Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 80


__ADS_3


...***...


Sepulang dari rumah Nathan, Widya tak henti-hentinya menebar senyum sambil melihat cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Arini dan Bowo terlihat begitu bahagia saat putrinya sudah mendapatkan kebahagiaan. Walaupun dulu putrinya seringkali bersedih karena Nathan, pada akhirnya lelaki itulah yang kini mengembalikan senyum Widya.


Tak bisa dipungkiri, muncul perasaan gelisah di hati Arini dan Bowo, sebab sebentar lagi Widya bukan lagi menjadi tanggung jawab mereka. Semua itu akan beralih ke Nathan, lelaki yang beberapa waktu lalu melamar putrinya.


Sesampainya di rumah, orang tua Widya pun turut mengantar putrinya sampai ke kamar. Tidak ada penolakan dari gadis itu, sebab ia tahu orang tuanya pasti ingin menghabiskan waktu bersamanya.


Kini, mereka bertiga duduk bersama di atas tempat tidur dengan posisi Widya di tengah dan diapit oleh kedua orang tuanya.


“Anak bunda sekarang udah gede, ya? Bentar lagi bunda sama Ayah bakal ditinggal, nih,” ucap Arini sambil mengusap rambut panjang putrinya.


“Memangnya Widya mau ke mana? Widya nggak akan ke mana-mana, kok.” Widya mencoba memahami kegelisahan orang tuanya.


“Sepertinya baru kemarin juga ayah membawa seorang gadis kecil mengelilingi rumah sambil berjongkok dan bersuara seperti kuda. Sekarang gadis kecil itu sudah berubah menjadi wanita dewasa yang mungkin sebentar lagi akan melupakan kudanya. Waktu memang secepat itu, ya, Bun?” Bowo lebih memilih menatap ke arah jendela kamar. Mengabaikan Widya yang kini sedang menatapnya.


“No, Ayah!” Widya membawa kepalanya bersandar di bahu Bowo untuk mencari kenyamanan. “Jangan bilang gitu, dong. Apa Widya nggak usah nikah, biar bisa terus sama Ayah sama Bunda? Daripada harus lihat kalian sedih kayak gini,” lirih Widya.


Mendengar pernyataan ayah dan bundanya, cukup membuat hati Widya teriris. Air matanya pun mulai menggenang. Jika Widya sedang menahan tangis, Arini dan Bowo justru tergelak bersama mendengar penuturan Widya. Tidak menyangka jika putrinya akan memiliki ide seperti itu.


“Hei, bunda sama ayah Cuma becanda. Tentu bunda dan ayah seneng banget, sebentar lagi anak bunda udah jadi seorang istri,” tegas Arini memberi pengertian pada Widya.


Setelah itu, mereka terlibat obrolan yang ringan, dengan tawa di sela-sela obrolan mereka. Menikmati suasana yang sebentar lagi akan berubah jika Widya sudah menjadi istri dari Nathan Putra Lesmana.


...*** ...


Tiga gadis cantik terlihat sedang menikmati quality time-nya, di sebuah kafe yang berada di tengah kota dengan nuansa outdoor. Jajaran lampu LED Filamen menggantung di sebagian luar kafe, sedangkan di bagian lainnya tergantung payung warna-warni.


Semalam, Widya sudah mengabari kedua sahabatnya untuk bertemu. Karena hari ini adalah malam minggu, pemilik kafe menyewa grup band lokal untuk menghibur para pengunjung.

__ADS_1


Mereka memilih duduk di kursi paling pojok yang letaknya agak jauh dari kursi lain, berjaga-jaga jika suara yang mereka hasilkan melebihi intonasi normal yang dapat mengganggu pengunjung kafe.


“Gue mau kasih pengumuman, tapi jangan bilang dulu ke siapa-siapa.” Widya memulai percakapan, setelah menu yang mereka pesan sampai di meja.


“Apaan? Lo jangan bikin kita penasaran. Ya, nggak, Rin?” tanya Kartika pada Widya. Sedangkan Karin hanya mengangguk tanpa bersuara, sebab mulutnya masih penuh dengan potongan sosis bakar.


“Sebenernya gu—"


Tring!


Ketiga ponsel mereka berbunyi dengan waktu yang bersamaan. Mereka masih saling adu pandang, sebelum ketiganya bergegas mengambil ponsel di atas meja untuk melihat apa yang terjadi.


Terlihat Edo mengirim foto di grup dengan menambahkan pesan ‘Ini hasil buruanku. Mana Hasil buruanmu?’


Dalam foto yang dikirimkan Edo, hanya tampak punggung tangan seorang wanita menggunakan cincin berlian dengan caption ‘Mine’. Awalnya, kiriman foto itu belum membuat para anggota grup sadar maksud dari foto tersebut.


Sampai akhirnya mereka menyadari siapa pemilik akun tersebut, barulah mereka mengetahui maksudnya.


“Waah, parah sih, lo! Nggak bilang-bilang sama kita.” Kartika memasang wajah kecewa begitu melihat cincin tersebut.


“Iya, parah lo, Wid!” Karin pun menggelengkan kepala dan bersedekap dada.


“Bukan maksud gue diem-dieman. Makanya gue ajak kalian ke sini, itu buat ngasih tau kalo Nathan udah lamar gue kemarin.”


Wajah kecewa yang sedari tadi diperlihatkan Karin dan Kartika, seketika berubah menjadi wajah kaget sekaligus bahagia. Tanpa menunggu lama, mereka segera memeluk gadis yang sebentar lagi akan melepas kegadisannya. Tidak peduli lagi dengan suara ponsel yang sejak tadi tak berhenti berbunyi.


“Sorry, gue nggak bermaksud nyembunyiin berita ini. Gue emang ada niatan buat ngasih tau kalian. Eh, si Kucrut satu itu udah posting duluan,” ucap Widya saat Karin dan Kartika mengurai pelukan. Terlihat mereka sama-sama mengusap pipi yang sudah basah karena rasa haru.


“Wid, jujur kita seneng banget denger berita ini. Kita yang tahu gimana cerita cinta lo. Mulai dari ... ya, lo tau sendiri kita pernah ribut gara-gara cowok yang sama. Sampai lo ketemu Nathan, laki-laki yang udah bikin hidup lo jungkir balik kayak roller coster. Dan ternyata, lo akhirnya dilamar juga sama tuh kucrut,” ucap Karin di antara isaknya, sambil sesekali mengusap ingusnya yang tak berhenti keluar karena menangis.


“Lo udah jadi bagian dari hidup kita. Bahagia lo bahagia kita juga, sedih lo sedih kita juga. Kita itu saudara, Wid, dan itu nggak bisa diubah.” Kartika menambahkan.

__ADS_1


“Thank’s, ya.”


“Eh! Gimana keadaan grup kita?” Teriakan Karin membuat mereka segera mengalihkan perhatian pada ponsel yang tergeletak di atas meja.


Edo : Ini hasil buruanku. Mana Hasil buruanmu?


Zakir : Waah, udah launching?


Edo : Hallo @widya @Nathan


Zakir : Kayaknya mereka lagi berduaan ini


Harsa : Ganggu!


Zakir : Ada yang cemburu, nih! Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo


Harsa : @Zakir Nggak usah nyanyi! Suara lo bikin kuping gue sakit!


Zakir : Heh! Gue pakek chat, ya. Nggak pakek VN! Nggak bisa didengar, hanya bisa dilihat dan dibaca!


Membaca obrolan di room chat, membuat mereka bertiga sontak tergelak. Apalagi melihat kelakuan Zakir yang menyindir Harsa. Mereka sudah tak berniat membalas pesan masuk di room chat.


Bersamaan dengan itu, sebuah notifikasi pesan masuk terlihat di ponsel Widya. Itu adalah pesan dari Harsa.


Harsa : Semoga kamu bahagia, Wid. Aku benar-benar harus melepaskanmu kali ini. Bukan karena menyerah, melainkan aku harus menjadi lelaki sejati yang tidak merebut kekasih sahabatnya.


Widya tak membalas pesan Harsa, ia hanya mengucapkan terima kasih dari dalam hatinya. Ia tahu, menjadi seperti Harsa tidak akan mudah, karena ia pernah mengalaminya.


...***...


__ADS_1


__ADS_2