Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 129


__ADS_3

...***...


...Happy Reading...


...***...


"Yang, gimana kalau acara ulang tahun By kita undangnya keluarga sama sahabat-sahabat kita aja?" Di depan cermin Widya mencoba bernego dengan suaminya. Harsa yang sibuk di depan laptop, akhirnya memusatkan perhatiannya pada istri tercinta.


"Tapi, Sayang, aku, 'kan, pengin ngenalin Baby By ke klien-klien aku," jawab Harsa tersenyum sambil melanjutkan perhatiannya ke laptop.


"Tapi kalau dirayakan besar-besaran dan ngundang semuanya, kita jadi nggak ada kesempatan untuk ngumpul sama mereka. Sayang, tahu sendiri mereka sekarang pada sibuk, kita jarang berkumpul," rengek Widya dengan wajah murung. Harsa yang fokus pada laptopnya, tidak memperhatikan istrinya yang mulai merajuk.


"Yang!" Widya yang meresa diabaikan segera meninggikan suaranya.


"Astagfirullahalazim." Harsa yang kaget spontan berdiri dan menghampiri Widya yang terlihat masam dan memeluknya dari belakang. "Maaf, Yang. Tadi masih ngetik jadi belum bisa nanggapin. Senyum, dong, bundanya By! Nanti cepat tua, loh!"


Bukannya tersenyum, Widya justru memutar badannya dan mencubit pinggang Harsa, "Ooh, ya, bilang aku cepet tua dan kamu ingin cari istri lagi?"


Sebenarnya cubitan itu tidak terlalu sakit buat Hars. Meskipun begitu, dia merintih pura-pura sakit. Semakin lama cubitan itu bertahan di pinggang Harsa, ternyata semakin panas juga.


"Istriku kalau cemburu makin cantik, ya." Lepas sudah cubitan di pinggangnya, kini giliran tangan Harsa yang mulai membelai wajah Widya. Dituntunnya wanita itu untuk berdiri dari kursi rias yang diduduki sebelumnya, Harsa memberi kecupan di bibir istrinya. Wajah yang awalnya masam berubah menjadi bersemu kemerahan.


"Oke, gimana kalau kita bikin acaranya dua kali aja. Minggu ini khusus untuk keluarga dan sahabat kita, minggu depan untuk klien dan para karyawan. Gimana, Sayang?" Harsa tersenyum menaikturunkan alisnya, menunggu jawaban istrinya yang terlihat berpikir keras.


"Oke, aku setuju," jawab Widya singkat. Ia membalikan badan berniat untuk beranjak dari tempat itu, tetapi tangannya ditahan oleh Harsa, "Apalagi?" Widya merasa heran dengan tingkah suaminya.


"Gitu doang? Nggak ada balasan kecupannya?"

__ADS_1


Widya menggelengkan kepala meskipun akhirnya menuruti kemauan suaminya. Mengecup dengan lembut bibir Harsa yang sudah hampir dua tahun menjadi pendamping hidupnya.


...***...


Hari Minggu akhirnya tiba. Widya bahagia dan bersyukur melihat perkembangan baby By. Anak itu tumbuh dengan sehat, lincah, dan menggemaskan. Dia juga bahagia, karena akan bertemu dengan para sahabatnya. Kondisi yang berbeda dengan dulu menjadikan mereka jarang berkumpul, mereka lebih sering berkomunikasi lewat video call saja.


"Yang, tolong jagain baby By bentar! Aku mau bantu Mama di dapur." Widya yang terlihat cantik dengan gaun semata kaki berwarna peach itu terlihat terlihat sangat cantik. Harsa terpana melihat istrinya, hingga melupakan uluran tangan mungil dalam gendongan Widya.


"Yang, sepertinya aku jatuh cinta lagi." Widya melotot menanggapi ucapan suaminya. Sebelum istrinya melayangkan protes, Harsa melanjutkan ucapannya, "dengan Widya Putri Esmeralda."


"Gombal terus, ingat umur," ketus Widya meskipun pipi merahnya tidak bisa ia sembunyikan. Widya menyerahkan baby By ke gendongan ayahnya.


"Emang umurku berapa, Yang? Kita ini masih muda, loh," sanggah Harsa sambil menangkap tubuh mungil baby By. Harsa terus menggoda istrinya, rasa syukur tidak berhenti dia panjatkan. Kini hidupnya terasa sempurna, bisa memiliki wanita yang dia cintai semenjak SMA, dikaruniai buah hati yang mengemaskan, dan juga karir yang cukup gemilang. Tak berhenti sampai di situ, dia juga memiliki sahabat yang setia dan saling mendukung satu sama lain. Tiba-tiba, suara Zakir membuyarkan lamunan Harsa.


"Rupanya ada yang ganti profesi, nih!" seru Zakir yang datang dengan mengendong baby-nya yang baru berusia satu bulan. Di belakangnya, Kartika tersenyum melihat ulah suaminya. Widya yang melihat Kartika seketika menghambur memeluk sahabatnya itu.


"Sa, sepertinya kita perlu pelukan juga sama seperti mereka berdua," ucap Zakir. Harsa hanya menanggapinya dengan memutar bola mata malas.


"Lo mau gue masukin tukang pijit patah tulang?" ucapan Harsa sontak membuat orang di sekitar mereka tertawa.


"Apa perlu gue bantuin, sepertinya Zakir memang harus masuk panti pijat." Edo yang juga baru datang bersama Karin segera bergabung dalam candaan mereka. Ketiga wanita itu saling berpelukan. Sedang Edo, Harsa, dan Zakir mengunakan gaya khas laki-laki menempelkan pundak.


"Lo, ya, belum berekor, tapi terlambat," ejek Zakir pada Edo yang sedang mengangkat Baby By untuk dia gendong. Karin juga tidak tinggal diam, dia ikut menyapa dan mengoda baby By yang berada di gendongan suaminya. Balita satu tahun itu terlihat nyaman dan tidak merasa takut. Meskipun digendong oleh orang yang terlihat asing atau jarang dia lihat.


"Eh, Zak, memangnya kalau belum berekor, kami nggak perlu bersiap-siap dulu? Mandi, pake cream, pake lotion, beserta teman-temannya yang lain?" protes Karin yang merasa tidak terima dengan olokan Zakir. Tak pelak membuat semua orang jadi tergelak.


Celotehan-celotehan dan obrolan antara mereka terus belanjut. Saling olok, saling puji, dan bercerita reka ulang kejadian yang pernah mereka alami pun tidak terlewatkan. Widya seakan dibuat kembali mengalami suasana semasa mereka masih sering memiliki waktu berkumpul tiap akhir pekan. Mengobati rasa kangen Widya bersama para sahabatnya yang memang sekarang jarang berkumpul, karena kesibukan masing-masing.

__ADS_1


Zakir lebih sering cuti menemani sang istri yang baru saja melahirkan. Edo dan Karin yang sibuk dengan perusahaannya yang kian maju pesat, menjadikan mereka berdua sering bepergian keluar kota bahkan keluar negeri. Begitu juga dengan Harsa yang kini memiliki beberapa cabang perusahaan. Sebenarnya sebagian tugas itu dipegang oleh Zakir, tetapi karena sahabatnya itu sering cuti, terpaksa Harsa yang mengambil alih tanggung jawab tersebut.


Widya merasa terharu sehingga tidak sadar matanya berkaca-kaca. Harsa yang menyadari perubahan dengan wajah istrinya pun mencoba menenangkan istrinya dengan mengelus pundak Widya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Harsa.


Widya yang sadar jika berubahan emosinya diketahui suaminya pun berucap, "Aku nggak apa-apa?" kilahnya sambil mengusap cairan bening yang meluncur di pipinya. Harsa tidak berhenti mengusap pundak istrinya.


Kartika yang mengamati juga keheranan apa yang terjadi pada Widya. "Kenapa, Wid?" tanyanya.


Seketika saja semua yang berada di situ terheran dan memusatkan perhatian mereka pada Widya. "Ngak pa-pa, aku hanya merasa terharu dengan persahabatan kita yang sudah terjalin hampir satu dekade ini. Banyak suka duka yang kita lewati, tapi kita masih bersama. Bagiku, selain keluargaku, kalian juga sangat berarti. Kalian selalu ada di saat aku membutuhkan kalian semua. Tanpa kehadiran kalian, mungkin aku nggak bisa sampai di titik ini. Memiliki keluarga kecil yang bahagia. Semoga bersahabatan kita akan abadi sampai maut memisakan kita semua," tutur Widya panjang lebar.


"So sweet, Baby." Kartika lalu maju memeluk Widya begitu juga Karin. Zakir menyimpan baby yang di gendongnya ke dalam stroller baby. Ia ingin ikut bergabung dalam pelukan itu. Namun, baru selangkah kakinya berjalan, kerah bajunya ditarik dari belakang oleh Edo.


"Mau apa lo?"


"Ikut pelukan," jawab Zakir sambil menyengir, merasa ngeri dengan tatapan mata Edo yang seakan ingin menelanjanginya. Apalagi ketika Zakir sadar, jika dia ikutan berpelukan dengan ketiga perempuan itu, sudah pasti dia akan menyentuh Karin juga. "Yaelah, Do, posesif amat lo!" cetusnya sambil mendengus. "Gue juga lihat-lihat kali, di situ juga ada bini gue," tambah Zakir lagi.


Harsa yang melihat kelakuan temannya yang tidak berubah dari bujang sampai punya anak itu, hanya bisa geleng-geleng kepala.


Begitulah, terkadang merasa heran dengan suatu hubungan yang sulit dicerna oleh pikiran. Tidak memiliki hubungan darah, tetapi saling memiliki. Bukan saudara, tetapi ingin selalu bersama, begitulah persahabatan. Tidak semua persahabatan bisa abadi, kecuali mereka yang menjalin persahabatan dengan tulus, sehingga terciptalah kasih dan sayang dalam persahabatan itu sendiri.


...***...


...To be Continued...


...****************...

__ADS_1


...Bentar lagi tamat, Guys. Ah... nggak rela 😭...


__ADS_2