
...***...
Dengan sabar Harsa memapah Widya keluar dari lokasi Danau Hijau. Lambat mereka melangkah, karena Harsa berusaha menyamakan langkah lemah Widya.
Dalam hati Harsa tidak tega. Ingin rasanya ia membopong tubuh ringkih Widya, tetapi tentu saja itu hanya dalam pikirannya. Widya bisa saja berontak karena merasa tidak nyaman.
Tanpa diduga, Widya merosot dari rengkuhan Harsa dan hampir menyentuh tanah, jika saja Harsa tidak sigap menangkap tubuh Widya. Widya telah hilang kesadaran.
“Wid!" pekik Harsa. Ia segera membopong Widya. Berjalan cepat seperti orang kesetanan. Di saat panik seperti itu Harsa tidak dapat berpikir jernih. Yang ada di benaknya hanya membawa Widya segera pulang. Ia sudah tidak peduli lagi banyak pasang mata yang tercengang melihat aksinya. Masih mengenakan jas lengkap ala kantoran dan sepatu mengkilap. Tatanan rambut yang masih rapi. Namun, dengan wajah yang berantakan.
Sebenarnya Harsa bisa saja memanggil taksi meski jarak dari taman ke rumah Widya tidaklah jauh. Namun, Harsa yang dalam keadaan panik tidak terpikir akan hal itu. Dalam kepanikannya, tanpa sadar lelehan air matanya telah tumpah di ujung mata.
"Wid, bangun! Bukan hanya kamu yang sakit, aku yang melihat kamu seperti ini juga sakit, Wid!”
Harsa tiba di gerbang rumah Widya ketika beberapa orang berkerumun di sana. Bunda Arini menangis tersedu dalan dekapan seorang ibu-ibu dan Bowo terlihat menempelkan benda pipih pada telinga kiri, sibuk berbicara dalam sambungan telepon. Terlihat dengan jelas raut kepanikan di wajah mereka. Beberapa saat yang lalu Arini histeris ketika tidak mendapati putrinya dalam kamar. Beberapa warga membantu mencari keberadaan Widya.
Atensi sebagian warga teralihkan ketika Harsa mendekat membawa seorang perempuan dalam gendongannya dengan rambut berantakan serta setelan piyama tidur dan tanpa alas kaki.
Mereka yang di sana segera menyadari bahwa itu adalah Widya yang sempat membuat warga ikut panik beberapa menit yang lalu.
“Bu Rini."
"Widya, Bu.”
"Itu anaknya, Bu.”
"Syukurlah sudah ketemu.”
Beberapa warga berseru melihat kedatangan mereka. Arini dan Bowo segera berhambur pada Harsa yang membawa Widya dan segera memimpin untuk masuk rumah.
“Langsung ke kamar Widya saja, Harsa!” Bowo ingin membantu Harsa membawa Widya. Namun, dengan halus Harsa menolaknya, khawatir Widya akan terjatuh jika berubah posisi.
“Saya masih kuat, Om.” Tanpa perdebatan lagi, Harsa membawa Widya ke dalam kamarnya, diikuti oleh Bowo dan Arini.
Arini segera menyelimuti Widya, setelah Harsa membaringkan tubuh Widya. Masih ada sisa isak tangis Arini saat memeriksa wajah anaknya dan berakhir pada telapak kaki Widya yang kemerahan akibat gesekan kaki pada aspal jalanan.
__ADS_1
"Harsa, kamu bertemu Widya di mana?" tanya Bowo pada Harsa yang masih mengendalikan deru napasnya.
“Di danau yang di taman itu, Om.” Harsa menyeka keringat yang mengalir di dahinya.
"Ya, Allah.” Bowo mengusap wajah dengan kasar. Merasa menyesal telah lalai menjaga Widya, hingga Widya bisa keluar rumah tanpa sepengetahuannya.
“Ehm ... itu, saya memang tadi sengaja mau ke sini, Om. Tapi baru sampai di depan, saya melihat Widya berlari keluar pagar dengan tergesa. Saya langsung mengejarnya, karena melihat kondisi Widya yang masih belum stabil dan tidak ada yang mengikutinya. Jadi saya pikir, Widya pergi tanpa sepengetahuan Om dan Tante.”
“Benar, Harsa. Kami semua baru sadar saat tante mau mengecek keadaan Widya.”
“Dan ...,“ ucap Harsa tertahan dan berpikir sejenak untuk menyampaikan apa yang baru saja Widya lakukan.
“Dan apa, Harsa?” tanya Arini tidak sabar menunggu penjelasan Harsa.
“Sampai di sana, saya melihat Widya mau menyeburkan diri ke danau, Tante.”
“Hah?" pekik Arini kaget. Ia segera menghambur ke pelukan suaminya. "Ayah ... apa yang harus kita lakukan, Ayah?” tanya Arini dalam isaknya.
"Wid!" Harsa melirik Widya yang mulai melakukan pergerakan ringan. Membuat Bowo dan Arini juga mendekati ranjang putrinya.
Widya membuka perlahan kedua bola matanya. “Bun-da,” lirih Widya. Lalu ia mengalihkan pada dua orang lelaki beda usia yang tengah berdiri menatapnya sendu.
“Aku lelah, Bun.” Widya menarik selimutnya hingga menutup semua tubuhnya.
Arini yang mengerti putrinya ingin sendiri pun segera tanggap. Lalu melalui isyarat mengajak semua yang ada di dalam kamar untuk keluar.
“Harsa, terima kasih sudah membawa Widya pulang. Om tidak tahu apa jadinya jika saja kamu tidak datang tepat waktu.” Bowo menepuk bahu Harsa ketika sampai pada anak tangga terakhir. Harsa mengangguk lalu menatap ke atas pada pintu kamar Widya.
“Om, saya tahu ini sungguh berat. Tapi setelah ini om harus lebih ketat mengawasi Widya. Saya takut jika dia nekat lagi, Om.”
“Iya, Harsa. Tante juga selalu stan by di rumah. Sekali lagi terima kasih, Harsa.”
“Tidak ada kata terima kasih untuk kepedulian pada teman baik, Om. Ini menjadi salah satu tanggung jawab saya sebagai sahabat Widya dan Nathan.” Harsa menautkan kedua tangannya. “Pada teman yang amat saya cintai,” batin Harsa.
“Jangan sungkan menghubungi saya, apabila Om memerlukan bantuan. Juga pada teman-teman yang lain. Sebisa mungkin kami akan membantu, kapan pun itu Om,” ucap Harsa tulus.
“Harsa, minum dulu!” Arini muncul dari ruang makan membawa nampan yang berisi tiga teh yang masih mengepulkan uap panas. Ketiganya lalu duduk pada sofa ruang tamu dan berbincang mengenai syndrom yang diderita Widya.
__ADS_1
Sementara di atas sana. Widya turun dari tempat tidurnya. Menyeret langkah kakinya mendekat pada jendela kamarnya. Membuka perlahan, merasakan embusan angin dari luar dan meletakkan tangan kirinya pada teralis besi.
Tanpa diduga, hujan yang datang di sore ini semakin menambah luka hati Widya. Tidak begitu deras. Widya meraih kursi kecil lalu duduk di tepi jendela kamarnya. Melipat kedua kakinya pada kursi, matanya menatap kosong langit keabuan disertai hawa dingin yang menusuk pori-pori kulit.
Bunda Arini membuka pintu kamar Widya, sedikit terkejut karena Widya yang sudah berada di tepi jendela dan membuka lebar jendela kamarnya. Padahal suhu dingin sedang merayap ke seluruh ruangan karena gerimis yang perlahan berubah menjadi hujan deras. Apalagi piyama tidur yang digunakan gadis itu tidak terlalu tebal. Tergesa Arini meraih sweater rajut dari lemari lalu mendekat pada anak gadisnya. “Widya, sayang.” Arini menepuk pelan bahu Widya. Membuat Widya menoleh pada Bunda. Mata sayu dengan kantung mata kehitaman dan sedikit bengkak menyambut sang bunda.
Hati Arini kembali seperti diremas-remas melihat raut wajah Widya. Namun, Arini segera menghapus kasar air mata yang hendak menetes dari pelupuk matanya. Tersenyum dan memakaikan sweater pada tubuh Widya.
Tidak ada penolakan dari Widya. Ia seperti seorang anak seusia taman kanak-kanak yang sedang diajari berpakaian oleh bundanya. Widya tersenyum hambar dan mengucap terima kasih dengan sangat lirih. Membuat Arini segera mendekap anak gadisnya. Sekuat tenaga Arini mencoba tidak mengeluarkan isak tangisnya.
Widya pun hanya terdiam. Tanpa senyuman maupun isak tangis saat ini.
Arini beberapa kali menepuk lengan anaknya yang masih betah dalam dekapannya. Bowo yang hendak masuk ke kamar anaknya pun segera mengurungkan niatnya melihat pemandangan yang menyesakkan dada di dalam sana. Bowo hanya terdiam mengamati dari daun pintu yang sedikit terbuka. Mendorong kaca mata miliknya dan sekilas mengusap tumpahan air mata di balik bingkai lensa mata miliknya. Tidak berlama-lama ia segera berlalu dari tempat itu.
Widya yang tengah melerai pelukan dari Arini sedikit menerbitkan senyum. “ Widya ingin sendiri, Bunda.” Widya menoleh pada jendela kamarnya. Semburat keabuan itu semakin terlihat pekat tanda malam akan segera menjemput.
Bunda mengangguk dan meraih tangan Widya untuk ia bawa pada tempat tidurnya. Membimbing anak gadisnya untuk duduk bersandar pada dasboard tempat tidurnya. Bunda menyelimuti kaki Widya lalu meletakkan buku kecil pada pangkuan Widya. Buku Yasin.
“Kalau kamu kangen, doakan Nathan dari sini, Sayang.” Arini tersenyum teduh.
Widya menatap buku di pangkuannya. Mengelus pelan pada tepiannya. Widya mengangguk patuh. Membuat Arini kembali tersenyum lalu keluar dari kamar anaknya.
Lama Widya menatap buku itu, ingatannya kembali kepada sang pemilik kehidupan. “Ini hanya mimpi, ‘kan, Tuhan?" lirih Widya.
Jika teringat akan hal itu, maka ingatannya selalu kembali kepada Nathan. Sekelebat bayangan Nathan kembali menghampirinya dengan senyum tengilnya. Hal itu membuat Widya sedikit tersenyum. Seperti ditarik ke dalam masa lalu. Widya kembali melihat tingkah konyol Nathan saat di sekolah, dan rooftop. Perlakuan manis dari Nathan hingga saat mereka memutuskan untuk jadian. Tidak terlewatkan pertengkaran kecil hingga pertengkaran besar di dekat kolam turut serta hadir menguak ke permukaan.
Sampai pada wajah tirus Nathan yang terbaring lemah di rumah sakit, membuat dirinya kembali merasa ngilu, perih, dan sesak. Tidak sampai di situ, memori saat Nathan memberi kejutan-kejutan kecil hingga kejutan lamaran waktu itu turut serta menghantui Widya. Manisnya Nathan saat memilih baju pengantin hingga perdebatan kecil saat memilih souvernir pernikahan waktu itu.
Tanpa sadar Widya meremas pangkal rambutnya, dan memekik histeris.
“NATHAAAAAAAAAAAAN!!!!”
...***...
Sedihnya masih berlanjut. Sabar, ya 🥺
__ADS_1