
...***...
Hari- hari selanjutnya, Nathan lalui dengan murung. Wajah yang biasanya terlihat cerah karena senyum yang selalu terukir dari paras tampannya, kini tidak ada lagi.
Jika pun ada, itu hanyalah senyum terpaksa yang ia suguhkan kepada anggota keluarganya. Seperti pagi ini, saat sarapan bersama keluarganya. Nathan yang terbiasa menghidupkan suasana sedikit riuh di meja makan, kini hanya makan pagi dengan khidmat tanpa sepatah kata apa pun.
Liana beserta kedua anak kembarnya, hanya berkomunikasi lewat sorot mata. Keduanya yang tidak tahu permasalahan abangnya, kompak mengangkat bahu mereka. Hingga saat Nathan menghentakkan sepasang sendok yang tak berdosa. "Tiiinng!"
Enam pasang mata lainnya menatapnya. "Kenapa, sih, Bang! Piring enggak ada salahnya jadi bahan pelampiasan." Ellen tidak tahan untuk tidak berkomentar.
Nathan yang segera tersadar hanya menatapnya datar, dan mengabaikan perkataan Ellen. Ia beranjak dari duduknya, memutari meja lalu berakhir di dekat tempat mama duduk.
"Nath berangkat, Ma." Nathan meraih tangan mamanya dan menciumnya, lalu beralih pada kedua pipi mama. Liana masih mematung, hingga kesadarannya kembali.
"Hati-hati, Sayang!"
Beberapa saat setelah Nathan berlalu, Liana beralih kepada kedua anak kembarnya. "Ada yang tahu, abang kalian kenapa?" tanya Liana pada Evan dan Ellen.
"Enggak, Ma." Evan meraih tisu untuk membersihkan sisa sarapan di mulutnya.
"Mungkin sedang ada masalah sama kak Widya, Ma." Ellen beranjak dari duduknya untuk meraih tangan mama dan menciumnya, persis yang seperti dilakukan Nathan, pun dengan Evan. Potret keluarga penuh kehangatan.
"Berangkat sekolah dulu, Ma," pamit mereka hampir bersamaan.
...***...
Saat istirahat kala jeda kelasnya, Widya duduk menyendiri di taman kecil dekat gedung fakultasnya. Meresapi rasa yang timbul dari dalam dirinya, saat mengingat perlakuan Nathan pada Vina.
"Pacar mana yang akan baik-baik saja, melihat perlakuan kekasihnya begitu manis terhadap mantannya?" lirih Widya mengembuskan napas dengan kasar.
Saat dia kembali menuju kelasnya, ia bertemu dengan Nathan di koridor depan kelas. Keduanya saling memandang dengan tatapan sayu dan penuh kekecewaan. Lewat sorot mata keduanya seakan tengah berdialog.
Tanpa kata, tanpa sapaan hangat, tanpa senyum keduanya berlalu saling mengacuhkan. Seandainya Nathan boleh jujur, ia ingin sekali menghampiri gadisnya dan memeluknya erat. Melepas semua kegundahan di hatinya. Akan tetapi, Nathan sadar Widya butuh waktu untuk memulihkan hatinya yang sudah ia buat kecewa. Pun Nathan yang merasa sedikit kecewa pada Widya, karena lebih memilih diantar pulang oleh Harsa waktu itu.
Hal itu tidak luput dari perhatian Cindy yang tengah menampilkan senyum smirk-nya. "Genderang perang telah ditabuh. Next, pemandangan seperti ini akan menjadi makanan di hari-hari berikutnya." Cindy memainkan sebelah rambutnya, bersembunyi di balik dinding.
__ADS_1
...***...
Sejak melihat Widya yang tengah berada dalam pelukan Harsa. Pikiran Nathan menjadi kacau. Terlebih perkataan Harsa penuh penekanan dan tidak ada rasa ragu saat itu.
Tidak ada berbalas pesan atau telepon di antara keduanya. Nathan takut jika ia telah salah berucap. Begitupun dengan Widya, seluruh pikirannya berkecamuk, antara memikirkan nasihat kedua sahabatnya dan kenyataan yang terjadi di depan matanya.
Pagi ini, Widya hendak berangkat kuliah. Ketika dirinya berada di teras rumah, tiba-tiba sekelebat kenangan manis bersama Nathan hadir dalam ingatan. Saat Nathan tidak pernah absen menjemputnya, juga saat Nathan yang selalu ada kala ia butuh. Tak ingin rasa perih itu kian menyiksa, ia memutuskan untuk naik ojek online dan berhenti mengingat kenangan manis itu.
Dalam perjalanan menuju kampus, Widya hanya terdiam memperhatikan laju kendaraan yang berlomba-lomba untuk sampai pada tujuan masing-masing. Tanpa terasa, ia sudah berhenti di area parkir kampus bersamaan dengan datangnya Nathan dengan kuda besi kesayangannya. Widya yang turun dari ojek online belum menyadari kehadiran Nathan.
Nathan berhenti sejenak bermaksud agar Widya mengetahui kehadirannya. Mulutnya seakan tidak tahan untuk meneriakkan kata 'sayang' sebagai sapaan paginya.
Widya yang kemudian sadar tengah diperhatikan oleh kekasihnya, berhenti sejenak melihat Nathan yang mematung dari jarak beberapa meter saja dari dirinya. Tidak urung cairan bening di sudut matanya luruh seketika. Seiring sesak dalam dadanya.
Kartika dan Karin yang baru datang dan keluar dari dari mobil Karin melihat interaksi kedua sahabatnya tersebut. Suasana perang dingin di antara keduanya, membuat Karin dan Kartika bertukar tatap lewat sorot mata. Mereka berniat menghampiri Widya, tetapi Widya sudah beranjak terlebih dahulu dengan langkah tergesa.
Karin dan Kartika mengurungkan niatnya. Mereka akan memberi waktu pada Widya untuk berpikir dengan tenang. Akhirnya mereka berjalan memasuki halaman kampus dengan lunglai.
"Tik, gue sedih, deh, ngeliat Widya seperti ini," ujar Karin yang sontak membuat Kartika menghentikan langkahnya.
Kartika tercekat, seketika saja ia sadar bahwa mungkin perkataanya telah menyinggung Karin yang masih termangu. Tentu saja karena kisah cinta Widya saat masa SMA itu berkaitan dengan Karin. "Maaf, Rin. Gue nggak bermaksud menyinggung hal yang sudah terlewat," sesal Kartika.
"Nggak apa, Tik. Kita sama-sama tahu." Karin menepuk bahu Kartika lalu keduanya memutuskan untuk berpisah menuju gedung fakultas masing-masing.
***
Di tempat lain, Widya masih berada di toilet untuk menuntaskan tangisnya. Setelah tenang, ia bermaksud kembali ke dalam kelas. Akan tetapi, tanpa sengaja ia kembali bertemu dengan Harsa.
“Hai,” sapa Harsa.
“Hai, Sa,” balas Widya.
“Mau ke kelas?”
“Iya.” Widya melempar senyum manis pada Harsa membuat hati Harsa mendadak bergemuruh hebat. “Gue duluan, ya?”
Sebelum Widya melangkah, suara Harsa kembali menginterupsi. “Lo udah nggak apa-apa, 'kan?” Ada raut khawatir di wajah tampan Harsa.
__ADS_1
“Lumayan. Thanks, ya, kemarin udah nemenin gue. Gue ke kelas dulu.” Widya segera beranjak menuju kelasnya.
Kejadian itu tak luput dari netra Nathan. Hatinya terasa panas melihat Widya yang tersenyum manis pada Harsa. Seketika ingatan di taman kemarin hadir dan berhasil membuat tangannya mengepal kuat. Hatinya semakin kacau.
“Gue nggak nyangka kalo lo bakat jadi pebinor,” celetuk Nathan saat berada di samping Harsa. Harsa yang terkejut dengan kehadiran Nathan hanya mengernyitkan kedua alisnya.
“Gue ulangi sekali lagi. Widya milik gue. Sampai kapan pun, gue nggak bakal lepasin Widya. Jadi, kubur dalam-dalam harapan lo buat merebut Widya dari gue!” tekan Nathan dengan air muka tak bersahabat.
Harsa hanya tersenyum sinis menanggapi ocehan Nathan. Saat Nathan hendak melangkah, barulah Harsa bersuara, “Dan gue juga ingatkan sekali lagi. Gue nggak akan pernah berhenti buat cinta sama Widya. Andai gue mau, gue bisa rebut Widya dari lo sejak dulu. Gue ikhlas Widya sama lo, agar lo bisa bikin dia bahagia, bukan buat lo sakitin. Jangan pernah bikin celah buat gue bisa masuk ke dalam hubungan kalian. Karena saat itu terjadi, lo bakal habis, Nath!” tegas Harsa.
Ingin sekali Nathan menonjok Harsa, tetapi ia tak mau membuat keributan di area kampus. “Gue pastiin itu nggak bakal terjadi. Mimpi lo ketinggian, Sa!” sarkas Nathan.
“Kalau begitu buktikan! Buktikan kalo lo nggak bakal nyakitin Widya lagi,” hardik Harsa, lalu melangkah meninggalkan Nathan yang masih dikuasai emosi.
***
Saat Nathan dan Widya bertemu di dalam kelas, giliran Nathan yang acuh terhadap Widya. Emosinya masih membuncah. Ia tidak ingin bertengkar lagi dengan Widya. Maka dari itu, ia mengabaikan kekasih hatinya untuk sementara. Nathan melintas begitu saja dan melepas kasar tas ransel yang sedari tadi berada di bahunya. Mendaratkan tubuhnya pada bangku yang tersedia.
"Aku berjanji nggak akan pernah lepasin kamu, Sayang. Tapi kenapa kamu tidak bisa memahamiku? Ke mana Widya yang kukenal?" gumamnya sedih saat melihat Widya pun acuh terhadapnya.
Mereka masih mempertahankan egonya. Nathan yang masih mengedepankan pertemanannya, membenarkan sikap pedulinya pada Vina. Sedangkan Widya masih menyalahkan sikap Nathan yang terus menerus mementingkan Vina daripada dirinya.
...*** ...
“Kamu kenapa, Nath?” tanya Vina saat menghampiri Nathan di ruang tengah. Nathan tidak lagi bisa menyembunyikan kesedihannya. Wajah tampannya terlihat begitu kusut. Ia pun tak ingin menanggapi pertanyaan Vina. “Jangan murung gitu, kita jalan aja, yuk!” ajak Vina sembari bergelayut manja di lengan Nathan.
“Jangan ganggu aku, Vin!” kesal Nathan karena Vina sama sekali tidak mengerti suasana hatinya.
“Kenapa? Masalah Widya lagi?” geram Vina karena Nathan sedikit membentaknya. “Ribet banget, sih, pacaran sama dia. Udah, deh, kita jalan aja! Biar kamu bisa lupain masalah kamu sama dia,” bujuk Vina lembut. Namun, dalam hatinya tertawa puas melihat kerenggangan antara Nathan dan Widya. “Aku pastiin kamu kembali lagi sama aku, Nath! Karena, cuma aku yang pantes bersanding sama kamu,” batin Vina merasa di atas angin.
“Mending kamu pulang, Vin! Sorry, aku lagi pengin sendiri.” Nathan beranjak meninggalkan Vina menuju kamar dan menguncinya dari dalam. Ia tidak mau tiba-tiba Vina masuk ke dalam kamarnya dan semakin membuat hatinya kesal.
...***...
Entah kenapa aku paling demen lihat Nathan sama Harsa berantem. Ada yang satu pemikiran☝😅
__ADS_1