Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 22.2


__ADS_3


...***...


“Apa, sih. Geli, tau! Pakai abang-abang segala.” Widya tertawa sambil menepuk lengan kiri Karin. Begitu pun dengan Karin.


Keduanya kembali mencair seperti biasanya, dengan Karin yang terus menggoda Widya. Hingga tanpa terasa mobil Karin telah sampai di depan gerbang rumah Widya.


“Bye, Rin. Makasih, ya.” Widya melambaikan tangannya pada Karin begitu ia turun dari badan mobil, lalu menatap badan mobil Karin yang kembali melesat di jalan raya menjauhi tempatnya. Senyumnya masih terukir indah. Ada sedikit rasa lega, karena ia bisa mengungkapkan rasa yang mengganjal dalam hatinya. Walaupun si pemilik hati belum tahu tentang itu.


***


Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Nathan merentangkan kedua tangannya guna meregangkan ototnya setelah seharian berkutat dengan setumpuk berkas kelengkapan audit. Lelah bukan main yang Nathan rasakan. Pikiran dan tenaganya seolah ia tumpahkan pada perusahaan milik keluarganya itu.


Tangan kanannya perlahan tergerak membuka laci meja kerjanya. Mencoba meng-aktifkan ponsel yang sedari pagi tidak sempat ia sentuh. Begitu layar depan menampilkan sebuah wallpaper potret dirinya dengan seorang gadis cantik, tampak manis dengan tampilan seragam putih abu-abu. Senyumnya terbit begitu saja, mengalihkan rasa lelah yang menderanya.


Dengan cepat ia menggerakkan telunjuknya untuk segera menekan tombol panggilan video. Berdiri melangkahkan kakinya menuju tepi dinding kaca di lantai 60, ruang kerjanya. Mengetukkan jari telunjuknya pada dinding kaca, menunggu sambungan teleponnya diangkat.


Merasa panggilan videonya tak kunjung mendapat respons, Nathan mencoba kembali untuk menghubunginya. Namun sayang, hingga panggilan keenam tak kunjung mendapat sahutan juga. Nathan berjalan pelan kesana kemari dengan rasa cemas.

__ADS_1


Namun, saat Nathan memeriksa status nomor yang ia panggil menandakan online. Nathan sejenak menautkan kedua alis tegasnya, lalu senyum jahilnya kembali terbit pada wajahnya. Mengendurkan dasi yang terasa mencekik lehernya, Nathan kembali men-dial panggilan video. Begitu dering pertama, sambungan telepon langsung terhubung. Nathan dengan tidak sabar menampilkan wajah cerianya. “Hai, Wid,” sapanya di balik layar persegi panjang itu.


Tampilan pertama hadir sesosok gadis cantik tengah menutup sebagian wajahnya menggunakan selimut tebalnya, yang hanya terlihat sebagian rambutnya.


Rasa rindu yang begitu mengganggu tiap detiknya menantikan pesan yang ia kirim sejak kemarin malam yang belum juga mendapatkan balasan, membuat Widya kesal hingga mengabaikan beberapa panggilan video dari kontak yang sudah ia ubah namanya menjadi 'bang Toyib'.


“Aduh, kenapa, tuh, mukanya ditutupin? 'Kan, jadi nggak keliatan cantiknya,” tanya Nathan sekaligus menggoda Widya, tetapi tidak jua mendapat respons dari gadis pujaannya tersebut. “Ayolah, Wid. Gak asyik, ah! Gue nelpon, tapi malah dicuekin begini.” Nathan memberengut kesal karena Widya masih betah menyembunyikan wajahnya. Lama menunggu, Widya masih bertahan dengan posisinya. Akhirnya Nathan juga yang mengalah.


“Ya udah, lo dengerin aja gue cerita, ya! Hari ini gue capek banget tau, nggak. Seharian gue berkutat sama bertumpuk-tumpuk berkas yang musti gue cek dengan teliti. Jadi, gue nggak sempet aktifin HP gue, Wid.” Menunggu, Widya masih belum mau meresponsnya. Helaan napas kasar pun terlontar, Nathan hanya bisa bersabar. Nathan tahu, mungkin Widya kesal karena ia mengabaikan pesan-pesan dari Widya.


“Emmm, gimana dengan presentasinya? Lancar, ‘kan? Gue yakin, si Bintang kelas juga sang juara di hati Nathan Putra Lesmana pasti bakalan melewatinya dengan mudah.” Nathan masih betah memandang layar miliknya, meski tampilan layar di seberang sana masih menampilkan tangan memegang selimut tebal yang masih menutupi sebagian wajah Widya.


“Ayolah, Wid! Gue bener-bener minta maaf. Masa, sih, lo nggak mau maafin ciptaan Tuhan yang tampan ini.” Masih tdak ada respons, Nathan mulai putus asa.


“Sayang, lo tahu nggak? Gue bener-bener kangen sama lo, kalau Minggu ini masalah di sini udah kelar, Minggu depan gue udah balik. Gue nggak bisa lama-lama jauh dari lo. Ternyata yang dikatakan Dilan itu benar, ‘Rindu itu berat', karena gue juga nggak bisa memendamnya terlalu lama,” cerocos Nathan.


Kata sayang yang terucap dari seberang nyatanya mampu membuat mata Widya terbelalak, sejurus kemudian Widya memejamkan matanya meresapi rasa membuncah pada dirinya, terlebih mendengar penuturan Nathan yang akan pulang Minggu depan. Dari dalam balik selimut Widya yang mendengar rengekan Nathan beserta jurus-jurus gombalnya membuat Widya bersemu. Ia tidak lagi dapat membohongi dirinya. Nyatanya rindunya semakin bertambah saat ia membuka selimut yang menghalangi wajahnya.


“Apa!” Respons pertama dari Widya menampilkan wajah juteknya.

__ADS_1


Hal itu membuat Nathan tergelak di seberang sana. Merasa lucu dengan tingkah Widya yang tengah merajuk. Mereka terdiam sejenak, menikmati pahatan mahakarya Tuhan dari layar masing-masing. Keduanya hanya diam menatap dalam manik mata seorang yang begitu dirindukan.


“Gue kangen sama lo, Wid. Gue nggak bisa lama-lama jauh dari lo. Gue takut lo diambil orang. Hati ini nggak bakal mampu menanggung sesal untuk kedua kali,” ucap Nathan setelah beberapa saat ia terdiam. Raut wajahnya terlihat sendu, menatap lekat wajah Widya yang telah terlihat sempurna tanpa selimut yang menghalanginya.


“Gue yang lebih kangen di sini, Nath! Lo, tuh, jahat banget tahu nggak, sih? Nyiksa gue sama kerinduan yang tak kunjung berujung ini. Lo keterlaluan, Nath! Lo nggak mikirin perasaan gue? Gimana sepinya hari-hari gue tanpa lo. Gue juga nggak bisa jauh lama-lama dari lo. Gue ... gue takut kehilangan, lo.” Widya menekankan suaranya, tanpa mengalihkan tatapannya. “Gue ... gue sayang sama lo, cepet pulang ...,” lirihnya. Widya tidak bisa lagi membendung perasaannya. Meski ragu, ia mencoba mengutarakan apa yang ada dalam hatinya.


Nathan terbelalak akan jawaban tidak terduga dari Widya. “Lo-lo bilang apa tadi, Wid?” gagap Nathan lirih merasa tidak percaya, tetapi masih begitu jelas terdengar oleh Widya.


“Apa? Puas, lo! Udah bikin gue kelimpungan kayak gini?” Widya menaikkan beberapa oktaf suaranya. Sejurus kemudian Widya menggigit bibir dalamnya, Lalu memutuskan panggilan sepihak. Widya memegangi dadanya yang berdebar, dan kembali membenamkan dirinya pada selimut. Berkali-kali menggelengkan kepalanya. Wajahnya memanas karena tengah bersemu. Menerka reaksi Nathan setelah telepon ia putuskan sepihak.


'Pucuk di cinta ulam pun tiba'. Seperti makna dari peribahasa lama, begitulah suasana hati Nathan setelah selesai melakukan video call dengan Widya. Niat hati melakukannya tidak lain adalah untuk melepas rasa rindu yang beberapa hari menumpuk, akibat kesibukannya membantu permasalahan perusahaan keluarganya. Walaupun tidak sepenuhnya rindu itu terobati, tetapi apa yang didapat sebelumnya sungguh membuat senyum di wajahnya mengembang, matanya yang sipit menjadikan iris pupilnya hampir tidak terlihat.



...***...


Maafkan para suhu Eska'er, aku double up nggak bilang-bilang. Ini naskahnya panjang makanya aku bagi dua aja. Kan, lumayan dua bab 🤭🤭


Dukung terus karya kami, ya! Jangan lupa like bab yang sebelumnya juga. Maacih 🥰

__ADS_1


__ADS_2