Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 123


__ADS_3

...***...


...Happy Reading...


...***...


Selepas honeymoon romantis di dalam negeri yang juga menyorot keindahan kota Yogya, kedua insan manusia tersebut kembali disibukkan dengan urusan pekerjaan di dunia nyata. Entah mengapa setelah Widya dan Harsa menikah perusahaan Mandala grup semakin berkembang. Kekompakan Widya dan Harsa ditambah kehebatan yang dimiliki Zakir dalam memenangkan tender di luar kota membuat perusahaan tersebut kini semakin unjuk gigi di dalam dunia bisnis.


...***...


Kini, dua bulan sudah dijalani Harsa dan Widya sebagai pasangan suami-istri. Pagi ini, Widya dan Harsa sedang bersiap di dalam walk in closet untuk memadupadankan penampilan mereka, Harsa terlihat sangat tampan menggunakan setelan Jas berwarna navy serta dasi dengan warna senada. Setelah selesai memasangkan dasi, Widya menepuk bahu Harsa dan mengatakan ‘sempurna’.


Kini giliran Widya yang mempersiapkan diri. Widya mengenakan setelan blazer dan rok span di bawah lutut dengan warna soft pink yang membuat wanita itu terlihat amat sangat cantik, anggun dan imut, membuat Harsa menjadi terpesona, tetapi sedikit kesal karena ia tidak ingin jika ada orang lain yang menatap bahkan memuji istrinya cantik, terutama jika yang memuji istrinya ialah kaum Mars.


“Yang, kamu nggak usah pakai baju yang itu, deh. Pakai baju yang lain aja. Baju yang itu nggak cocok buat kamu.” Harsa dengan santainya menyuruh Widya mengganti pakaiannya. padahal Widya sudah melakukannya untuk yang ketiga kalinya.


“Sayang, kamu kenapa, sih? Ini sudah yang ketiga kalinya lo, kamu nyuruh aku ganti baju. Aku sudah capek, nih. Kita ada rapat pagi hari ini. Kamu nggak mau, kan, kita terlambat cuman karena kamu suruh aku ganti baju terus?" Widya sedikit kesal. Ia sesungguhnya telah lelah menanggapi keinginan suaminya yang absurd itu.


Mendengar penuturan Widya membuat Harsa mengembuskan napas pelan, kemudian mengelus dan mencium pucuk kepala serta sesekali memberi kecupan di bibir Widya.


“Oke, kita berangkat sekarang, tapi kumohon jaga mata sama hati kamu cuman buat aku, ya.” Harsa menangkup gemas kedua pipi Widya kemudian mengecup bibir Widya sekali lagi, membuat semburat merah merona di pipi mulus milik wanita yang kini telah resmi menjadi miliknya itu.


“Iya, Sayang, aku bakal nurut sama kamu dan aku akan menjaga mata dan hati aku hanya untuk kamu, Harsa Mandala.” Walaupun Widya merasa heran, tetapi ia hanya mengangguk dan mengiyakan permintaan sang suami. Entah mengapa belakangan ini Harsa mendadak menjadi suami posesif.


Setelah perdebatan kecil soal pakaian antara pasangan baru tersebut mereka berdua pun bersama-sama menuruni anak tangga menuju ruang makan menemui Rendra dan Eviana yang sedari tadi telah menunggu mereka di meja makan.


“Selamat pagi, Pa, Mah," sapa Widya ketika sudah berada di ruang makan.


“Selamat pagi, Sayang,” jawab Rendra dan Evi secara bersamaan. Diikuti gerakan Widya dan Harsa yang mulai menduduki kursi di meja makan.


“Maafin Widya, ya, Mah! Karena Widya nggak bantuin Mama buat nyiapin sarapan,” sesal Widya sambil menunduk karena merasa bersalah tidak membantu ibu mertuanya mempersiapkan sarapan. Pasalnya, setiap usai subuh Harsa selalu mengerjainya habis-habisan.


“Nggak papa kok, Sayang. Kamu cukup melayani suami kamu yang manja itu aja. Mama tau, kok, betapa menyebalkannya suami kamu itu," ucap Eviana sembari terkekeh pada sang menantu. Kemudian matanya mendelik tajam menatap sang putra yang hanya dibalas dengan senyum kikuk.


“Sudah-sudah, nggak usah bahas masalah suami bucin yang satu ini, nanti makanannya keburu dingin," titah Rendra kepada semua orang di sana, kemudian menatap sang putra dan mulai tersenyum jahil.


Harsa yang merasa menjadi pusat pembicaraan mulai mengalihkan pembicaraan dengan membahas menu makan, karena ia tahu semenjak ia menikah, kedua orang tuanya selalu saja mengejek akan sikap bucinnya pada sang istri.


“Hari ini Mama masak apa?” tanya Harsa sambil melihat-lihat menu yang ada di atas meja.


“Ada nasi goreng kampung kesukaan kamu, udang crispy, telur ceplok, dan sosis," terang Eviana pada putranya.


“Abang mau makan pakai lauk apa?” tanya Widya pada Harsa. Widya memang mengubah panggilannya pada Harsa sejak ia menikah karena perintah dari Arini. Kata Arini tidaklah sopan memanggil suami dengan sebutan nama.


“Aku mau pakai sosis sama telor ceplok aja deh, Yang." Harsa menunjuk pada makanan yang ia pilih. Setelah menentukan pilihan, Widya menyiapkan makanan untuk suami bucinnya itu.


Setelah menyiapkan makanan untuk Harsa, Widya mulai menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri. Untuk sesaat ruang makan yang diisi oleh Widya, Harsa dan kedua mertuanya mulai hening karena mereka mulai melahap nasi goreng kampung ala chef Eviana yang terkenal lezat. Widya yang memang menyukai masakan ibu mertuanya itu memakannya dengan lahap, tetapi berbeda dengan Harsa. Baru satu suap makanan yang ia makan, Harsa sudah merasa mual dan ingin muntah. Membuat semua orang yang ada di meja makan merasa heran.


“Kamu kenapa, Sa?” tanya Eviana.

__ADS_1


“Abang, gak papa?” tanya Widya panik. Namun, berbeda dengan papa Rendra yang menampakkan raut wajah biasa saja.


“Aku gak papa, kok, Sayang. Cuman gak tau kenapa tiba-tiba aku merasa mual banget," terang Harsa kepada semua orang.


Setelah adegan mual di ruang makan, Harsa tidak lantas meneruskan acara makannya. Ia hanya memilih meminum segelas kopi untuk mengganjal perutnya yang kosong.


...***...


Di kantor, saat Harsa dan Widya ingin menaiki lift bersama beberapa karyawan lainnya termasuk Zakir, Harsa kembali merasa mual dan ingin muntah. Harsa dengan segera berlari menuju toilet diikuti oleh Widya dan Zakir yang nampak panik di belakangnya. Widya yang panik hanya bisa menunggu Harsa di depan lorong toilet pria, sedangkan Zakir dengan segera membantu Harsa menuntaskan rasa mual dan muntahnya. Setelah selesai, Zakir pun bertanya pada Harsa tentang apa yang terjadi pada sahabatnya.


“Lo kenapa, Bro? Lo sakit? Makanya kalau habis main, langsung pakai baju! Dan seharusnya kalau lo sakit, lo nggak usah ngantor hari ini. Biar gue yang ngurus semua urusan kantor. Sedih gue kalau lihat lo kayak gini," ucap Zakir sambil mengurut tengkuk Harsa, ia merasa kasihan dan sedikit gemas pada sahabatnya itu.


“Itu mulut bisa direm ga sih,” kesal Harsa karena Zakir bicara di tempat umum. “Gue nggak papa, mungkin asam lambung gue aja kali yang naik, soalnya gue cuman minum kopi aja pagi ini makanya gue mual. Mana tadi gue ada nyium bau parfum salah satu karyawan lagi yang aromanya menyengat banget, makanya gue jadi begini,” terang Harsa dengan Wajah pucatnya.


Di luar toilet Widya menunggu dengan gelisah, tetapi tidak lama Harsa dan Zakir pun keluar. Widya nampak terkejut karena melihat Wajah suaminya yang nampak pucat seperti sedang kehabisan darah. Melihat hal itu tanpa di komando, air mata Widya luruh dengan sendirinya. Melihat ada bulir bening yang membasahi pipi sang istri, hati Harsa pun terasa seperti ada yang meremas.


“Sayang, kamu nggak papa?” tanya Widya, langsung menghambur mendekati suaminya.


“Aku nggak papa, Sayang.” Harsa menjawab lirih.


“Ayo, kita periksa ke dokter,” titah Widya kepada sang suami dan hanya diangguki lemah oleh Harsa. Rapat pun hanya dihadiri oleh Zakir, karena Harsa yang terlihat begitu lemah.


...***...


Di rumah sakit seluruh pemeriksaan pun dilakukan oleh Harsa tanpa terkecuali. Namun, begitu hasilnya keluar dokter dan Widya pun merasa heran. Karena tidak ada satu penyakit pun yang bersarang di tubuh Harsa. Pria itu nampak sehat jasmani dan rohaninya. Setelah Widya yakin jika Harsa dalam kondisi baik-baik saja, ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Dokter mengira, Harsa hanya mengalami masuk angin biasa dan hanya butuh istirahat untuk pemulihan.


“Assalamualikum, Ma,” sapa Widya yang menghampiri ibu mertuanya yang sedang duduk bersantai di ruang tengah.


“Waalaikumusalam, Sayang. Kok, tumben kalian pulang cepat?” tanya Eviana pada Widya.


“Abang kayaknya sakit deh, Mah. Tadi di kantor, Abang muntah-muntah, tapi pas Widya ajak abang periksa, kata dokter Abang baik-baik aja, Mah. Aneh, kan?” terang Widya yang masih merasa heran karena penuturan dokter tersebut.


Rendra dan Eviana yang mengetahui hal itu hanya saling pandang dan kemudian tersenyum.


“Gak papa, Sayang. Suami kamu pasti baik-baik aja. Kamu gak usah khawatir. Sebentar lagi juga dia akan pulih," terang Eviana meyakinkan menantunya yang nampak benar-benar khawatir.


Sedangkan di ruangan lain, lebih tepatnya di dapur, Harsa sedang sibuk membongkar kulkas dan mencari beberapa buah-buahan sehingga membuat bibi di dapur geleng-geleng kepala. Pasalnya, isi dalam kulkas itu menjadi berantakan semua.


“Mas Harsa, mau ngapain bongkar kulkas?” tanya bibi kepada Harsa.


“Saya mau cari buah, Bi. Saya pengen ngerujak, ini lagi cari mangga muda, eh, malah yang didapat teman-temannya," terang Harsa.


“Mas Harsa pengen mangga muda? Kalau iya, nanti biar bibi suruh Mang Ujang buat metikin di kebun belakang,” saran sang bibi dan diangguki dengan semangat oleh Harsa.


“Boleh, Bi, boleh. Yang banyak, ya, mangganya!" teriak Harsa dengan semangat empat limanya ketika asisten rumah tangganya pergi mengambilkan buah mangga. Sedari tadi, setiap kali Harsa memikirkan soal mangga muda, air liurnya serasa ingin menetes saja.


Keributan Harsa dan bibi di dapur membuat atensi semua orang yang ada di ruang tengah menjadi tertuju ke dapur, Widya dan kedua mertuanya segera mencari asal keributan. Namun, setelah menemukannya, mereka malah terkejut karena melihat meja di dapur penuh dengan berbagai macam buah-buahan yang dikeluarkan Harsa dari dalam kulkas serta beberapa buah-buahan yang baru dipetik Mang Ujang dari kebun belakang.


“Harsa, kamu apain dapurnya?" teriak Eviana yang syok melihat kondisi dapur kesayangannya menjadi berantakan, akibat cipratan sambal rujak buatan Harsa yang terdiri dari gula aren, cabai, dan kacang tanah.

__ADS_1


“Harsa lagi pengen ngerujak, Ma,” terang Harsa yang seketika mendongak melihat keluarganya datang ke sana.


“Abang kayak orang ngidam aja, deh. Pengen makan rujak," sela Widya yang heran, dan dibalas dengan senyuman oleh Harsa. Namun berbeda dengan Rendra dan Eviana yang mendengar hal itu. Rendra dan Eviana saling tatap kemudian saling mengangguk.


“Widya, Sayang. Coba ikut mama sebentar!" Eviana mengajak Widya serta kedua laki-laki yang berada di rumah itu menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur.


“Mama mau ngapain ngajak Widya ke kamar mandi?" tanya Harsa.


“Sudah. Kamu laki-laki, diam aja! Ini urusan wanita,” jawab Mama Evi.


“Iya, kamu diam aja, Sa! Kita tinggal nunggu hasilnya,” timpal Rendra.


“Hasil apaan, sih, Pa?” tanya Harsa, tetapi Rendra hanya diam.


“Widya, Sayang, kamu coba tes dulu, ya! Kamu tau, kan, cara pakainya? Itu ada petunjuknya, kok. Mama, papa, sama suami bucin kamu ini akan nunggu kamu di luar sini.” Eviana menyodorkan sebuah alat tes kehamilan pada Widya. Widya hanya menurut dan melakukan apa yang diperintahkan oleh kedua orang tuanya. Namun, setelah 10 menit Widya tidak kunjung keluar, sehingga membuat Harsa panik.


“Yang, udah belum? Kamu ngapain, sih? Kok, lama banget. Ayo, dong, keluar! Kalau kamu gak keluar aku dobrak, nih, pintunya," kesal Harsa karena melihat Widya yang tidak kunjung keluar.


Setelah teriakan terakhir, akhirnya Widya keluar dengan bulir air mata dan bibir sedikit menyunggingkan senyum, membuat Harsa heran.


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Harsa. Namun Widya tidak menjawab dan hanya menyodorkan alat tes kehamilan yang diberikan oleh Eviana tadi. Harsa yang menerima alat tersebut kemudian melihat hasilnya, Harsa terdiam sejenak kemudian menatap Widya.


“Sayang ....” Widya yang di panggil namanya hanya menatap dan menjawab dengan anggukan. Harsa yang merasa amat sangat bahagia kemudian menghambur memeluk Widya.


“Ma, Pa, sebentar lagi Harsa akan jadi ayah," terang Harsa yang kemudian berganti memeluk kedua orang tuanya.


Eviana dan Rendra yang juga merasa sangat bahagia akhirnya menelpon Bowo dan Arini, mereka berdua mengabarkan kalau sebentar lagi mereka akan menjadi nenek dan kakek. Pun betapa bahagianya mereka semua karena mendengar kabar kehamilan Widya.


...***...


Di perjalanan menuju rumah sakit.


“Pokoknya Harsa nggak mau, ya, Ma, kalau dokter yang menangani Widya nanti laki-laki. Harsa mau dokternya perempuan.” Harsa mulai mengeluarkan mode posesif yang disambut gelengan kepala oleh Widya, Arini, Eviana, Bowo, dan Rendra.


“Oh, iya, Mah. Kok, Mama bisa tahu kalau Widya hamil? Bukannya Widya gak ngalamin morning sickness kayak perempuan hamil lain," lanjut Harsa lagi.


“Iya, karena yang mengalami morning sickness itu kamu, bukan Widya,” terang Eviana.


“Kok bisa?” tanya Harsa.


“Like father like son," jawab Rendra sembari terkekeh.


...***...


...To be continued...


...***...


...Ciyeeee... udah tekdung aja 😄...

__ADS_1


__ADS_2