
...***Happy Reading***...
...***...
Raut muka Widya yang terkejut mendengar penuturan Harsa membuat Harsa tersenyum. Gadis itu tampak menggemaskan ketika wajahnya kebingungan. Setelah mengucapkan salam kepada Nathan, Harsa bangkit. Widya mengikuti Harsa melangkah meninggalkan pusara Nathan. Udara yang mulai panas tak membuat mereka gerah. Aroma bunga kamboja seolah menjadi aroma terapi bagi dua insan yang sedang kasmaran.
“Maksud ucapanmu tadi apa, Sa?” Widya berusaha menyejajarkan langkahnya dengan langkah Harsa yang lebar. Harsa berusaha keras untuk menahan tawa. Ia senang sekali melihat ekspresi Widya. “Sa, maksudmu apa, sih?” Langkah Harsa terhenti, ia berbalik menghadap Widya.
“Aku nggak mungkin mainin anak gadis orang, ‘kan? Dalam kamusku, hanya ada keseriusan dalam menjalin hubungan,” jawab Harsa terkekeh sembari mencubit pelan kedua pipi Widya. Tentu saja hal itu membuat Widya salah tingkah.
Bodoh, kenapa aku berpikiran terlalu jauh. Widya menepuk dahinya pelan. Tangan Harsa meraih tangan Widya, mengajaknya untuk kembali melangkah.
“Kecuali kamu bersedia menikah denganku secepatnya,” bisik Harsa di telinga Widya. Widya melotot menatap lelaki yang kini berada di sampingnya. Ia balas mencubit pinggang Harsa.
“Auw, sakit, Yang,” seru Harsa.
“Makanya jangan bercanda mulu,” sungut Widya.
“Aku nggak bercanda, serius aku pengen ngajak kamu menikah,” ucap Harsa.
“Bodo amat.” Widya melangkah mendahului Harsa. Ada secercah kebahagiaan di sudut hatinya. Namun, lagi-lagi Widya belum siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Widya masih butuh waktu untuk memantapkan hatinya. Jujur, Widya masih trauma dengan pernikahannya yang pernah gagal.
“Yang, tunggu! Iya, maafin aku. Aku nggak maksa, kok. Aku cuma sangat berharap. Aku akan menunggu sampai kamu siap melangkah ke depan bersamaku,” ucap Harsa mengikuti langkah Widya menuju mobil. Sesampai di mobil, Harsa melajukan mobilnya perlahan. “Senyum, dong. Ntar cepet tua, loh!” Harsa kembali menjahili Widya.
“Ada syaratnya,” ucap Widya dengan senyum liciknya.
“Apa, Yang?” tanya Harsa sekilas menoleh ke arah gadis yang sedang merajuk di sampingnya.
“Belikan aku batagor,” jawab Widya sekenanya.
“Batagor? Kirain kamu minta lautan berlian, Yang. Masak seorang calon istri pengusaha muda ternama hanya minta sepiring batagor, sih?” lirih Harsa.
“Ya udah, kalau nggak mau kita pulang saja,” rajuk gadis itu.
“Eh, mau, kok. Mari kita berkeliling mencari batagor,” jawab Harsa dengan senyum yang selalu menawan.
Hari ini, mereka habiskan dengan jalan-jalan mengelilingi beberapa taman bermain yang ada di kota itu. Widya tidak mau diajak mengunjungi rumah makan yang menyediakan batagor. Widya hanya menginginkan kebersamaan mereka dan menikmati taman hiburan untuk mengusir penatnya selama beberapa hari sibuk di kantor.
...***...
Selepas magrib, Widya menuju toko kue untuk membantu Arini. Hari Minggu seperti ini biasanya toko Arini lumayan ramai. Widya masuk dan bergabung bersama seorang karyawan di balik etalase yang memajang kue-kue hasil kreasi Arini. Widya segera membantu menyiapkan permintaan beberapa pembeli.
__ADS_1
“Saya mau yang coklat itu empat, ya, Mbak.” Pinta seseorang.
“Baik, Kak,” jawab Widya ramah mengambil dus untuk membungkus kue permintaan orang itu. “Mas Hasbi!” Widya terkejut melihat lelaki itu ada di hadapannya. Ternyata pembeli itu adalah Hasbi.
“Apa kabar, Wid. Kamu terlihat makin cantik aja.” Senyum nakal Hasbi selalu ia berikan pada Widya.
“Alhamdulillah baik, Mas. Mas Hasbi, apa kabar?”
“Aku tak sebaik kelihatannya, Wid. Ternyata merindukanmu selama ini sangat menyiksaku,” lirih Hasbi tak lepas memandang Widya.
“Mas Hasbi bisa aja. Oya, mau tambah apa lagi, Mas?” tanya Widya.
“Tambah kamu, Wid. Bisa minta waktu sebentar?” Widya menganggguk, dan mengajak lelaki itu duduk di kursi yang ada di depan toko. Cuaca cerah malam ini begitu indah dinikmati. Lalu-lalang orang-orang di sekitarnya menjadi pemandangan yang saling melengkapi.
“Ada apa, Mas?” tanya Widya ketika mereka duduk berhadapan di depan toko.
“Aku sengaja kemari cuma ingin ketemu kamu, Wid. Sudah lama kita nggak ngobrol. Sepertinya terakhir kita bertemu di kantornya Mr. Kim,” ucap Hasbi.
“Memangnya ada hal penting apa?” Widya heran dengan sikap Hasbi.
“Selama ini aku mencari cara buat menemui kamu, Wid. Tapi nggak pernah berhasil. Kamu selalu sibuk dan semakin sulit untuk didekati.” Hasbi menghela napasnya sebelum melanjutkan kalimatnya. “Sudah lama aku ingin bilang kalau aku mencintaimu, Wid. Tapi kenapa susah banget, ya, untuk mendekatimu,” sambung Hasbi lagi.
“Mas Hasbi jangan mimpi, ini masih sore, loh, Mas.” Widya tersenyum menimpali pengakuan Hasbi. Meski sejujurnya Widya terkejut, tetapi Widya mencoba bersikap sewajarnya.
“Bukannya mas Hasbi adalah kekasih? Ayu, kan?” tanya Widya.
“Aku mendekati Ayu semata karena ingin mendekati kamu, Wid. Aku kehilangan alasan untuk bertemu kamu. Bodyguard-mu tak pernah lengah menjaga kamu. Dan setiap apa yang aku lakukan untuk menemuimu selalu gagal,” Hasbi memainkan cangkir kopi yang ada di meja kecil itu.
“Jadi selama ini mas Hasbi hanya mempermainkan Ayu?” Suara Widya mulai meninggi.
“Aku tidak mempermainkannya. Aku tidak mencintainya. Dia yang selalu ngejar aku.” Hasbi membela diri. “Ayu memaksaku untuk menjadi kekasihnya, padahal sudah kukatakan aku sudah mencintai gadis lain. Dia memohon agar aku memberinya kesempatan untuk mengambil hatiku. Apa aku salah jika dekat dengannya maka harapanku untuk bertemu kamu lebih besar?” ungkap Hasbi.
“Kamu salah, Mas! Apa Mas Hasbi tidak berpikir bagaimana perasaan Ayu jika mengetahui semua ini? Mas Hasbi tega nyakitin Ayu, ya. Selama ini aku kira Mas Hasbi orang yang menghormati dan menjaga perempuan. Tapi nyatanya, aku kecewa sama sikap kamu, Mas.” Widya bangkit, “Maaf aku harus masuk, tolong jangan sakiti gadis sebaik Ayu.” Widya segera berlalu tanpa memedulikan teriakan Hasbi yang berkali-kali memanggil namanya.
...*** ...
Seperti biasa, pagi ini Harsa menjemput Widya. Gadis itu sudah rapi ketika Harsa mobil Harsa berhenti di depan rumah. Celana panjang hitam, blouse putih dengan aksen pita di dada dan blaser abu-abu berpadu dengan high heels hitam. Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Widya, mereka berjalan menuju mobil. Harsa membukakan pintu mobil untuk kekasihnya, barulah ia mengitari mobil dan masuk melalui pintu sebelah kanan.
Sepanjang perjalanan, Widya lebih banyak diam. Perkataan Hasbi tadi malam sangat mengganggu pikirannya. Widya tidak menyukai pengakuan Hasbi. Pantas saja selama ini Harsa membenci lelaki itu. Memang Hasbi sudah lama menyukai Widya, bahkan semenjak Nathan masih ada di samping Widya. Gadis itu memang tidak peka.
“Kok, diam aja. Kenapa? Kamu sakit?” tanya Harsa yang melihat keanehan di mata Widya.
__ADS_1
“Enggak, aku baik-baik saja. Hanya kepikiran sama pernyataan Mas Hasbi semalam,” jujur Widya.
“Apa! Emang semalam kalian bertemu? Apa yang dia omongin? Dia nggak nyakitin kamu, kan?” Harsa menepikan mobilnya begitu mendengar cerita Widya. Sorot matanya khawatir menatap lekat gadis yang duduk di sebelahnya.
“Dia bilang, selama ini dekat dengan Ayu semata hanya karena ingin mendekati aku. Dia juga bilang kalau sudah lama dia mencintai aku,” ucap Widya.
“Kurang ajar! Berani-beraninya dia bertindak seperti ini. Sepertinya dia mulai terang-terangan ngajak perang,” gumam Harsa.
“Maksudnya apa?” tanya Widya yang tidak paham dengan kalimat Harsa.
“Wid, aku mohon. Mulai saat ini kamu tidak boleh pergi sendirian. Harus nunggu aku apa Zakir jika mau keluar kantor. Satu lagi, jangan pergi bersama Ayu!” Harsa menggenggam tangan Widya, “Aku tidak mau kehilangan kamu, Wid. Itulah mengapa aku ingin segera menikahi kamu. Paling enggak kita tunangan dulu.” Beberapa saat mereka terdiam. Harsa melajukan kembali mobilnya menuju kantor. Pikirannya mulai tidak tenang, hingga fokusnya terganggu.
Beberapa hari semenjak kejadian itu, Harsa lebih ketat mengawasi Widya. Ia tak ingin kecolongan. Jika Harsa dan Zakir terpaksa harus ke luar kota, maka Widya harus ikut bersama salah satu dari mereka. Zakir pun sepemikiran dengan Harsa. Sudah lama Zakir merasa bahwa ada yang tidak beres dengan Hasbi. Ditambah masalah bisnis, beberapa kali tender yang Hasbi ikuti selalu dikalahkan oleh Mandala Kencana.
Widya yang merasa jika penjagaan untuk dirinya diperketat pun mulai berpikir bahwa kalimat Harsa ada benarnya. Beberapa hari ini ia berpikir keras dan meminta pertimbangan Arini mengenai hubungannya dengan Harsa.
“Bunda bahagia jika putri bunda mau serius dengan Harsa. Kamu bisa tunangan dulu, Sayang. Meskipun bunda sebenarnya berharap kalian menikah secepatnya,” ucap Bunda malam itu ketika Widya mengungkapkan kegelisahannya.
...*** ...
Sore ini, sepulang kerja Harsa mengajak Widya makan mampir ke kafe Hamber. Sudah lama mereka tidak mengunjungi kafe ini. Semakin hari mereka sibuk dengan pekerjaan di kantor. Begitu pula dengan personil ‘Sabahat Selamanya’. Harsa mengambil posisi seperti biasa. Dia memesan minuman dan beberapa camilan.
“Wid, bagaimana kalau kita tunangan dulu. Aku tahu, mungkin kamu masih belum siap. Tapi demi kebaikan kita semua, aku mohon pertimbangkan lagi permintaanku ini,” lirih Harsa. Widya menunduk, memainkan jus yang ada di hadapannya. Ia berusaha menenangkan hatinya yang sedang berperang.
‘Haruskah aku menolaknya lagi?’ Widya teringat kembali akan Nathan. Kenangan saat-saat bahagia menjelang pernikahannya. Widya takut hal itu terulang kembali.
“Kalau kita tunangan, kamu nggak akan ninggalin aku, ‘kan?” lirih Widya.
“Ninggalin gimana? Justru karena aku ingin bersamamu lebih lama maka aku ingin segera memiliki kamu.” Harsa melihat kesedihan di mata Widya.
“Tapi Nathan dulu ninggalin aku ketika kami hampir menikah. Dan aku tidak mau hal ini terjadi lagi.” Widya menunduk kembali. Sudut matanya terasa panas dan bulir bening itu meluncur begitu saja melewati pipinya.
Harsa tertegun, hatinya perih mendengar pengakuan Widya. Ia mengambil posisi di samping gadis itu. Menggenggam tangannya dan mengusap air mata Widya. “Aku tahu kamu masih trauma dengan kejadian itu. Tatap mata aku, aku janji akan membuat kamu selalu tersenyum. Apa kamu masih ragu? Oke, aku janji sama kamu nggak akan pergi ke luar kota sampai hari pernikahan kita. Bagaimana?” Harsa mencoba menguatkan hati Widya. Selama ini Widya selalu menolak hubungan serius dengan Harsa karena rasa traumanya.
“Aku pegang janji kamu, Sa.”
“Apa itu artinya kamu mau menikah denganku?” Harsa mencoba memastikan.
“Belum untuk saat ini. Mari kita bertunangan, Sayang!” Widya tersenyum lembut. Menatap indahnya bola mata Harsa yang tersenyum penuh arti.
...***...
__ADS_1
...To be continued...