Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 58


__ADS_3


...***...


Di pagi hari yang indah. Cahaya mentari terpendar begitu cerah. Secerah senyuman hangat yang terpatri di bibir seorang gadis manis yang duduk di tepi ranjang. Tangannya sibuk mengikatkan tali sepatu yang sedang dia pakai.


"Sayang, ada Karin sama Kartika di depan." Arini berteriak di depan kamar anaknya.


"Iya, Bun." Widya buru-buru membuka pintu. Masih menampilkan senyum cerah untuk sang bunda.


"Wah, anak bunda udah seger. Mau jogging, ya?" tanya Arini. Kedua matanya memperhatikan penampilan Widya.


"Iya, dong. Aku berangkat dulu, ya!" Widya mencium pipi Arini sebelum dirinya pergi. Arini tersenyum senang melihat anaknya sudah terlihat ceria seperti dulu lagi. Sepertinya Widya sudah tidak bersedih hati.


"Nggak nunggu Zakir, Edo, sama Harsa dulu? Katanya mereka mau ikut?" Widya bertanya kepada kedua sahabatnya, karena Karin langsung melajukan mobilnya ketika Widya baru saja masuk ke dalam mobil itu.


"Nunggu di sana aja, deh. Nanti gue kirim pesan sama mereka," sahut Kartika dari arah belakang. Widya pun mengangguk.


Ting!


Satu notifikasi pesan masuk di ketiga ponsel gadis itu secara bersamaan.


#Room chat 'Sahabat selamanya'


^^^Kartika: Wahai para cowok, kami duluan ke tempat tujuan. Nanti kalian nyusul, ya!^^^


Edo: Bentar, lagi nunggu perawan @Harsa dandan.


Zakir: Okey, Sayang @Kartika.


Widya mengernyitkan keningnya melihat pesan masuk di room chat 'sahabat selamanya'. "Tik, kenapa lo kirim pesan di grup?" cecar Widya.


"Yah, Tika gimana, sih! Nathan, kan, jadi tahu kalau kita janjian." Karin yang tidak bisa membuka ponselnya karena sedang mengemudi ikut mencecar.


Kartika yang baru sadar pun tersentak. Ia meringis menatap Widya. "Sorry, Wid. Gue lupa kalau di grup itu ada Nathan juga," sesalnya.


Belum juga Widya menanggapi satu notifikasi pesan masuk mengalihkan atensi mereka lagi.


...1 pesan belum dibaca...


Nathan: Kalian mau pada kemana? Gue nggak diajak, nih?


"Tuh, kan? Baru aja diomongin," pekik Widya merengut kesal.


"Elo, sih, Tik." Karin ikut menyalahkan. "Jangan ada yang bales! Diemin aja!" titah Karin memperingatkan.

__ADS_1


Namun, baru beberapa menit satu notifikasi terdengar lagi.



"Zakiiiir!" Kartika dan Widya memekik bersamaan ketika melihat pesan masuk tersebut. Sontak Karin menginjak rem dengan mendadak hingga membuat kedua sahabatnya terdorong ke depan.


"Kariin!" Sekarang berganti nama Karin yang mereka sebut.


"Apa? Kenapa?" Karin menoleh ke arah mereka secara bergantian untuk mengetahui apa yang terjadi.


Kartika pun mengatur napasnya. "Gue masih mau hidup ya, Rin," ucapnya dengan napas terengah.


"Sorry. Emang ada apa, sih?" tanya Karin. Widya pun menunjukkan ponsel miliknya. Seketika Karin mengembuskan napas kasar. "Kalian berdua bener-bener cocok, Tik. Kompak banget!" decak Karin kesal.


"Lah, apa hubungannya sama gue?" sungut Kartika.


"Ada, lah. Lo berdua itu emang sama—"


"Udah, udah! Napa jadi ribut, sih?" hardik Widya menghentikan perdebatan kedua sahabatnya.


"Terus gimana? Apa kita pulang lagi aja?" tanya Karin.


"Nggak usah. Biarin aja dia mau datang atau nggak. Bukan urusan gue lagi. Lagian itu tempat umum, kita nggak berhak ngelarang dia buat datang ke sana," tutur Widya sembari menatap ke depan.


Wajahnya terlihat tenang. Walaupun dalam hatinya masih ada rasa yang tidak bisa diartikan.


"Oke, Guys. Saatnya kita senang-senang. Lupakan mantan yang menyebalkan!" seru Kartika penuh semangat. Kemudian ketiganya pun tergelak.


...***...


Sedangkan di sisi lain, di sebuah apartemen mewah di tengah kota. Seorang gadis masih bergelung dalam selimutnya. Walaupun sang mentari sudah meninggi, tetapi gadis itu tetap betah berada di dunia mimpi. Vina malah menutup seluruh tubuhnya agar cahaya mentari tidak berhasil mengusik ketenangannya.


Ting tong!


Suara bel pintu yang terdengar beberapa kali mengusik indera pendengaran Vina. Gadis itu menggeliat sebelum membuka kedua matanya dengan malas.


"Siapa, sih? Pagi-pagi ganggu banget," decaknya sembari menyingkap selimut pada tubuhnya. Lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu depan apartemennya. Vina tidak peduli dengan wajah bantal dan penampilannya yang acak-acakan. Dia berjalan malas dengan mata setengah terpejam.


"Siapa, ya?" Vina berusaha memperjelas penglihatannya yang masih samar. Melihat sosok gagah yang berdiri di ambang pintunya.


"Halo, Sayang. Apa kabar?"


Vina terperanjat, suara itu sangatlah dia kenal. "Exel?" ucapnya tidak percaya. Kedua matanya sontak terbuka lebar.


Laki-laki yang bernama Exel itu langsung menerobos tubuh Vina, dan berhasil masuk sebelum si pemilik rumah mengusir dirinya.

__ADS_1


"Apartemen kamu nyaman juga, ya," ucapnya basa-basi.


Vina baru tersadar jika Exel sudah ada di dalam. "Ngapain kamu ke sini?" tanyanya ketus.


"Kangen sama kamu, lah. Apalagi?" jawab Exel sembari duduk di sofa dengan santai.


"Kita udah putus, ya. Kamu nggak berhak nemuin aku sesuka kamu lagi."


"Aku nggak pernah setuju kita putus. Jadi, aku masih punya hak untuk nemuin kamu kapan saja," sanggah Exel. Lalu beranjak mendekati Vina lagi. "Kamu lucu banget, sih, kalau baru bangun gini!" ucapnya menggoda Vina. Kepalanya sedikit condong hendak memberikan satu kecupan manis di wajah mantan kekasihnya itu, tetapi dengan cepat Vina menghindar dengan menarik mundur kepalanya.


"Jangan macam-macam! Aku bisa lapor polisi dengan tuduhan menggangu privasi orang lain," ancam Vina.


Bukannya takut, Exel malah tertawa terbahak-bahak. "Silakan saja! Aku tidak takut. Mungkin nanti aku akan minta sama polisi agar mereka mendeportasi kita berdua. Biar kita bisa pulang ke Singapura sama-sama," lontar Exel setelah tawanya reda.


"Kamu!" Vina geram, kedua matanya melotot tajam.


"Jangan melotot gitu, Sayang! Aku semakin gemas melihatmu seperti itu." Exel semakin menggila dengan gombalannya.


"Keluar kamu dari sini!" usir Vina.


Namun, Exel masih bergeming di tempatnya. Ia menghela napasnya sebelum mendekati Vina pelan-pelan. Wajahnya kini terlihat muram. "Sayang, apa kamu masih marah sama aku? Please, maafkan kesalahan aku! Kita balikan, ya! Aku janji akan setia sama kamu, dan tidak akan membuat kamu sakit hati lagi," tutur Exel dengan nada sendu.


Vina memutar kedua bola matanya, malas. Gampang sekali laki-laki ini mengucapkan kata 'maaf'. Rasa sakit yang sudah ia torehkan di hati Vina tidak semudah itu untuk dihilangkan.


"Nggak bisa. Aku nggak akan pernah mau balikan sama kamu," tolak Vina dengan tegas. Kedua kakinya mundur beberapa langkah, memberikan jarak di antara mereka. "Di sini aku sudah menemukan cinta sejati aku. Dia laki-laki baik yang tidak pernah menyakiti hati aku. Dia sangat perhatian, dan yang penting dia bukan tukang selingkuh seperti kamu," tambah Vina menegaskan.


Pernyataan itu membuat rahang Exel mengetat menyembulkan urat-urat. Pun kedua tangannya mengepal kuat menahan emosi yang tiba-tiba bergejolak.


"Siapa dia? Mantan kamu itu?" tanya Exel dengan wajah datar.


Vina mengangguk sambil tersenyum remeh. "Iya," jawabnya yakin.


"Dia tidak mungkin mau balikan sama kamu. Bukannya dulu kamu meninggalkan dia dan berpacaran sama aku," papar Exel mengingatkan masa lalu.


Vina terdiam sejenak. Senyumnya perlahan memudar seiring dengan bayangan kesalahannya terhadap Nathan di masa lalu muncul dalam ingatannya. Vina seolah tertampar oleh perkataan Exel, yang seolah mengingatkan dirinya jika semua yang terjadi adalah karma atas perbuatannya sendiri.


"Kata siapa? Nathan sangat mencintai aku. Walaupun aku sudah membuat kesalahan, dia pasti akan memaafkan aku. Buktinya aku masih bisa mendapatkan kepercayaan dia, dan aku masih bisa dekat-dekat dengan dia," pungkas Vina dengan sombongnya.


...***...



Wah, ternyata mantannya Vina. Hayo, tebakannya kemarin ada yang benar, nggak 😅


Nantikan terus kisah mereka, ya. Jangan lupa dukungannya. Like, Vote, gift, dan komentarnya 🙏

__ADS_1


Eh, betewe. Aku ada nomornya Nathan sama sahabatnya, tuh. Ada yang mau? 🤣


__ADS_2