakin salah tingkah, dan beberapa kali meringis menghadapi serangan bertubi-tubi menyapanya.


"Apa ini soal Widya?" Mama mengerling sambil memegang lengan sang anak.


"Apa, sih, Mama?"


"Hayo, ngaku!" tuntut Eviyana.


"Ehm ... I–iya," ujar Harsa menunduk lalu menatap mama dan papa bergantian. Tidak lupa ia kembali mengusap sekilas ujung hidungnya yang sebenarnya tidak sedang flu atau apapun jenisnya. Itu hanya untuk mengurangi kegugupannya. "Harsa senang karena hari ini Widya sudah kembali menampakkan tawa cerianya lagi, Ma."


"Oh, syukurlah. Mama papa ikut senang mendengarnya. Iya, kan, Pa?" Mama kini menatap suaminya bertanya lewat gerakan mimik wajahnya dan dihadiahi anggukan dari papa.


"Ayah dan bundanya juga terlihat senang dan lega dengan perubahan Widya hari ini, Ma. Harsa bisa lihat wajah lelah mereka yang berjuang untuk mengembalikan psikis Widya."


"Kita juga ikut lega, Sa. Dan mama lebih senang karena kamu dan teman-temanmu senantiasa ikut dalam penyembuhan Widya." Mama mengusap lembut lengan Harsa.


"Jadi, kami pulang telat kali ini karena Widya, ya? Kamu beri perhatian lebih padanya? Kamu juga yang antar Widya pulang?" tanya papa lagi mencecar.


"Iya, Pa," jawab Harsa jujur.


"Oh, apakah ini sebuah kode pada kita, Ma. Mungkin saatnya kita akan menambah anggota baru di keluarga kita," tebak Rendra menggoda anaknya.


Harsa hanya menggeleng sambil meringis mendengar komentar papa yang semakin membuatnya malu. "Udah, ah, Pa, Ma. Harsa mau mandi dulu. Gerah banget digodain terus." Harsa segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Tujuannya adalah kamar mandi. Ia harus segera menyegarkan otaknya agar kembali fresh. Mendapatkan sambutan yang membuatnya terus bersemu dan kehilangan sisi wibawanya.


Sementara Rendra dan Eviyana yang menyadari gerak-gerik putranya, semakin paham bahwa Harsa menyimpan perasaan lebih pada Widya.


...***...

__ADS_1


**To be continued....


Udah dapat restu, tuh. Aku tunggu di rumah, ya, Sa. Buat lamar aku. Eh... 😂**


__ADS_2