Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 111


__ADS_3

...*** Happy Reading***...


...***...


Pagi hari Widya sedikit tersentak karena alarm jam digital yang terletak di atas nakas kamarnya terus berbunyi. Widya beberapa kali mengerjapkan matanya dan memulihkan kesadarannya, kemudian memilih duduk bersandar di headboard untuk mematikan suara alarm yang memekakan telinga. Pembicaraan dari hati ke hati antara ibu dan anak semalam benar-benar membuat Widya memikirkan perkataan sang bunda, sehingga membuatnya bangun kesiangan. Untung saja hari ini adalah hari Sabtu, jadi Widya tidak perlu terburu-buru pergi ke kantor karena hari ini ia libur. Namun, ia sedikit tersentak karena melupakan janjinya dengan Karin dan Kartika untuk lari pagi mengelilingi GBK (Gelora Bung Karno) bersama-sama. Belum selesai akan keterkejutannya karena mengingat janjinya kepada kedua sahabatnya itu, Widya sudah di kejutkan kembali oleh handphone-nya yang berbunyi. Di layar handphone tersebut tertera nama ‘Karin’ sebagai penelepon.


“Widya—, elo dimana? Gue sama Tika udah nungguin lo dari setengah jam yang lalu, tapi lo, kok, nggak muncul-muncul,” teriak Karin di ujung panggilan.


“Sorry, Rin. Gue—.” Belum sempat Widya menjawab, Karin segera memotong ucapan Widya.


“Eh, Juminten. Lo baru bangun? Gile lu, ye. Kita udah lari tiga putaran dan lo masih enak-enakan tidur,” sentak Karin yang mendengar suara serak khas bangun tidur yang dikeluarkan oleh Widya.


“Iya-iya, ini juga baru mau siap-siap. Bentar lagi gue juga nyampe.” Widya mulai berjalan menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri menemui kedua sahabatnya.


“Gue tunggu. Awas lo kalau sampai nggak datang. Gue bakal nyamperin lo ke rumah dan buat perhitungan sama lo.” Karin menekankan, tetapi terkekeh setelahnya, karena tidak biasanya Widya bangun kesiangan.


Dua hari yang lalu Widya berjanji akan menemani Karin dan Kartika olahraga bersama, karena mereka tidak memiliki waktu untuk nge-gym atau yoga bersama. Akhirnya mereka memutuskan untuk lari pagi bersama di weekend ini. Sebenarnya Widya enggan menerima ajakan kedua sahabatnya tersebut, tetapi karena Karin dan kartika terus merengek dan mengatakan bahwa berat badannya dan Kartika terus naik akibat sering meeting di restoran atau kafe yang menyediakan makanan enak. Akhirnya hati Widya pun luluh dan menerima ajakan tersebut.


Tidak butuh waktu lama. Setelah turun dari ojek online-nya, Widya mulai menghubungi Karin dan menanyakan di mana letak gadis itu berada saat ini.


“Halo, Rin, lo di mana? Gue udah di GBK, nih,” terang Widya.


“Halo, Wid, ini kita lagi di food court yang ada di GBK. Lo langsung aja ke sini,” balas Karin dalam sambungan teleponnya.

__ADS_1


“Oke, gue ke sana.” Setelah mengatakan itu Widya mematikan handphone-nya dan melangkahkan kaki dengan berlari kecil menuju ke tempat tujuannya.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Widya berhasil menemukan kedua sahabatnya yang malah asyik kulineran. Widya hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena di meja kedua sahabatnya tersebut, Widya melihat ada sate padang, siomay, batagor, dan cilok. Serta tiga botol air mineral yang merupakan makanan favorit mereka semua.


“Lo berdua bener-bener, ya. Bener-bener niat mau kulineran atau mau olahraga, sih?" Widya yang baru datang langsung berkomentar. Membuat Karin dan Kartika menoleh ke arahnya. "Dua hari yang lalu lo berdua ngaku sama gue pengen diet. Lah, sekarang lo bedua malah asik-asikan makan. Mana banyak lagi yang dipesan!” Widya kembali berucap sambil menggelengkan kepalanya, seolah tidak habis pikir dengan tingkah kedua sahabatnya tersebut.


“Resek, lo. Ini semua, ‘kan, karena kelamaan nungguin elo,” tandas Kartika dan diangguki oleh Karin.


“Bener, kita udah lama nungguin lo datang, dan kita juga udah lari sampai enam putaran, tapi lo-nya nggak datang-datang. Akhirnya kita putuskan buat nungguin, lo di sini,” ucap Karin sambil mengacungkan setusuk sate padang yang hendak ia makan.


Melihat tingkah kedua sahabatnya, Widya hanya bisa terkekeh geli, kemudian berucap, “Lo berdua habis buang lima puluh kalori setelah capek-capek lari, lalu elo masukin lagi seratus kalori dari apa yang lo berdua makan saat ini. Sama aja bohong, dong, Bestiee.”


Mendengar apa yang dikatakan Widya, membuat Karin dan Kartika menghentikan kegiatan makannya. Lalu, menjauhkan semua makanan dari hadapan mereka. Widya yang pada awalnya terkekeh menjadi tertawa terbahak-bahak.


“Ya elah, gue cuman bercanda kali, guys. Serius amat. Kalian lanjutkan, gih, makannya! Habis itu baru kita bakar lemak bareng,” ucap Widya yang tidak ingin membuat makanan menjadi mubazir, dan mematahkan hati serta semangat kedua sahabatnya yang sedang ingin berdiet .


“Wid, nggak biasanya deh, lo, bangun kesiangan. Apa kerja di kantor Harsa dan Zakir terlalu melelahkan? Sehingga membuat lo kesiangan kayak gini. Tapi setau gue Harsa sama Zakir jarang nyuruh lo kerja lembur, deh,” tanya Karin yang mulai penasaran.


Sesaat Widya terdiam. Namun, beberapa saat kemudian Widya mulai menceritakan tentang ungkapan isi hati Harsa seminggu yang lalu padanya. Serta nasehat dan perkataan Bunda Arini semalam yang membuatnya terus berpikir, sehingga membuat dirinya tidak bisa tidur.


“Jadi lo nolak Harsa, Wid?” tanya Karin dan Kartika secara bersamaan pada Widya. Widya hanya mengangguk lemah menanggapi pertanyaan mereka.


“Gue belum siap buat menjalin hubungan lagi. Rin, Tik. Gue ....” Widya tidak melanjutkan ucapannya, ia hanya menunduk menatap sendu pada makanan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Mendengar cerita Widya tentang penolakannya terhadap Harsa, membuat Karin dan Kartika merasa harus turun tangan dan angkat bicara. Karin dan Kartika saling pandang, kemudian saling mengangguk seolah merencanakan sesuatu.


“Sepertinya otak dan hati lo musti disentil, Wid. Biar lo bisa mikir dan sadar seberapa besar rasa sayang dan cinta Harsa ke lo. Rasa sayang dan cinta Harsa sama besar seperti besarnya rasa sayang dan cinta Nathan ke elo," batin Karin.


Setelah puas saling memandang dan berbicara menggunakan telepati antara Karin dan Kartika. Akhirnya, Karin-lah yang memulai obrolan.


“Wid, gue mau cerita sesuatu ke elo. Terserah, elo mau percaya atau enggak. Yang jelas apa yang akan gue ceritakan, sesuai dengan apa yang gue lihat dengan mata kepala gue sendiri,” ujar Karin yang seketika membuat dahi Widya mengernyit. Menandakan bahwa gadis itu sedang bingung.


“Maksud lo apa, Rin?” tanya Widya bingung.


“Semenjak SMA dan sejak dia putus dari lo waktu itu, Harsa benar-benar nggak pernah memiliki hubungan dengan gadis mana pun. Padahal lo tau sendiri, 'kan, Harsa adalah idola sekolah bahkan dia juga dikenal sebagai idola kampus." Pernyataan Karin dibenarkan oleh Widya. Membuat kepalanya sontak mengangguk, karena apa yang dikatakan Karin benar adanya.


“Lo tau kenapa?” tanya Karin. Widya menggelengkan kepalanya, menandakan ia benar-benar tidak tahu.


“Itu semua karena lo, Wid.” Perkataan Karin sontak membuat Widya terkejut.


"Karena gue?" tanya Widya memastikan sembari menunjuk dirinya. Lalu Karin pun mengangguk pasti.


“Iya, karena lo. Dari semenjak Harsa putus sama lo, di hati Harsa hanya tersimpan nama lo aja. Harsa masih mencintai lo. Sangat mencintai lo. Namun, dia mencintai lo dalam diam. Bahkan, dia bersedia mengalah dari Nathan karena menurut dia Nathan adalah laki-laki yang tepat yang nggak akan pernah nyakitin lo seperti apa yang pernah dia lakuin tempo lalu. Asal lo tau, Wid. Begitu hancurnya perasaan Harsa ketika Nathan pergi ninggalin kita semua. Sama seperti hancurnya perasaan lo. Itu karena Nathan pergi membawa senyum lo ...." Karin menjeda ucapannya. Ia membutuhkan pasokan udara untuk menghilangkan rasa sesak dalam dadanya. Mengingat keterpurukan kedua sahabatnya waktu itu, membuat hatinya begitu ngilu.


"Lo inget, nggak, ketika lo pernah ngelakuin hal ‘bodoh' saat lo terpuruk kehilangan Nathan?" Widya mengangguk menanggapi pertanyaan Karin. Lo mau tahu gimana perasaan dan sedihnya Harsa waktu itu? Dia seperti orang yang kehilangan jati dirinya. Kehilangan separuh nyawanya. Dia orang yang paling sedih setelah ayah dan bunda. Harsa nggak pernah jauh dari lo saat lo nggak mau bangun di rumah sakit, Wid. Dia selalu ada buat lo, dan nggak pernah ninggalin lo. Bahkan sampai saat ini gue masih melihat kekhawatiran yang sama di mata Harsa, jika lo jauh dari pandangannya.” Seketika semua perkataan Karin seakan menampar hati Widya.


Widya selalu berpikir semua yang dilakukan Harsa kepadanya selama beberapa tahun ini hanya sebatas perhatian dan rasa kasihan terhadap kesedihan sahabatnya. Hingga satu minggu yang lalu Widya mendengar ungkapan hati Harsa, Widya masih berpikir hal yang sama. Harsa mengungkapkan cintanya hanya karena merasa kasihan dengan nasibnya yang ditinggal pergi oleh Nathan. Namun, ternyata ia salah. Harsa sudah memendam cintanya begitu lama, dan ketika Nathan sudah tidak ada, Harsa merasa punya kesempatan untuk mengungkapkannya.

__ADS_1


...***...


...***To be Continued***...


__ADS_2