Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 39


__ADS_3


...***...


“Kamu jahat, Nath! Tega kamu mengkhianati aku. Lalu apa arti kata sayang dan cinta yang pernah kamu ucap? Apa ini cara kamu mencintai aku? Sakit, Nath. Rasanya sangat sakit. Bahkan lebih sakit saat Harsa menyakiti aku dulu.” Widya meremas baju bagian depan, lebih tepatnya bagian depan dada. Hatinya terasa begitu sesak. Jantungnya seolah berdetak lebih cepat.


“Bagaimana bisa kamu lakuin ini ke aku, Nath? Kebersamaan kita, cinta kita, ternyata semua palsu,” racaunya tiada henti.


Butiran bening yang terus mengalir itu adalah bukti kesakitan yang hatinya rasakan. Marah, kecewa, sakit, sesak, semua rasa kini bergumul menjadi satu di hatinya. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga menerima kenyataan pahit tentang pengkhianatan Nathan. Tatapannya hampa, tetapi air mata masih setia menetes.


“Tuhan, ini sungguh sakit. Hatiku terluka begitu parah. Rasanya hancur berkeping-keping tidak lagi berbentuk dan aku tidak bisa menyelamatkannya meski hanya secuil. Cinta, aku mencintainya dengan tulus dan sepenuh hati, tapi kenapa hanya rasa sakit yang aku dapat? Apa aku tidak pantas dicintai, Tuhan? Apa salahku? Kenapa ini terasa begitu kejam buat aku? Harsa dan Nathan. Dua orang yang pernah aku cintai begitu besarnya, tapi kenapa keduanya menyakiti aku dengan begitu dalam?”


Widya menumpahkan segala rasanya. Hingga dua puluh menit berlalu, Widya merasa sudah cukup mampu untuk pergi meninggalkan rumah Nathan. Rumah yang hari ini terlihat begitu sepi, entah ke mana semua penghuninya. Nathan pun tak kunjung datang. Widya menghapus air matanya. Dirasa hatinya sudah cukup tenang, ia bangkit dari duduknya.


Baru hendak melangkahkan kaki, suara motor sport Nathan terdengar di indra pendengarannya. Melihat ada sang pujaan hati di teras rumah, Nathan bergegas memarkirkan motornya lalu menghampiri Widya. Hati Widya semakin hancur kala melihat senyum Nathan. Air matanya tak lagi bisa ia bendung.


“Yang, kamu kenapa?” Senyum Nathan pudar seketika saat melihat air mata Widya mengalir, serta tatapan sayu Widya padanya. Kini hanya rasa khawatir yang begitu kentara di wajah tampannya. “Masuk dulu, yuk!” ajaknya.


Tangannya terulur ingin meraih tangan Widya. Sebelum Nathan berhasil meraihnya, Widya sudah menghindar. “Jangan seperti ini. Hatiku sakit lihat kamu kayak gini. Kalau aku salah, aku minta maaf, tapi please, jangan seperti ini!” Nathan meraih Widya ke dalam pelukannya meski mendapat penolakan dari Widya, tetapi Nathan tidak peduli.


Widya menangis tergugu dalam dekapan Nathan. Hati Nathan begitu miris melihat pujaan hatinya kacau seperti ini. Ia hanya mampu menenangkan Widya dengan pelukan. Merengkuhnya dengan begitu erat seakan takut terlepas. Demi Tuhan, hatinya ikut sakit melihat tangisan Widya.


Widya masih menumpahkan air matanya di dada bidang Nathan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya isak tangis yang terdengar begitu menyayat hati, sedangkan Nathan masih setia mengecup pucuk kepala Widya sambil terus berujar 'maaf'.


“Kamu jahat, Nath!” Setelah beberapa saat berlalu akhirnya Widya bicara.

__ADS_1


“Iya, aku jahat. Maafin aku, ya!” mohon Nathan. Kedua tangannya masih mendekap erat Widya. “Jangan nangis, aku mohon! Hati aku sakit melihat kamu nangis gara-gara aku,” lanjutnya. Wajah tampannya kini terlihat penuh penyesalan.


Widya kembali membisu. Untuk sesaat mereka saling menikmati hangatnya pelukan, hingga akhirnya Widya kembali bersuara, “Kita putus saja, Nath,” lirih Widya. Namun, masih terdengar jelas di telinga Nathan.


Jantung Nathan seakan berhenti berdetak mendengar apa yang baru saja Widya katakan. Tubuhnya tiba-tiba kaku, seakan aliran darah tidak lagi mengalir. Widya mengurai pelukannya. Perlahan ia beranikan diri untuk menatap kedua bola mata Nathan. Hanya ada kehampaan di sana. “Kita putus, ya, Nath?” pintanya lagi.


Kata-kata Widya yang kedua kali menghantarkan kembali jiwa Nathan ke dalam tubuhnya. Nathan memegangi bahu Widya dan balas menatap netra coklat milik Widya. “Ka-kamu jangan bercanda, Yang!” Suaranya seakan tercekat di tenggorokan.


“Aku serius, Nath.” Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak setuju. “Aku nggak mau semakin terluka, Nath. Hatiku ini terlalu rapuh, hingga saat kamu sentuh sedikit saja dengan luka, dia sudah hancur berantakan. Aku mau menyelamatkan hatiku meski sekarang tinggal puing-puing yang tak berbentuk.” Air mata itu kembali meleleh.


“Enggak! Aku nggak mau putus! Memangnya kesalahan apa yang sudah aku perbuat?" Nathan bersikukuh mempertanyakan alasan mengapa Widya mengatakan hal itu.


Nathan mengusap wajahnya gusar. "Enggak, Yang. Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Aku nggak bisa tanpa kamu. Sungguh! Jangan pernah berpikir buat pergi dari hidupku, Yang!” mohon Nathan.


“Kamu masih mencintai Vina. Aku tahu itu. Meski sedikit saja, rasa itu masih ada di dalam hatimu. Dan aku, aku nggak bisa terima itu.” Widya menunduk. Hatinya seperti diremas oleh sesuatu yang tak kasat mata.


“Sikap kamu yang buat aku berpikir seperti itu. Dan ini,” Widya memberikan ponselnya pada Nathan. Dengan tangan gemetar Nathan meraih ponsel Widya. Kedua bola matanya melotot sempurna saat melihat gambar dirinya bersama Vina yang seakan tengah berciuman.


“Enggak, Sayang. Ini nggak bener. Ini nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku bisa jelasin ini semua. Sungguh aku tak pernah melakukan hal seperti ini sama Vina,” terang Nathan penuh permohonan. Ia meraih tangan Widya untuk ia genggam erat.


“Kalau begitu jelaskan!” titah Widya.


“Waktu itu Vina mau jatuh dan aku menolongnya, udah itu aja. Pasti ini ulah Cindy. Dia pasti mau merusak hubungan kita dengan memanfaatkan kehadiran Vina. Sungguh, Sayang, aku nggak pernah melakukan itu baik dulu maupun sekarang.” Widya masih terpaku mendengar penuturan Nathan. Ia menelisik ke dalam netra Nathan, mencari kejujuran di sana.


“Sayang, bagi aku mencintai adalah menjaga. Seperti aku yang mencintai kamu dengan tulus. Maka dari itu, aku selalu menjaga kamu, kehormatan kamu, harga diri kamu. Aku nggak pernah berpikir untuk melakukan hal semacam itu sebelum kita menikah. Apalagi pada Vina? Jangan pernah berpikir bahwa aku adalah pria brengsek yang suka main cewek dan suka melakukan hal-hal semacam itu. Andai aku benar pria seperti itu, tentu aku sudah merusak kamu dari dulu. Pacaran sana-sini. Buat apa aku lima tahun menjomlo? Percaya sama aku, Yang!” terang Nathan panjang lebar mencoba meyakinkan Widya.

__ADS_1


Widya mencoba mencerna kata demi kata yang Nathan ucapkan. Akan tetapi, saat perkataan Vina kembali melintas bahwa mereka saling menikmati ciuman itu, hati Widya kembali bergemuruh. Ia menghempaskan kasar tangan Nathan.


“Tetapi dia bilang kalian saling menikmati ciuman itu. Bahkan dia bilang kamu tak perlu minta maaf padanya meski kalian dengan sadar melakukannya. Apa dia berbohong?” tanya Widya.


“Dia? Siapa?” Nathan mulai kebingungan.


“Vina,” jawab Widya singkat.


Nathan melongo, tak percaya dengan jawaban Widya. “Enggak, Sayang. Vina nggak mungkin mengakui hal yang tidak terjadi. Sungguh, Vina bukan orang seperti itu. Ini pasti ulah Cindy.” Nathan mengepalkan kedua tangannya. “Bilang sama aku, apa dia memprovokasi kamu lagi? Karena nggak mungkin Vina ngelakuin itu. Nggak ada untungnya buat dia. Aku akan buat perhitungan sama Cindy.”


Widya tersenyum sinis, mendapati Nathan begitu mempercayai Vina. Bahkan seolah tahu apa pun tentang Vina. Hal itu membuat dada Widya kembali sesak. “Karena Vina menginginkan kamu, Nath. Dia mau memisahkan kita. Bukan Cindy,” ucap Widya.


“Kamu jangan berpikir macam-macam soal Vina! Aku kenal baik siapa Vina dan yang kamu katakan itu nggak masuk akal. Vina bukan cewek rendahan seperti Cindy yang mau melakukan hal menjijikkan demi keuntungannya,” tegas Nathan.


Hati Widya semakin terasa perih. Luka itu masih menganga, tetapi dengan sengaja Nathan malah menabur garam di atasnya. “Kalau gitu kita putus saja, Nath!” pinta Widya.


“Enggak!” Suara Nathan meninggi. “Sampai kapan pun, kita nggak akan pernah putus. Sayang, dengerin aku! Percaya sama aku! Aku sayang dan cinta sama kamu. Kamu adalah hidupku.” Nathan meraih kedua bahu Widya. Matanya memandang sendu manik Widya.


“Aku lelah, Nath. Hatiku nggak sekuat itu untuk berbagi,” lirihnya sembari melepaskan diri dari Nathan. Merasa perdebatan ini tak akan selesai dengan baik, Widya memilih untuk pergi. Ia berlari meninggalkan rumah Nathan dengan berurai air mata. “Semua sudah cukup jelas, Nath. Arti Vina dalam hidupmu. Bahkan kamu begitu membela dan percaya sama dia,” batin Widya.


Widya tak lagi peduli suara Nathan yang memanggil namanya dan mencoba mengejar langkahnya.


...***...


__ADS_1


Silakan bully bang Nath! Di episode ini aku ikhlas dia diunyel-unyel sama kalian 😌


__ADS_2