Seberkas Asa Untuk Cinta

Seberkas Asa Untuk Cinta
BAB 78


__ADS_3


...***...


Waktu terus berjalan tanpa rasa lelah. Ia bergerak maju tanpa mau menengok ke belakang. Maka ketika seseorang melakukan kesalahan, itu hanya akan berujung penyesalan. Di situlah seseorang akan sadar, jika waktu tidak bisa diulang.


Begitupun dengan perjalanan kisah cintanya Nathan dengan Widya. Penuh liku dan kejadian suram yang berujung kata 'memaafkan'.


Kini, kisah kehidupan baru mereka akan dimulai. Sudah sebulan semenjak mereka menyandang gelar sarjana, mereka bukan lagi anak kuliahan yang sibuk dengan pelajaran. Dunia kerja adalah hal yang baru yang akan mereka taklukkan. Begitupun dengan kelima sahabatnya; Harsa, Edo, Zakir, Karin, dan Kartika juga sudah memasuki dunia kerja sesuai jurusan kuliah mereka.


Edo bekerja di perusahaan orang tuanya bersama Karin dan Kartika. Harsa dan Zakir memilih mendirikan usaha arsitek sendiri, sedangkan Nathan dan Widya bekerja di sebuah perusahaan properti ternama.


...***...


"Pagi, Sayangnya Nathan. Cantik banget, sih!" Seperti biasa, gombalan Nathan selalu terlontar manakala dirinya menjemput Widya untuk bekerja. Mereka yang bekerja di perusahaan yang sama, jadi semakin dekat dan lebih mesra.


Widya mencebikkan bibir sembari membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalamnya tanpa membalas sapaan Nathan. Hal itu membuat Nathan mengembuskan napas kasar. Lantas menyusul Widya masuk ke dalam mobil.


"Balas, dong, Yang! Masa nggak ada sapaan selamat pagi buat aku," cicit Nathan pura-pura merajuk.


Widya yang duduk di samping kursi kemudi lantas memiringkan tubuhnya agar bisa menghadap Nathan. Kedua tangannya terulur menangkup kedua pipi Nathan yang menggembung cemberut. "Pagi, Sayangnya Widya," ucapnya dengan senyum sedikit dipaksa. Bukannya dia marah, melainkan Widya hanya merasa sikap Nathan seperti anak kecil saja. Padahal, kini usia mereka sudah dewasa.


"Morning kiss-nya mana?"


"Ish!" Widya langsung mendorong wajah Nathan. Tubuhnya pun sontak mundur ke belakang. Nathan pun tergelak melihat kedua mata Widya yang terbelalak.


"Canda doang. Nggak usah melotot gitu! Nanti kalau udah sah, kamu harus inisiatif sendiri, ya!"


"Apa, sih. Pagi-pagi udah bahas gituan. Ayo, berangkat! Nanti telat." Widya mengalihkan pandangannya ke arah jalan, sembari tersenyum tertahan. Ia tidak memungkiri, jika hatinya sedang melesat tinggi.


Nathan hanya tersenyum melihat Widya yang salah tingkah, lalu melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota.


...***...


Setelah beberapa menit berkendara, mobil Mini Cooper yang masih setia membersamai perjalanan mereka berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Sebuah perusahaan properti menjadi tujuan mereka—PT. Adiguna Properti. Perusahaan properti ternama yang sudah menancapkan namanya dalam proyek-proyek besar instruksi perumahan komersil dan gedung perusahaan yang menjulang tinggi.

__ADS_1


Nathan berada di posisi manajer general kontruksi, sedangkan Widya bertugas sebagai general manajer pemasaran. Keduanya sedang disibukkan oleh proyek perumahan elite yang berada di luar kota Jakarta, lebih tepatnya di kota Surabaya. Walaupun proyeknya berada di luar kota, Nathan hanya sesekali berkunjung ke sana. Ia masih bisa mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya di kantor pusat saja. Dengan begitu ia masih bisa terus-menerus bersama Widya. Itulah alasan Nathan kenapa tidak mau ikut bergabung dengan perusahaan papanya yang berada di Singapura. Ia ingin selalu berada dekat dengan Widya, makanya ia memilih mencari pekerjaan di Indonesia.


Widya yang tengah fokus menatap layar laptopnya harus terganggu dengan suara dering ponsel yang berbunyi beberapa kali. Pekerjaannya yang hampir selesai membuatnya mengabaikan panggilan itu beberapa saat. Hingga di panggilan ketiga, Widya pun meraih ponselnya dan menerima panggilan telepon tersebut.


"Ke mana aja, sih? Telepon nggak diangkat-angkat. Baru aja aku mau susulin kalau panggilan ini nggak diangkat juga." Nathan langsung mencecar di seberang sana. Membuat Widya berdecak sembari memijat pelipisnya yang terasa pening.


"Mau ke mana pun aku, tetap sama kamu, kan?" kelakar Widya. "Ada apa, Sayangku? Jangan marah, dong! Tadi tuh lagi tanggung, nyelesain kerjaan dulu," sambung Widya mencoba merayu Nathan.


Sungguh, Nathan tidak bisa marah jika Widya sudah bersikap seperti itu. Membuatnya ingin segera berlari dan memeluk sang pujaan hati.


"Makan siang, yuk!" ajak Nathan setelah terdiam beberapa detik.


Widya menengok jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Oh, iya. Udah waktunya istirahat," ujar Widya.


"Sibuk banget, sih, sampai nggak inget waktu. Cepet turun! Aku udah di lantai dasar. Aku tunggu di lobby, ya." Nathan berbicara sambil berjalan menuju lobby di area depan gedung tersebut.


"Iya." Widya pun mengakhiri panggilan teleponnya. Kemudian menutup laptop dan membereskan meja kerjanya. Widya bergegas untuk menemui Nathan. Ia meraih tas jinjing yang selalu setia menemaninya sebelum dirinya berjalan.


...***...


Nathan berpikir sejenak. Kemudian terlintas bayangan kebersamaannya saat makan siang dengan para sahabat. Nathan tiba-tiba merindukan mereka. "Yang, gimana kalau kita ajakin temen-temen makan siang bareng? Udah lama, kan, kita nggak kumpul sama mereka?" cetus Nathan.


Widya tentu saja tahu siapa yang Nathan maksud. Wajahnya langsung bersinar ketika mendengar sahabatnya disebut. "Boleh, dong. Aku juga udah kangen sama mereka. Tapi mereka lagi sibuk, nggak?" tutur Widya.


"Chat di grup aja! Biar semuanya baca."


Widya langsung merogoh ponselnya dari dalam tas. Lalu melakukan apa yang dikatakan oleh Nathan. Membuka fitur WhatsApp, lalu mencari room chat 'Sahabat Selamanya'.


^^^Widya: Wahai penghuni grup, kalian pada sibuk, nggak?^^^


Menunggu sejenak, setelah lima menit barulah satu notifikasi pesan masuk pada ponselnya Widya.


Harsa: Nggak, Wid. Baru mau makan siang.


^^^Widya: Kebetulan, kita makan siang bareng, yuk! ^^^

__ADS_1


Harsa: Berdua aja?


Nathan yang juga mendapatkan pesan tersebut sontak mengernyitkan keningnya. Lantas langsung mengetikkan sesuatu untuk menyanggah Harsa.


Nathan: Heh, ada gue. Jangan mikir macam-macam, ya!


Karin: Woy, ada apa, nih? Gue sama Kartika masih ditahan sama bos kejam gue, nih @Edo.


Zakir: Yaelah, Do. Jahat banget, sih, sama ayang gue!


Edo: 🥱


^^^Widya: Kita mau ngajakin makan siang bareng di Kafe Hamber. Kalian bisa, nggak?^^^


Edo: Bisa


Kartika: Bos gue udah bilang bisa. Gue ikut aja.


Edo: Untuk Karin dan Kartika tetap di tempat.


Kartika : @edo 🤬🤬


Karin: Siap, Widya sayang 😘. @edo 👊.


Zakir: Gue sebagai bos di perusahaan bebas aja, sih. Iya, nggak @Harsa?


^^^Widya: Okey, kita ketemu di sana. ^^^


Setelah membuat janji temu, Widya dan Nathan meluncur ke Kafe Hamber. Senyum mengembang selalu tersemat di bibir mereka. Mengiringi rasa bahagia atas hari-hari yang sudah terlewati bersama. Nathan dan Widya tidak pernah menyangka, jika kisah cinta mereka yang semula penuh drama akan berlanjut sampai saat ini. Terutama Nathan, dia tidak henti-hentinya bersyukur atas nikmat Tuhan, yang memberikannya kesempatan untuk mendapatkan hati Widya kembali. Dalam hatinya dia berjanji, akan selalu mencintai Widya sepenuh hati. Menjaga ikatan cinta mereka dan membawanya pada ikatan sakral sebuah pernikahan.


...***...



Jangan lupa dukungan, ya. Like, komen, favorite, sam giftnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2