Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 12


__ADS_3


...***...


Weekend adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu oleh setiap orang. Mayoritas warga ibukota tentunya memanfaatkan momentum tersebut untuk liburan bersama keluarga, teman, atau sekadar hangout bersama di taman. Beberapa orang juga ada yang memilih bercengkerama bersama keluarga di rumah.


Tidak terkecuali Kartika, Widya, dan Karin. Kali ini mereka sepakat untuk sekadar ngobrol bertiga saja, tidak ada lelaki yang ikut bergabung seperti biasanya. Mereka sedang memanfaatkan masa-masa sebagai mahasiswa semester lima, yang tiga semester lagi mereka akan memasuki dunia baru, yaitu dunia kerja.


Pukul 19.00 WIB, di dalam kamar milik Kartika Sari yang bergaya natural bercat putih dengan desain simple yang tidak banyak aksesoris bertebaran. Entah karena sang pemilik kamar merupakan orang yang simple, atau memang dia sedang menerapkan seni desain simple interior yang ia pelajari dari Widya.


Tiga orang gadis sedang berbaring sejajar menahan tawa sejak 28 menit yang lalu. Sembari menunggu balutan masker yang menempel di wajah mereka mengering sempurna, mereka kompak untuk tidak menimpali room chat yang telah berisik sejak beberapa menit yang lalu. Bahkan, untuk menahan maskernya agar tidak retak, mereka sengaja berkomunikasi via ponsel.


Wid, tahan, tinggal dua menit lagi, jangan berkomentar apa pun di grup! Bilang ke Tika juga!_ Karin


Widya yang menerima pesan dari Karin membalas dengan menyatukan ibu jari dan jari telunjuk, membentuk huruf ‘O’. Lantas Widya mengarahkan chat Karin kepada Kartika dan dibalas dengan melakukan hal yang sama seperti Widya.


Room chat 'Sahabat selamanya' tengah ramai akan permintaan untuk berkumpul seperti biasa di Kafe Hamber. Namun, ada yang berbeda. Kali ini obrolan hanya didominasi oleh team laki-laki saja. Entah kekonyolan seperti apa yang sedang direncanakan oleh Karin, Widya, dan Kartika. Seolah mereka telah kompak untuk menahan diri agar tidak berkomentar apa pun.


Nathan: Ini kemana, sih, para ciwi- ciwi kesayangan kok gak pada nongol?


Zakir: Kesayangan pala lo!


Edo: Jadi gak, nih, nanti malam?


Harsa: Gue ikut yang lain aja.


Nathan: @Widya, Sayang, koment donk! Kalau gak koment akau samperin sekarang juga, nih.


Edo: @Karin @Tika kalian kemana woy...”


46 chat belum terbaca.


Widya tidak menghiraukan lagi dering notifikasi pada ponselnya. Memilih untuk memasangkan irisan mentimun pada kedua matanya lalu melipat kedua tangannya di atas perut. Pun dengan Karin dan Kartika yang seolah hari ini adalah hari mereka. Ketiganya kompak memakai piyama tidur berwarna sama dengan corak yang berbeda. Kartika memakai piyama dengan gambar kartun pokemon, kesukaannya. Sedangkan Widya bergambar tedy bear dan Karin yang mengikuti perkembangan zaman memilih menggunakan piyama bergambar boneka boba.


Triiiiiinnggg ....

__ADS_1


Dering alarm pada ponsel Kartika berbunyi, menandakan bahwa waktu tiga puluh menit telah berlalu. Ketiganya pun kompak melepas irisan mentimun dari kelopak mata masing-masing, kemudian mereka bergantian untuk membilas masker yang telah mengering dengan air hangat yang sudah disiapkan sebelumnya.


“Akhirnya, seger lagi ni muka kusutku,” celoteh Kartika saat keluar dari kamar mandi, yang disusul oleh Widya dan Karin. Kartika langsung berjalan ke arah kasur dan segera mendaratkan bokongnya.


“Ternyata menyenangkan, yah, maskeran sendiri di rumah. Lebih hemat uang jajan juga," ucap Karin yang sedang berkaca di depan meja rias Kartika dan menepuk pipinya pelan.


Widya lebih nyaman duduk di sofa kecil yang terletak di dekat jendela kamar Kartika, sembari memeriksa ponselnya yang sengaja ia matikan paket datanya. Senyumnya terbit begitu mendapat puluhan chat dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Nathan.


Pertanyaan konyol hingga segala bentuk kekhawatirannya terhadap Widya mengisi seluruh isi chat Nathan. Widya bergegas membalas chat dari Nathan dengan mengirim foto dirinya dan kedua temannya yang saat berbaring memakai masker dengan caption 'Ladies time'.


Di seberang sana, Nathan yang sedang duduk di tepi kolam merasa lega mendapat jawaban dari Widya. Nathan memukul dahinya berkali-kali, mengingat tingkah konyolnya mengkhawatirkan Widya secara berlebihan dengan puluhan chat-nya.


Karin dan Kartika yang sedang sibuk dengan ponselnya masing-masing, sesekali tersenyum hingga terkekeh membaca room chat yang mereka abaikan beberapa menit yang lalu.


“Nathan gesrek banget, deh, kalau udah ketemu Zakir. Bawaannya pengen ketawa mulu,” ucap Karin sambil tertawa kencang di atas kasur.


“Iya, suasananya nggak tegang. Selalu cair, deh, kalau ada mereka,” timpal Widya.


“Tapi beda jika Nathan ketemu Harsa, pasti ribut,” timpal Kartika.


Karin menarik tangan mereka, mengajaknya untuk bergabung di atas kasur Kartika. Beruntung kasur berukuran king size milik Kartika mampu menampung tiga gadis sekaligus. Meski tidak dapat bergerak leluasa, tetapi mereka menikmati kebersamaan yang sudah tidak seintens saat masih SMP.


Mengingat waktu SMA hubungan mereka yang sempat merenggang karena suatu hal (Ada di novel sebelumnya Love or Friend), melalui hal kecil seperti inilah mereka berharap persahabatannya akan selamanya hingga tua nanti.


Jarum jam sudah menunjukan angka sebelas. Terlalu asyik menikmati obrolan dengan ditemani camilan ringan, membuat mereka lupa waktu.


“Dah, yuk, tidur! Udah malam, nih.” Kartika membereskan bekas camilan yang ada di kasurnya sebelum bersiap untuk tidur.


“Tik,” panggil Widya.


“Hemm,” sahut Kartika.


Ragu Widya ingin menanyakan hal yang sedari awal menganggu pikirannya dan Karin. Widya berganti posisi menjadi duduk untuk berbicara lebih serius. Sontak kedua sahabatnya pun ikut duduk melingkar.


“Ada apa sih, Wid, serius amat?” tanya Kartika.

__ADS_1


Widya melirik Karin, yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Karin, tanda setuju. Widya tersenyum kecil melihat raut wajah serius dari Kartika. “Em ... begini, sebenernya antara lo sama Zakir ada hubungan apa, sih? Kok akhir-akhir ini terlihat beda. Bukannya apa-apa, sih. Gue takut kalo sahabat gue ini menyembunyikan sesuatu.”


Kartika yang awalnya terkejut, mendadak tergelak atas pertanyaan Widya. “Ngomong apa, sih, Wid?” kilah Kartika.


“Hei, kita ini udah sahabatan dari tahun berapa, Tik? Lo, mau nutupin dari kita?” Karin mengarahkan pandangannya kepada Widya lalu berakhir pada Kartika. “Sorot mata lo itu berbeda kalau lo memandang Zakir. Dan akhir-akhir ini, Zakir juga terlihat lebih perhatian, 'kan?” lanjut Karin.


Kartika yang awalnya masih terkekeh kemudian meraih bantal di belakangnya, membawanya ke pangkuan, untuk menumpu kedua tangannya. Matanya melirik Karin dan Widya yang masih menyimpan sejuta tanya. “Kalian terlalu berlebihan, tau, gak?" kilah Kartika.


“Terus kemarin itu, apa, coba? Kalau gak perhatian berlebih?” tukas Karin.


Kartika mengirup udara sepuasnya, lalu mengembuskannya perlahan. Berusaha menetralkan perasaannya. “Kalian musti tau, ya. Gue masih mau fokus sama kuliah. Gak ada waktu buat mikirin perasaan gue, menyita banget. Gue juga masih punya dua adek yang musti kuliah juga. Gue kasihan sama Papa, di usianya yang sudah nggak muda, siapa lagi yang akan bantu Papa, jika bukan gue.” Kartika tersenyum di akhir kalimatnya.


“Aaaaa ... manis banget kamu, Tik.” Widya bergerak meraih bahu Kartika kemudian memeluknya.


Karin pun ikut terenyuh mendengar pengakuan Kartika. “Mulia banget, sih, sahabat gue ini!” Karin segera ikut bergabung memeluk Kartika dan Widya.


“Kan ... kan .... kok jadi melow gini, sih.” Kartika melerai pelukan kedua sahabatnya. Ketiganya tersenyum bersama.


“Gue bangga punya sahabat kayak, lo, Tik. Baik banget sampai memikirkan sodara lo. Gue yang anak tunggal, mungkin belum bisa kayak lo. Gue jadi nyadar sekarang, seharusnya gue juga harus kuliah yang bener, karena gue anak satu-satunya yang kelak akan mengurus kedua orang tua gue hingga tua nanti,” papar Karin.


“Semua sudah ada porsinya masing-masing. Tugas kita sebagai seorang anak harus nurut apa kata orang tua, menjadi kebanggan orang tua dengan prestasi kita, jangan membuat mereka kecewa!” ungkap Widya.


“Gue sama Widya akan selalu dukung lo, Tik. Gue yakin lo bisa wujudin semua keinginan lo,” imbuh Karin.


Ketiganya kembali berpelukan, “Gue mau, kita semua saling ngingetin satu sama lain, ya! Jika di antara kita mungkin udah salah langkah, gue harap kita semua akan selalu ada untuk mengingatkan,” ujar Widya. Karin dan Kartika kompak mengangguk.


Jam dinding yang menunjukkan makin larutnya malam membuat ketiganya segera membaringkan tubuhnya dan membawanya menuju alam bawah sadar. Berharap penat yang mereka rasakan akan berkurang seiring malam membawa mereka bertemu mimpi indah.



...***...


Peluk jauh buat Kartika 🤗🤗


Buat othornya juga 🤗😅

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Jangan bosen kasih komentar, biar othornya senang dan ngasih giveaway 🤭


__ADS_2