Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 121


__ADS_3

...***...


...Happy Reading...


...***...


Widya diboyong oleh Harsa menuju kamar pengantin mereka. Perasaan berdebar dan ketakutan meliputi seorang Widya. Ini adalah kali pertamanya ia tinggal sekamar dengan seorang laki-laki. Namun, ia harus siap, karena sekarang statusnya sudah menjadi seorang istri.


"Yuk, masuk!" Suara Harsa mengembalikan kesadaran Widya. Perempuan yang sudah menyandang predikat Nyonya Harsa itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Betapa terkejutnya dia, melihat kamar yang sudah disulap sedemikian cantiknya. Kesan romantis dan manis ia tujukan untuk si penyihir ruangan itu. Siapa lagi kalau bukan Harsa.


Kamar itu dilingkupi cahaya redup, dengan ribuan kelopak bunga mawar yang bertaburan di mana-mana. Terutama di tempat tidur mereka, kelopak bunga itu disusun seperti bentuk hati dan bertuliskan kata 'I love you, my wife' di tengahnya.


Widya begitu tersentuh, ia menutup mulutnya yang sedikit ternganga karena saking tercengangnya. Tanpa sadar air matanya pun ikut meleleh mengiringi rasa bahagia. Widya sangat bersyukur, bisa menjadi perempuan yang sangat dicintai Harsa.


"Kenapa nangis? Nggak suka sama dekorasinya?" Harsa yang melihat istrinya malah menangis, bertanya dengan khawatir. Menangkup kedua pipi Widya sembari menyelami kedua netra yang mengeluarkan air mata.


Bukannya menjawab, Widya malah menghambur memeluk tubuh suaminya. "Terima kasih, I love you too," ucapnya tertahan di balik dada sang suami.


Harsa tersenyum. Ia yakin jika tangis istrinya adalah tangis bahagia. Harsa masih bisa mendengar samar ucapan istrinya, tetapi ia ingin mendengar dengan jelas perkataan Widya barusan. "Kamu ngomong apa?" tanyanya pura-pura tidak mendengar.


Widya menundukkan kepalanya, tetapi Harsa langsung mengangkat dagu rungcing istrinya agar mendongak. "Aku nggak denger kamu ngomong apa barusan. Kenapa kamu menangis, Sayang?" Harsa mengulangi pertanyaannya.


Sejenak, kedua netra mereka terkunci dalam diam. Widya menatap manik mata Harsa yang berbinar, begitu pun dengan Harsa, menatap bulir-bulir kristal yang mengkilat di pelupuk mata Widya. Sesekali tangannya mengusap lelehan cairan bening yang masih mengalir di pipi Widya. Usapan tangannya merambah sampai ke bawah, dan berhenti di belahan bibir Widya yang terbuka secelah.


Widya masih diam saja, sampai tanpa dia duga tangan Harsa perlahan berpindah pada ceruk lehernya, lalu sedikit menekannya. Harsa menundukkan kepala, mendekatkan wajahnya dengan wajah Widya. Tujuannya hanya satu, bibir berwarna merah itu.


Harsa seolah tersengat aliran listrik yang berkekuatan magis. Kekuatan itu menjalar ketika tangannya bersentuhan dengan kulit Widya. Terasa berdenyut sampai ke pusat intinya.


Setelah wajah mereka hampir tak berjarak, Widya pun terjaga. Tangannya dengan refleks mendorong tubuh suaminya. "Aku mau mandi dulu," ujar Widya sambil berbalik menghindar. Ia berusaha menenangkan detak jantungnya yang begitu berdebar-debar.


"Tunggu dulu, Yang!" Harsa menahan tangan Widya, membuat perempuan itu tertahan di tempatnya. "Aku ... minta maaf karena tadi udah lancang," ucapnya lagi merasa menyesal. Ia takut jika istrinya keberatan.


Ucapan permintaan maaf dari Harsa membuat tubuh Widya berbalik, lalu menatap wajah yang Harsa yang terlihat lesu seperti menahan sesuatu. "Kenapa minta maaf? Aku udah sah menjadi istri kamu. Jadi kamu bebas melakukan apa pun sama aku. Asal nggak nyakitin aku aja." Widya berkata sambil meringis malu.

__ADS_1


Binar cerah kembali terpancar di bola mata Harsa. Lelaki itu kembali menarik tubuh Widya agar masuk ke dalam pelukannya. "Benarkah? Aku boleh melakukan apa saja? Terutama itu ...." Harsa tidak berani mengucapkan hal yang menurutnya masih tabu, ia juga merasa malu.


Widya tersenyum tipis, ia sembunyikan wajahnya di dada bidang Harsa. Anggukan kepala yang terasa bergesekan dengan dada suaminya, ia anggap sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya tadi.


Harsa yang gemas dengan tingkah Widya mendekap tubuh istrinya itu dengan lebih erat, tetapi hanya sejenak, sebelum ia mendorong tubuh itu sekadar memberikan sedikit jarak. "Ya, udah. Kamu mandi duluan, gih! Abis itu baru aku," titahnya sambil tersenyum lucu.


Widya tidak berani menatap wajah suaminya. Ia masih menundukkan kepala sambil menjawab, "iya."


Harsa melepaskan tubuh Widya, dan perempuan itu langsung berlari menuju kamar mandi.


"Sayang, kamu butuh bantuan, nggak, buat ngebuka gaunnya?" Harsa berteriak di balik pintu kamar mandi yang sudah terkunci dari dalam. Mencoba menggoda Widya yang sedang ketakutan.


"Nggak usah. Aku bisa sendiri," jawab Widya dari dalam sana.


Harsa terkekeh lalu melangkahkan kakinya ke tempat tidur. Merebahkan tubuhnya yang lelah dan membuat tumpukan kelopak mawar itu jadi hancur. Senyuman tengil tidak pernah lepas dari bibirnya. Pikiran Harsa sudah travelling ke mana-mana. "Sayang, jangan lama-lama!" teriaknya lagi tanpa mengubah posisinya.


...***...


Dua puluh menit kemudian Widya keluar dari dalam kamar mandi. Perempuan itu sudah mengenakan jubah mandi yang sudah disediakan oleh pemilik hotel di dalam kamar mandi tersebut.


"Lihatnya jangan kayak gitu! Aku malu." Suara Widya membuat Harsa terjaga. Ia tersenyum, lalu menurunkan kakinya dari atas ranjang sebelum berjalan menghampiri istrinya. Setelah dekat, Harsa mencondongkan kepalanya mendekati tubuh Widya. Mencium aroma menyegarkan yang menguar dari tubuh istrinya.


Widya tidak diam saja. Ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari sang suami. Tentu saja dia malu dengan perlakuan Harsa tersebut. "Se–sekarang giliran kamu yang mandi, Yang!" titahnya dengan gugup.


Harsa mendesah pasrah. Rasa yang sudah mencuat dalam tubuhnya ingin dituntaskan dengan segera. Namun, tubuhnya yang terasa lengket oleh guyuran keringat atas kerja kerasnya hari ini, mengharuskannya untuk mandi. Ia pun tidak bisa membantah perintah sang istri.


"Aku mandi dulu. Kamu tunggu aku di tempat tidur!" Kalimat itu terlontar begitu lembut dari bibir Harsa. Lelaki itu berbisik di telinga istrinya.


Widya menelan ludahnya kelat. Bisikan Harsa membuat jantungnya berdebar begitu hebat. Tubuhnya meremang seketika, apalagi saat Harsa yang masih tertahan di pintu kamar mandi itu kembali berkata, "Jangan dulu tidur, ya! Dan ... jangan ganti bajunya!"


Harsa masuk ke kamar mandi setelah memberikan perintah kepada istrinya. Sedangkan, Widya duduk menunggu di tepi tempat tidur sambil menenangkan debaran jantungnya.


Hanya sepuluh menit Harsa menghabiskan waktunya untuk membersihkan diri. Widya sempat tercekat karena suaminya mandi begitu cepat sekali.

__ADS_1


Widya mengangkat kedua kakinya ke atas ranjang lalu menggusur tubuhnya ke belakang, manakala ia melihat suaminya datang sambil tersenyum riang. Harsa merangkak naik ke atas ranjang, menyusul sang istri yang menurutnya sudah siap menantang.


Widya mengerjap kaku. Tubuhnya sedikit gemetar, melihat tubuh suaminya yang begitu kekar. Tubuhnya tidak bisa bergerak saat dirinya sudah terdesak. Tanpa dia sadari tubuhnya dengan mudah dikuasai.


"Kita mulai sekarang?" tanya Harsa hati-hati.


"Harus sekarang, ya?" Widya malah balik bertanya, tetapi Harsa tidak lantas menjawabnya. Lelaki itu hanya menatap Widya dengan tatapan penuh damba.


Widya mengerti tatapan itu. Helaan napasnya terdengar pasrah, sebelum dirinya menganggukkan kepala tanda menyetujui permintaan suaminya. "Pelan-pelan, ya!" pinta Widya malu-malu.


Harsa pun tersenyum cerah. Binar bahagia terpancar dari netranya yang terbuka sempurna. Kepalanya mengangguk penuh semangat, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening istrinya. "Aku akan pelan-pelan," ucapnya menyakinkan. Widya mengangguk lagi.


Setelah mendapatkan persetujuan dari sang istri. Harsa menegakkan tubuhnya lagi sekadar untuk menarik selimut yang berada di belakang tubuhnya. Ia pakai selimut itu untuk menutupi tubuhnya dan tubuh istrinya.


Di dalam selimut itu, Harsa akan menapaki bukit lembah bermadu. Menyusuri jalanan berbukit dengan semangat yang menggebu, dan meninggalkan jejak kepemilikan di setiap tempat yang membuatnya merasa candu.


...***...


...To be continued...


πŸ§›β€β™€ : Kurang panas, Thor.


πŸ™‹ : Simpen aja HP di atas kompor.


πŸ§›β€β™€οΈ : Hilih, adegan malam pertamanya, bukan HPnya.


πŸ™‹: Jangan mikir panas dulu. Dah ngasih vote belum?


πŸ§›β€β™€οΈ : Kalau lebih panas, ane kasih votenya tiga.


πŸ™‹ : Bo'ong, dosa!


πŸ§›β€β™€οΈ: Kagak.

__ADS_1


πŸ™‹: Ya, udah. Othor mau tidur dulu. Kali aja mimpi panas-panasan. Buat besok tayang.


πŸ§›β€β™€οΈ: πŸ™„


__ADS_2