
...***...
Suasana riuh di kantin kampus siang ini masih didominasi oleh ketengilan Zakir. Edo yang tak henti menggoda sahabatnya itu membuat suasana semakin ramai.
“Tik, lo peka dikit, napa? Kasihan bang Zakir, nih. Dia meradang mulu,” goda Edo membuat Kartika panas dingin.
“Bentar, gue ambilin es batu buat ngompres bang Zakir biar nggak meradang.” Kartika bangkit hendak meminta es batu pada ibu penjaga kantin.
“Eh, ayang nggak usah repot-repot!” Zakir menarik tangan Kartika mencoba menghentikan langkahnya.
“Tadi katanya meradang, bentar gue ambilin obatnya,” ucap Kartika.
“Obatnya udah ada di depan gue. Udah, duduk aja!” seru Zakir membuat Kartika kembali ke tempat duduknya.
“Eh, ngomong-ngomong, nih, besok kalian diundang ke acara ulang tahunnya Vina, kan?” tanya Edo.
“He'em, kita diundang,” timpal Kartika.
“Kalian ngerasa aneh nggak, sih? Masa iya ulang tahunnya Vina dirayain di rumah Nathan?” celetuk Karin yang mendapat tatapan tajam dari Zakir.
“Ya, kan, Vina di sini sendirian, Rin. Siapa lagi yang mau bantu acara dia kalau bukan keluarga Nathan.” Zakir mengedipkan matanya berharap Karin memahami isi pikirannya.
Sedangkan Widya yang sedari diam saja mendengar candaan sahabatnya mulai memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut Karin. Widya termenung sembari mengadu-aduk minumannya. Pikirannya sedikit kacau hingga tidak menyadari kehadiran Nathan yang saat ini sudah berada di sampingnya.
“Kapan sampainya?” tanya Widya terkejut.
“Barusan. Yuk, cabut! Kita nyari kado buat Vina,” ajak Nathan pada kekasihnya. Widya mengangguk dan segera bangkit dari duduknya.
“Jangan lupa, besok malam kalian semua datang ke rumah gue, ya!” seru Nathan berlalu sembari menggandeng tangan Widya.
Sepeninggal Widya dan Nathan, mereka yang masih berada di kantin saling memandang dengan tatapan aneh.
“Rin, lo nggak nyadar kalau perkataan lo tadi bakal membuat Widya berpikir yang engak-enggak?” tanya Edo pada Karin.
“Sorry, gue keceplosan.” Karin memohon kepada sahabatnya.
“Tapi apa kalian nggak merasa aneh?” Karin kembali mengulang kalimatnya.
“Aku, sih, ngerasa. Cuma, kita bisa apa? Gini aja, besok kita harus mengawasi Vina dan juga Widya,” ucap Zakir.
__ADS_1
“Tumben otak lo encer, Zak,” ledek Kartika membuat mereka tertawa.
...*** ...
Sementara itu, di sebuah mall ternama di Jakarta, Widya mengikuti Nathan memasuki sebuah toko perhiasan.
“Sayang, pilihin gelang yang bagus buat Vina, dong!” seru Nathan ketika berada di dekat etalase yang memajang berbagai macam gelang.
“Yakin beli ini untuk Vina?” Widya menunjuk deretan gelang yang berada di depannya.
Nathan mengangguk mengiyakan pertanyaan Widya. Widya pun segera memilih sebuah gelang yang menurutnya cocok untuk Vina.
“Nath, kalau yang ini gimana?” teriak Widya ketika menyadari Nathan sudah duduk kursi tunggu.
“Terserah kamu, Sayang,” jawab Nathan tersenyum.
“Ya, udah ambil yang ini saja, Kak.” Widya menyerahkan sebuah gelang kepada penjaga toko.
Nathan segera bangkit menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Selagi Nathan bertransaksi, Widya duduk di kursi tunggu. Ia merenungkan kembali kata-kata Karin tadi ketika mereka berada di kantin.
“Yuk, pulang!” Kalimat Nathan menyadarkan lamunan Widya.
Mereka berjalan beriringan dengan jemari saling bertaut. Nathan tidak sedikit pun melepas genggaman tangannya. Ia merasa harus membayar kesalahannya beberapa waktu lalu yang membuat hubungan mereka sedikit merenggang.
“Mau makan apa, Sayang?” tanya Nathan.
“Samain aja biar cepat,” jawab Widya singkat.
“Oke. Tunggu di sini, ya!” Nathan berlalu menuju meja order.
Setelah beberapa saat, pesanan mereka pun datang. Nathan makan dengan lahap karena sejak tadi ia belum sempat makan apa pun. Tugas sebagai wakil dari kelasnya untuk mengikuti pameran di kampus membuat Nathan sibuk berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya. Hingga membuat Nathan sering melupakan waktu makan siangnya.
Setelah selesai mencari kado, Nathan mengantar Widya pulang ke rumahnya. Nathan menyerahkan kado untuk Vina sebelum Widya turun dari mobilnya.
“Kadonya kamu yang bawa, ya! Jangan lupa besok malam aku jemput jam tujuh!” ucap Nathan.
“Besok pagi aku nggak ke sini, Sayang. Aku harus bantu Vina dan Mama untuk nyiapin keperluan buat acara besok malam. Kamu nggak papa, kan?” tanya Nathan pelan takut menyinggung perasaan Widya.
Widya hanya membalas dengan anggukan kepala dan senyum yang sedikit dipaksakan. Ketika Widya hendak membuka pintu, Nathan memegang tangannya.
“Tunggu, Sayang!” teriak Nathan.
__ADS_1
“Apa lagi, sih, Nath?” lirih Widya sedikit cemberut.
“Ini untuk kamu. Dipakai, ya! Jangan lupa besok dandan yang cantik!” ucap Nathan mengedipkan sebelah matanya.
Widya menutup mulutnya, terkejut melihat sebuah cincin yang Nathan berikan untuknya.
“Nath, ini terlalu berlebihan,” lirih Widya menatap bola mata indah milik Nathan.
“Enggak, Sayang. Aku sudah memesan ini special untuk kamu. Tolong jangan menolak!” ucap Nathan memohon sembari mengatupkan kedua telapak tangannya.
Widya menerima cincin itu dan segera bergegas turun dari mobil Nathan.
...*** ...
Sudah sejak Magrib Widya berkali-kali berganti baju. Ia merasa tidak ada satu pun gaun yang cocok untuk ia kenakan. Tiba-tiba ia teringat Nathan yang tadi mengirimi foto dirinya tengah bersama Evan dan Ellen. Nathan memakai celana panjang warna kakhi dan kemeja kasual warna krem muda. Widya segera mencari gaun warna senada yang ia punya.
Widya berdiri di depan sebuah cermin besar di kamarnya. Menatap pantulan dirinya yang dirasa sudah sempurna. Tubuhnya dibalut dengan sebuah gaun simple lengan pendek warna krem muda dengan aksen pita di bagian lehernya. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai. Dengan sedikit polesan bedak dan lipstick warna nude yang senada dengan gaun yang ia kenakan. Tidak lupa ia memakai cincin pemberian Nathan.
“Sayang, udah di jemput Nathan. Buruan, gih!” teriak bunda Arini di depan kamarnya.
“Ya, Bun,” jawab Widya sembari membuka pintu kamarnya.
“Wah, cantik sekali putri bunda!” puji Arini membuat pipi Widya bersemu.
“Bunda bisa aja,” rajuk Widya membuat Arini tersenyum melihat tingkah putri semata wayangnya.
Mereka berdua menuju ruang tamu di mana Nathan sudah menunggu. Nathan bangkit ketika melihat sosok Widya dengan penampilan yang berbeda. Gadis itu terlihat dewasa dalam kesederhanaannya.
“Ehem!” Arini berdeham keras, mencoba mengurai tatapan Nathan yang terpana akan penampilan Widya.
“Maaf, Bun. Nathan khilaf.” Nathan meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Bunda titip Widya, ya. Jaga baik-baik putri bunda!” pinta Arini membuat Nathan merasa tersanjung.
“Pasti, Bun. Kalau begitu Nathan pamit dulu,” ucap Nathan mencium punggung tangan Arini.
Mereka berjalan menuju mobil Nathan yang berada di depan. Nathan membukakan pintu untuk Widya dan menutupnya kembali setelah Widya berada dalam mobilnya.
“Kamu cantik sekali, Sayang,” lirih Nathan mulai melajukan mobilnya. Meski lirih, kalimat itu masih terdengar di telinga Widya. Gadis itu pun tersipu karenanya.
...***...
__ADS_1
Next 👉
Masih ada lanjutannya, tapi jangan lupa likenya dulu di bab ini, ya. Sesuai janji kemarin aku kasih double up 🤭