Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 93


__ADS_3


...***...


Senja telah berganti warna dengan gelapnya malam. Banyak bertabur bintang-bintang yang sinarnya terlihat begitu kecil, walaupun sejatinya dia cukup besar. Begitulah kiranya yang dirasakan Harsa pada Widya. Dia pikir, perasaannya pada Widya sudah mulai mengecil, karena dengan ikhlasnya dia membiarkan Widya memilih dan menikah dengan Nathan. Namun, rasa sesak di dadanya dan perasaan yang terasa kacau setelah melihat keadaan Widya seakan membuktikan bahwa rasa cintanya masih cukup besar pada gadis itu.


"Kenapa sesakit ini ketika melihat keadaanmu sekarang, Wid? Ingin sekali aku memelukmu dalam dekapanku, memberimu kebahagiaan dan ketenangan. Namun, bisakah aku memberimu rasa bahagia dan tenang, jika bukan aku sumber kebahagiaanmu?" Tanpa disadari, air matanya mengalir lembut ke pipi, kemudian ia hapus dengan kasar sambil menghela napas.


Setelah pulang dari rumah Widya, Harsa bergegas membersihkan diri. Berharap setiap tetesan air dari lubang-lubang kecil shower bisa memberinya ketenangan. Ia teringat kembali saat Widya berniat mengakhiri hidup. Tidak bisa dia bayangkan jika dia benar-benar kehilangan Widya dengan cara setragis itu. Dia sudah mencoba mengikhlaskan Widya, karena ingin melihat gadis itu bahagia. Bukan malah semakin menderita dan kacau seperti sekarang. Selepas mandi, dia pergi ke balkon kamarnya. Diamatinya langit malam dengan tatapan kesedihan.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu kembali ceria, Wid?" tanyanya dalam hati sambil mengacak rambut basahnya dengan frustrasi. Ia meluapkan emosi dengan berteriak, "Nat, kenapa lo pergi secepat ini? Kenapa lo pergi dengan cara setragis ini? Ternyata hidup tanpa saingan itu nggak seru dan nggak menantang, Nath. Please, balik, Nath! Jangan jadi pengecut! Katanya lo mau membahagiakan Widya, kenapa justru buat dia menderita lagi seperti sekarang, Nath?" Ocehan Harsa terdengar lirih menahan tangisan. Bagi Harsa, Nathan bukan hanya saingan, tetapi juga sahabat yang baik. Hal itu membuat Harsa merasa kehilangan.


Ketukan dari arah pintu kamar menyadarkan Harsa yang sedang meratapi kesedihan. Bukan hanya karena kehilangan Nathan, lebih tepatnya karena melihat kondisi Widya saat ini.


"Sa, nggak makan malam dulu? Papa sudah nunggu di bawah." Suara Mama Harsa–Eviyana terdengar di balik pintu. Mama Evi merasa khawatir, karena tidak seperti biasanya Harsa terlambat di meja makan. Lelaki itu akan berada di sana terlebih dahulu, bercerita dengan mamanya saat menyiapkan makanan.


"Iya, Ma, bentar lagi Harsa turun." Setelah mendengar jawaban dari anaknya, Evi pun meninggalkan kamar Harsa dan kembali menuju ruang makan.


Sesampainya Harsa di ruang makan, ia menyapa papanya dan meminta maaf. "Maaf, Pa, Harsa terlambat."


"Hemm." Setelah mendengar jawaban singkat dari papa Rendra, Harsa segera mengambil nasi dan lauk pauk untuk disantapnya dalam diam.


"Sa, bagaimana keadaan Widya?" Pertanyaan Evi menghentikan aktivitas Harsa yang akan menyuapkan nasi terakhir, membuat wajahnya berubah sendu. Akhirnya diletakkan kembali sendok itu.

__ADS_1


"Belum ada perubahan. Harsa kasihan, Ma. Dia belum bisa menerima kepergian Nathan. Pikirannya masih kacau dengan kesedihan yang dia rasakan, Ma." Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Harsa menceritakan keadaan Widya, tetapi tidak dengan niat bunuh dirinya. Karena bagi sebagian orang mempunyai niat bunuh diri itu hal yang tercela, Harsa tidak mau orang tuanya berpikiran yang sama kepada Widya.


Sedangkan Evi sendiri sudah mengenal Widya, karena Harsa sudah sering menceritakan gadis itu padanya semenjak SMA. Saat Harsa mempermainkan gadis itu dan menyadari perasaannya pada Widya. Sejak saat itu, Evilah yang menjadi tempat curhat paling aman baginya dan bukan sahabatnya. "Ma, kira-kira Harsa harus bagaimana untuk membuat Widya melupakan kesedihannya?"


"Jadi, dari tadi galau karena memikirkan keadaan Widya?" Candaan Rendra langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya. Pasalnya, ia bercanda di saat anaknya sedang menahan air mata.


"Papa ini. Orang lagi sedih, malah diledekin," jawab Harsa dengan sewot. Papanya itu akan terlihat menyeramkan ketika peraturan di rumah dilanggar, tetapi akan menjadi humoris sewaktu-waktu tanpa diduga.


"Kamu ajak aja ngumpul sama teman-teman, Sayang," saran Evi sembari mengelus punggung tangan anaknya. "Mungkin itu bisa mengalihkan kesedihannya. Jika dibiarkan menyendiri terus, tentu dia akan semakin melamun dan memori tentang Nathan akan terus terkenang."


Harsa sejenak berpikir. Senyum mengembang pun terlukis di bibirnya ketika mendapatkan saran dari sang mama. "Nanti Harsa coba, Ma." Jawaban Harsa ditanggapi oleh Evi dengan menepuk punggung Harsa, tanda memberi semangat.


"Sepertinya papa cuma jadi obat nyamuk, ya." Ucapan Rendra membuat atensi Harsa dan mamanya teralihkan. Membuat anak dan ibu itu geleng-geleng kepala dibuatnya.


Beberapa hari ini Harsa merasa bingung dengan keputusan akhir yang fifty-fifty. Harsa pun mencoba untuk mengirim pesan kepada Widya. Namun, yang terjadi justru hanyalah mengetik lalu menghapusnya. Hal itu dilakukannya berulang-ulang tanpa ada satu pesan pun yang terkirim. Harsa ragu, jika pesan itu tidak akan dibaca oleh Widya. Akhirnya Harsa putuskan untuk menelepon Widya.


...***...


Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian Widya yang ingin mengakhiri hidupnya. Arini dan Bowo lebih ketat dalam mengawasi Widya. Widya sendiri merasa lebih tenang. Ucapan Harsa di danau itu terasa telah menyentuh hatinya, ditambah lagi seringnya melihat wajah sendu sang bunda. Kini Widya sedang duduk di ruang keluarga bersama bunda Arini. Ia turuti ajakan bundanya untuk menemani menonton televisi. Matanya mungkin tertuju pada layar di depan, tetapi pandangan itu kosong pikirannya entah ke mana. Bunda Arini yang menyadari hal itu hanya menghela napas bingung. Apa yang harus dilakukan? Apakah memang dia harus membawa putri kesayangannya itu ke psikiater? Suara getaran ponsel mengalihkan atensi Arini. Arini sengaja membawakan ponsel putrinya yang sudah ditelantarkan sekian lama, dengan harapan ada teman Widya yang menelepon atau sekadar menyapa melalui WhatsApp.


"Harsa nelpon, Sayang," ucap Arini berharap Widya mau mengangkatnya. Namun, putrinya hanya meliriknya saja.


"Widya lagi males bicara, Bun," jawab Widya sambil terus lurus memandangi layar televisi di depannya.

__ADS_1


"Diangkat, Sayang! Nggak enak, Harsa sudah menyempatkan untuk menelepon. Apa kamu nggak mau berterima kasih sama Harsa?" Ucapan Bunda mampu mengalihkan atensi Widya, dengan malas Widya mengangkat telepon.


"Halo, Wid. Assalamualaikum," sapa Harsa begitu ponselnya tersambung.


"Waalaikumsallam," balas Widya hampir tak terdengar oleh Harsa. Tentu saja hal tersebut membuat hati Harsa terasa teriris. Widya seakan tidak memiliki semangat hidup.


"Lo lagi ngapain? Akhir pekan kita berencana ke puncak. Lo ikut, ya!"


Lama tidak ada jawaban dari Widya. Gadis itu seakan sedang berpikir.


"Maaf, gue nggak bisa ikut, Sa." Hening tidak ada kalimat lanjutan dari Widya yang diharapkan Harsa.


"Atau gimana kalau kita pergi ke bazar buku? Kemarin gue sempat ke sana, banyak buku bagus dan terbaru tentang interior, atau lo mau cari novel? Banyak novel-novel baru yang lagi viral. Gini-gini, gue tahu novel yang lagi viral, loh." Harsa mencoba menyelipkan candaan, berharap Widya menangapi seperti biasa. "Gue tahu dari mbak-mbak yang jaga di sana." Harsa menutup kalimat dengan tawa kecilnya, berharap gurauannya bisa menghibur Widya. Namun, semua itu seakan sia-sia, karena tidak ada tanggapan dari Widya. Walaupun di seberang sana, senyum tipis nyaris tak terlihat terpancar di wajah Widya tanpa sepengetahuan Harsa.


"Dengan cara apa lagi gue bisa membuat lo kembali ceria lagi, Wid? Sebesar itukah rasa cinta lo ke Nathan, hingga terlalu sulit untuk mengikhlaskannya? Kapan lo akan menyadari jika bentuk cinta yang tertinggi adalah mengikhlaskan?" Harsa bermonolog dalam hatinya.


...***...



Yok, bisa, Sa. Balikin lagi keceriaan Widya. 🥺


Minta dukungan juga buat novelnya, ya, readers tersayang 🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2