Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 86


__ADS_3


...***...


Setelah sesi ciuman virtual selesai, mereka pun kembali terdiam dan saling menatap. Tak lama wajah mereka pun menghilang dari layar ponsel. “Hati-hati, Nath. Love you,” lirih Widya.


Bulir bening yang tadi sempat Widya tahan, kini tidak bisa lagi dibendung. Ia menangis, entah kenapa perasaan rindunya kali ini benar-benar menyiksanya. Panggilan video call yang biasanya bisa sedikit mengurangi kerinduan pada sang kekasih, nyatanya malah membuat Widya semakin rindu.


"Nathan, aku kangen. Cepet pulang," lirih Widya sambil mengusap wajah Nathan yang tersenyum manis menghiasi layar ponselnya. Widya masih terisak dalam tangisnya.


Saat malam hari, Widya yang hendak mengistirahatkan tubuhnya, belum bisa memejamkan mata. Bayangan wajah Nathan masih bergelayut manja di pikirannya. Widya mengambil ponsel yang tadi telah ia simpan di atas nakas. Ia memutuskan untuk bangun, lalu membuka pintu kamar menuju balkon.


Semilir angin malam sedikit memberi ketenangan di hati Widya, saat menatap langit malam yang bertabur bintang tanpa sinar rembulan malam ini. Widya memandang layar ponselnya yang menunjukkan pukul 01.15 WIB. "Nathan pasti sudah tidur," monolognya. Ia urungkan untuk menelepon Nathan.


Widya putuskan mengirim pesan untuk Nathan, berharap bisa sedikit mengurangi kegelisahan hatinya saat ini. "Sayang, udah tidur, ya? Nggak apa, kamu pasti lelah setelah seharian bekerja. Aku nggak bisa tidur, Nath. Wajah kamu gangguin aku terus, sih. Tapi aku suka. Nath, kamu tahu, nggak? Aku sedang memandang indahnya langit malam ini. Bintangnya banyak, tapi sayang nggak ada rembulan. Seperti aku di sini yang kesepian tanpa kamu di sisiku. Cepet pulang, ya, sayang! Aku takut jauh dari kamu lama-lama. I miss you." Ia kirimkan pesan itu, lalu mengusap bulir bening yang kembali membasahi pipinya. Widya tidak berharap Nathan segera membalas pesannya. Ia hanya ingin menumpahkan isi hatinya, itu sudah cukup membuatnya lega.


Udara malam yang semakin dingin membuat Widya memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia ambil air wudu sebelum merebahkan tubuhnya di kasur. Berharap bisa membuat hatinya lebih tenang. Setelah beberapa saat, akhirnya ia bisa terlelap. Melupakan sejenak rasa rindunya pada sang pujaan hati.


...***...


Dering ponsel tanda alarm berbunyi membangunkan Nathan dari tidurnya, pukul 04.00 WIB. Saat mengusap layar ponselnya ia melihat pesan dari Widya, ia tersenyum. Bahagia rasanya mendapatkan perhatian dari sang kekasih. Ingin ia menelepon, tetapi Nathan tidak mau mengganggu Widya yang mungkin tidur sudah larut malam tadi.


"I Miss you, too. Maaf, sayang, telah membuatmu menunggu. Percayalah, aku juga sangat merindukanmu. Doakan aku, ya. Kalau semuanya lancar, nanti malam aku pasti sudah kembali ke Jakarta. Tinggal sedikit lagi, tugasku selesai. Tunggu aku, sayang. I love you." Ia kecup kening Widya di layar ponsel, setelah mengirim balasan pesan untuk Widya.


Senyum manis terus menghiasi wajah tampan Nathan pagi ini. Ia begitu bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Pesan dari Widya semalam membuat Nathan ingin segera pulang. "Semoga ini terakhir kali aku ke Surabaya sendiri, Sayang. Kalaupun ada tugas ke luar kota lagi, aku pasti akan mengajakmu nanti, setelah kita menikah," batin Nathan.


...***...


"Anak bunda cantik sekali pagi ini," sapa Arini saat melihat putri kesayangannya yang baru menuruni anak tangga menuju meja makan. "Anak ayah juga, loh, Bun," protes Bowo yang merajuk kepada Arini.

__ADS_1


"Iya, iya ... anaknya Ayah sama Bunda, dong," sahut Widya lalu menghampiri dan mencium pipi ayah dan bundanya secara bergantian.


"Sayang, kamu kenapa? Kok, mata kamu agak sembab?" tanya Arini yang melihat wajah putrinya terlihat masih menahan rasa kantuk.


"Tadi katanya cantik? Bunda nggak jujur, deh," jawab Widya mencebikkan bibirnya.


"Lagi malarindu, Bun. Kayak Bunda dulu, kan, juga sering begitu kalau kangen sama ayah," sahut ayah mengedipkan matanya menggoda bunda lalu pandangannya menuju ke arah Widya. Bunda hanya tersenyum menanggapi celotehan ayah.


"Ayah, jangan gitu, dong! 'Kan, Widya jadi malu," jawab Widya. "Widya semalam cuma susah tidur aja, kok, Bun. Mungkin karena banyak kerjaan akhir-akhir ini jadi kepikiran," sahutnya lagi.


"Kerjaan apa kerjaan?" selidik bunda yang bermaksud menggoda Widya.


Tiba-tiba Widya meletakkan sendok di tangannya. Ia mendekat ke arah bunda dan memeluknya, Widya menumpahkan tangisnya. Entahlah, perasaan Widya sedang tidak baik-baik saja sejak semalam. Arini yang sedikit terkejut, berusaha memberi ketenangan dengan mengusap bahu putrinya agar merasa nyaman. Berharap sedikit mengurangi beban putri kesayangannya.


Arini mencoba memahami perasaan putrinya saat ini. Ia berpikir mungkin karena akan menikah, suasana hati Widya jadi lebih sensitif dan mudah terbawa perasaan. Bowo yang juga ikut terkejut, tetap berusaha tenang. Ia melanjutkan makannya, sambil menunggu Widya menumpahkan tangisnya di pelukan Arini.


"Widya kangen sama Nathan, Bun. Widya kepikiran Nathan terus," ucap Widya yang masih terisak di pelukan Arini.


"Widya berangkat bareng ayah saja, biar nggak telat ke kantornya. Nanti biar ayah bilang sama Nathan supaya nggak nakal lagi," ucap Bowo menggoda Widya, setelah melihat putrinya sedikit tenang.


"Sarapannya juga belum habis. Apa mau bunda suapin?" tanya Arini sambil mengusap sisa air mata di pipi mulus Widya.


Widya menggeleng, ia merapikan dandanannya yang sedikit berantakan karena menangis tadi. "Widya udah kenyang, Bun. Bawain brownis aja, ya, Bun! Buat bekal nanti siang. Widya malas makan di luar," ucap Widya.


Setelah drama sarapan pagi itu selesai, Widya berangkat ke kantor bersama Bowo. Di perjalanan mereka membahas beberapa hal yang berkaitan dengan persiapan pernikahan Widya dan Nathan yang sudah 90% selesai. Hingga tidak terasa mobil Bowo sudah sampai di depan kantor Widya.


Sebelum turun, Widya mencium punggung tangan ayahnya. Ia segera masuk ke dalam gedung kantor tempatnya bekerja setelah Bowo melajukan mobilnya kembali.


Saat di lobi, Widya bertemu dengan Hasbi. "Hai, Wid, tumben agak siang datangnya," sapa Hasbi.

__ADS_1


"Iya Mas, tadi berangkat sekalian bareng ayah," jawab Widya ramah.


"Kamu kapan mulai cuti, Wid? Oh, iya, Nathan kapan balik ke Jakarta?" tanya Hasbi lagi.


"InsyaAllah besok aku mulai cuti, Mas. Nitip kerjaan aku, ya, selama aku cuti!" jawab Widya dengan senyum manisnya. "Kalau Nathan, katanya nanti malam udah bisa balik ke Jakarta kalau semuanya udah beres hari ini," sahut Widya lagi.


Widya dan Hasbi berjalan beriringan menuju ruangan kerja mereka, sambil membicarakan soal proyek kerjaan baru yang sedang mereka tangani sekarang.


Saat jam istirahat cuaca yang tadinya cerah, tiba-tiba berubah menjadi mendung disertai rintik hujan. Sesekali terdengar suara petir yang menggelegar membuat hati Widya menjadi gelisah.


Pyaar...


Gelas yang berisi air putih di atas meja kerja Widya terjatuh saat Widya mengambil ponselnya. Tidak ada orang di ruangan itu, karena semua sedang istirahat dan makan siang. Belum reda kepanikan yang ia rasakan, ia kembali melihat tayangan televisi yang menampilkan informasi tentang sebuah kecelakaan pesawat dari kota Surabaya menuju Jakarta.


Widya mencoba menenangkan diri, ia berusaha berpikir positif. "Nathan masih di Surabaya, Wid. Dia masih bekerja. Nanti malam baru akan pulang. Kamu jangan panik, Widya!" monolognya.


Dengan tangan yang masih tremor, Widya segera membuka ponselnya.


Deg!


Sebuah pesan dari seseorang yang sangat ia kenali, menampilkan foto seorang laki-laki dengan senyum manisnya di sebuah bandara. "Tunggu aku, Sayang!" Begitulah isi pesan yang Widya baca. Tentu saja itu dari Nathan.



Ponsel di tangan Widya terjatuh. Tiba-tiba Widya seperti kehilangan keseimbangan tubuh, kakinya lemas, ia terduduk di lantai dengan air mata yang membasahi pipi. Hujan deras disertai angin kencang dan petir yang menggelegar seolah menggambarkan betapa kalutnya hati Widya saat ini. "Nathan pasti tidak ada di pesawat itu," lirihnya berusaha berpikir positif meski hatinya penuh dengan debar yang tak pasti.


...***...


__ADS_1


Berdo'a aja Nathan nggak jadi naik pesawat, Gengs.


Atau pesawatnya tiba-tiba kehabisan bensin terus nggak jadi terbang.


__ADS_2