
...***...
Cindy segera menghubungi seseorang yang selama ini membantu aksinya untuk menghancurkan hubungan Widya dan Nathan. Hancurnya hubungan mereka cukup membuatnya bahagia dan ia ingin berbagi bahagianya dengan seseorang.
“Hai!” sapa Cindy begitu ponselnya terhubung.
“Kenapa, Cin?”
“Nathan beneran putus sama Widya, kan?” Cindy masih memasang wajah pura-pura tidak tahu untuk memastikan kembali kebenaran berita tersebut.
“Sepertinya sih, iya. Buktinya mereka udah jarang ketemu, kan?” Jawaban dari lawan bicaranya membuatnya tergelak. Sedetik kemudian Cindy kembali terdiam saat tidak mendapat respon yang sama.
“Gimana? Lo seneng juga, kan?”
“Seneng, sih. Tapi, kenapa aku jadi kasihan, juga, ya?”
Cindy memutar bola matanya. “Terus? Maksudnya kita harus mundur? Justru ini kesempatan buat lo. Gunakan kesempatan ini dengan baik, Vin,” saran Cindy begitu mendengar reaksi Vina yang biasa saja. “Cantik tapi lemot!” gumamnya dalam hati.
Lama tak terdengar jawaban dari Vina, tiba-tiba sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Vina. “Sial! Bisa-bisanya dia matiin telepon gue!” gerutu Cindy. “Jika bukan karena dendam, gue ogah deket sama lo!” Cindy menggeram kesal.
Sedangkan Vina yang mendapat saran dari Cindy segera menutup teleponnya. Ia bukan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Selama ini ia tidak tinggal diam melihat status Nathan yang sudah berubah menjadi single. Ia sudah berusaha untuk menghibur lelaki yang sedang patah hati itu, tetapi selalu gagal. Jangankan menghibur, bahkan ajakannya pun sering diabaikan.
Sebenarnya, Vina merasa kasihan dengan perubahan Nathan yang seperti tidak memiliki semangat hidup setelah putus dari Widya. Namun, bagaimana lagi? Itu semua dilakukan agar ia bisa mendapatkan kembali hati Nathan.
Adanya Cindy pun turut membantu melancarkan impiannya itu. Tidak salah jika ia memberikan nomornya pada Cindy saat mereka berkenalan lewat media sosial.
Vina pun segera bangkit dari tempat tidur, pergi keluar apartemennya dan menuju rumah Nathan. Ia harus tetap berada di samping lelaki yang saat ini sedang butuh perhatian.
“Tante, Nathan di mana?” tanya Vina pada Liana begitu sampai di rumah Nathan. Wanita yang sedang santai sambil menonton televisi itu pun kaget dengan kehadiran Vina. Sedangkan Ellen dan Evan masih fokus mengerjakan tugasnyal di samping Liana.
“Masa tiap ke sini yang di cari Nathan mulu, Vin? Nggak pengen ngobrol sama tante, gitu? Mumpung tante lagi senggang,” canda Liana.
Vina meringis. “Kapan-kapan, deh, Tan. Ini aku bawakan makanan kesukaan Nathan.” Vina menjelaskan sambil menampilkan sebuah kotak untuk diberikan pada Nathan. “Nathan di kamarnya, kan, Tan?”
Liana hanya menjawab dengan anggukkan kepala. Setelah kepergian Vina, ia justru menggelengkan kepalanya. “Tante lihat saja ya, Vin, sebesar apa usahamu untuk mengubah cinta Nathan. Dan menurut tante, itu akan susah terjadi, karena tante tidak pernah melihat Nathan seperti ini sebelumnya pada perempuan,” gumam Liana, kemudian kembali mengalihkan fokusnya pada televisi yang menyiarkan berita tentang kelangkaan minyak goreng.
Vina pun berjalan santai menuju kamar Nathan. Berkali-kali ia mengetuk pintu di depannya, tetapi tidak ada jawaban dari penghuninya. Vina semakin kesal. Ia mencoba mengetuk sekali lagi dan muncullah lelaki yang sedari tadi ditunggunya. Dengan wajah yang tertunduk, ia berdiri memegangi handle pintu.
Rambutnya terlihat acak-acakkan, dengan lingkaran hitam di seluruh kelopak matanya. Menggunakan kaos warna hitam yang sudah penuh dengan lekuk di sana-sini. Lelaki itu terlihat sangat kacau. Walaupun begitu, tak mengurangi ketampanan pada wajahnya.
__ADS_1
“Apa lagi, sih, Vin? Gue males keluar.” Nathan berkata tanpa membuka matanya. sesekali ia mengucek matanya yang tak gatal.
“Kok, pake gue?” Tanpa memedulikan rengekan manja Vina, Nathan kembali menutup pintunya.
“Nathan, aku bawa kue dari rumah Widya!” cerocos Vina sebelum pintu di depannya tertutup rapat. Walaupun itu hanya sebuah kebohongan, hal itu sukses membuat pintu yang awalnya hampir tertutup kembali terbuka, begitu pula mata yang sejak tadi hanya terpejam.
Hanya mendengar nama Widya, membuat Nathan kembali bersemangat. Nathan mengulurkan tangannya. “Bawa sini!”
“Enggak! Kamu harus mandi dulu, aku tunggu di bawah. Kita makan bareng sama Tante Liana juga!”
Nathan menghela napasnya. “Tunggu di bawah! Jangan makan dulu!” ancam Nathan, lalu menutup pintunya kembali. Vina tersenyum penuh kemenangan. Hanya dengan begini, Nathan mau menemuinya.
Vina masih menunggu di depan televisi bersama Liana, Evan, dan Ellen. Tidak ada percakapan yang serius di antara mereka. Hanya berkomentar tentang acara yang disiarkan di depan mereka sambil sesekali tertawa.
“Mana kuenya?” Suara Nathan mengalihkan atensi semua orang yang sedang asik tertawa.
“Wah, ini beneran anak mama?” Liana segera menghampiri Nathan dan memutar tubuhnya.
“Abang keliatan ganteng, deh!” Itu adalah suara si kembar yang tak mau kalah. Mereka pun ikut menimpali candaan mamanya.
“Ma, aku serius.”
Mereka bertiga akhirnya meninggalkan Vina dan Nathan sendiri. Nathan tanpa basa-basi langsung mengambil kue di atas meja dan melahapnya. “Laper apa doyan, Nath?” Nathan sama sekali tak menanggapi ucapan Vina. Berulang kali ia mengambil kue itu, bahkan sekarang sudah hampir tandas di mulut Nathan.
“Aku mau ngomong soal Widya.” Sekali lagi, Nathan langsung terdiam mendengar Vina mengucapkan nama Widya. Sejenak ia berhenti dari aktivitasnya mengunyah kue. Vina segera memasang wajah prihatin.
“Sebenarnya aku kasihan sama Widya, Nath. Dia sebenernya masih sayang sama kamu. Mungkin dia saat itu memang tidak sengaja melakukan hal itu sama aku, jadi jangan menyalahkan dia terus.” Vina melirik wajah Nathan yang kembali sendu. “Semua wanita pasti marah kalau dipermalukan di depan umum. Aku pun pasti akan berbuat sama dengan Widya, jika pacarku mempermalukanku. Walaupun memang aku bersalah, tapi bukan berarti cara menasehatinya dengan cara seperti itu.”
“Dia selalu menganggap hubungan kita rusak karena adanya kamu, Vin. Padahal aku tahu, bahwa itu adalah ulah Cindy. Wanita yang selama ini suka sama aku. Dia marah karena aku tidak membalas cintanya, akhirnya mencoba merusak hubunganku. Dan sekarang dia justru memanfaatkan kehadiran kamu.” Nathan mengusap wajahnya frustrasi.
Vina pun akhirnya mengerti, mengapa dulu Cindy menghubunginya begitu ia tiba di Indonesia. Bahkan ia memaksa untuk mengirimkan nomor ponselnya walaupun saat itu mereka baru saling mengenal. Vina menarik kesimpulan jika memang ia dimanfaatkan oleh Cindy. Namun, hal itu pun memberikan keuntungan untuknya.
Vina tidak peduli dengan alasan Cindy. Yang terpenting Nathan lebih memilih membelanya daripada membela Widya, pacarnya sendiri. Lagi pula, Nathan sudah membenci Cindy, jadi tidak ada alasan untuk Nathan melirik wanita itu.
“Kamu perlu menjelaskan pada Widya, Nath. Siapa Cindy sebenarnya dan apa tujuannya.”
“Sudah, Vin, tapi semuanya percuma. Sekarang, Widya sudah nggak mau denger apa pun yang aku katakan. Apalagi ada Harsa. Argh!!” Nathan kembali mengacak-acak rambutnya yang sebelumnya sudah tersisir rapi.
“Sabar, Nath! Mungkin sekarang Widya masih marah sama kamu, tapi suatu saat pasti hubungan kalian akan kembali baik-baik saja. Widya hanya butuh menenangkan diri.” Vina kembali menenangkan Nathan. Dengan perlahan, Nathan sudah mulai kembali berbicara dengan Vina.
“Makasih, Vin.” Vina hanya menanggapi ucapan Nathan dengan tersenyum. Rencananya untuk kembali mendekati Nathan sedikit terbuka.
__ADS_1
“Aku yakin, perlahan hati kamu akan kembali untukku, Nath. Hanya tinggal menunggu waktu untuk mengembalikan cinta kita seperti dulu. Widya, kamu cuma persinggahan sementara bagi cinta Nathan. Karena akulah cinta sejatinya,” batin Vina tersenyum penuh kemenangan.
***
Setelah sekian lama tidak pergi ke kampus, Nathan akhirnya mengunjungi kampus untuk sekadar menghibur diri. Ia juga berharap bisa bertemu Widya untuk bisa bicara dengannya. Rindunya begitu menyesakkan dada, meski ada Vina yang selalu menghiburnya, tetapi itu tidak cukup mengobati luka hatinya.
“Aku kangen sama kamu, Yang,” gumamnya saat menginjakkan kaki di parkiran. Semua kenangan indah di kampus bersama Widya berputar di ingatannya dengan begitu jelas. Saat mereka bergandengan tangan mesra, berbagi canda dan tawa. Sikap jahilnya yang membuat Widya kesal dan masih banyak kenangan manis yang lain yang membuatnya sulit untuk bernapas.
“Hai, Nath,” sapa seseorang yang tak ia harapkan kehadirannya. Senyum manis ia suguhkan untuk lelaki yang pernah ia cintai itu.
Nathan menatap Cindy tajam. Api amarah berkobar di matanya. Tangannya mengepal kuat menahan emosi. “Puas lo udah berhasil misahin gue sama Widya?” Cindy hanya tersenyum manis menanggapi pertanyaan Nathan. “Gue pastiin, hidup lo gak bakal tenang mulai sekarang. Dan yang perlu lo tahu, ini semua hanya sementara. Gue sama Widya pasti bisa bersama kembali setelah kebusukan lo terungkap. Lo cewek terbrengsek yang pernah gue kenal.” Nathan pergi meninggalkan Cindy setelah puas memakinya.
Cindy menatap nanar punggung Nathan. “Bahkan setelah lo putus sama Widya lo tetep ngehina gue, Nath,” lirihnya. Sebutir air mata lolos dari sudut matanya, tetapi ia segera menghapusnya dengan kasar. “Apa gue seburuk itu di mata lo, Nath. Hingga hanya ada kebencian di mata lo buat gue,” gumamnya lagi. Masih ada rasa sakit di hatinya setiap mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut Nathan, hingga akhirnya ia putuskan untuk pulang.
***
Kekecewaan tengah merayapi hati Nathan. Pasalnya hari ini ia tak bertemu dengan Widya meski sudah menunggu hingga pukul tiga sore. Justru ia bertemu dengan Kartika dan Karin yang menatapnya penuh kebencian. Nathan bisa memaklumi sikap Karin dan Kartika. Nathan memutuskan untuk pulang.
***
“Aku mau sendiri, Vin. Tolong jangan ganggu aku!” ucapnya saat Vina menyambut kedatangannya di rumahnya.
Wajah Vina yang tadinya berseri menjadi muram. Belum sempat ia bicara, Nathan sudah mengunci kamarnya. Meski sesekali Nathan sudah mau bicara dengannya, tetapi sikapnya tak lagi seperti dulu. Nathan menjadi sosok yang begitu dingin dan tidak banyak bicara.
Vina bahkan memberi perhatian ekstra untuk Nathan. Mulai dari membawakan makanan kesukaan Nathan hingga menanyakan keadaan Nathan setiap hari lewat pesan singkat, meski hanya dibaca saja oleh Nathan tanpa ada balasan, Vina tak patah arang. Ia tetap berusaha mengambil hati Nathan kembali. Ia akan berusaha lebih keras.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini, Nath? Kalau kamu ngurung diri terus di dalam kamar, kapan aku ada kesempatan buat ambil hati kamu kembali?” batin Vina.
Sementara Nathan di kamar terus memandang gambarnya bersama Widya di layar ponselnya. Air matanya ia biarkan mengalir untuk mengurangi sesak di dada. “Aku bener-bener nggak bisa tanpa kamu, Yang. Aku kangen sama kamu. Tidak bisakah kita kembali bersama? Aku akan turuti semua keinginan kamu, termasuk meninggalkan Vina jika itu bisa membuat kamu maafin aku,” monolognya.
Puas meratapi kegundahan hatinya tiba-tiba ia ingat bahwa ia harus melakukan sesuatu. Dengan cepat Nathan menghubungi seseorang.
“Gue ada kerjaan buat lo. Buat perhitungan sama gadis yang gue kirim gambarnya. Gue mau hidupnya nggak tenang. Tapi ingat, tetap pada batasan!” perintahnya pada orang di seberang. Setelah mendapat jawaban Nathan memutuskan sambungan telepon.
“Lo bakal nyesel udah ngrusak hubungan gue sama Widya, Cin,” ujarnya penuh amarah.
...***...
Untuk pertama kalinya aku kasian sama Cindy yang jadi kambing hitamnya Vina. Gimana sama kalian? 😌
__ADS_1