
...***...
Apa yang terjadi padanya? Sakit apa dia? Kenapa teman-teman bisa lebih tahu duluan sedang aku tidak tahu apa-apa? Kepala Widya dipenuhi pertanyaan semacam itu, sambil sesekali dia menyeka buliran air mata yang tidak berhenti turun dari pipinya. Masih dipandanginya foto Nathan seakan mencari tahu apa yang terjadi pada Nathan lewat foto itu. Hingga wajah Nathan di ponsel itu menghilang dan berubah menjadi sebuah panggilan telepon. Nama Harsa yang terlihat di layar ponsel yang Widya pegang.
"Halo, assalamualaikum, Wid. Lo nggak apa-apa, kan?" Dengan nada cemas Harsa memulai sapaannya. Sudah puluhan kali ia melakukan panggilan telepon kepada Widya, tetapi nomornya selalu di luar jangkauan. Sehingga Harsa merasa khawatir dengan keadaan Widya.
"Waalaikumsallam. Aku nggak apa-apa, Sa. Bagaimana keadaan Nathan?" Hal yang pertama dikhawatirkan oleh Widya adalah keadaan Nathan.
"Lo ke mana aja? Ditelepon nggak diangkat-angkat, dan nggak ada respons juga." Harsa mengabaikan pertanyaan Widya. Karena ia lebih khawatir jika Widya yang kenapa-kenapa.
"HP gue mati, Sa. Gue lupa nggak nyalain dari siang," jelas Widya.
Harsa menghela napas lega, "Justru itu yang buat gue khawatir. Dari tadi gue kepikiran terus sama lo. Takut ada apa-apa dengan lo".
"Ih, overthiking banget, sih! Masa karena HP mati, terus terjadi sesuatu dengan gue. Gue sengaja matiin HP waktu bimbingan sama dosen, takutnya bimbingan gue keganggu. Eh, ternyata gue malah keasyikan ngobrol sama teman-teman, dan lupa nyalain lagi," terang Widya.
"Oh, gue kira lo hilang diculik orang," canda Harsa mencoba mencairkan rasa canggung akibat sikapnya yang terkesan berlebihan. Cukup biarkan Widya nyaman dengan menganggapnya teman yang baik yang selalu ada untuknya, tanpa harus Widya tahu bahwa dia masih memendam rasa cinta yang besar untuk gadis itu.
Bagaimana tidak besar rasa cinta yang Harsa miliki? Bahkan di saat Widya sudah memilih lelaki yang dicintainya pun, dia masih betah untuk menjomlo. Bukannya Harsa tidak ingin mencoba untuk melupakan Widya. Namun, setiap kali ia mencoba ingin dekat dengan cewek-cewek yang tertarik padanya, Harsa sama sekali tidak menemukan getaran di hatinya seperti saat dekat dengan Widya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk sendiri saja. Sampai ia benar-benar bisa melupakan Widya.
"Dicoba, Sa! Dicoba! Siapa tahu lama-lama lo suka 'tresno jalaran soko kuline', begitu kata orang Jawa bilang" Seperti itulah nasihat Zakir yang entah kenapa tiba-tiba terlintas di pikiran Harsa. Kata-kata itu selalu ditanggapi dengan mimik mengejek oleh Harsa, lantaran yang menasihati sendiri bernasib sama. Sama-sama masih jomlo. Sebenarnya Harsa takut untuk mencoba, karena dia takut akan menyakiti cewek lain lagi dengan berpura-pura mencintai gadis itu, sedang di hatinya masih ada Widya.
"Bisa aja, lo. Tadi lo belum balas pertanyaan gue. Bagaimana keadaan Nathan?" Suara Widya di seberang telepon membuyarkan lamunan Harsa.
"Gue nggak tahu, dia masih dalam penanganan dokter. Tadinya gue mau minta nomer mamanya Nathan. Gue mau ngasih tahu kalau Nathan ada di rumah sakit."
Hening tanpa ada jawaban dari Widya. Harsa yang menyadari Widya sedang menahan sesuatu entah itu tangisan atau rasa penasaran mencoba memberi tahu. "Tadi gue ketemu dia di parkiran kampus. Wajahnya terlihat pucat sekali, badannya panas dan lemas, jadi gue ajak ke rumah sakit. Bahkan dia sempat pingsan di dalam mobil," tutur Harsa.
__ADS_1
Sampai Harsa selesai bercerita belum ada tanggapan dari Widya. Harsa mencoba memahami perasaan Widya dengan menenangkannya. "Lo nggak usah khawatir! Gue yakin Nathan akan baik-baik aja. Mungkin dia cuma kelelahan. Lo nggak usah bersedih! Lo mau jenguk Nathan?" Pertanyaan Harsa membuat Widya tercekat.
"Ehm ... gimana nanti aja, Sa. Gue pikir-pikir dulu. Soalnya gue lagi sibuk." Widya beralasan.
Harsa tahu itu cuma alasan Widya saja. Widya pasti sedang tidak baik-baik saja. Mungkin Widya butuh waktu untuk berpikir, sehingga Harsa pun menyudahi teleponnya.
"Ya udah, nggak apa-apa. Gue tutup dulu teleponnya, ya. Kalau ada nomor telepon mamanya Nathan, tolong kirim ke gue, ya!"
"Ya," sahut Widya. Panggilan itu pun berakhir. Sesaat kemudian Widya pun mengirimkan nomor ponsel Liana melalui chat WhatsApp. Bersamaan dengan itu, muncul notifikasi chat pribadi dari Karin.
Karin: Widya, Nathan sakit. Gue sama Kartika mau jengukin dia. Lo mau ikut jenguk, nggak?"
Lama pesan itu dipandangi Widya. Bunyi notifikasi di HP-nya pun terdengar bergantian. Widya tidak memedulikan, walaupun ia tahu notifikasi itu berasal dari room chatt 'sahabat selamanya'.
Sebenarnya Widya merasa kasihan dan cemas dengan keadaan Nathan yang sedang sakit, tetapi egonya cukup kuat hingga membuat dia masih enggan untuk bertemu Nathan. Apalagi sampai harus berkomunikasi dengan mantan kekasihnya itu. Dia takut hatinya akan goyah dan menerima kembali cowok itu. Sedangkan trauma dari rasa sakit di hatinya saja belum sembuh.
Di saat dia melamunkan hubungannya dengan Nathan. Ia kembali melihat foto Nathan yang dikirim Zakir di grup. Tiba-tiba saja hati nuraninya kembali terketuk. Nathan terlihat pucat, begitu kurus dan terlihat tidak terawat. Apakah benar perkataan Vina waktu itu? Kehidupan Nathan jadi hancur gara-gara berpisah dari Widya. Apa benar jika Nathan menderita setelah perpisahan itu? Suara getaran HP mengalihkan atensinya. Terlihat nama Karin sedang memanggil di layar utama ponselnya. Mungkin karena pesannya diabaikan, Karin jadi menelepon Widya.
"Waalaikumsalam, Wid. Lo kenapa, sih? Pesan gue dibaca doang, dibalas nggak. Kalau lo nggak mau ikut jenguk Nathan nggak apa-apa, tapi setidaknya balas pesan gue. Gue tahu lo masih marah sama Nathan, tapi sekarang kondisinya lain, Wid. Nathan lagi sakit. Ehm ... gue sama Kartika boleh, kan, jengukin dia? Bagaimanapun juga dia sahabat kita." Dengan ragu-ragu Karin mengungkapkan maksudnya. Dia takut menyakiti perasaan sahabatnya itu.
"Nggak apa-apa, Rin. Kalian pergi aja jenguk Nathan. Gue juga ikut, kok." seru Widya. Akhirnya dia bersedia untuk bertemu dengan Nathan.
"Bener, Wid? Lo mau ikut jenguk Nathan?" tanya Karin memastikan.
"Iya." Widya menganggukkan kepalanya walau dia tahu Karin tidak bisa melihatnya.
"Lo emang teman yang baik, Wid. Gue tahu lo bukan orang yang pendendam. Gue bangga punya sahabat kayak lo."
"Lebay." Widya terkekeh pelan, dan Karin pun tergelak karenanya. Widya sadar bahwa Nathan bukan hanya mantan kekasihnya, tetapi juga sahabat yang baik baginya. Namun, untuk sekarang dia memang belum siap untuk bertemu Nathan.
__ADS_1
...***...
Rencana menjenguk Nathan mereka lakukan di sore hari. Waktu yang tepat ketika rutinitas kampus dan pekerjaan rutin sudah selesai dikerjakan. Dan kini, mereka sudah berada di salah satu rumah sakit swasta yang berada di Jakarta, tempat Nathan dirawat. Nathan dirawat di sebuah ruang VVIP. Ketika Harsa, Edo, Zakir, Karin, dan Kartika memasuki ruangan tersebut, sudah ada Liana yang menemani Nathan. Sedangkan Nathan sendiri terlihat sedang memejamkan mata.
Liana mempersilakan mereka berlima untuk masuk dan duduk di sofa yang tersedia. Liana sedikit terkejut melihat kedatangan Widya. Hal yang pertama kali dilakukannya adalah memeluk tubuh Widya dengan erat. Tidak menyangka jika Widya bersedia menjenguk anaknya yang sudah menyakiti hatinya.
"Makasih, ya, Sayang. Kamu sudah mau menjenguk Nathan," ucap Liana di balik punggung Widya. Widya hanya menganggukkan kepala, lalu mengurai pelukan mereka. Setelah itu, pandangan Liana beralih kepada Harsa, Edo, dan Zakir secara bergantian. "Makasih juga buat kalian yang kemarin sudah antar Nathan ke rumah sakit," ucap Liana tulus.
"Sama-sama, Tante. Nathan, kan, sahabat kami. Masa iya kami biarin dia pingsan di jalanan," kelakar Zakir.
Ternyata suara Zakir tersebut berhasil membangunkan Nathan. Kedua matanya perlahan terbuka. Mencoba menyesuaikan cahaya lampu yang mengisi ruangan tersebut. Samar-samar yang pertama dilihatnya adalah Widya. Nathan pun berusaha menajamkan penglihatannya.
"Sayang ...." Suara Nathan terdengar lirih. Membuat perhatian semua orang beralih kepadanya.
"Gimana keadaan lo, Nat?" sapa Zakir yang pertama bertanya.
Nathan mengulas senyuman tipis, kedua matanya masih tertuju pada Widya. "Sudah baik, Zak. Thanks, ya, buat kalian sudah bawa gue ke sini, termasuk lo, Sa!" Sejenak pandangan Nathan berpindah pada Harsa, tetapi detik kemudian kembali menatap Widya.
"Sama-sama," jawab singkat Harsa. Dia tahu jika fokusnya Nathan bukan pada dirinya. Membuat hatinya sedikit kesal.
Teman-teman yang lain pun menyadari itu. Perlahan mereka mundur dari tempatnya. Hendak memberi ruang untuk Nathan dan Widya. Mungkin mereka ingin berbicara berdua. Begitulah pikir mereka. Walau berat, Harsa juga melakukan itu. Perlahan tubuhnya bergerak, mengikuti gerakan teman-temannya dan juga Liana. "Kami keluar dulu, ya. Kalian ngobrol aja!" pamit Liana yang segera menggiring teman-teman Nathan agar keluar ruangan.
Hening. Nathan dan Widya sama-sama diam.
Hingga suara Widya yang terdengar lebih dulu, "Kenapa bisa sakit? Kamu punya badan, kok, nggak disayang?" tanya Widya, sembari memperhatikan tubuh Nathan yang terlihat kurus kering dengan pipi lebih tirus dari sebelumnya. Ingin rasanya dia menangis saat melihat keadaan Nathan seperti itu, terlebih katanya hal itu gara-gara putus dari Widya. Namun, tentu saja Widya harus menahan air matanya untuk keluar. Karena itu semua juga tidak luput dari kesalahan Nathan.
Nathan menghela napas dan mencoba tersenyum walaupun sedikit dipaksakan. "Mungkin karena aku memang tidak tahu caranya menyayangi dengan benar. Bahkan aku juga menyakiti orang yang menyayangiku. Begitu besar cintaku, tapi besar pula luka yang kuberikan," ujar Nathan. Tentu saja Widya tahu maksud perkataan Nathan. "Kamu sendiri kenapa terlihat lebih kurusan? Mikirin aku, ya?” tanya Nathan, diikuti oleh alis matanya yang naik turun meminta penjelasan dan mencoba menggoda Widya.
"Nggak usah ngalihin topik! Dari dulu juga badanku emang segini," sergah Widya. Walaupun sedikit canggung, Widya masih bisa menunjukkan wajah marahnya. Kelihatannya sikap tengil Nathan sudah kembali.
__ADS_1
...***...