Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 52


__ADS_3


...***...


Seiring menjauhnya Widya, Nathan segera tersadar dari lamunannya. Ia tidak ingin semuanya berakhir secepat ini dan dengan cara seperti ini. Widya memutuskannya sepihak, ini tidak boleh terjadi.


“Enggak bisa, Sayang. Aku nggak akan sanggup pisah sama kamu,” monolognya.


“Sayang, berhenti!” Nathan berlari dan segera merengkuh kedua bahu Widya lalu memeluknya dari belakang. “Enggak, Sayang. Aku nggak mau putus! Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”


Widya hanya diam mematung. Ia sudah lelah dengan semua yang terjadi. “Kita telah usai, Nathan. Semuanya sudah cukup, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” Belum sempat air matanya mengering, pelupuk matanya kembali meloloskan cairan bening. Menandakan betapa terlukanya Widya saat ini.


“Enggak, Sayang. Aku tahu kamu masih cinta aku. Aku nggak mau kita putus. Kita hanya akan terluka. Please, Wid. Maafkan aku! Bila yang aku lakukan sangat menyakiti—"


“Jika kamu nggak mau aku semakin sakit. Hanya ada satu cara, Nath. Lepasin aku!” Widya memotong perkataan Nathan.


“Sampai kapan pun aku nggak akan lepasin kamu, Sayang.“ Nathan semakin mengeratkan pelukannya melingkarkan kedua tangannya untuk mengunci tubuh Widya yang terus berusaha memberontak. "Aku sayang dan cinta sama kamu! Kamu tahu, itu!” tegas Nathan.


“Enggak, Nathan. Aku nggak tahu. Kamu berubah. Kamu bukan Nathan yang kukenal. Nathan yang sekarang bahkan tega mengumpat dengan lantang. Mempermalukan aku di depan orang banyak! Nathan-ku dulu tidak seperti itu.”


Deg!


Pernyataan Widya kembali menghantam jantungnya. Lagi, ia menyadari kesalahannya. Memori kejadian di kolam renang kembali berputar dalam pikirannya. Ia bahkan seperti tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia bahkan tidak memberikan kesempatan pada Widya untuk menjelaskan. Perlahan rengkuhannya mengendur. Keadaan ini segera dimanfaatkan oleh Widya untuk melepaskan diri. Tak ayal gadis itu pun langsung berlari.


Namun, belum sempat ia menginjakkan kakinya pada anak tangga pertama. Satu tangannya kembali diraih oleh Nathan. “Widya. Sayangku. Kumohon jangan seperti ini! Jangan tinggalin aku!” Kini Nathan sudah tidak bisa menahan lagi rasa sesak dalam dadanya. Tangisnya pecah begitu saja.


Nathan menarik Widya ke dalam pelukannya. Meski masih terhalang oleh kedua tangan Widya yang berada di tengah tubuh mereka. Nathan semakin memeluknya erat. Walau berkali-kali Widya meronta dengan memukulkan kedua tangannya pada dada Nathan yang berbalut kemeja warna navy. Nathan benar-benar tidak sanggup kehilangan cintanya. Lelaki itu mengecup berkali-kali kepala Widya.


“Maafkan, aku, Sayang! Maafkan aku!” Nathan mengucapkan kata itu berulang kali, sambil menekan kepala Widya agar bersandar padanya. “Pukul aku, sepuasmu! Asal kamu jangan tinggalin aku.”

__ADS_1


Tubuh Widya yang bergetar menandakan ia juga tengah menangis terisak. Perlahan tubuhnya melemas. Ia sudah tidak mempunyai tenaga untuk memberontak atau berusaha terlepas dari pelukan Nathan.


Tidak bisa dipungkiri jika Widya merindukan kebersamaannya dengan Nathan. Wangi tubuh beraroma mint yang berasal dari kemeja yang Nathan kenakan membuatnya sedikit lebih tenang. Ia tidak ingin semua berakhir seperti ini. Namun, hatinya sungguh telah menyerah. Keputusannya tidak boleh goyah.


Widya kembali mengumpulkan kekuatannya. Kembali pada keputusan yang ia buat dengan sadar sejak beberapa jam yang lalu. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak mau sakit lebih dalam lagi. Ia mendorong paksa dada Nathan. Sehingga membuat Nathan mundur beberapa langkah ke belakang.


“Nathan, aku sudah memaafkanmu. Meski kamu tidak meminta maaf kepadaku. Tapi untuk kembali padamu, aku sungguh nggak sanggup lagi, Nath.”


Nathan kembali melangkah untuk mencapai Widya. “Say—“


“Cukup, Nath!” teriak Widya. Ia memotong ucapan Nathan dengan mengangkat telapak tangannya di depan dada. Seperti memberikan peringatan jika ia sudah tidak mau didekati. Uraian air mata masih membasahi kedua pipinya, tetapi ia sudah tidak menghiraukannya lagi.


Beruntung di rooftop cafe hanya ada mereka berdua. Jika di sana telah banyak pengunjung, pasti mereka akan menjadi pusat perhatian. Alam seakan mengerti keduanya, membiarkan mereka menyelesaikan permasalahan pelik mereka yang datang bertubi-tubi.


Tanpa diduga Nathan menjatuhkan kedua lututnya pada pelataran rooftop yang terbuat dari keramik berwarna abu. Embusan angin di area rooftop semakin terasa dingin. Perlahan sekumpulan awan berwarna gelap menutupi langit sore yang beberapa saat lalu masih membiaskan semburat warna orange.


“Aku mohon, Sayang. Pikirkan lagi keputusanmu kali ini. Aku nggak tahu bagaimana jadinya aku tanpa kamu. Aku janji, Sayang. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku ingin tetap menjadi Nathan yang kamu kenal, yang selalu dekat dengan kamu.”


“Nathan, apa yang kamu lakukan?” pekik Widya.


“Aku akan tetap begini hingga kamu mengubah keputusanmu, Sayang.”


“Nath, kita coba sama-sama berpikir. Kita coba resapi apa yang kita alami akhir-akhir ini. Cobalah sesekali kamu memikirkan posisiku! Aku nggak akan pernah menjadi seperti yang kamu pinta. Menjadi gadis yang penuh pengertian, sementara kamu tidak mengerti perasaan aku. Kamu yang menghempaskan aku, hingga aku memutuskan hal berat ini, Nathan.”


Suara gemuruh guntur di atas sana memperkeruh suasana. Disertai rintik air hujan yang membasahi bumi. Begitu juga dengan Widya yang sedang mengatur gemuruh dalam dirinya. “Kita harus berakhir sampai disini Nathan.”


Widya terus berlari, menuruni anak tangga mengabaikan panggilan Nathan yang masih sayup-sayup ia dengar. Begitu ia sampai ke tepi jalan raya, ia segera melambaikan tangannya kepada taksi yang kebetulan lewat. Ia segera masuk saat ia kembali mendapati Nathan berlari menghampiri dirinya.


“Widya ... Sayang ... turun!” Nathan mengetuk kaca taksi membabi buta. Ia tak perduli badannya telah basah kuyup terkena air hujan yang begitu deras. Lalu ia beralih ke depan badan taksi. Merentangkan kedua tangannya. Sengaja menghalangi sopir taksi agar tidak melajukan mobilnya. Widya memalingkan pandangannya, agar tidak goyah dengan yang Nathan lakukan.

__ADS_1


“Bagaimana ini, Mbak? Pacarnya masih ingin berbicara sama, Mbak, sepertinya.” Seorang pria paruh baya yang menjadi sopir menoleh ke arah Widya.


“Jalan saja, Pak! Jangan pedulikan dia!” titah Widya.


Sopir taksi segera memutar kemudi agar tidak menabrak Nathan. Mengabaikan Nathan yang akhirnya menghindar lalu mengejar. Nathan pun menjadi kalut dan segera mengambil motornya dalam parkiran. Lalu ia melajukannya dengan kecepatan penuh menyusul Widya.


Hujan deras yang mengguyur sebagian kota Jakarta menjadi saksi bahwa alam pun seolah sedang meratapi kesedihan. Begitu juga suasana hati seorang gadis cantik yang tengah diam dan terus memandangi jalanan.


Widya mengeratkan kedua tangannya untuk memeluk diri sendiri. Merasakan hawa dingin dari pendingin taksi yang ia tumpangi, juga dinginnya udara luar karena hujan. Ia masih memikirkan pertemuannya dengan Nathan beberapa menit yang lalu.


“Sudah sampai, Mbak.”


Suara sopir taksi mengembalikan kesadarannya. Widya lalu mengulurkan ongkos sesuai yang tertera pada layar argometer. Setelah berterima kasih, Widya bergegas turun. Ia berlari menerjang hujan, meski tak urung ia tetap basah.


Belum sempat ia meraih handle pintu rumahnya. Sorotan cahaya dari lampu motor membuatnya silau dan mengalihkan perhatiannya. Memaksa ia untuk menoleh melihat siapa yang datang. Saat menyadari itu adalah Nathan. Widya segera masuk dan menguncinya dari dalam, lalu berhenti dan bersandar pada daun pintu.


Tidak lama, ketukan cepat kembali mengguncang tubuh Widya yang masih bersandar. Ia tahu itu Nathan, meski begitu ia enggan untuk membukakan pintu untuknya. Beruntung hujan masih mengguyur dengan derasnya, sehingga suara Nathan seolah tertelan oleh suara hujan. Jika tidak, pasti suara Nathan dapat didengar oleh beberapa tetangga dekat Widya.


Dari dalam, Arini dan Bowo yang melihat anaknya dalam keadaan basah, dengan mata memerah dan bersandar pada daun pintu, hanya saling melempar pandang dengan wajah sendu.


Widya yang melihat kedua orangtuanya mendekat segera memeluk bundanya. “Tolong, jangan ada yang bukain pintu untuk Nathan, Bunda. Aku nggak mau bertemu Nathan lagi.” Ia kembali terisak dalam pelukan Arini.


Sayup-sayup suara Nathan yang terdengar dari luar membuat Arini dan Bowo segera tanggap dengan permasalahan anaknya. “Udah, buruan kamu mandi dan ganti baju, ya! Lihat, bunda jadi ikut basah, ’kan?” titah Arini.


Widya yang tersadar segera melerai pelukannya pada bunda. ”Tapi tolong, ya, Yah, Bun! Jangan ada yang bukain pintu untuk Nathan!" pintanya memohon. Menatap ayah dan bundanya bergantian.


...***...


__ADS_1


Haruskah Nathan berdiri semalaman sambil hujan-hujanan. Biar kayak Shahrukh Khan 🤧🤣


__ADS_2