Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 77


__ADS_3


...***...


Setelah makan malam bersama Arini dan Bowo, Widya pamit untuk ke kamar. Ia mengambil ponselnya di atas meja belajar dan ingin segera menyapa kekasih hatinya. Namun, alangkah terkejutnya ketika mendapati chat yang belum terbaca dari grup sahabat selamanya sudah berjumlah ratusan. Banyak tag atas namanya yang semakin membuat ia penasaran. Perlahan Widya membuka room chat tersebut dan mulai membacanya perlahan. Widya lebih terkejut ketika mendapati foto dirinya bersama Nathan tadi siang ada dalam room chat tersebut. Belum selesai ia membaca, ponselnya sudah berdering dengan nyaring. Nama Karin terpampang jelas di layar ponselnya.


“Assalamualaikum, Rin. Ada apa?” Widya mengucap salam begitu ia menerima panggilan Karin.


“Klarifikasi, woy! Jangan bikin kita nebak-nebak nggak jelas!” Suara Karin dari seberang memekakkan telinga hingga Widya pun menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Wait! Maksud lo apa, sih?” Widya makin bingung dengan ulah sahabatnya.


“Elo balikan sama Nathan?” Pertanyaan Karin membuat Widya terkejut. Pasalnya ia merasa belum menceritakan hal itu kepada siapa pun. “Halo! Elo masih di situ ‘kan, Wid? Jawab, dong! Nathan juga dari tadi nggak komentar apa pun di grup,” ucap Karin membuyarkan lamunan Widya.


“Eh, emang kenapa, kok, lo berpikir seperti itu?” pancing Widya.


“Itu, Zakir lihat foto kalian di Instagram Nathan,” terang Karin.


“Oh, jadi ini biang keroknya,” ucap Widya.


“Kok, biang kerok, sih? Yang bener gimana?” cecar Karin yang tentu saja membuat Widya tersenyum.


“Emang kalau iya, kenapa?” Widya balik tanya sambil menahan tawa. Pipinya tiba-tiba saja terasa panas meskipun Karin tidak dapat melihat rona merah yang tercetak di pipi Widya.


“Jadi beneran? Seriusly? Aaahh, gue ikut bahagia." Lagi-lagi teriakan Karin membuat Widya menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Makasih. Doain kami, ya, Rin. Semoga kejadian kemarin nggak akan terulang lagi,” pinta Widya.


“Tentu, sudah pasti itu! Kita selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan kalian,” ucap Karin tulus.


...***...


Setelah kehebohan semalam, siang ini mereka janjian bertemu di kampus tanpa sepengetahuan Widya dan Nathan. Hari ini Widya menemani Nathan untuk bimbingan. Widya berusaha untuk membantu Nathan mengejar ketinggalan akibat sakit kemarin. Meskipun hanya menemani dan menyemangati, tetapi dengan hadirnya Widya di samping Nathan, membuat Nathan lebih bersemangat.


Pukul 13.15 WIB, Nathan keluar dari ruang bimbingan disambut senyum Widya. “Bagaimana, Yang? Sukses?” tanya Widya begitu Nathan tiba di dekatnya.


“Belum, sih. Aku masih harus lembur buat perbaikan. Masih banyak yang harus direvisi,” jawab Nathan sembari berjalan beriringan.


“Nggak papa, minum dulu, gih!” ujar Widya sembari mengulurkan sebotol air mineral. Nathan menerimanya dan segera meneguk air tersebut hingga separuhnya. “Nanti aku bantu ngetiknya, biar cepat selesai,” usul Widya.

__ADS_1


“Makasih, Yang. Oya, cari makan, yuk! Aku udah lapar, nih,” ucap Nathan sembari memegang tangan Widya. Widya tersenyum dan mengangguk membalas ajakan Nathan. Sesampainya di parkiran, mereka dikejutkan oleh hadirnya kelima sahabat mereka yang saat ini berdiri di samping mobil Nathan.


“Hai, Bro! Kenapa semalam lo kagak nongol? Takut gue palak, ya?” Suara berisik Zakir mulai mengganggu.


“Zakir! Lo bisa ngomong baik-baik nggak, sih? Suara lo bikin pekak telinga aja,” hardik Kartika.


“Maaf, Yang. Udah dari sononya, jadi susah ngeremnya,” jawab Zakir sembari menutup mulutnya. Kartika hanya mendengus kesal akan kelakuan Zakir. Sedangkan yang lain hanya tersenyum karena sudah paham akan kepribadian Zakir.


“Tumben kalian ngumpul di sini. Ada apa, nih?” sapa Nathan yang merasa aneh dengan kehadiran mereka. Tanpa dikomando, Karin dan Kartika menghampiri Widya dan melepaskan genggaman tangan Nathan. Kemudian, mereka berdua memeluk Widya.


“Selamat, ya, Wid. Kita bahagia melihat lo seperti ini.” Nathan hanya termangu menyaksikan ketiga perempuan itu.


“Traktirannya kapan, nih?” Suara Zakir yang tiba-tiba berada di samping Nathan tentu saja membuat Nathan terkejut.


“Kenapa lo nggak cerita ke kita, sih? Lo masih nganggep kita teman apa enggak?” Edo pun turut menghampiri Nathan.


“Tunggu, tunggu! Ini ada apa, sih?” Nathan masih bingung dengan tingkah sahabatnya. Saking sibuknya, sampai sekarang dia memang belum membuka room chat 'sahabat selamanya'. Jadi, dia tidak tahu kerusuhan yang melanda di sana.


“Nathan! Lo balikan sama Widya, ‘kan? Ngapain lo nggak cerita ke kita? Ayo, sekarang traktir kita buat ngerayain bersatunya kembali elo sama Widya!” terang Zakir yang gemas akibat Nathan yang tidak juga paham akan situasi.


“Oh, itu. Maaf, gue lupa.” Nathan tertawa ketika ia mulai memahami apa yang maksud dari kata-kata Zakir. “Ya, udah, kita ke Kafe Hamber sekarang. Gue traktir sepuasnya, deh,” ajak Nathan.


“Dasar lo, Zak. Sehari saja lo nggak bisa diem, apa? Sepertinya lo butuh pawang, deh,” ucap Harsa membuat mereka tertawa. Kemudian mereka pun berlalu menuju kafe kesayangan mereka. Melaju di tengah hari yang terik, membelah jalanan ibu kota yang padat.


...*** ...


Semenjak kembalinya jalinan kasih antara Nathan dan Widya, seolah kembali pula aura kehidupan persahabatan mereka. Persahabatan yang sempat merenggang beberapa waktu lalu, kini mulai kembali seperti dulu. Di tengah kesibukan mempersiapkan skripsi, mereka masih menyempatkan diri untuk sesekali berkumpul di Kafe Hamber. Sedikit mengurangi penat dan lelah akibat berkutat dengan materi skripsi.


Widya dengan sabarnya membantu Nathan menyelesaikan skripsinya. Kadang seharian Widya berada di rumah Nathan. Liana yang menyaksikan putranya kembali bersemangat tentu saja merasa bahagia.


“Widya, ayo, makan dulu! Ngetiknya dilanjut nanti setelah makan!” seru Liana dari ruang makan yang bersebelahan dengan ruang di mana Widya dan Nathan mengerjakan skripsi.


“Iya, Tante. Sebentar lagi,” jawab Widya sopan. Mendengar penolakan halus dari gadis itu, Liana segera menghampiri.


“Nathan, istirahat dulu. Ayo, kita makan! Jangan sampai kalian sakit gegara terlalu asyik mengerjakan tugas.” Ucapan Liana membuat Nathan mengalihkan atensinya pada setumpuk materi di hadapannya. Ia teringat ketika dirinya sibuk bekerja bersama Zacky membuat ia melupakan waktu makan hingga berakhir di rumah sakit. Seketika Nathan meletakkan buku yang ada di tangannya.


“Makan dulu, yuk! Aku lapar, nih,” ucap Nathan pada Widya.


“Kamu duluan saja! Tanggung, nih, tinggal dikit,” balas Widya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.

__ADS_1


“Aku nggak mau makan, kalau nggak sama kamu,” Nathan merajuk berharap Widya menghentikan kegiatannya, dan usahanya berhasil. Widya mengalihkan pandangannya dan menatap wajah Nathan yang memelas. Tentu saja hal itu membuat Widya tidak tega. Dan akhirnya mereka bergabung di meja makan bersama Liana dan kedua adik kembar Nathan.


...*** ...


Perjuangan selama beberapa minggu ini pun tiba pada puncaknya. Sedari pagi Widya mematut dirinya di depan cermin. Berkali-kali ia mengambil napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Widya grogi karena hari ini adalah jadwal sidang skripsinya. Padahal, sewaktu ia menjalani seminar proposal, ia tidak segrogi hari ini.


“Sayang, Nathan sudah nunggu dari tadi, loh,” teriak Arini dari depan kamar.


“Iya, Bun. Widya udah selesai, kok,” jawab Widya sembari membuka pintu kamarnya.


“Anak bunda sudah rapi, jangan lupa berdoa sebelum sidang dimulai!” pesan Arini.


“Doakan Widya, ya, Bun!” Widya mencium tangan Arini kemudian turun menuju ruang tamu tempat Nathan menunggu bersama Bowo.


“Widya berangkat dulu, Yah. Doakan Widya, ya!” pinta Widya sembari mencium tangan Bowo.


“Nathan pamit dulu, Yah. Nathan pamit, Bun,” Nathan mencium tangan Bowo dan Arini bergantian.


“Hati-hati, ya. Doa kami menyertai kalian,” ucap Bowo ketika melepas kepergian mereka di depan pintu.


...*** ...


Hari ini di kampus, Nathan menanti Widya dengan sabar. Tidak bisa dipungkiri ia juga merasa gugup. Padahal hari ini Widya yang maju sidang, tetapi Nathan ikut merasa tegang. Hampir empat jam Nathan menunggu di depan ruang tempat Widya sidang.


“Minum, Bro!” Zakir mengulurkan sebotol air mineral kepada Nathan yang terlihat gelisah.


“Tenang, Nath! Widya pasti berhasil.” Harsa menepuk pundak Nathan yang hanya dibalas senyum oleh Nathan. Kartika dan Karin pun sudah berada di tempat itu untuk menanti sahabat mereka. Beberapa saat kemudian pintu ruang sidang terbuka. Terlihat Widya keluar dengan senyum sumringah sebagai tanda bahwa ia membawa kabar bahagia. Nathan segera mendekat.


“Bagaimana, Yang?” tanya Nathan menahan rasa penasarannya.


“Alhamdulillah, lancar,” seru Widya yang segera mendapat pelukan hangat dari Nathan. Karin dan Kartika mendekati mereka dan memberikan buket bunga untuk Widya setelah Nathan melerai pelukannya.


“Selamat, Wid." Mereka bertiga berpelukan. Hari ini adalah hari bahagia bagi mereka terutama Widya dan Edo yang berhasil dalam sidangnya. Sementara Nathan mendapat jadwal dua hari lagi.


...***...



Jadi ikutan bahagia kalau kayak gini. Gimana sama kalian? Kasih komentarnya, ya! 🤗

__ADS_1


__ADS_2