
...***...
Semua sudah terbukti. Sebuah keyakinan yang ia pegang justru membuatnya menjadi orang bodoh yang buta akan kebenaran. Ingin ia menumpahkan rasa kecewanya, tetapi ia sadar jika sebenarnya yang bersalah di sini adalah dirinya sendiri.
Ia yang tidak bisa melihat cara Vina menatapnya dengan penuh cinta dan damba. Berpikir bahwa Vina melakukan itu hanya karena rasa empati padanya. Ia terlalu menganggap remeh segala perhatian Vina padanya. Ia tidak mengartikan itu sebagai bentuk cinta, hingga akhirnya membuat Vina melakukan hal itu.
Yang lebih membuatnya kecewa adalah ia yang tidak bisa melihat kejujuran di mata Widya. Ia menghinanya, mempermalukannya, menuduhnya. Apa pun yang membuat wanita itu merasa terpojok dan tidak mampu membela diri, karena kekasihnya sudah tidak memercayainya.
Setelah kumpul dengan para sahabatnya tanpa ada Widya di sana, Nathan berharap semua akan kembali seperti semula. Ia sudah mengaku bersalah.
Namun, satu pertanyaan yang muncul dalam pikiran Nathan, dari mana Cindy mengetahui semua tentang dirinya? “Ah! Masa bodoh dengan dua gadis penipu seperti mereka. Aku sudah tidak peduli lagi!” geram Nathan.
...*** ...
Nathan menjalani rutinitas seperti biasa walaupun rasa bersalah masih ia rasakan. Ia mencoba merelakan apa yang menimpa dirinya. Mulai dari kepergian Widya, dimanfaatkan oleh Vina dan Cindy. Bahkan mamanya pun kecewa saat Nathan menceritakan semua padanya.
“Mama sudah tahu, bahwa bukan Widya pelakunya,” ungkap Liana setelah Nathan menceritakan tentang sikap Vina padanya. “Mama dulu sudah menyuruh Nathan untuk jangan terlalu percaya. Semua harus kamu buktikan sendiri. Bukankah papa dulu juga pernah bilang, jangan pernah percaya pada siapa pun, sekalipun itu adalah saudaramu?” Begitulah nasihat Liana padanya.
Namun, semua sudah terjadi. Waktu tidak bisa diulang. Yang harus ia lakukan adalah memperbaiki kesalahan yang dulu agar tidak terulang lagi, semoga saja tidak terlambat.
Beberapa hari ini, Nathan pun memilih meninggalkan rumahnya. Menyewa sebuah apartemen di kawasan tengah kota yang lebih dekat dengan kampusnya. Ia ingin menyendiri dan menenangkan pikiran.
Liana juga berkali-kali menghubunginya, mengatakan bahwa Vina ingin sekali bertemu dengannya. “Udahlah, Ma. Bilang aja Nathan udah mulai sibuk untuk persiapan skripsi!”
Nathan benar-benar enggan menemui Vina. Namun, Vina tidak menyerah. Semenjak kepulangan mereka dari club, Vina merasa ada perubahan pada diri Nathan. Padahal saat mereka berangkat, Nathan baik-baik saja, bahkan ia yang mengajak Vina untuk bertemu. Namun, sekarang Nathan seperti menghindarinya. Nomornya juga tidak bisa dihubungi sama sekali.
“Apa aku mengatakan sesuatu saat mabuk? Apa aku salah bicara? Ada apa dengan Nathanku?” tanya Vina frustrasi. “Kalau tidak ada apa-apa, kenapa nomor teleponku kembali di blok?”
Saat ia bertanya kepada mama Nathan, ia pun tak menjawab pertanyaannya, justru memintanya untuk segera berkata jujur. Mengapa mama Nathan juga berkata demikian? Jujur tentang apa? Vina tidak mengerti maksud dari pertanyaan mereka.
Hingga Vina pun nekat untuk menemui Nathan di kampus. Di sana, ia bertemu dengan Cindy. “Cin, kamu tau Nathan di mana?”
__ADS_1
Cindy tersenyum masam. “Cari aja sendiri! Iya kalo Nathan mau ketemu sama lo, kalau nggak? Apa nggak makin malu muka lo?” sinis Cindy.
“Kamu kenapa sih, Cin?” Bukannya menjawab pertanyaan Vina, Cindy justru pergi berlalu meninggalkan gadis itu.
Ia juga sempat bertemu dengan beberapa sahabat Nathan dan jawabannya pun sama, mereka lebih memilih menghindar daripada menjawab pertanyaannya. Hingga Vina mendengar ponselnya berbunyi dan segera mengangkat tanpa melihat namanya.
“Kamu di mana, Nath?”
“Aku di depan apartemenmu, Sayang.”
“Exel?” Vina menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat nama di layar. “Sial!” umpat Vina.
“Kenapa kaget, Sayang?”
“Kamu ngapain di apartemenku? Aku lagi keluar!”
“Kamu lagi cari mantan tunanganmu? Dia nggak akan mau nemuin kamu. Dia marah dan kecewa sama kamu.”
“Bohong! Apa yang sudah kamu katakan sama Nathan?”
Vina mulai kesal, hingga indera pendengarannya menangkap suara Nathan. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, dan benar. Nathan baru saja keluar dari perpustakaan dan sedang berjalan bersama temannya.
“Nathan!” Vina berteriak.
Nathan yang mendengar suara Vina yang memanggilnya, berupaya menghindari dengan cara berpura-pura tidak mendengar dan melanjutkan langkah kakinya. Hingga ia akhirnya dihadang oleh gadis yang sangat tidak ingin ia temui itu.
“Kamu ke mana aja?” tanya Vina terengah, setelah berlari mengejar Nathan.
“Gue duluan, Nath!” pamit seorang laki-laki yang tadi bersama Nathan. Nathan hanya menjawab dengan mengacungkan jempol.
Walaupun ia ditinggalkan bersama Vina sendirian, tidak mengurungkan niatnya untuk berjalan. Ia masih tetap melanjutkan langkahnya, hingga membuat Vina kesusahan untuk mengimbangi.
Vina masih berusaha untuk membuat Nathan berhenti dengan menarik tangannya. Namun, Nathan segera menepisnya. “Kamu kenapa, Nath?” Terdiam sejenak. Vina menatap punggung Nathan yang masih menjauhinya. “Kalo aku ada salah, aku minta maaf. Apa saat aku mabuk, aku melakukan sesuatu yang menyakiti kamu?” lanjut Vina. Karena tidak mendapat jawaban, Vina pun mulai geram. “Tolong jawab, Nath!” teriak Vina kesal.
__ADS_1
Nathan pun menghentikan langkahnya. Menatap gadis yang sudah menghancurkan kisah asmaranya bersama Widya. “APA YANG HARUS GUE JAWAB, HAH?” bentak Nathan tak kalah kencang, hingga membuat semua mahasiswa yang berada di sekitar mereka mengalihkan perhatian pada mereka berdua.
Vina mulai ketakutan mendengar teriakan Nathan. “Lo yang mestinya ngejelasin semuanya! Lo pura-pura bodoh dan gue ikutan bodoh karena lo!” Nathan mulai menunjuk wajah Vina dengan jari telunjuknya, pertanda ia sudah sangat marah.
“Apa yang harus aku jelasin, Nath? Aku salah apa?” tanya Vina dengan suara bergetar. Matanya mulai berair.
Nathan menghela napasnya. “Jangan pura-pura nangis lagi deh, lo! Gue nggak akan ketipu lagi! Gue udah tau semuanya, apa yang udah lo lakuin ke Widya, dan sebab lo ngelakuin itu semua! GUE UDAH TAU!” Nathan menekankan kalimat terakhirnya.
“Dan lo tau? Gue udah benci banget sama lo! Lo udah buat hubungan gue sama Widya hancur dan itu juga buat gue hancur, Vin! Gue muak sama sandiwara lo, jadi jangan pernah muncul lagi di hadapan gue! Lo temen terbrengsek yang pernah gue punya.” Wajah Vina mulai pucat. Ia menundukkan wajahnya takut, karena melihat pancaran kemarahan dari mata Nathan.
Ia terlalu kaget mendengar ucapan Nathan. Apa yang diketahui laki-laki di depannya? Widya? Apa dia sudah tahu kejadian di kolam renang dan semua perbuatannya? Namun, Vina mencoba mengatur napasnya untuk mengembalikan degup jantungnya.
“Jangan pernah temuin gue lagi, atau gue bakal la-” Ucapan Nathan terhenti. Vina mengangkat kepalanya dan melihat seorang gadis berdiri di samping Nathan.
***
Widya sedang berjalan ke luar dari kantor kampus setelah mengurus administrasi, saat melihat beberapa mahasiswa berkumpul seperti menonton sebuah pertunjukkan. Bercampur suara beberapa mahasiswa yang sudah mulai berbisik, Widya juga menangkap dua suara yang dikenalnya. Itu suara Vina dan Nathan. Namun, intonasi suara Nathan terdengar tidak normal.
Widya segera menghampiri sekumpulan mahasiswa itu untuk melihat apa yang terjadi, dan benar. Ia melihat Nathan sedang berdiri di depan Vina dengan sorotan mata yang penuh amarah. Bahkan, lebih dari kemarahan yang ia terima beberapa waktu yang lalu. Ia tidak tega melihat Vina ketakutan dari Nathan yang sudah dikuasai emosi.
Widya berjalan menghampiri Nathan dan segera menggenggam tangannya, berharap agar Nathan segera menyudahinya. “Sudah, Nath!”
Nathan menatap sejenak wajah memohon Widya di sampingnya, kemudian Nathan menutup matanya. Ia mengumpulkan kembali kesadarannya saat menyadari apa yang sudah ia lakukan dan ucapkan, membuat semua orang menatapnya.
Emosinya sudah menguasai pikiran dan akalnya. Membuatnya mengeluarkan sisi lain dari seorang Nathan. Ia benci melakukan ini, mengeluarkan semua amarahnya tanpa terkontrol lagi.
...***...
No coment, ah, Nath. 😌
Ada yang mau salin komentar aku di kolom komentar? Tapi like dulu, ya 😅
__ADS_1
Cuuss.... gasss! 💃💃