
...***...
Harsa semakin menambah kecepatan laju mobil milik Nathan. Melihat kondisi Nathan yang semakin hilang kesadaran membuatnya panik. “Nath, lo harus tetap sadar!” Harsa beberapa kali menoleh pada Nathan yang telah memejamkan matanya.
Tiin! tiin!
Harsa beberapa kali menekan klakson pada stir mobil. Fokusnya terbagi antara jalanan dan Nathan yang masih saja memejamkan matanya.
“Ck, Sial! Jam macet begini!” Harsa beberapa kali melirik jam kecil yang melingkar pada pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB.
“Hampir Magrib juga. Harusnya tadi Edo ikut gue!” gerutu Harsa.
“S- Sa, g-gak usah panik. Gu-gue cuma lemes aja. Gue bukan mau mati,” ucap Nathan terbata karena berada di antara sadar dan tidak sadar.
“Hah, bisa-bisanya lo ngomong begitu di saat seperti ini,” pekik Harsa. Sisi lain tangannya bergerak menyentuh kening Nathan yang telah mengeluarkan keringat dingin. “Nath, bertahan! Sebentar lagi sampai,” gumam Harsa. Tangannya sibuk mengendalikan stir mobil, kakinya mengendalikan laju mobil sementara mulutnya sibuk bergerutu apa pun asalkan kesadaran Nathan tetap terjaga.
“Lo juga semakin kurus. Sebenarnya lo makan nggak, sih!”
Nathan menarik sedikit sudut bibirnya, ”Gue nggak nyangka, di balik sikap cuek lo ternyata lo masih perhatian sama gue, Sa,” batin Nathan. Hingga sayup-sayup suara gaduh bising kendaraan perlahan menghilang berganti suasana sunyi pada pendengaran Nathan. Ia tidak sadarkan diri.
Harsa mengikuti arahan tukang parkir ketika memasuki kawasan rumah sakit. Beberapa kali menoleh pada Nathan yang sudah terkulai lemas.
Harsa segera mengarahkan mobil di depan pintu masuk IGD. Dengan cepat dua tenaga medis bersiap membawa brankar dan membantu Harsa menurunkan Nathan dari dalam mobil. Detik berikutnya, Edo dan Zakir berlari mengejar langkah Harsa yang sudah terlebih dahulu mengikuti brankar yang membawa Nathan.
Suara roda brankar diikuti dua tenaga medis dan tiga anak manusia yang over good looking, menyita perhatian beberapa orang yang melintasi lorong.
Ketiganya terpaksa berhenti mengikuti arahan petugas ketika pintu IGD tertutup untuk melakukan tindakan. “Harusnya tadi lo ikut mobil gue, Do!” Harsa meletakkan jari telunjuknya pada pundak Edo.
“Kenapa emangnya? Lo lupa? Tadi lo yang ngasih instruksi ke kita!” Edo menatap Harsa yang tampak mengatur napasnya yang terengah tidak beraturan karena berlarian.
“Gue panik begitu Nathan hilang kesadaran.” Harsa memutar kepalanya mencari tempat duduk.
Zakir yang paham segera menarik lengan Harsa menuju tempat duduk di sisi koridor. “Tenang dulu, Sa!” seru Zakir. “O, iya, siapa yang punya nomor nyokapnya Nathan?” tanya Zakir. Menoleh pada Harsa dan Edo bergantian.
Sejenak ketiganya saling melempar pandangan. Sejurus kemudian Harsa mengeluarkan benda pipih miliknya dari saku celana. Merasa tidak ada tanda-tanda satu pun dari ketiganya yang mempunyai kontak keluarga Nathan.
“Kita tanya di grup aja? Gimana?” usul Zakir.
__ADS_1
“Gue hubungin Widya aja,” sahut Harsa.
Zakir mengembuskan napasnya lalu mengarahkan fitur kamera pada Nathan, untuk ia kirimkan ke grup chat whatsapp 'sahabat selamanya'.
...***...
Suara adzan Magrib menggema tidak jauh dari rumah Widya. Dirinya baru saja diantar oleh Karin. Ia segera mengucap salam seraya memutar kenop pada daun pintu rumahnya.
“Assalamualaikum.” Widya mengucapkan salam sebelum melewati ruang keluarga. Ia bergegas menuju dapur karena tidak ada tanda-tanda ayah maupun bundanya di sana. Ucapan salam pun belum ada yang menjawab. “Bunda ke mana, sih? Pintu tidak dikunci, mobil ayah juga sudah ada di garasi. Lalu ke mana bunda dan ayah?” monolog Widya.
Hingga ia mengalihkan fokusnya pada suara sedikit ribut di lantai atas. Widya lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua.
Melihat kamar milik bunda sedikit terbuka Widya mencoba mendekat, lalu ditemukannya sang bunda tengah mengeluarkan seisi lemari. Sementara ayah berjalan ke sana ke mari tidak jelas.
“Bunda yakin sarungnya udah bunda cuci, Ayah. Coba, deh, diingat-ingat! Barangkali masih tertinggal di mobil karena abis mancing beberapa hari yang lalu!”
Widya menghela napas dan tersenyum memasuki kamar bundanya. “Assalamualaikum. Hemm, karena sarung sampai nggak sadar anaknya datang,” ujar Widya pura-pura merajuk.
“Eh, Sayang. Waalaikumsalam,” sahut bunda, “Aduh maafin bunda, ya! Tadi Ayah ribut cari sarung kesayangannya, tuh.” Bunda mendekati Widya dan memeluknya.
Sang ayah hanya tersenyum masam mendengar ocehan istri tercintanya. “Baru pulang, Nak?” tanya sang ayah saat Widya mencium punggung tangannya.
“Gimana hari ini? Tumben kuliah sampai petang begini. Bahkan udah adzan Magrib.” Bunda mengelus sayang lengan Widya.
“Tinggal merapikan susunan skripsinya aja, Bun.”
“Alhamdulillah. Dikit lagi selesai, dong?" Arini tersenyum senang. "Ya, udah. Buruan mandi lalu salat! Bunda tunggu di bawah, ya!” titah Bunda yang gegas mendapat anggukan dari Widya.
...***...
Setelah mandi dan makan malam bersama ayah dan bunda, Widya membuka pintu samping rumahnya. Berjalan menuju kolam ikan dengan suara gemericik air yang menenangkan.
Lama ia terdiam di sana. Ia teringat saat Nathan dan Harsa ikut memancing bersama Ayah di danau. Seulas senyum terbit kemudian sedikit terkekeh mengingat kejadian di danau waktu itu.
Lalu ia duduk pada bibir kolam. Mendongakkan kepalanya ke atas menatap kerlip bintang yang berkedip bergantian. “Nathan, kenapa malam ini aku kepikiran sama kamu? Semoga kamu baik-baik saja di sana. Maaf jika aku terlalu keras padamu. Hanya saja kurasa ini yang terbaik,” lirih Widya.
Memorinya bersama Nathan tiba-tiba berputar begitu saja di otaknya. Mulai dari kedekatan mereka saat masih SMA, saat Nathan selalu ada untuknya, saat Nathan menghiburnya ketika ia patah hati karena Harsa, dan saat akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin kasih. Tidak lupa juga semua pertengkaran yang pernah terjadi antara ia dan Nathan ikut berputar.
Hatinya kembali sesak jika mengingat itu semua. Rasa cinta di hatinya tak pudar sedikit pun. Sayangnya semua itu beriringan dengan luka yang masih basah. “Aku merindukanmu, Nath,” ucapnya parau.
__ADS_1
Sebutir air mata lolos begitu saja saat rasa rindu di dadanya tak bisa ia bendung. Ingin sekali ia memeluk erat Nathan-nya. Meluapkan semua kegelisahan yang ada di hati. “Masih mungkinkah untuk kita bersama, Nath? Sedangkan lukaku masih belum sembuh,” gumam Widya. Ia menghapus jejak air mata yang menganak sungai di pipi.
...***...
Dering telepon milik bunda di atas kulkas mengusik indra pendengaran sang pemilik. Bergegas Arini mengambilnya dan menerima panggilan telepon yang Arini ketahui dari Karin.
“Malam Tante. Widya ke mana ya, Tante? Aku hubungin, kok, nggak aktif HP-nya?” tanya Karin setelah ia mengucap salam dan mendapat balasan salam.
Bunda melihat Widya yang masih betah terdiam di samping kolam ikan milik ayah. “Oh, itu. Widya sedang cari angin aja, tuh, di dekat kolam. Kenapa Karin?" tanya Bunda.
“Em, itu. Bisakah Karin minta tolong, Tan? Sampaikan sama Widya untuk membuka chat grup. Ada sesuatu yang penting, Tan,” mohon Karin dengan sopan.
“Tentu, Sayang. Tante sampaikan sama Widya sekarang.” Arini membalas tak kalah ramah.
“Makasih sebelumnya, Tan. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan telepon itu pun berakhir. Arini berjalan mendekati Widya yang duduk memainkan air pada kolam ikan milik ayah. “Sayang, barusan Karin telepon bunda, katanya HP kamu non-actif. Karin minta kamu buka chat grup, ada sesuatu yang penting katanya,” kata bunda setelah ikut duduk di bibir kolam.
Widya menepuk keningnya pelan. Ia melupakan ponselnya karena terlalu asyik mengamati ikan-ikan yang berenang bebas. “Kalau gitu Widya ke atas dulu ya, Bunda.” Widya berjalan cepat menuju kamarnya. “Kenapa Karin nggak ngomong langsung ke bunda aja, sih, kalau penting,” gerutunya.
Setelah sampai di dalam kamar, tangannya cekatan mencari-cari benda pipih yang biasa selalu ia bawa. Entah kenapa dari sepulang kuliah petang tadi ia sedikit melupakan benda itu.
“Uh, bisa-bisanya aku lupa!” gerutunya ketika ponsel itu ditemukan. Saat Widya berkonsultasi dengan dosen ia sengaja mematikan ponsel, tentu alasannya takut mengganggu di tengah konsultasinya.
Betapa terkejutnya ia, ketika ratusan chat ia terima. Delapan panggilan tak terjawab dari Harsa dan tiga panggilan dari Karin. Fokusnya tertuju pada grup chat 'sahabat selamanya' yang menunjukkan notifikasi ratusan chat yang belum dibaca.
Deg!
Ia melihat sosok yang sangat ia kenali menyambut indera penglihatan pada chat teratas dalam room chat tersebut.
Terlihat sosok Nathan yang tengah terpejam dengan jarum infus menyusup pada pergelangan tangan kanannya pada foto tersebut. Hatinya berdenyut sakit melihat potret Nathan pada gawainya. Wajahnya terlihat lebih tirus. Urat pada permukaan tangannya sebagian timbul akibat dari penurunan berat badannya.
“Nathan,” lirih Widya. Bulir bening lolos begitu saja.
...***...
__ADS_1
Next besok, ya. Mau jengukin Nathan dulu. byebye 👋