Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 7


__ADS_3


...***...


Semenjak mendengar pengakuan Harsa yang secara terang-terangan mengajak Nathan untuk bersaing memperebutkan cinta Widya, setiap hari Nathan selalu saja uring-uringan. Bukannya ia takut akan tantangan Harsa, tetapi lebih kepada kebimbangan akan perasaannya. Mungkinkah ia mencintai Widya? Atau selama ini ia hanya merasa senasib dengan Widya hingga menghadirkan rasa empati akibat trauma akan rasa cinta? Hal ini yang membuat Nathan kembali berpikir untuk mengambil langkah selanjutnya.


Cinta, satu kata yang terlihat indah dan mengagumkan bagi sebagian besar insan di dunia. Namun, merupakan satu kata paling menyebalkan bagi segelintir orang yang pernah merasakan getirnya rasa yang menyertainya. Termasuk Nathan salah satunya. Bagaimana tidak? Ketika seluruh harapan dan impian yang ia gantung setinggi langit, tiba-tiba dihempaskan begitu saja oleh cinta. Penyemangat yang selalu membuatnya bertahan menghadapi kerasnya hidup, dengan mudahnya mematikan rasa yang selama bertahun-tahun dia jaga.


“Anak mama kelihatannya lagi galau banget, ada apa?” tanya Liana pada putra sulungnya yang sedang melamun di pinggir kolam.


“Mama ngagetin aja, deh!” gerutu Nathan yang tidak menyadari kehadiran Liana di sampingnya.


“Mama perhatiin akhir-akhir ini kamu seperti banyak masalah, beneran nggak mau cerita ke mama?” Liana tersenyum menatap putranya. Nathan menghela napas, bimbang mau memulai cerita dari mana.


“Nathan bingung, Ma. Menurut Mama apa Nathan mencintai Widya?” Kalimat Nathan tentu saja membuat Liana tersenyum. Liana mendekati putranya yang sudah dewasa, tetapi terkadang masih bersikap layaknya anak kecil.


“Jawabannya ada di sini!” jawab Liana lembut menyentuh dada Nathan. Jawaban yang ambigu bagi Nathan membuat ia semakin berpikir.


“Tanyakan pada hatimu, seberapa besar pengaruh Widya buat anak mama. Bisakah kamu sehari saja tidak bertemu dengan Widya?” imbuh Liana yang membuatnya semakin bingung. Nathan menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Liana.


“Mama rasa kamu sudah paham dengan jawabannya, hanya saja anak mama belum menyadari. Mama akan selalu mendukung kamu selagi itu demi kebaikan dan membuat kamu bahagia.” Hening di antara keduanya untuk beberapa saat. Ucapan lembut Liana perlahan membuka mata hati Nathan yang selama ini tertutup rasa trauma akan kekecewaan.


“Terima kasih, Ma!” Nathan mencium pipi Liana dan segera berlari menuju kamarnya. Liana tersenyum melihat tingkah Nathan yang seperti bocah sedang jatuh cinta. Liana bahagia melihat kemajuan putranya selama di Indonesia. Liana berharap ini yang terbaik untuk Nathan.


...***...


Hari Minggu yang cerah, secerah hati Nathan setelah mendapatkan kalimat ajaib dari Liana. Dengan hati berbunga Nathan melajukan mobilnya menuju rumah Widya. Nathan melihat mobil Harsa sudah terparkir di halaman rumah Widya dan melihat Harsa tengah berbincang dengan Bunda Arini di teras. Nathan pun memarkirkan mobilnya di bahu jalan dan melangkah menghampiri mereka di teras.


“Selamat siang, Bun,” sapa Nathan, kemudian mencium tangan Arini.


“Ini kalian sengaja janjian di sini?” tanya Arini heran melihat tingkah kedua sahabat Widya.


“Enggak, Bun! Dia aja yang selalu ngikutin aku,” tampik Harsa menunjuk Nathan dengan sorot matanya.


“Dia nggak ngaku, Bun! Malu kali sama Bunda kalau tadi pagi dia ngajak ketemuan Nathan barengan ke sini,” sindir Nathan dengan santainya. Widya yang masih di dalam rumah mendengar percakapan dengan kesal, hingga muncul ide konyolnya. Widya segera menghampiri ayahnya dan mengatakan rencananya. Bowo pun menyetujui rencana Widya dan segera keluar setelah menyiapkan beberapa perlengkapan pendukung untuk melaksanakan ide konyol putrinya.


“Mumpung kalian di sini, ayo ikut ayah mancing!” kalimat Bowo mengalihkan perhatian mereka bertiga. Terlihat Widya dan ayahnya siap dengan perlengkapan pancingnya keluar dari ruang tamu.


“Kalian mau ikut? Aku sama ayah mau mancing ke danau. Agak jauh, sih, dari sini. Kalau mau ikut, buruan! Kalau enggak, pulang sana!” kata Widya menahan tawa. Nathan dan Harsa berpandangan seolah ingin meyakinkan sesuatu. Pakaian mereka yang keren pantasnya untuk jalan ke mall atau pergi ke kafe, bukan pergi memancing ke danau.

__ADS_1


“Aku ikut!” seru Nathan bangkit dari kursinya.


“Siapa takut.” Harsa pun tidak mau kalah.


Sedangkan Arini tersenyum mulai paham dengan rencana suami dan putrinya.


Mereka mengendarai mobil Nathan, membelah jalanan kota menuju ke sebuah danau pemancingan di pinggiran kota. Tiga puluh menit perjalanan mereka tempuh dengan lancar tanpa kemacetan. Nathan mencari tempat parkir yang masih kosong. Tentu saja kehadiran mereka menjadi pusat perhatian karena mobil mewah milik Nathan.


Tempat itu hanyalah danau yang biasa ayah Widya kunjungi untuk menyalurkan hobby memancingnya bersama rekan-rekannya. Di parkiran hanya terdapat sepeda motor butut dan sepeda kayuh, tentu saja bertolak belakang dengan mobil Nathan yang terparkir di sana.


...***...


“Tumben Pak Bowo bawa artis ke sini,” sapa orang-orang yang berada di pinggir danau, menatap ke arah Nathan dan Harsa. Widya yang sedari tadi menahan tawa, akhirnya meledak juga.


“Iya, Pakdhe, mereka artis yang gagal manggung gegara bisulan,” ucap Widya membuat semua orang tertawa.


“Tumben, ikut, Wid! Lagi senggang?” tanya seseorang yang tadi Widya sebut pakdhe.


“Iya, Pakdhe, Bunda pengen bikin ikan bakar hasil pancingan Widya,” jawab Widya santai menghampiri orang-orang yang duduk di tepi danau.


“Yaelah, Wid! Kalau pengen bakar ikan kita beli di supermarket. Nggak ribet, 'kan?” celetuk Nathan.


Bowo mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya dan memberikan kepada Harsa dan juga Nathan.


“Kain sarung?” pekik mereka berdua hampir bersamaan.


“Buat apa, Yah?” tanya Harsa.


“Penampilan kalian aneh di sini. Udah pakai aja, dari pada kalian jadi tontonan,” ucap Bowo datar. Harsa dan Nathan mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka, dan memang benar, kebanyakan dari mereka adalah bapak-bapak yang usianya lebih tua dari Ayah Widya. Mengenakan celana kain selutut dan banyak yang mengenakan sarung yang diikat di pinggang.


Widya yang juga mengenakan celana santai selutut warna coklat dan kaos oblong coklat tua, segera memberi sandal karet Swallow warna hijau kepada Nathan dan Harsa.


“Tuh! Ruang gantinya ada di sana. Habis itu gabung sama kita, ya,” tunjuk Widya ke arah kamar mandi umum tidak jauh dari sana.


Setelah berganti kostum, mereka berdua mendekati Bowo yang sudah memasang umpannya, begitu pula dengan Widya. Semua yang berada di sana sontak tertawa melihat gaya Nathan dan Harsa memakai kain sarung, terutama Widya yang sudah berhasil menjahili mereka berdua.



“Memancing itu melatih kesabaran, siapa yang berhasil menyelesaikannya sampai akhir, dialah orang sabar yang sesungguhnya. Sama halnya dengan kalian berdua. Siapa yang benar-benar serius berjuang mendapatkan hati anak ayah, dialah yang pantas menjadi pendamping Widya,” kata Bowo membuat Nathan dan Harsa terkejut.

__ADS_1


...***...


Semenjak kejadian memancing bersama di danau beberapa hari lalu, Nathan semakin yakin akan perasaannya terhadap Widya, tanpa ia sadari, Nathan rela melakukan apa saja yang dikatakan Widya. Bahkan, Nathan merasa nyaman bersama keluarga Widya.


“Nanti pulang kuliah bareng gue, ya,” pinta Nathan ketika mereka berada di kantin kampus.


“Boleh,” jawab Widya.


Sore itu mereka pulang bersama, Nathan membawa Widya ke sebuah kafe yang berbeda dari kafe yang biasa mereka kunjungi. Kafe ini berada di rooftop dengan tata ruang yang menarik. Pemandangan yang terlihat dari atas menghadirkan kesan tersendiri bagi pengunjung. Lampu-lampu yang terpasang cantik membuat suasana makin romantis ketika malam hari.


Widya dan Nathan duduk di pojok menikmati menu terbaik di kafe tersebut. Semilir angin yang berembus membelai rambut indah Widya, menebarkan aroma kedamaian. Semburat jingga di ufuk barat perlahan hadir menghantarkan siang kepada malam. Mereka menikmati rasa dalam balutan indahnya lukisan Tuhan. Nathan meraup udara sebanyak mungkin, menyiapkan hati untuk menghadirkan sebuah kalimat indah.


“Wid,” panggil Nathan, membuat Widya mengalihkan atensinya. “Gue mau jujur sama lo.”


“Soal?” Widya menatap Nathan penuh tanya. Kali ini wajah Nathan tidak tampak seperti biasanya. Wajah tengil itu seketika hilang, hanya ada gurat keseriusan.


“Perasaan gue.” Nathan mencoba mengatur detak jantungnya yang semakin menggila. Baru kali ini ia merasakan debar yang bisa saja membuatnya pingsan. Lagi, ia meraup udara sebanyak-banyaknya sebelum melanjutkan ucapannya.


Widya hanya mampu menatap heran pada Nathan. Suapan dari tangannya yang hendak memasukkan sepotong kue ke dalam mulut urung ia lakukan.


“Sekian lama kita bareng, gue ngerasa nyaman banget sama lo. Kehadiran lo dalam hidup gue udah seperti candu buat gue. Gue ngerasa nggak bisa jika sehari aja gue nggak ketemu lo, lihat senyum lo, lihat mata indah lo, dan semua yang ada di diri lo. Perhatian dan ketulusan lo, bikin gue akhirnya jatuh cinta sama lo, Wid.”


Hening, hanya suara angin yang berembus menemani mereka dalam diam. Widya mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Nathan. Widya tercekat, ludahnya terasa kelat. “Kenapa? Aneh, ya?” tanya Nathan saat Widya tidak merespons semua ucapannya. “Gue aja juga nggak nyangka, kok, kalau akhirnya gue bisa jatuh cinta sama lo. Dan bodohnya gue juga baru menyadari perasaan yang gue miliki ke lo akhir-akhir ini.”


Widya masih terdiam. Semua ini begitu mengejutkan baginya. Ia tidak menyangka jika Nathan memiliki perasaan itu. “Wid, gue pengin kita bisa selalu bareng-bareng. Hari ini, esok, dan seterusnya. Gue mau lo selalu di samping gue, menjadi ratu di hati gue. Lo mau, 'kan, jadi pendamping hidup gue?”



Kening Widya berkerut dalam, ia masih menelisik tiap inci dari mimik wajah Nathan ketika berbicara seperti itu. Mungkin saja itu hanya sebuah candaan. Sifat Nathan yang suka usil membuatnya tidak langsung mempercayai ucapan Nathan. “Lo bercanda, 'kan, Nath?” seloroh Widya setelah kesadarannya kembali terkumpul.


“Gue serius! Gue nggak mau kehilangan lo,” ucap Nathan menatap netra pekat milik Widya. Kembali Widya terdiam berusaha menyelami tatapan mata Nathan. Mencari kebohongan dari sorot matanya, tetapi yang ia temukan hanyalah pancaran ketulusan dari seorang Nathan. Seseorang yang selama ini selalu ada di sampingnya tatkala cinta mempermainkan kisahnya.



...***...


Akhirnya ngaku juga, tapi aku jadi patah hati, Gengs 😭


Apa kalian merasakan yang sama? 🤭

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗


__ADS_2