
...***Happy Reading***...
...***...
Saat acara makan bersama berlangsung, Widya lebih banyak diam dan hanya sesekali menanggapi obrolan-obrolan ringan mereka dengan senyuman. Harsa yang menyadari perubahan sikap Widya sejak kepergian keluarga Nathan tadi, ikut merasa iba. Ia tahu, Widya memang sudah mengikhlaskan kepergian Nathan, tetapi cintanya untuk Nathan masih begitu besar dan tersimpan rapi di hati Widya. Ia bisa memahami, pasti tidak mudah untuk Widya melupakan semua kenangan indahnya bersama Nathan.
"Gue sadar Wid, nggak mungkin gue bisa menggantikan posisi Nathan di hati lo, tapi gue selalu berdoa semoga gue punya kesempatan untuk menjadi alasan lo bahagia lagi," batin Harsa.
Setelah acara makan selesai, mereka duduk bersantai di ruang keluarga rumah Widya. "Gimana Jeng Arini, kita jadi liburan bareng?" Evi masih kekeh mengutarakan keinginannya yang sempat terjeda karena kedatangan keluarga Nathan tadi. "Sudah lama juga kita nggak liburan bareng. Papa setuju, kan?" Evi mengalihkan atensinya pada sang suami.
"Papa ikut aja gimana baiknya. Mama atur aja," jawab Rendra dengan senyum ramahnya, "Benar begitu, kan, Pak Bowo?" lanjut Rendra lagi sambil menepuk bahu Bowo.
"Iya Pak Rendra, yang penting anak dan istri bahagia, kita ngikut saja,” ujar Bowo dengan khas senyum bijaknya.
"Kalau Widya, gimana?” Evi mengalihkan pandangan pada Widya.
Tidak segera menjawab, Widya malah menoleh ke arah Arini dan Bowo seolah meminta persetujuan. Bowo dan Arini tersenyum dan mengangguk serempak.
"Iya, Tante. Widya ikut aja.”
"Oke, Wid, nanti kita kasih tahu yang lain. Kita pake jasa NTT lagi aja. Aku puas sama pelayanan mereka kemarin. Tinggal kasih tahu tujuan kita ke mana, udah beres, deh. Siap berangkat. Kamu masih menyimpan kontaknya Maya, kan, Wid?" Harsa yang mendengar jawaban Widya merasa bahagia, ia begitu antusias ingin mempersiapkan liburan kali ini.
"Sa, kok, malah kamu yang ngebet pengen liburan?" protes Rendra.
"Eh, nggak gitu, Pa." Harsa salah tingkah. Ia sampai menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal. Harsa mencoba menutupi rasa malu bercampur senang karena ledekan sang papa. Hal itu tentu membuat mereka semua tertawa melihat tingkah Harsa.
Widya juga ikut tersenyum melihat interaksi Harsa dan papanya. Meskipun telah lama mengenal Harsa, tetapi baru sekarang Widya bisa bertatap muka dan berbincang lebih lama dengan papa dan mama Harsa. Ia tidak menyangka ternyata orang tua Harsa begitu baik dan perhatian padanya. Sampai mereka rela meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya untuk bisa bersilaturahmi dan melihat langsung keadaannya.
Setelah mendapatkan kesepakatan, sekitar pukul 13.00 WIB keluarga Harsa pamit untuk pulang. Arini dan Bowo yang awalnya tidak ingin ikut berlibur karena tidak enak harus merepotkan keluarga Harsa, akhirnya mau ikut juga. Eviyana berhasil meyakinkan mereka bahwa ini benar-benar tulus keinginan yang sudah lama ia inginkan, hingga akhirnya Arini dan Bowo pun menyetujuinya.
...***...
__ADS_1
Usai pulang dari rumah Widya, Harsa tak sabar ingin memberitahu usulan mamanya untuk liburan bersama pada teman-temannya. Segera ia sampaikan semuanya lewat grup chat 'Sahabat Selamanya'.
Zakir dan Karin antusias menyambut usulan itu. Mereka pun mencoba mencari destinasi wisata yang belum pernah mereka kunjungi.
Widya hanya tersenyum menanggapi perdebatan para sahabatnya di room chat "Sahabat Selamanya". Mereka masih belum menemukan tujuan wisata yang akan mereka ambil nanti. Karin dan Zakir yang mendominasi perdebatan di sana, sedangkan Kartika hanya sesekali memberi tanggapan.
Tak terasa, setetes bulir bening meluncur bebas membasahi pipi Widya. Air mata haru itu tak bisa ia tahan. Widya bahagia, para sahabatnya tak pernah meninggalkannya meski dalam kondisi apa pun. Mereka selalu ada di samping Widya, melakukan apa pun untuk bisa membuatnya ceria kembali.
Ketukan dari balik pintu kamar membuat Widya tersadar. Segera ia hapus sisa air mata yang beberapa saat membuainya dalam rasa haru.
"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Arini dari balik pintu.
"Belum, Bunda. Masuk aja!" sahut Widya.
Setelah membuka pintu kamar, Arini menghampiri Widya dan duduk di sampingnya. Widya segera memeluk tubuh renta itu penuh sayang. Ia sandarkan kepala dalam dekapan hangat sang bunda. Widya merasakan kehangatan dan kenyamanan di sana. Ditambah lagi dengan usapan Arini di pucuk kepala Widya, semakin membuat Widya betah berlama-lama dalam dekapan itu.
Setelah beberapa saat, Widya melerai pelukannya. Arini mencubit gemas hidung Widya sambil berkata, "Anak bunda kenapa? Tumben banget, loh, betah lama-lama di pelukan bunda."
Arini tersenyum bahagia mendengar penuturan putrinya, ia kecup kening Widya penuh sayang. "Kamu segalanya bagi bunda dan ayah, Nak. Tetaplah menjadi Widya yang kuat dan selalu ceria, ya! Hanya kamu harta paling berharga bagi bunda dan ayah," ucap Arini.
"Iya, Bunda," jawab Widya singkat.
"Oh ya, udah menemukan tujuan liburan nanti belum, Sayang?" tanya Arini.
"Masih belum, Bun. Masih diskusi. Kayaknya mereka lagi pada ramai di grup chat tadi." Widya terkekeh mengingat tingkah konyol para sahabatnya.
"Ya sudah, kamu tidur, ya! Ingat pesan Dokter Fitri kemarin, kamu masih belum boleh banyak begadang, loh," ucap Arini.
"Siap Bunda cantik, cintanya Widya," jawab Widya manja sambil menaruh tangannya pada dahi, layaknya memberi hormat pada sang bendera merah putih saat pengibaran bendera. Arini tertawa menanggapi tingkah putri semata wayangnya.
Setelah Arini keluar dari kamar, Widya segera beranjak untuk tidur. Tak lupa ia usap foto Nathan yang masih setia menghiasi wallpaper ponselnya. "Selamat malam, Sayang. Hadir di mimpiku, ya. Aku kangen," ucap Widya sambil memandang foto Nathan. Widya tersenyum lalu ia simpan ponselnya di atas nakas.
__ADS_1
...***...
Pagi ini, pukul 07.00 WIB Harsa sudah tiba di rumah Widya. Seperti biasa, setiap hari Minggu mereka akan ziarah ke makam Nathan. Kebetulan hari ini Zakir, Edo, Karin, dan Kartika tidak sibuk. Mereka berempat juga ikut mengunjungi makam Nathan.
Edo berangkat bersama Zakir, sedangkan Kartika seperti biasanya dijemput oleh Karin. Mereka sepakat bertemu di makam Nathan saja, untuk menghindari kemacetan yang biasa menghiasi kota Jakarta di setiap akhir pekan.
Pukul 07.30 WIB mereka berenam hampir bersamaan sampai di makam Nathan. Segera Harsa memimpin doa untuk almarhum Nathan. Setelah berdoa dan menabur bunga, seperti biasa mereka akan menunggu Widya di luar.
"Nathan, terima kasih untuk semuanya, Sayang. Meski kisah kita belum sempurna, aku bersyukur bisa menjadi bagian penting dalam hidupmu. Terima kasih telah mengajarkan aku tentang banyak hal dalam hidup ini. Aku janji, setelah ini aku akan bahagia seperti harapanmu,” ucap Widya sembari mengusap batu nisan Nathan Putra Lesmana.
Setelah beberapa saat, Widya beranjak dari makam Nathan. Ia keluar menemui para sahabatnya yang setia menunggunya di depan makam. Sesuai kesepakatan, mereka akan membahas rencana liburan nanti di Kafe Hamber. Ketiga mobil itu pun melaju membelah jalanan ibu kota.
Tiga puluh menit waktu yang mereka tempuh untuk mereka sampai di Kafe Hamber. Setelah memesan berbagai menu makanan, rapat segera dimulai. Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya mereka setuju memilih Raja Ampat sebagai tujuan wisata kali ini.
Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung Pulau Papua. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.
"Ok, kita ke Raja Ampat, ya. Gue langsung hubungin Maya biar dia yang atur semuanya. Kita tinggal siapin keperluan kita aja buat liburan," ucap Harsa setelah mencapai kesepakatan.
"Setuju," seru mereka kompak.
Biro perjalanan Noer Tour and Travel (NTT) memang bisa diandalkan. Hanya butuh waktu tiga hari semua keperluan perjalanan wisata itu pun selesai. Akhir pekan menjadi jadwal liburan mereka.
Kedua keluarga Harsa dan Widya itu pun sangat menikmati liburan mereka. Meski beda usia, orang tua Harsa dan Widya bisa beradaptasi dengan sahabat anak-anak mereka. Mereka menginap selama empat hari di sana. Senyum selalu mengembang menghiasi wajah Widya, ia benar-benar menikmati liburannya kali ini.
Kebersamaan bersama keluarga dan juga para sahabat adalah momen yang indah yang akan selalu Widya kenang. Sungguh ia sangat bersyukur berada di antara mereka. Dukungan keluarga dan para sahabatnya yang selalu membuat Widya tak henti-hentinya bersyukur.
Harsa yang melihat kebahagiaan Widya ikut senang, secercah harapan masih terukir di relung hatinya. Ingin sekali ia egois, mengetuk pintu hati sang pujaan hati agar ia bisa bersemayam di dalamnya. Namun, nyalinya tak seberani itu. Biarkan rasa di hatinya tetap ia simpan sampai waktu yang akan memberi celah kapan ia akan berlabuh.
...***...
...****To be continued**...
__ADS_1
...Dukung terus author dengan like, vote, dan gift, ya! Biar nambah semangat kasih komentarnya 👍**...