Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 118


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


Warna gelap sudah menyelimuti alam raya. Harsa Mandala masih berada dalam mobilnya selepas mengantarkan Widya pulang ke rumahnya. Senyuman cerah selalu membingkai manis di bibirnya. Ia mengenang kembali perkataan Widya yang menerima pinangannya. Ya, walaupun cuma bertunangan, setidaknya mereka sudah ada ikatan.


Tiba-tiba saja kenangan indah semasa SMA melintas di benak Harsa. Sosok Widya yang terlihat manis dengan seragam SMA-nya memenuhi pikiran Harsa. Kala itu mereka sudah menjalin hubungan kasih. Widya yang lugu mencintai Harsa dengan begitu tulus, tetapi Harsa malah mempermainkan cinta gadis itu.


"Maaf, ya, Sayang. Waktu itu aku memang brengsek. Nggak bisa lihat ketulusan cinta kamu sama aku," lirih Harsa merutuki kebodohannya.


Harsa menghela napas kasar. Bersamaan dengan ingatannya saat melukai hati Widya kembali menyerang. Harsa menyesali perbuatannya saat itu. Ia sakit hati pada Karin, tetapi malah menyakiti Widya. Seolah mendapatkan karma, Harsa yang ditinggalkan Widya kemudian merasakan cinta. Sayangnya, cinta itu sudah berpindah ke lain tahta. Cinta Nathan sudah berhasil menggeser nama Harsa dalam hatinya Widya.


Namun, ternyata takdir berkata lain. Widya harus patah hati lagi ketika Nathan telah dijemput Sang Illahi. Harsa merasa jika Tuhan telah memberikan kesempatan kedua kepadanya untuk menjaga Widya. Dan kali ini, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


Harsa mengingat semua kisahnya yang sudah terjadi bersama Widya, hingga ia meyakini jika jodoh tidak akan ke mana. Jika dipikir lagi, perjuangkan Harsa untuk mendapatkan cinta Widya tidaklah mudah. Ia harus merelakan hatinya berkali-kali patah. Apalagi ketika melihat orang yang dicintainya akan menikah. Namun, kini semuanya sudah berubah. Tuhan sudah menitipkan Widya kepadanya sebagai amanah.


"Astaghfirullahalazim!" Harsa memekik keras sembari menginjak pedal rem mobilnya dengan kuat.


"Woy, kalau nyetir yang bener, dong! Lampu merah, tuh!" teriak seseorang di luar mobilnya Harsa.


Harsa yang terkejut langsung menurunkan kaca mobilnya. Kepalanya menyembul keluar, untuk melongok rambu-rambu jalan yang menunjukkan warna merah menyala. Harsa meringis mengakui kesalahannya.


"Maaf, Pak, maaf. Saya lagi nggak fokus," sesal Harsa sambil mengatupkan kedua tangannya. Meminta maaf kepada seorang lelaki yang hampir ia tabrak di depan sana. Lelaki itu hendak menyeberangi zebra cross yang berada di dekat lampu merah.


"Lain kali hati-hati, Mas. Kalau nyetir harus fokus!" seru orang itu. Pesan orang tersebut mengingatkannya pada sesuatu. Ia ingat dengan pesan yang diucapkan oleh Widya sebelum dirinya pergi dari rumah kekasihnya tersebut.


'Pokoknya kamu harus janji sama aku. Kalau kamu akan selalu hati-hati dalam mengerjakannya sesuatu. Aku nggak mau sesuatu yang buruk terjadi lagi pada orang yang aku cintai. Walaupun kita tidak bisa melawan takdir, setidaknya kamu udah berusaha untuk tidak membuatku khawatir.'


Harsa memperoleh kesadarannya. "Iya, Pak. Maaf sekali lagi, dan makasih sudah mengingatkan." Setelah berkata seperti itu Harsa duduk rapi di belakang kemudi, lalu melajukan mobilnya ketika lampu hijau menyala kembali. Kali ini Harsa mengemudi dengan hati-hati.

__ADS_1


...***...


Sekitar pukul 20.00 WIB, Harsa sampai di rumahnya. Ia menemukan kedua orang tuanya tengah duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton acara TV serial favorit mereka. Kedatangan Harsa menyita atensi kedua orang tuanya.


"Kamu udah pulang, Nak?" tanya Evi kepada anaknya.


"Hmm ...." Harsa hanya bergumam menanggapi, sembari mendudukkan tubuhnya di sofa yang sama dengan mamanya. Ia melonggarkan dasi yang dia pakai sebelum ia membaringkan kepalanya di pangkuan sang mama.


"Capek banget, ya?" tanya Evi sambil mengusap kepala Harsa dengan sayang.


"Ada masalah di kerjaan, Sa?" timpal Rendra mengkhawatirkan kondisi anaknya. Karena tidak biasanya Harsa bersikap manja.


Harsa beranjak duduk lalu menggelengkan kepalanya. "Kerjaanku lancar, kok, Pa, Ma. Dan aku baik-baik aja. Cuma sedikit lelah," ungkap Harsa.


"Baguslah kalau begitu, mama lega mendengarnya." Evi tersenyum lega sambil mengusap pipi anaknya. "Lalu gimana kabarnya calon mantu mama? Dia sehat, kan?"


Harsa mengulas senyum mendengar pertanyaan mamanya itu. "Iya, Ma. Dia sehat. Harsa mau ngasih kabar bahagia buat Mama sama Papa."


"Sabar, dong, Ma!" sahut Rendra. Harsa semakin terkikik melihat tingkah mamanya.


"Ih, si Papa. Mama, kan, semangat kalau denger berita bahagia. Kali aja calon mantu mama udah siap buat menikah," pungkas Evi sambil mendengkus sebal.


"Mama, kok, bisa nebak, sih. Widya emang udah siap, tapi bukan menikah, tunangan aja."


"Tuh, kan," sahut Evi spontan. Namun, iya belum sepenuhnya sadar dengan apa yang anaknya katakan. "Eh, beneran, Sa? Widya udah siap buat nikah sama kamu?" tanya Evi memastikannya lagi.


"Tunangan dulu, Mama. Nikahnya entar." Harsa menjelaskan dengan nada pelan, tetapi penuh penekanan.


"Alhamdulillah, nggak apa-apa tunangan juga. Mama seneng dengernya. Bentar lagi mama punya mantu beneran." Evi tersenyum lebar, raut wajahnya terpancar kebahagiaan. "Tunangannya kapan, Sa?" tanya Evi lagi.

__ADS_1


"Kita belum menentukan tanggal. Papa sama Mama aja belum silaturahmi ke rumah orang tuanya Widya buat minta persetujuan mereka secara resmi. Gimana, sih?" Harsa cemberut. Ia pura-pura merajuk.


"Eh, iya, ya. Kita belum silaturahmi sama mereka." Evi menoleh pada suaminya. "Gimana, sih, Papa? Kenapa belum minta persetujuan keluarga mereka?" Evi menyalahkan Rendra akan hal itu.


"Lah, kenapa jadi nyalahin papa? Widyanya aja baru setuju sekarang," protes sang papa.


Harsa ingin sekali tertawa terbahak-bahak, tetapi ia masih menjaga kesopanannya di depan orang tua. "Eh, kenapa jadi berantem, si? Maksud Harsa, besok Mama sama Papa datang dulu ke rumahnya Widya, buat silaturahmi sama Mama Arini dan Papa Bowo. Tapi niatnya mau nentuin tanggal pertunangan kita, gitu." Orang tua Harsa terdiam ketika mendengarkan Harsa berkata seperti itu. Lalu menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Oke, kami setuju. Iya, kan, Pah?" Evi menyenggol bahu Rendra.


"Iya," sahut Rendra.


Harsa tersenyum, lalu beranjak berdiri. "Kalau gitu Harsa masuk kamar dulu, ya. Mau mandi terus tidur. Biar cepet ketemu Widya lagi besok pagi," ujar Harsa sembari berjalan ke kamarnya. Evi dan Rendra hanya menggelengkan kepala sambil menatap punggung Harsa yang menjauh dari pandangan mereka. Senyuman bahagia masih tergambar jelas menghiasi bibir dua orang itu. Mereka bisa bernapas lega. Akhirnya perjuangan cinta Harsa tinggal memetik hasilnya.


...***...


Esok harinya, semua berjalan seperti yang sudah direncanakan. Orang tua Harsa datang ke rumah Widya untuk melakukan silaturahmi. Lebih tepatnya menentukan hari yang baik untuk menyelenggarakan acara pertunangan. Tanggal pertunangan pun sudah ditentukan, yakni satu minggu kemudian.


Harsa tak henti-hentinya mengucap terima kasih kepada Widya. Bahkan lelaki itu tidak mau melepaskan tangan Widya ketika keluarganya tengah berkumpul bersama.


"Yang, lepasin tangan aku, dong! Malu tahu dari tadi dilihatin sama yang lain." Widya berusaha menarik tangannya dari genggaman Harsa, tetapi lelaki itu malah semakin mengeratkannya.


"Nggak apa-apa. Kalau cuma pegangan tangan doang, papa kamu juga nggak ngelarang." Harsa beralasan.


"Ish, tapi aku malu," protes Widya mendesis kesal.


"Masa malu sama keluarga sendiri. Aku juga biasa aja." Dengan seenaknya Harsa membalas demikian. Membuat Widya semakin kesal, hingga akhirnya dia kalah dan membiarkan Harsa menguasai tangannya.


...***...

__ADS_1


...**To be continued...


...Aku mau ngucapin selamat, Guys. Buat pemenang giveaway kita udah keluar, ya. Hadiahnya lagi meluncur ke rumah masing-masing. Terima kasih atas partisipasinya. Sehat selalu 🙏🥰**...


__ADS_2