
...****...
...Happy Reading...
...***...
Karin masih menangis dalam pelukan Edo, saat Widya kembali bersama baby By dalam gendongan Harsa.
"Rin, lo, kenapa?" Widya terlihat panik dan segera menghampiri Karin. Sorot mata Widya menuntut penjelasan dari Edo. Edo hanya tersenyum, sedangkan Karin segera berhambur memeluk Widya dengan masih terisak. Widya memegang kedua bahu Karin meminta penjelasan, tetapi kali ini muka Widya sudah tidak tegang seperti tadi.
"Lo, abis ditembak Edo, ya?" tanya Widya memastikan. Karin hanya mengangguk, menjawab pertanyaan Widya. Senyumnya mengembang, isak tangisnya juga mulai mereda. Terlihat jelas binar kebahagiaan di wajah cantik Karin.
"Wah, senangnya! Selamat, ya, Rin. Aku ikut bahagia. Baru juga diomongin tadi, langsung gercep Bang Edo," ucap Widya, ia begitu bahagia mendengar kabar itu.
"Makasih, Wid." ucap Karin. Widya dan Karin berpelukan kembali. Harsa dan Widya memberi selamat pada dua sejoli yang mungkin sebentar lagi juga akan segera menyusul ke pelaminan.
"Sayang, mereka kenapa, sih? Kok, aku perhatikan dari tadi kayak drama banget, gitu," tanya Kartika pada Zakir. Kartika yang memang sejak tadi juga memperhatikan para sahabatnya yang menurutnya aneh itu semakin penasaran. Di sela sesi foto wedding-nya, ternyata Kartika selalu memperhatikan mereka.
"Kita ke sana, yuk! Aku takut ada apa-apa sama mereka," tutur Kartika lagi. Tanpa menunggu jawaban Zakir yang sekarang sudah berubah status menjadi suaminya, ia segera menarik lengan Zakir menghampiri para sahabatnya. "Aduh, Ayang sabar, dong, jangan main tarik aja!" seru Zakir sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Kartika .
Kartika tak menanggapi ocehan Zakir, ia segera menghampiri Widya dan Karin. Saat tiba di depan mereka, ia segera mencecar kedua sahabatnya itu dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya panik tadi. Setelah dijelaskan, betapa bahagianya Kartika mendengar jika Karin dan Edo sudah jadian, begitu juga dengan Zakir. Mereka semua sangat bahagia.
"Wah ... selamat ya, Do! Akhirnya, lo laku juga. Dari sini gue baru tahu, ternyata ganteng bukan jaminan bakal laku duluan, ya. Dan yang selalu gigih berjuang pasti akan menang, kan?" ucap Zakir sambil menjabat tangan Edo.
"Sialan, lo, Zak. Mentang-mentang udah sah, lo ngledekin gue terus," protes Edo. Membuat para sahabat itu pun tergelak bersama.
...***...
Acara pesta pernikahan Zakir dan Kartika selesai sekitar pukul 22.00 WIB. Semua tamu undangan sudah pulang. Pesta pernikahan Kartika dan Zakir memang tidak diadakan di gedung seperti Harsa dan Widya dulu. Orang tua Kartika lebih suka mengadakan pesta di kediaman mereka.
Setelah berbincang-bincang sejenak bersama keluarga besar Kartika, kedua orang tua Zakir pamit untuk pulang. Meskipun sebenarnya ayah Kartika sudah meminta agar orang tua Zakir mau menginap di rumahnya.
"Apa tidak sebaiknya Pak Malik beserta Ibu menginap di sini saja? Kita sudah jadi besan sekarang, Pak, jangan sungkan-sungkan lagi. Anggap saja seperti keluarga sendiri, gitu," ucap Bagus–ayah Kartika.
__ADS_1
"Terimakasih sebelumnya, Pak Bagus, tapi lain kali saja, Pak. Takutnya kalau kami menginap sekarang, kita bakal lama dapat cucu, Pak," jawab Malik sambil tersenyum, lalu beralih pada Zakir, "Bukan begitu, Zak?" tanya Malik menggoda anaknya.
"Eh, ehm ... anu ... apa, sih, Pa." Zakir gelagapan menanggapi ucapan papanya. Begitu pun dengan Kartika yang ikut salah tingkah seperti suaminya.
"Sudah-sudah! Papa gimana, sih, malah diledekin terus anaknya. Kasian, kan. Mereka kelihatannya sudah lelah sekali, Pa." Santi menegur suaminya, lalu mengalihkan pandangannya pada kedua besannya. "Kita pamit dulu, ya, Pak, Bu!" pamit Santi yang diangguki oleh keduanya sembari mengulas senyuman.
Tidak lupa Santi menyapa perempuan yang baru beberapa jam lalu dinikahi oleh putranya. Seulas senyuman ia terbitkan sambil mengusap lembut pipi menantunya tersebut. "Tika yang sabar, ya, nanti! Soalnya, Zakir kalau tidur suka ngabisin tempat," celetuknya berkelakar. "Kamu juga, Zak." Santi menoleh pada Zakir, "inget, sekarang udah jadi suami! Harus bisa berbagi tempat tidur sama istrimu," pesan Santi pada anaknya.
Zakir dan Kartika saling menatap dan tersenyum kikuk, entah apa yang sedang mereka pikirkan. Zakir tidak habis pikir, kenapa orang tuanya malah membuka aibnya pada istrinya tersebut. Walaupun begitu, Zakir tetap berat melepaskan kepergian orang tuanya. Kedua orang tua Zakir pun segera pulang setelah memeluk Zakir dan Kartika bergantian.
...***...
Suara detik jam dinding tampak mendominasi suatu ruangan. Di dalamnya menguar suasana kecanggungan yang begitu kentara dari penghuninya yang hanya dua orang saja. Mereka adalah Zakir dan Kartika.
"Yang Beb, harusnya malam ini kita udah nempatin rumah baru kita, ya?" tutur Zakir membuka perbincangan di antara mereka. Zakir yang sedari tadi sudah selesai mandi, kini duduk di tepi ranjang sambil menghadap sang istri, yang masih sibuk di depan meja riasnya. Membersihkan sisa-sisa make up dan juga melepas sanggul yang membuatnya menjadi ratu sejagad seharian tadi.
Kartika tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin meja riasnya. "Nggak apa, kok, Yang. Cuma tiga hari aja, kan, kita di sini. Saudaraku masih pada ngumpul, jadi nggak enak juga kalau kita tinggalin mereka. Kita udah sepakat, kan, kemarin?" ucap Kartika.
Memang dari awal mereka sudah sepakat untuk segera pindah rumah setelah mereka menikah. Karena keluarga besar Kartika masih banyak yang menginap di rumah orang tuanya, mereka pun memutuskan untuk beberapa hari tinggal di rumah itu. Membuat Zakir jadi merasa bersalah pada Kartika.
Dengan segenap kepercayaan diri yang Zakir punya, dia pun beranjak dari duduknya dan memberanikan diri untuk menghampiri sang istri. "Yang Beb, buruan mandi, gih!" Zakir berbisik lirih di telinga Kartika sembari memeluk pinggang Kartika dari belakang.
Bugh!
Kartika yang terkejut langsung menyikut perut Zakir cukup keras. Membuat lelaki itu sontak mundur sambil memegang perutnya yang sebenarnya tidak terlalu sakit.
"Aww ... astaga, Yang. Kamu kenapa? Jahat banget sama suami sendiri!" pekik Zakir. Lantas ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai masih memegang perutnya sambil mengerang kesakitan. "Aduh, perut aku sakit banget, Yang," keluhnya. Ia sengaja menggoda Kartika.
Kartika yang tidak sadar dengan perbuatannya sontak terperanjat. "Maaf-maaf, Yang. Aku lupa, eh, nggak, deh. Aku kaget, kamu tiba-tiba muncul dari belakang terus berbisik kayak gitu. Ehm ... itu ... aku nggak biasa digituin. Jadi ... maaf, Yang, maaf ... mana yang sakit?" Kartika yang panik segera memeriksa perut Zakir, karena merasa bersalah.
Zakir melirik Kartika dengan senyum yang tertahan. Merasa lucu melihat istrinya yang panik sambil meraba perutnya dengan hati-hati. "Yang ini, Sayang. Aduh, panas banget di situ. Tolong tiupin, ya!" Zakir memegang tangan Kartika, lalu dengan sengaja memindahkannya pada perut bagian kanannya. Tidak sampai di situ ia menjaili istrinya. Zakir malah menarik sedikit kaos yang ia kenakan, agar menampilkan otot-otot perutnya yang bergelombang. Masih sambil meringis seolah menahan sakit. Tak ayal tangan Kartika pun bersentuhan langsung dengan kulit perutnya Zakir.
Kartika terdiam sejenak, jujur baru pertama kali ini ia melihat pemandangan seperti itu. Apalagi sampai harus meniup perut sixpack dengan napasnya yang menggebu. Sungguh, dalam mimpi pun Kartika tidak pernah melakukan itu. Kartika berada di ambang kebingungan. Ludahnya pun terasa kelat untuk dia telan. Rasanya ada desiran aneh yang berselancar dalam aliran darahnya.
__ADS_1
"Yang, buruan! Aku udah enggak tahan, nih. Sakit banget!" Suara Zakir mengembalikan kesadaran Kartika.
"I-iya, Yang, iya." Dengan sedikit ragu Kartika mendekatkan kepalanya pada perut Zakir. Namun, baru saja Kartika hendak meniup perut tersebut, tiba-tiba tangan Zakir menarik Kartika sehingga jatuh di atas tubuhnya. Sejenak mereka saling beradu pandang. Kartika mengerjap kebingungan melihat senyuman jahil yang membingkai bibir suaminya.
"Kalau kamu lakuin itu, aku semakin nggak tahan, Yang," lirih Zakir dengan tatapan penuh kabut asmara, "Buruan mandi, gih, tapi jangan lama-lama! Aku udah nggak sabar," tambah Zakir sambil mengedipkan sebelah matanya dan seringai yang berbeda.
Kartika yang sempat terbuai, akhirnya tersadar. Ia pun segera bangkit dari tubuh Zakir setelah memukul dada bidangnya. "Nyebelin, kamu, Yang! Bikin aku panik, tahu nggak, sih? Aku kira kamu beneran sakit," geram Kartika melampiaskan kekesalannya.
Zakir yang masih berbaring di lantai tertawa geli. Ia mencoba berdiri, lalu hendak meraih tangan Kartika lagi, tetapi perempuan itu segera beranjak berdiri dan berlalu ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian Kartika pun keluar dari kamar mandi. Ia sudah terlihat segar kembali dengan balutan midi dress yang biasa ia pakai untuk menjelajahi alam mimpi. Dengan perasaan berdebar, Kartika memindai seisi kamar. Berharap suaminya tidak lagi memberinya kejutan. Sorot matanya yang berkilauan berhenti di tempat tidurnya. Ia mendapati suaminya sudah mendengkur di atas sana. Sontak saja Kartika bisa bernapas lega. Setidaknya untuk malam ini ia terbebas dari tugas malam pertama.
"Untunglah, udah tidur," ucap Kartika pelan. Lalu berjalan mengendap-endap seperti maling yang takut ketahuan. Kartika naik ke atas ranjang dengan perlahan, berharap guncangan di kasur empuk itu tidak mengganggu ketentraman suaminya. Ia lantas membaringkan tubuhnya di samping Zakir. Hanya seperti itu saja sudah membuat jantungnya ketar-ketir. Kartika membalikkan posisi tubuhnya berbaring miring menghadap wajah suaminya.
Kartika tersenyum melihat ketampanan wajah suaminya tersebut. Tanpa terasa tangannya terulur dan membelai wajah itu dengan lembut. Hal itu membuat hatinya kembali berdenyut. Kartika menghentikan aktivitasnya, ia takut jika suaminya akan terjaga. Dengan segera ia mengubah posisi tidurnya jadi berbalik memunggungi suaminya, setelah itu ia memejamkan mata.
"Kenapa nggak diterusin, Sayang? Aku suka kalau tangan kamu menyentuh bagian tubuh aku."
Kedua mata Kartika sontak terbuka, tubuhnya pun refleks berbalik menatap seseorang yang berbisik di telinganya. Matanya kian membulat ketika wajah tampan yang ia sentuh tadi kini sudah berada di atas tubuhnya. Membingkai senyuman yang penuh makna.
"Kamu pikir bisa lepas dari aku malam ini, hem? Aku tidak sebaik itu, Honey."
Setelah berkata seperti itu, Zakir langsung membenamkan wajahnya pada wajah Kartika yang masih termangu. Ia menjelajahi setiap inci wajah istrinya dengan menggunakan indera pengecap yang dia punya. Tangannya pun bisa diajak kerja sama, ia merambah ke tempat lain yang belum pernah disentuhnya.
Kartika hanya bisa melenguh pasrah, mendapatkan serangan bertubi-tubi pada pusat pertahanannya. Ia tidak bisa menghindar apalagi melawan dari serangan gencatan senjata yang dilakukan oleh suaminya tersebut.
Zakir seperti kehilangan akal sehatnya, menggempur Kartika tanpa mau dijeda. Hal itu ia lakukan berulang-ulang, hingga sang fajar menjelang.
...***...
...To be continued...
...***...
__ADS_1
...Gimana, Readers? Puas, kan, sama bab hari ini? 🤣...
^^^Jangan lupa like, komentar, dan giftnya, ya 😘^^^