Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 105


__ADS_3

...***Happy Reading***...


...***...


Sepulang dari menonton film, mereka pun segera menuju foodcourt untuk memesan makanan. Tak lupa mereka juga menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di mall setelahnya.


Hal ini dimanfaatkan Zakir untuk melancarkan aksinya. Ia memasuki beberapa toko baju, kemudian menanyakan harganya. Dan pada akhirnya, ia akan mengatakan permintaan maaf karena barang yang ia pilih tidak disukai oleh kekasihnya. Hal itu membuat semua sahabatnya tertawa.


Sedangkan Kartika selalu menutup wajahnya. Ia benar-benar malu, karena ialah yang menjadi korban keisengan Zakir. Memanggilnya dengan sebutan ‘ayang’ dan selalu mengajaknya untuk memasuki toko bersamanya. Kartika yang malang.


...*** ...


Harsa langsung berbaring di kasurnya, setelah mengantar Widya kembali pulang ke rumah. Seperti biasa, ia akan menatap langit-langit kamarnya dengan membayangkan wajah seseorang. Wajah yang selalu membuat tidurnya lebih nyaman dan bangun dalam keadaan segar.


Wajah itu selalu mampu mengalihkan semua yang ada di depannya. Bahkan, ia tak menyadari bahwa Evi sudah berdiri di dekatnya. “Widya cantik, ya?”


Harsa hanya mengangguk dan tersenyum, sambil terus menatap langit-langit kamarnya. Hingga ia menyadari siapa yang baru saja mengajaknya bicara, membuatnya langsung terbangun. “Eh, Ma. Sejak kapan Mama di sini?” tanya Harsa gelagapan.


“Sejak kamu senyum-senyum sendiri sampai mengabaikan mama yang udah lama nunggu di depan kamar kamu,” jawab Evi, kemudian duduk di tepi tempat tidur.


“Maafin Harsa, Ma,” jawab Harsa menunduk sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Kamu beneran suka sama Widya?” tanya Evi yang langsung mendapat tatapan kaget dari Harsa. “Mama cuma nggak mau kejadian yang dulu terulang lagi. Kamu udah dewasa, loh. Bukan saatnya main-main sama perasaan anak gadis orang. Apalagi ini Widya. Orang yang dulu pernah kamu buat kecewa. Mama kasian sama Widya, Sa.”


Harsa mengerti kekhawatiran mamanya. Ia pun paham dengan situasi yang terjadi saat ini. Ia pernah membuat Widya kecewa, dan sekarang Widya begitu mencintai Nathan.


Harsa mengamati wajah mamanya dengan pikiran yang berkecamuk. Antara mundur, atau terus melanjutkan niatnya untuk kembali mendekati gadis itu. Ia ingin menjadi alasan untuk gadis itu bisa tersenyum lagi. Seperti hadirnya sosok Nathan dalam hidupnya selama ini.


Harsa tahu pasti, bahwa ia memang tidak akan bisa menggantikan posisi Nathan di hati Widya. Ia hanya ingin melanjutkan tugas Nathan, yaitu membahagiakan Widya.


Tanpa disadari, garis bibirnya pun terangkat membentuk sebuah senyuman. Ia sudah menentukan jalan yang akan ia ambil.


“Kenapa kamu malah senyum-senyum gitu? Aneh. Tadinya mama mau kasih tau kamu, buat kabari Widya kalau besok mama sama papa mau ke rumahnya.”

__ADS_1


Harsa kaget mendengar permintaan mamanya. Wajahnya langsung berubah tegang. “Eh! Mama mau ngapain? Jangan aneh-aneh ya, Ma.”


Evi mengernyit bingung. “Aneh gimana? Kamu mikirnya kejauhan,” ujar Evi seraya bangkit dari duduknya. “Kita ke sana itu mau silaturahmi. Kamu pikir mama sama papa mau ngelamar Widya? Pikirin dulu kata-kata mama, sebelum minta mama melakukan itu!” Evi pun meninggalkan Harsa yang tertunduk malu.


...*** ...


Semalam, setelah Harsa mengabari jika keluarganya akan datang untuk silaturahmi, ia langsung memberitahu Arini dan Bowo. Alhasil, pagi-pagi sekali Bowo sekeluarga sudah sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan semuanya. Dari membuat kue kering hingga menyiapkan beberapa menu makanan untuk sekalian makan bersama.


Tepat jam sembilan keluarga Harsa datang. Setelah berbasa-basi, Bowo langsung menyeret Rendra untuk menemaninya bermain catur di teras rumah. Sedangkan Harsa dan Widya hanya mendengarkan para ibu-ibu mengobrol tentang beberapa teman dan sifatnya yang berbeda-beda. Sesekali Harsa dan Widya hanya menjawab ‘iya’ dan ‘tidak’ saat mereka ditimpali pertanyaan oleh kedua ibu tersebut.


Sesuai perkataan Evi kemarin, ternyata kedatangan mama dan papanya memang murni untuk bersilaturahim. Terbukti dengan Evi yang tak pernah membahas tentangnya dan Widya.


“Alhamdulillah ... tante lihat, Widya juga sudah kembali seperti dulu. Terlihat ceria dan aura bahagianya keliatan sekali,” puji Evi.


“Iya, Tan, Alhamdulillah. Ternyata capek, kalo sedih terus,”ujar Widya sambil terkekeh.


“Nah ... gitu, dong,” ucap Evi, membuat Widya dan Arini tergelak.


“Jangan, Jeng. Terlalu merepotkan, nanti. Biar Jeng dan suami yang ikut mendampingi anak-anak. Terlalu banyak biaya kalau semua orang tua ikut,” ucap Arini memberikan saran. Ia tidak ingin membebani orang tua Harsa.


“Tak apa, Jeng. Nanti–”Ucapan Evi terpotong saat melihat Bowo dan Rendra masuk ke dalam rumah. Disusul orang tua Nathan dan kedua adik kembar Nathan.


“Kak Widya ....” si Kembar yang melihat Widya langsung berlari dan menghambur ke pelukannya. “Kita kangen sama Kak Widya.”


“Kakak juga kangen sama kalian,” ucap Widya. Ia lalu mengurai pelukannya, untuk kemudian menyambut pelukan dari papanya Nathan dan berakhir memeluk Liana. Ia begitu merindukan keluarga ini, terutama anak pertamanya–Nathan.


Bowo tak lupa mengenalkan kedua orang tua Harsa pada Daniel dan Liana. Meski masih terasa sedikit canggung, tetapi mereka bisa mengatasi semuanya. Evi dan Liana adalah orang-orang yang ramah. Begitu juga dengan Daniel dan Rendra.


Begitu lama Liana memeluk Widya, hingga tak sadar bahwa ia meneteskan air matanya. Ia langsung mengusapnya dan mengurai pelukannya pada Widya. “Widya sehat, Sayang?” tanya Liana. Widya mengangguk.


Liana tersenyum, lalu mengusap pipi Widya. Widya mencoba menahan tangisnya, namun gagal. Ia kembali mendekap ibu dari orang yang dicintainya, membuatnya kembali terisak.


Semua orang yang melihat interaksi kedua wanita itu pun tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya, terutama Arini. Sesekali ia mengusap air matanya yang berulang kali menetesi pipinya. Sedangkan Bowo pun terus menguatkan istrinya.

__ADS_1


“Jangan nangis lagi ya, Nak! Biar Nathan juga tenang di sana,” ucap Liana sambil terus mengusap punggung Widya yang bergetar. Widya pun kembali mengangguk di pelukan Liana.


Liana kembali mengurai pelukannya dan menatap Widya dengan tatapan sendu. “Nathan titip pesan lewat mimpi mama semalam, jika Widya harus kembali ceria supaya Nathan juga bahagia meninggalkan Widya di sini.”


“Iya, Ma. Widya bakal bahagia di sini. Tapi, kenapa Nathan nggak datang di mimpi Widya? Apa dia marah sama Widya?”


Liana menggeleng dan mengusap air mata Widya yang tak berhenti mengalir. “Nggak, Sayang, nggak. Mungkin Nathan nggak mau Widya sedih. Jadi, dia titip pesan lewat mama.” Liana mencoba menenangkan Widya. “Setelah ini, mama, papa, dan si Kembar udah nggak tinggal di Indonesia lagi. Widya harus baik-baik di sini. Sering-sering telepon mama, ya?”


“Mama mau ke mana?” tanya Widya kaget.


“Kami semua mau kembali ke Singapura. Tapi, sesekali bakal ke Indonesia, buat jenguk Nathan. Kami sekeluarga ke sini untuk pamit,” jelas Liana.


Widya pun tersenyum, mencoba mengerti posisi Liana. “Kalian juga harus sehat-sehat di sana. InsyaAllah Widya selalu kirim kabar, Ma. Widya juga bakal sering mengunjungi Nathan. Widya boleh ikut nganter ke Bandara?”


“Nggak usah, Nak. Widya di sini aja, nemenin bunda. Itu ada Nak Harsa dan keluarganya juga, masa mau ditinggal?”


Widya mengangguk. “Ya udah. Mama hati-hati, ya!” pinta Widya. “Elen, kabari Kakak kalau sudah sampai, ya?”


“Siap, Kak,” jawab Elen sambil menunjukan ibu jarinya.


Setelah berpamitan dengan keluarga Widya dan Harsa, keluarga Nathan pun langsung meninggalkan rumah Widya.


Mereka hanya mengantar sampai pintu gerbang. Arini tak hentinya merengkuh putrinya untuk memberikan kekuatan, begitu juga Evi. Beruntung Widya masih memiliki orang-orang yang begitu menyayanginya, hingga ia tak pernah kehilangan kasih sayang setelah kepergian Nathan.


Setelah melepas kepergian keluarga Nathan, mereka melanjutkan acara silaturahmi dengan makan bersama.


...***...


**To be continued....


Jadi inget Nathan lagi, kan. 😭


Jangan lupa dukungannya, readers**.

__ADS_1


__ADS_2