Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 84


__ADS_3


...***...


Setelah persiapan pernikahan selesai, di luar dugaan, Nathan harus keluar kota seminggu sebelum pernikahannya. Sebab ada salah satu customer yang komplain atas desain Nathan yang kurang memuaskan. Dengan berat hati, ia pun berangkat juga. Ia harus profesional dalam pekerjaan.


Widya begitu berat melepas kepergian Nathan. Pasalnya, dua hari lagi mereka akan melakukan proses pingitan. Tentunya ia ingin selama dua hari ini bisa menghabiskan waktu bersama calon suaminya, sebelum tidak diizinkan bertemu selama tujuh hari ke depan hingga hari pernikahan tiba. Akan tetapi, Widya hanya bisa pasrah dan mendoakan, agar semua pekerjaan Nathan di sana terselesaikan dengan baik.


"Yang, pasti aku akan merindukanmu,” ujar Nathan saat perjalanan pulang dari kantor. Fokusnya kini terbagi antara jalan raya dan gadis yang ada di sampingnya yang tengah menelan kekecewaan.


"Hem, aku tahu. Aku pun akan merindukanmu. Kamu jaga hati dan jaga pandangan dari wanita cantik di sana, ya! Aku takut kamu akan tergoda,” pesan Widya, sedangkan Nathan hanya tersenyum simpul. Ia merasa begitu bahagia saat Widya cemburu.


"Iya, Sayang. Dirimu mengalihkan duniaku, jadi jangan pernah berpikir macam-macam. Kesetiaanku hanya untukmu. Kamu adalah pelabuhan terakhir dalam hidupku.” Tangan kanan Nathan sibuk memegang kemudi, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan calon ibu dari anak-anaknya.


Nathan merasa begitu berat harus meninggalkan Widya. Namun, pekerjaannya tidak dapat diwakilkan. “Kamu mau janji satu hal?” pinta Nathan.


“Apa?” tanya Widya.


“Kamu jaga diri baik-baik selama aku nggak ada, dan makan yang teratur! Aku nggak mau calon pengantinku jadi kurus kering karena merindukanku.” Cubitan kecil langsung mendarat di perut Nathan, membuat Nathan meringis kesakitan sekaligus tertawa melihat ekspresi sang calon istri.


Begitu banyak rangkaian kata yang terurai indah. Semua tentang masa depan yang ingin mereka rengkuh bersama. Menikah, mempunyai anak-anak yang lucu, dan hidup bahagia selamanya. Itulah gambaran pernikahan mereka berdua. Merangkai mahligai rumah tangga yang harmonis.


...***...


Waktu keberangkatan Nathan ke luar kota tiba. Nathan berangkat dengan penerbangan pagi. Nathan sudah berada di bandara sejak pukul tujuh, kemudian disusul kedatangan Widya. Ia pun harus izin kepada kepala divisi pemasaran untuk datang terlambat agar bisa mengantar sang calon suami.


"Yang, kamu hati-hati, ya! Sering kasih kabar ke aku biar di sini aku juga tenang. Biar berasa kamu ada di samping aku terus," ucap Widya sambil memeluk lengan Nathan dengan manja, seolah berat melepas kepergian Nathan.


"Akan aku usahakan untuk selalu memberi kabar, Yang. Dan seandainya aku nggak ngabarin kamu, jangan berpikiran yang aneh-aneh, ya! Siapa tau aku lagi sibuk banget nggak sempat pegang hape gitu,” ujar Nathan sambil mengacak rambut sang pujaan hati tersayang.


"Oke. Siap, Ayang ganteng. Aku padamu banget, deh, Yang,” ejek Widya ke Nathan sambil tersenyum dengan manisnya.


Informasi keberangkatan pesawat yang akan ditumpangi Nathan telah terdengar dengan jelas. Nathan memeluk Widya begitu erat. Sungguh berat hati mereka untuk berpisah. Nathan mengecup kening Widya dengan penuh sayang.


Entah sejak kapan sudut matanya berair. Buru-buru ia hapus butiran bening itu sebelum Widya melihat. “Aku pergi,” ucapnya sembari mengurai pelukan.

__ADS_1


Widya menatap sendu wajah Nathan, “Aku akan merindukanmu.”


“Aku juga.” Nathan kembali memeluk erat tubuh mungil di hadapannya. Kecupan-kecupan kecil ia berikan di pucuk kepala Widya. Puas dengan kecupan kecil itu, Nathan sedikit mengurai dekapannya. Ia pandang lekat wajah manis yang kini tengah muram. “Boleh aku mencuri sesuatu?” tanyanya.


“Hah? Maksudnya?” Widya keheranan dengan pertanyaan Nathan.


Secepat kilat Nathan mendaratkan bibirnya pada bibir ranum milik Widya. Hanya sebuah kecupan ringan, tetapi mampu menghentikan detak jantung mereka berdua. Mata cantik Widya tak berkedip karena serangan mendadak dari Nathan. Ia mematung, kedua tangannya meremas jaket yang melekat pada tubuh Nathan.


“Maaf jika aku mencuri start. Setidaknya ini akan menjadi kenangan paling berkesan sebelum kita berpisah. Setelah ini kita tidak akan bertemu lagi, sampai hari pernikahan tiba,” ucap Nathan setelah bibirnya terpisah dari bibir Widya. Ia beralih memberikan kecupan lagi pada kening Widya. “I love you. I love you so much, Yang. Jangan pernah ragukan itu. Hanya kamu yang bertahta di hatiku. Dulu, sekarang, nanti, dan selamanya,” bisiknya. “Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik.”


Perlahan tetapi pasti, rengkuhan dari Nathan terlepas. Bulir bening itu menetes begitu saja dari mata cantik Widya. Nathan yang melihat itu langsung merangkum wajah Widya dengan kedua tangannya, menghapus bulir bening itu dengan kedua ibu jarinya. “Jangan nangis, Yang!” pintanya.


Kali ini Widya yang mendekap erat tubuh Nathan. “Aku juga mencintaimu, Nath. Sangat!” Widya sesenggukan dalam pelukan Nathan. “Cepat kembali! Aku menunggumu di sini.”


“Pasti aku akan kembali. Sudah jangan nangis. Hanya dua hari aku di sana. Aku harus pergi.”


Widya melepas pelukannya. Ia termangu, merelakan sang pujaan hati melangkah meninggalkannya. Sesekali Nathan berbalik untuk melihat Widya sambil memperlihatkan lambang hati lewat kedua tangannya yang ia satukan. Juga memberikan kiss bye. Ulah Nathan berhasil membuat senyum Widya kembali. “Bagaimana aku tak merindukanmu, tingkahmu begitu manis untukku,” gumam Widya saat sosok Nathan tidak lagi terlihat.


Ia meraba bibirnya. Mengingat kejadian tadi, ada rasa membuncah yang singgah di hati. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. “Kamu bikin aku gila, Nath. Apa ini namanya ciuman pertama?” gumam Widya. Sepanjang jalan meninggalkan bandara senyum manis itu selalu menemani langkahnya.


...***...


"Sore, Widya,” sapa Hasbi dengan sikap manisnya, “Tumben sendiri? Biasanya sama Nathan,” tanya Hasbi sambil memasukan tangannya ke dalam saku celana.


"Sore juga, Mas. Nathan sedang keluar kota,” jawab Widya santai. Keduanya berjalan beriringan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai bawah.


"Kalau kamu nggak keberatan, aku anter kamu sampai rumah, ya?” Hasbi mencoba menawarkan tumpangan ke Widya. Hasbi hanya ingin berbuat baik pada Widya. Ia pun tahu kalau Widya akan menikah dengan Nathan seminggu lagi.


"Makasih banyak, Mas Hasbi. Tapi maaf, aku udah ada janji sama temen-temenku,” tolak Widya secara halus. Lift terbuka. Widya, Hasbi, dan beberapa karyawan lain masuk ke dalam lift tersebut.


Sampai di lobby mereka berpisah. Hasbi berjalan menuju tempat parkir, sedangkan Widya memesan taksi online. Tadi Widya sengaja berbohong untuk menolak ajakan Hasbi. Widya berencana untuk membeli beberapa keperluan sebelum besok ia cuti untuk pernikahannya.


Tidak lama, taksi pesanan Widya datang. Mobil melaju membelah jalanan yang padat merayap. Terbiasa dengan kemacetan ini, Widya hanya memainkan ponsel. Berkali-kali ia membuka room chat-nya, berharap Nathan menyapa. Namun, tidak ada satu pun pesan masuk dari Nathan. Ia mendesah kecewa.


“Pasti Nathan sibuk sekali sampai lupa memberi kabar,” batin Widya. Kurang lebih tiga puluh lima menit Widya sampai di pusat perbelanjaan. Mengambil trolly dan berjalan menyusuri tiap koridor, mencari barang yang dibutuhkan. Saat sedang asyik memilih, ia pun bertemu dengan Harsa yang kebetulan juga sedang berbelanja.

__ADS_1


"Widya!” panggil Harsa dengan sedikit keras, karena suara musik di dalam toko terdengar agak kencang.


Widya tetap berlalu. Ia tak mendengar suara Harsa. Harsa berjalan cepat untuk mengejar Widya. Sampai di belakang Widya, ia menepuk bahu mantan kekasihnya tersebut, membuat sang empunya menoleh.


"Hai, Sa. Bikin kaget aja, aku pikir siapa. Sedang belanja juga?” sambut Widya dengan wajah terkejut.


“Iya, kebetulan beberapa barang di rumah sudah habis,” jawab Harsa. Mereka pun tertawa kecil dan melanjutkan perburuan mereka. "Wid, lo udah makan belum? Gimana kalau habis belanja kita makan dulu?” tawar Harsa, membuat Widya berpikir sejenak.


"Apa perlu gue laporan dulu ke Nathan kalau calon istrinya gue ajak makan malam berdua?” kekeh Harsa menggoda Widya. Sedangkan yang digoda hanya memanyunkan bibir saja.


"Oke deh, biar nanti gue yang bilang ke Nathan kalau kita makan malam bersama tanpa disengaja,” jawab Widya pelan.


Setelah transaksi di kasir, mereka beriringan berjalan sambil mendorong trolly yang berisi belanjaan masing-masing menuju food court di lantai atas.


"Silakan duduk wahai calon pengantin!” ledek Harsa sambil menarik kursi untuk Widya.


"Apaan, sih, Sa. Nggak lucu tau!” Widya langsung duduk sambil menggelengkan kepala mendengar ejekan Harsa.


“Calon pengantin nggak boleh ngambekan, ntar jadi jelek,” ejek Harsa lagi.


“Ish, udah, ah. Aku laper jangan digodain mulu.” Widya mengambil buku menu yang ada di meja.


Mereka memilih nasi goreng seafood dan lemon tea. "Selamat, ya, Wid. Akhirnya sebentar lagi kalian akan bersatu dalam ikatan pernikahan. Gue selalu mendoakan yang terbaik buat kalian berdua. Semoga langgeng hingga akhir hayat dan bahagia selalu.” Harsa memulai pembicaraannya.


"Makasih, Sa, buat semua doa terbaiknya. Gue juga berdoa semoga lo juga lekas menyusul dan siapa pun pendamping lo nanti, gue berharap lo akan selalu bahagia,” balas Widya.


"Aamin.”


...***...


Gelap malam semakin pekat. Jalan tidak lagi semacet petang tadi. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Widya mau diantar pulang oleh Harsa setelah meminta izin kepada Nathan melalui pesan WhatsApp. Walaupun pesan itu tidak kunjung dibaca apalagi dibalas oleh Nathan. Widya dan Harsa lebih banyak diam di dalam mobil Honda Civic hitam metallic, hanya irama musik yang terdengar. Setelah tiga puluh menit perjalanan mereka sampai di depan rumah Widya. Setelah Widya turun, Harsa langsung pamit serta menitipkan salam untuk bunda dan ayah Widya.


...***...


__ADS_1


Masih aja usaha, Sa. Udah, sama othornya aja. Mereka udah mau nikah 🤭


Eh, betewe, adegan kiss-kissan tadi jangan dipraktekkan, ya. Kalau udah ada yang halal boleh aja, si 🤣


__ADS_2